MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 22 Oktober 2016 12:10
Integrasikan Pertanian, Peternakan dan Hutan dalam Satu Kawasan

Beternak Sapi di Kaki Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat

TETAP JAGA KELESTARIAN ALAM: Diskusi rencana integrasi peternakan dan pengelolaan hutan desa di Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, Puluhan ekor sapi ada di tengah hutan, jadi pemandangan baru di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. Sapi-sapi itu sudah kerasan tinggal di kaki pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat.

 

Sumber air yang jernih, rumput melimpah dan area penggembalaan luas, jadi faktor cepatnya adaptasi sapi-sapi bantuan Dinas Peternakan Berau tersebut, berkembang biak di Kampung Merabu. Hanya dalam setahun, 40 ekor sapi tersebut sudah melahirkan lima ekor bayi sapi.

“Kami punya mimpi besar peternakan sapi di Merabu, 300 sapi dalam tiga tahun,” ujar Franly Oley, Kepala Kampung Merabu dalam diskusi Rencana Integrasi Peternakan dan Pengelolaan Hutan Desa, di Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

Peternakan sapi adalah proyek besar Kampung Merabu menjadi desa mandiri. Sebagai pengelola hutan desa seluas 8.245 hektare, Franly berharap dapat menambah pemasukan dari peternakan sapi.

Mata pencaharian 220 jiwa di Merabu, masih bergantung dari alam. Mulai dari madu alam, kayu gaharu dan sarang burung walet yang jumlahnya terus menurun. Warga kampung memilih peternakan sapi sebagai usaha ekonomi produktif yang bisa mengurangi ketergantungan terhadap alam.

Selama mendapat pendampingan dari The Nature Conservancy (TNC), Kampung Merabu sudah memulai kegiatan ekonomi tambahan, seperti ekowisata dan pertanian. Namun dengan peternakan sapi, diharapkan perekonomian warga lebih terkerek sekaligus memenuhi target  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk dapat menghasilkan dua juta ekor sapi di tahun 2018.

Kalimantan Timur membutuhkan sapi hingga 60 ribu ekor per tahun, tapi hanya mampu dicukupi sekitar 45 ribu. Sisanya harus mendatangkan sapi dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur dan Palu. “Ini peluang besar dengan potensi alam yang masih luas,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur Wahyu Widhi Heranata.

Beternak sapi, menguntungkan dari sisi harga jual, dan dari seluruh produknya, tidak ada yang terbuang. Mulai dari daging, kulit hingga limbahnya. “Lahan, kami sudah siapkan 25 hektare,” kata Franly.

Dari lahan tersebut, enam hektare sudah dialokasikan untuk pakan. Lahan tersebut diperkirakan cukup untuk penggemukan sebanyak 200 ekor dan pengembangbiakan sebanyak 100 ekor. “Kami mendukung ide ini, karena sesuai dengan konsep perhutanan sosial yang merupakan program prioritas kami saat ini,” timpal Wahyu Widhi.

Kalimantan Timur diberi target perhutanan sosial seluas 600 ribu hektar. Dinas Kehutanan berjanji akan membantu masalah legalitas penggunaan lahan tersebut dari sisi kehutanan. Lantaran status lahan yang dialokasikan untuk peternakan bersinggungan dengan pemilik hak penguasaan hutan. 

Konsep yang dijalankan Kampung Merabu, disebut sistem agrosilvopastoral. Sebuah sistem yang menggabungkan pertanian, hutan dan peternakan dalam satu kawasan. Konsep ini adalah konsep pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi, tapi tetap menjaga kelestarian hutan. “Kampung Merabu ini akan menjadi model (agrosilvopastoral),” kata dia. Wahyu berencana untuk mengadakan rapat koordinasi Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Kalimantan Timur pada awal 2017 di Kampung Merabu. Ia berharap para kepala KPH bisa melihat model pengelolaan hutan yang bisa menguntungkan warga sekitar dan terintegrasi dengan tujuan pemerintah.

Sementara, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Berau M Gazali, menyarankan untuk menambah bebek dan ayam kampung di lokasi peternakan sapi. “Untuk pelatihan teknis kami siap,” kata Gazali. Mulai dari inseminasi buatan, modifikasi pakan, hingga model lahan peternakan.

Gazali mencatat, peluang bisnis sapi di Berau masih tinggi. Angka kebutuhan per tahun adalah 2.800 ekor, baru dapat dipenuhi 1.000 ekor. Sisanya masih dari luar Berau. (*/udi)


BACA JUGA

Kamis, 24 Januari 2019 13:31

Butuh Makan, Fadly Nekat Ngaku Polisi

TANJUNG REDEB – Mengaku sebagai oknum Polisi dari Polda Kaltim,…

Kamis, 24 Januari 2019 13:29

Perampokan Sarang Walet Mulai Marak

BIDUKBIDUK – Perampokan sarang burung rumahan di wilayah pesisir selatan cukup…

Kamis, 24 Januari 2019 13:24

Kakam Harus Lebih Hati-Hati, Wabup Imbau Cabut Izin Garapan di KBK

TANJUNG REDEB – Satu per satu kepala kampung di Bumi…

Rabu, 23 Januari 2019 12:26

80 Persen Wajib Lokal

TANJUNG REDEB – Tahun lalu Peraturan Daerah (Perda) 8/2018 tentang…

Rabu, 23 Januari 2019 12:23

Terus Berproses, Jaksa Teliti Berkas

TANJUNG REDEB – Penyidik kembali melimpahkan berkas perkara kasus perusakan…

Rabu, 23 Januari 2019 12:21

Air Laut Naik hingga 2 Meter

TANJUNG REDEB – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau,…

Rabu, 23 Januari 2019 12:20

Sudah Waktunya Ditangani

TANJUNG REDEB – Fenomena Supermoon membuat air laut naik cukup…

Rabu, 23 Januari 2019 12:17

Sesak, Satu Ruangan Fungsi Ganda

Pelayanan untuk kesehatan tentu harus senyaman mungkin, tentu harus didukung…

Selasa, 22 Januari 2019 14:23

Lakukan Studi Kelayakan Dulu

TANJUNG REDEB - Dinas Pertanahan Berau, siap melakukan studi kelayakan…

Selasa, 22 Januari 2019 14:18

Kamaruddin Akui Caleg PBB

TANJUNG REDEB – Walau sempat tak mengetahui kebenarannya, kemarin (21/1)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*