MANAGED BY:
KAMIS
30 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 07 Maret 2017 00:03
Resesi Ekonomi Dunia yang Berkepanjangan
Oleh: Diah Riyani, S.Pd, M.Pd

PROKAL.CO, Assalammualaikum,selamat pagi para pembaca setia. Sukses buat anda semua.

Demikian luar biasa karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia, dari kekayaan alamnya, keindahan alam, kesuburan tanah, kelautan yang luas, dan kebhinekaan yang luar biasa beragam dan indahnya.

Namun, mengapa justru bangsa ini miskin? Mengapa bangsa ini menjadi hina sebagai pengekspor TKI dan TKW kelas unskill labour? Mengapa bangsa ini menjadi pengemis kelas dunia (pengutang)? Mengapa bangsa ini tak pernah dapat melepaskan diri dari berbagai krisis? Kalangan pengusaha kini tertekan akibat krisis perekonomian global. Pebisnis pada sektor pertambangan dan perkebunan paling menderita dalam situasi ini.

Situasi mengkhawatirkan kini datang, krisis ekonomi global menerpa hampir semua bangsa di dunia. Apa saja penyebab krisis ekonomi ini? Adalah harga komoditas perkebunan dan tambang merosot di pasaran internasional, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat terhadap mata uang semua negara, kecuali Swiss Franc.

Ekonomi global dunia saat ini mengalami krisis yang cukup serius. Dampak buruk dari resisi ekonomi dunia itu terlihat secara menyeluruh di berbagai negara. Mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok, Rusia, sampai negara berkembang seperti Indonesia.

Dampak krisis juga sangat dirasakan negara-negara produsen minyak dunia seperti Arab Saudi, Venezuela, Iran, dan negara-negara teluk lainnya. Pengaruh buruk resisi ekonomi ini, terlihat jelas pada penurunan harga bahan bakar industri seperti minyak mentah dunia dan batu bara, harga bahan baku industri seperti karet, penurunan harga emas, gangguan serius pada pasar modal, penurunan pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus, PHK di mana-mana, tingkat pendapatan masyarakat menurun, dan harga kebutuhan pokok yang meningkat.

Pada bulan Agustus tahun 2015 yang lalu, lebih dari 125 perusahaan batu bara di Kalimantan Timur bangkrut. Tidak kurang dari 5.000 orang kena PHK. Petani karet bahkan tidak sedikit yang menjual lahan karetnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Goldman Sachs, Lembaga Multinasional dan Jasa Investasi Keuangan Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan bahwa harga minyak mentah dunia akan mencapai US$ 20. Goldman Sachs adalah lembaga perbankan yang paling terkenal di Amerika Serikat dan dunia. Perusahaan ini beroperasi di lebih dari 30 negara, memeliki enam cabang regional, dan lebih dari 100 kantor serta karyawan lebih dari 35 ribu. Total aset saat ini adalah US$ 850.000.000.000.

Dalam perjalanan tahun 2016 harga minyak mentah, batubara mengalami sedikit kenaikan, tetapi harga minyak mentah di tahun 2017 ini diprediksi tidak akan melonjak jauh dari harga sebelumnya. Ekonom dunia Dr Amr Adly menyebutkan dalam majalah Politik Internasional bulan September 2015 yang lalu, “krisis dan depresi ekonomi dunia yang terjadi saat ini adalah yang terburuk dalam tiga abad terakhir, karena ekonomi dunia terancam oleh stagnasi dan resesi yang berkepanjangan.”

Krisis ekonomi ini sesungguhnya juga terjadi di pusat ekonomi global, Amerika Serikat. Kendati Amerika Serikat senantiasa menutup-nutupi dengan memberikan data palsu atas persoalan ekonominya, Amerika sesungguhnya mengalami persoalan ekonomi yang serius.

Seorang Ekonom Amerika, Todd Wood (dalam artikel koran Washington, Time US bulan Mei 2015 mengatakan: “Ekonomi Amerika Serikat berada di ambang kehancuran, dan kondisi ekonomi Amerika saat ini benar-benar menjengkelkan. Mulai dari utang luar negeri yang sudah mencapai 20 triliun dolar AS. Ditambah lagi dengan kecepatan penambahan hutang yang semakin tinggi. Todd menambahkan, bahwa Washington mungkin segera bangun setelah mengalami kebangkrutan ekonomi di negaranya. Saat ini, satu-satunya yang masih bisa menyelamatkan ekonomi Amerika adalah, sikap Federal Reserve yang terus melakukan intervensi dengan mempertahankan suku bunga di tingkat yang sangat rendah.” Kabar terakhir, 12 orang yang menjadi penentu perubahan suku bunga Federal Reserve cenderung akan menaikkan suku bunga bank sentral tersebut.

Kondisi sosial kemasyarakatan di Amerika Serikat juga semakin memburuk. Indeks kesengsaraan saat ini semakin meningkat. Indeks kesengsaraan adalah keterkaitan antara inflasi dengan pengangguran riil.

Rakadz, Ekonom Amerika lainnya yang juga salah seorang intelijen ekonomi Amerika, menyatakan dalam artikelnya, “apa yang terjadi pada dunia di ambang tahun 2015? Ambang fase baru dari depresi besar ekonomi.” Dia menyatakan, Bank Federal telah mencetak uang dengan sembarangan, bahkan triliunan dolar AS. Federal Reserve telah berbohong dan menutupi indeks kesengsaraan yang semakin meningkat, yang paling tinggi dalam kurun 29 tahun terakhir. Dan rencana Amerika menaikkan bunga di atas 2 persen akan menyeret perekonomian AS pada tragedi baru.

Resesi dunia saat ini, sesungguhnya kelanjutan dari krisis yang terjadi di tahun 2008. Karena hakikatnya krisis itu tidak sembuh. Krisis tersebut telah menyebabkan ekspor yang melemah dari berbagai belahan dunia. Hal demikian akan menyebabkan lemahnya produksi di negara-negara industri. Kondisi demikian berdampak pada minimnya investasi proyek-proyek strategis. Dampak terhadap negara-negara pengimpor bahan baku dan bahan energi, adalah berkurangnya ekspor bahan-bahan dasar tersebut. Kondisi ini secara nyata pasti menimbulkan gelombang PHK di mana-mana.

Tiongkok juga mengalami krisis finansial yang serius. Krisis di Tiongkok diawali dengan krisis finansial dan pasar saham. Krisis tersebut dimulai pada tahun 2014, dan semakin terasa di tahun 2015. Dan akhirnya bencana yang dialami Tiongkok bukan terbatas di sektor pasar finansial, namun merambat ke sektor industri, dan tingkat pengangguran yang tinggi.

Kerugian Tiongkok saat itu diperkirakan mencapai 3,2 triliun dolar AS, hanya dalam kurun satu bulan. Krisis di Tiongkok sesungguhnya disebabkan krisis atas ekonomi Tiongkok yang terjadi tahun 2008.

Eropa juga mengalami krisis, yakni di zona Euro. Kita telah ketahui krisis ini berawal dari krisis Yunani yang terakumulasi, sehingga menyebabkan Yunani tidak mampu membayar uang. Ini menyebabkan Yunani terancam untuk dikeluarkan dari Zona Eropa. Kondisi demikian bukan hanya terjadi pada Yunani. Portugal, Spanyol dan negara lain juga mengalami krisis yang sama. Persoalan sesungguhnya adalah ketika ketidakmampuan mereka membayar utang yang mereka ambil saat menjadi syarat memasuki zona Euro.

Kita beralih ke Rusia, Federasi Rusia mengalami guncangan dahsyat atas anjloknya harga minyak dunia. Rusia adalah negara yang mengandalkan sumber pendapatannya dari minyak dan gas. Dikarenakan penurunan harga minyak mentah dunia tahun 2015, menyebabkan berkurangnya pendapatan Rusia sekitar 60 persen. Ini adalah bencana bagi Rusia. Bahkan menjatuhkan harga mata uang Rusia Rubel terhadap dolar AS sebesar 60 persen.

Arab Saudi sebagai produsen minyak mentah dunia jelas terpengaruh. Pada tahun 2015 Arab Saudi mengalami defisit anggaran sebesar US$ 98 miliar. Defisit anggaran ini memaksa negara untuk melakukan efisiensi di bawah tekanan kreditur.

Dalam sebuah wawancara dengan “The Economist” baru-baru ini, Menteri Pertahanan Saudi Arabia, Putera Mahkota Mohammad bin Salman menyatakan, akan melakukan “Revolusi At Tasyriyah” di Arab Saudi, yakni dengan melakukan privatisasi di berbagai sektor vital masyarakat. Dengan defisit anggaran yang ada, maka Privatisasi Model negara ke-3 akan diberlakukan atas perekonomian Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya. Termasuk privatisasi aset-aset vital publik, penerbitan utang obligasi dengan bunga riba, penjualan pajak milik negara, termasuk aset-aset yang dekat dengan tanah Makkah dan Madinah.

Demikian pula dengan pajak nilai tambah akan dikenakan kepada masyarakat. Selain akan semakin menambah kemiskinan, pajak nilai tambah ini juga bertentangan dengan syariat Islam. Dan yang paling penting, ragam kebijakan ini akan menyempurnakan hegemoni barat secara ekonomi. Berita terakhir yang cukup mengejutkan adalah, perusahaan minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco juga akan melakukan privatisasi dengan IPO (Initial Public Offering), yang pada akhirnya membuka lebar akan kepentingan asing untuk membeli dan melakukan hegemoni.

Tak cukup sampai di situ, para pejabat Saudi juga mulai berbicara tentang privatisasi sektor kesehatan, di sektor pendidikan, industri persenjataan, dan perusahaan lain yang dikuasai oleh negara.

Oleh sebab itu, persoalan bagi Arab Saudi akan berpengaruh pada kontrol dan kepemilikan atas aset-aset publik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Yang kian membuat para ekonom khawatir adalah, sampai detik ini, gejala-gejala resesi yang berkepanjangan itu tidak ada menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan semakin menimbulkan gejala baru. Sejumlah pengamat ekonomi memperkirakan krisis ini akan menimbulkan ledakan yang mengerikan yang menyebabkan runtuhnya negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Uni Eropa yang mereka perkirakan terjadi di tahun 2019.

Ekonom Rusia, Alexander Aevazov mengatakan, bahwa dolar akan terus mengalami depresi. Pada awal tahun 2015 lalu, dana moneter internasional juga telah memperingatkan risiko dari krisis ekonomi global ini. Ekonom Amerika Rakadz mengatakan: “Amerika memasuki periode ekonomi yang paling gelap dalam sejarahnya pada tahun 2015 yang lalu”.

Kita tidak bisa memperkirakan secara pasti kapan ekonomi kapitalis ini akan benar-benar runtuh. Namun secara subjektif dalam pandangan Islam, sistem ekonomi kapitalis dengan pilar-pilarnya memiliki fondasi yang rapuh. Ekonomi barat saat ini terkesan kokoh bukan karena sistem ekonominya yang teruji dan tangguh. Namun tidak lebih dari hasil penjajahan yang merupakan sifat yang melekat dari sistem ekonomi kapitalis. Jika tidak menjajah kekayaan kaum muslimin di negeri-negeri Islam, sungguh sistem ekonomi ini sudah lama hancur.

DAMPAKNYA BAGI INDONESIA

Krisis ekonomi yang sedang dialami oleh beberapa negara besar di dunia, terutama AS, secara tidak langsung mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Maka, pemerintah harus waspada dan antisipatif, karena resesi ekonomi AS kemungkinan semakin parah, sehingga bisa berdampak hebat terhadap kehidupan ekonomi dalam negeri.

 Krisis ekonomi global bisa diumpamakan sebagai deretan kartu domino yang diatur sejajar, jika pemain utamanya terjatuh, maka akan membawa dampak buruk terhadap yang lainnya (efek domino). Celakanya, kalau negara-negara berkembang yang terkena krisis ekonomi, lembaga-lembaga keuangan internasional cenderung lepas tangan. Akibatnya, krisis yang terjadi bisa sangat parah dan potensial mengimbas ke wilayah lain.

Warung-warung di pelosok kini bertumbangan ke jurang kebangkrutan. Itu sebagai bukti bahwa rakyat kebanyakan sudah tak berbelanja lagi. Sementara lapisan atas justru berbelanja keperluan sehari-hari ke pasar-pasar modern milik pengusaha besar. Ini menyebabkan kepailitan raksasa bagi dunia bisnis. (*/udi)

*) Sumber Bacaan: Runtuhnya Kapitalisme – Harry Shutt

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA

Senin, 27 Maret 2017 12:24

Jangan Biarkan Ada EP yang Rusak Masa Depan

ANDA tertarik dengan masalah kejiwaan atau tentang pikiran bawah sadar? Film Split, bisa menjadi tambahan…

Rabu, 22 Maret 2017 10:57

Profesi Spesial

Assalamualaikum, selamat pagi para pembaca setia, sukses buat Anda semua. Dengan karier dan profesi…

Senin, 20 Maret 2017 10:32

Evaluasi Kekurangan di Satu Tahun Kepemimpinan

Assalamualaikum, izinkan saya terlebih dahulu untuk menyapa selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita…

Kamis, 16 Maret 2017 10:06

Badan Usaha Milik Desa

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan…

Senin, 13 Maret 2017 09:46

Mengapa Murid SD Bisa Depresi?

Membaca berita di salah satu media tentang seorang murid SD yang kerap depresi dan mencoba bunuh diri,…

Sabtu, 11 Maret 2017 08:59

Memimpikan Sekolah Idaman

Kenyataan adalah satu keniscayaan, dan kenyataan tentu berawal dari sebuah mimpi. Semakin indah mimpi…

Minggu, 05 Maret 2017 11:07

Mendongkrak Kualitas Pendidikan Indonesia

HASIL survei UNESCO yang dirilis tahun 2015 menempatkan Indonesia pada urutan ke-14 dari 14 negara berkembang…

Minggu, 05 Maret 2017 10:59

Korban Pedofilia Bisa Jadi Pelaku

PENJAHAT kelamin, menjadi momok yang semakin menakutkan. Terutama para predator seks pedofilia yang…

Sabtu, 04 Maret 2017 09:57

ON Dulu, UN Kemudian

BAGI kita para guru, PR terbesar adalah menjadikan siswa-siswi kita memiliki knowledge dan kepribadian…

Rabu, 01 Maret 2017 10:48

Hari Peduli Sampah Nasional

Pembaca Berau Post yang terhormat, sepekan yang lalu, tepatnya 21 Februari di negara kita tercinta Indonesia,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .