MANAGED BY:
SABTU
19 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 05 Maret 2017 11:07
Mendongkrak Kualitas Pendidikan Indonesia
Oleh: Nur Abadi, S. Pd.

PROKAL.CO, HASIL survei UNESCO yang dirilis tahun 2015 menempatkan Indonesia pada urutan ke-14 dari 14 negara berkembang yang disurvei dalam bidang pendidikan(guru dan peserta didik). Fakta ini tentunya menyakitkan bagi dunia pendidikan Indonesia. Indonesia sebagai negara yang mendidik guru dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, kini kualitasnya malah berada di bawahnya. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Macan Asia kini telah kehilangan taringnya.

  Survei dari World Bank yang juga melibatkan sedikitnya 12 negara di Asia menunjukkan, kualitas pendidikan Indonesia berada pada posisi terendah se-Asia. Walaupun secara secara kuantitas jumlah tenaga pendidik sudah memadai.

   Padahal, bila dilihat dari keikutsertaan peserta olimpiade Indonesia di tingkat regional ASEAN dan dunia, Indonesia tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Diakui, Indonesia sering menjadi juara olimpiade dengan merebut medali emas.

   Namun, pertanyaan besar muncul, mengapa kualitas pendidikan kita belum mampu setaraf dengan negara-negara Asia lainnya. Jawaban itu, tentunya dapat diketahui dari pelaku dan penentu kebijakan pendidikan yang dalam hal ini para pendidik, pakar pendidikan dan penentu kebijakan. Dan, kemungkinan besar juga, terjadinya kekeliruan dalam penataan sistem pendidikan. Ada semacam jalinan antara pendidik, pakar pendidikan, dan pemerintah yang belum berjalan secara sinergis. Misalnya saja, pada pengelolaan pendidikan di desa dan di kota. Pulau yang satu dengan pulau yang lain. Materi pembelajaran sering disamakan tanpa melihat kondisi sekolah dan lingkungan yang membentuk.

   Proses pendidikan lebih banyak berkutat pada tataran teoritis yang bersifat kognitif dan peserta didik lebih bangga dengan angka-angka tinggi yang diperoleh daripada kecakapan hidup (life skill), yang secara jelas lebih bermanfaat bagi kebutuhan hidup setelah lulus sekolah.

    Guru kita lebih cepat puas dengan perolehan yang dicapai dalam pembelajaran dan minim melakukan evaluasi dan tindak lanjut yang bersifat continoues quality  improvement. Padahal, sejatinya, pendidikan itu seperti yang diungkapkan Abdul Munir Mulkan adalah laboratorium evaluasi diri manusia untuk memanusiakan manusia. Menjadi pengembangan peradaban baru dunia.

     Tak urung, proses pembelajaran dengan metode yang dipunyai terkesan mapan. Hal ini ditandai dengan hanya menerima dan melaksanakan apa yang digariskan kurikulum, tanpa merespon dan bertanya mengapa harus begitu. Pada akhirnya, tak muncul proses kreatif yang dapat membangkitkan gairah untuk lebih baik dalam menciptakan pembelajaran di sekolah. Jika sudah demikian, benar sindir Socrates, tak perlu hidup bila tidak mempertanyakan hidup.

Buruknya lagi, pendidikan saat ini masih dibangun dengan kekuatan setengah-setengah. Hal ini dapat dilihat dari kurang munculnya kegelisahan dalam diri pendidik akan fenomena lemahnya kualitas kognisi, afeksi, dan psikomotorik peserta didik.

Sampai di sini, dapat diartikan bahwa sebenarnya Socrates ingin mengatakan bahwa lebih banyak manusia yang tidak kreatif, tidak gelisah menghadapi sekian persoalan hidup yang mesti direspon.

Dari sini, menurut saya, perlu kiranya diupayakan langkah-langkah pemecahan yang mendasar, konsisten, dan sistematik untuk menciptakan kondisi pendidikan yang berkualitas sebagai upaya membenahi kehidupan berbangsa saat ini yang diselimuti dengan krisis multidimensi yang tidak kunjung selesai. Dan tepatlah kiranya, untuk keluar dari krisis yang sedang terjadi, bangsa Indonesia terlebih dahulu perlu melakukan suatu “turning point” titik balik dengan berprinsip jangan seperti menunggu godot. Menunggu hal yang tidak jelas.

   Memang tidak dapat dipungkiri, perhatian pemerintah dalam menetapkan alokasi anggaran pendidikan masih kecil, walaupun dalam APBN telah ditetapkan 20 persen, tapi hingga kini masih kurang dari 10 persen yang dapat digunakan untuk membangun pendidikan.

    Bila kita mau berkaca pada Jepang dalam hal membangun pendidikan, pemerintahnya lebih mengutamakan pengalokasian anggaran belanja negara lebih banyak pada sektor pendidikan. Tahun 1980-an, Jepang sudah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam APBN sebesar 10 persen lebih, sedangkan Indonesia masih berkisar 1,4 persen. Kenyataan tersebut tentunya memberikan bukti bahwa pemerintah Indonesia masih kurang peduli akan pentingnya pendidikan.

   Tidak hanya itu, SDM kita belum mampu untuk mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah ruah. Tidak heran kiranya, bila SDA bangsa ini banyak dikelola dan dikeruk bangsa lain.

   Pelaksanaan Ujian Nasional yang dijadikan tolok ukur keberhasilan pendidikan ternyata terlampau birokratis. Buktinya, UAN belum mampu berdampak besar pada output yang diinginkan. Namun anehnya, sampai detik ini pun UAN (sekarang UN) masih tetap berlangsung. Kabarnya, putusan lulus tidaknya siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK, tahun ajaran 2016/2017, masih ditetapkan dengan standar ujian tersebut. Jelasnya, akan muncul pertanyaan besar untuk penentu kebijakan pendidikan di tanah air. Tidak ada solusi lain atau solusi cerdaskah untuk menentukan putusan lulus tidaknya peserta didik bangsa ini.

   Ini tentunya yang menjadi pekerjaan bersama yang harus segera diselesaikan. Untuk itu, menurut saya, perlu ditumbuhkan sikap simpati dan empati dalam diri pendidik, pakar, penentu kebijakan, dan semua elemen yang bersentuhan dengan pendidikan untuk menciptakan kepedulian pada proses pendidikan di Indonesia. Dalam rangka mencapai upaya itu, akan sangat tepat bila materi ajar yang dibinakan dekat dengan konteks kehidupan dan disertai balutan agama yang merupakan ide dari segala ilmu (mother of science), yang mendidik manusia untuk berperilaku jujur, disiplin, dan cerdas. Cerdas dalam arti dapat memahami dan menanggap segala sesuatu yang bersentuhan dengan dirinya secara cerdas serta bermartabat.

Pada akhirnya, upaya peningkatan mutu pendidikan dengan langkah-langkah tersebut, akan mampu memberikan perubahan yang berarti bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena pendidikan perlu dikembalikan pada prinsip dasarnya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi); mengembangkan potensi dasar peserta didik dan segenap elemennya agar berani dan mau menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan; serta mau, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi, sehingga terdorong untuk memelihara diri sendiri maupun hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungannya. Sehingga dengan kondisi yang demikian, telah membawa kepada suatu kesadaran bahwa hanya pendidikan yang diolah dengan proses kreatif (tanpa menunggu godot) yang akan mampu merespon aspirasi masyarakat secara tepat dan cepat dalam hal mutu dan masa depan pendidikan.

 

)* Guru Bahasa Indonesia

    SMP IT Ash Shohwah Berau-Kalimantan Timur


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:16

Memaknai Kemerdekaan

TAK terasa ruang dan roda waktu berputar silih berganti. Tak terasa tanggal 17 Agustus 2017 bangsa…

Senin, 07 Agustus 2017 10:26

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

DI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama seorang perjaka. Umur…

Senin, 31 Juli 2017 00:48

Ekonomi Menunggu Obat Ayam Stres

SAYA bersyukur kedatangan ahli yang satu ini. Yang bisa jadi teman diskusi untuk persoalan berat saat…

Rabu, 19 Juli 2017 10:06

Isi Masa Muda dengan Hal Positif

MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan…

Rabu, 12 Juli 2017 09:44

Berau, Kaltara, Rumah Kita

WACANA kabupaten Berau bergabung ke Provinsi Kaltara yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Berau,…

Senin, 10 Juli 2017 09:08

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

INILAH urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR.…

Minggu, 09 Juli 2017 00:42

Investasi Anti Rugi

TAK semua orang punya mental bisnis. Butuh experience (pengalaman) yang malang melintang untuk jadi…

Rabu, 05 Juli 2017 10:59

Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage

TIDAK ada maaf lahir dan batin. Kelihatannya. Sabtu sore lalu, justru sikap Lee Hsien Yang, adik…

Senin, 03 Juli 2017 10:43

Mencita-citakan Kesalehan Anak

PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha.…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Budaya Bersedekah

RAMADAN setelah umrah 2014 lalu, baru Ramadan tahun ini saya sempat umrah kembali. Tiga tahun jadi jarak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .