MANAGED BY:
KAMIS
25 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 13 Maret 2017 09:46
Mengapa Murid SD Bisa Depresi?
Oleh: Maria Yosephi, S.Pd.I

PROKAL.CO, Membaca berita di salah satu media tentang seorang murid SD yang kerap depresi dan mencoba bunuh diri, membuat perasaan saya sebagai seorang perempuan dan juga ibu menjadi sedih dan bertanya-tanya, mengapa anak yang masih berusia 12 tahun tersebut sudah mempunyai pemikiran ekstrem untuk melakukan percobaan bunuh diri? Apa yang menjadi motif hingga ia ingin mencoba bunuh diri?

Pemberitaan tentang anak yang mencoba bunuh diri tidak hanya terjadi di Berau, tapi juga di Pulau Jawa, Sumatera, Jakarta dan daerah lainnya. Seperti pada kasus anak SD di Surabaya tahun 2002 lalu yang gantung diri karena tidak mampu membayar uang SPP dan anak lainnya yang juga masih  SD bernama Yanto (13), yang nekat gantung diri walau masih bisa diselamatkan. Pemicunya, hanya karena malu dengan guru serta teman-teman sekolahnya karena tidak mampu membayar iuran untuk ekstrakurikuler sebesar  Rp 2.500.

Selain itu semua, masih banyak contoh kasus percobaan bunuh diri dengan motif yang kebanyakan orang menganggapnya sepele. Seperti diolok-olok atau diejek karena nilai pelajaran di sekolah rendah, dicap bodoh, malas dan nakal, serta bentuk fisik yang berbeda atau status sosial dan lainnya. Tentunya alasan atau motif apapun yang melatarbelakangi anak menjadi depresi dan mencoba bunuh diri, tidak bisa dibiarkan, mengingat anak adalah aset penerus bangsa. Sehingga dengan adanya kasus depresi ini, haruslah menjadi tanggung jawab kita bersama.

Sebagai informasi, data Komisi Perlindungan Anak mengungkapkan, kasus bunuh diri pada anak semakin tahun semakin meningkat. Bahkan di tahun 2014, sebanyak 89 anak meninggal dengan sia-sia dan ini cukup memprihatinkan.

Sedikit mengulas tentang depresi pada anak, menurut seorang psikiater anak dr. Gitayanti Hadiukusuma, Sp.KJ dari FKUI RSCM, mengatakan penyebab depresi anak sebagian besar karena faktor lingkungan. Sedikit sekali yang disebabkan faktor genetik. Anak-anak yang dilanda depresi memiliki pandangan buruk mengenai dirinya dan dunianya. Anak merasa bahwa orangtua tidak sayang lagi, di mana dalam ingatannya, anak masih menyimpan kejadian dan perlakuan masa lalu dari orangtuanya. Anak mengalami sakit hati yang membekas dan terkadang dibesar-besarkan.

Awalnya anak akan menyalahkan orang lain, namun lama-lama akan menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan, merasa buruk, tidak dicintai dan layak dijauhi. Begitu juga dalam kehidupan sosial, anak depresi merasa tidak diterima di suatu kelompok atau komunitas tertentu, dipojokkan dan selalu disalahkan oleh siapapun di sekitarnya dengan kata-kata yang tidak pantas dan tidak nyaman bagi anak. Sebenarnya, bila ini ditilik, hal tersebut sudah termasuk dalam kekerasan pada anak dalam bentuk non verbal.

Anak memiliki faktor ketergantungan yang besar terhadap lingkungan luar, terutama dari ibunya dan juga orang dewasa di sekitarnya. Anak membutuhkan kasih sayang yang tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga sentuhan kasih dan komunikasi. Jika kasih sayang itu tidak ada, maka akan timbul depresi pada anak.

Ada beberapa gejala depresi yang bisa dilihat secara kasat mata. Biasanya anak berbicara monoton, cenderung datar dan kehilangan minat terhadap sesuatu. Anak tidak tertarik lagi untuk bermain dan lebih suka menyendiri. Tetapi ada juga anak yang menunjukkan sikap yang hiperaktif, bandel yang luar biasa dan sikap yang tidak biasanya, yang memberikan sinyal bahwa dia dalam kondisi depresi.

Peran kita sebagai orangtua dan juga orang dewasa bagi anak, wajib mengetahui bahwa pada anak usia SD ada   perkembangan kognitif, di mana daya pikirnya mengarah kepada konkret, rasional dan objektif. Pada masa ini, anak telah mengembangkan tiga proses yaitu, negasi adalah anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir di mana pada masa konkret anak memahami proses apa yang terjadi di antara kegiatan itu, dan memahami hubungan antarkeduanya. Proses yang kedua adalah, hubungan timbal balik dan proses yang ketiga adalah identitas di mana anak sudah bisa mengenal satu persatu yang ada di sekitarnya, termasuk benda-benda.

Harapan kita, kasus depresi dan percobaan bunuh diri pada anak SD, khususnya di Berau tidak terulang kembali, sehingga kita harus bersama-sama mengantisipasi dan mengatasi depresi pada anak seperti: Melakukan pendekatan dan  memberikan kasih sayang dengan ikhlas; buat anak menjadi aman dan nyaman di manapun ia berada; membantu anak memahami masalah yang dialaminya, misalnya jika anak mulai bercerita dengan masalah yang dialaminya, ini berarti sinyal baik; meyakinkan anak dengan kemampuan diri yang dimilikinya; hingga mengembalikan semangat hidup anak.

Agar anak tidak merasa tergantung dengan suasana hati yang dialaminya, maka anak sangat perlu dilatih dalam mengembangkan pikiran positif. Latihan yang sering membuat anak lebih siap menghadapi keadaan yang menekannya dan lebih fokus pada mencari solusi. Mengembangkan rasa percaya diri anak dengan memberikan kesempatan untuk berkreasi dan inovatif

Harapan ke depannya, semoga tidak ada lagi permasalahan tentang anak usia SD yang depresi dan mencoba bunuh diri. Untuk hal tersebut marilah kita sebagai  orangtua, pendidik, pemerintah, agar lebih peduli lagi pada hak-hak anak, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus punya fondasi yang kuat dan berkarakter. #Save our children# (*/udi)

*) Aktivis Perempuan dan Anak Konsorsium Javlec Berau/ Ketua PDRI Berau


BACA JUGA

Kamis, 25 Mei 2017 10:30

Bahasa dan Pergolakan Sosial pada Novel Jatisaba

Seorang perempuan dari sebuah novel Jatisaba lakon utamanya Mainah, yang biasa dipanggil Mae. Mae adalah…

Selasa, 23 Mei 2017 09:29

Pelajaran Menikmati Diri Sendiri

INILAH salah satu kesibukan utama saya selama diperkarakan oleh Kejati Jatim: nonton Dangdut Academy…

Senin, 22 Mei 2017 09:36

Bahasa Banua Jadi Identitas

KAREKTERISTIK satu daerah semakin diperlukan seiring semakin mencuatnya politik identitas pada hampir…

Minggu, 21 Mei 2017 01:01

Refleksi dari Omelan Ibu Misterius

TENGAH pekan lalu, tiba-tiba, saat siang bolong, Gedung Biru Berau Post di Jalan Bukit Ria seketika…

Sabtu, 13 Mei 2017 00:59

Mengurai Masalah Rangkap Jabatan

PERMASALAHAN rangkap jabatan kerap mencuat dan muncul di permukaan sebagai buah simalakama, khususnya…

Jumat, 12 Mei 2017 11:09

Rasanya, Kita yang Besarkan HTI

Begitu banyak kelompok dalam Islam. Non-Islam sering tidak tahu. Lalu mengira sama. Bahaya semua. HTI,…

Selasa, 09 Mei 2017 10:26

Menuju Pemilihan Kepala Kampung Serentak

SEBUAH hajatan besar yang merupakan pesta demokrasi di tingkatan kampung akan digelar di Bumi Batiwakkal…

Senin, 08 Mei 2017 09:46

Ibarat Kehamilan yang Aneh

MEREALISASIKAN ide Presiden SBY agar “Yang mampu menjadi populer dan kemudian terpilih”…

Minggu, 07 Mei 2017 10:39

Bagaimana Menjaring Orang Mampu

MESKI  di belakang hari banyak yang kecewa, saya akui ide awal Presiden SBY ini sangat brilian.…

Sabtu, 06 Mei 2017 10:36

Mampu Belum Tentu Terpilih, Terpilih Belum Tentu Mampu

DIA tampak sering gelisah. Terutama pada dua tahun terakhir masa kepresidenannya. Jenderal TNI Prof…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .