MANAGED BY:
SENIN
18 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 13 Maret 2017 09:46
Mengapa Murid SD Bisa Depresi?
Oleh: Maria Yosephi, S.Pd.I

PROKAL.CO, Membaca berita di salah satu media tentang seorang murid SD yang kerap depresi dan mencoba bunuh diri, membuat perasaan saya sebagai seorang perempuan dan juga ibu menjadi sedih dan bertanya-tanya, mengapa anak yang masih berusia 12 tahun tersebut sudah mempunyai pemikiran ekstrem untuk melakukan percobaan bunuh diri? Apa yang menjadi motif hingga ia ingin mencoba bunuh diri?

Pemberitaan tentang anak yang mencoba bunuh diri tidak hanya terjadi di Berau, tapi juga di Pulau Jawa, Sumatera, Jakarta dan daerah lainnya. Seperti pada kasus anak SD di Surabaya tahun 2002 lalu yang gantung diri karena tidak mampu membayar uang SPP dan anak lainnya yang juga masih  SD bernama Yanto (13), yang nekat gantung diri walau masih bisa diselamatkan. Pemicunya, hanya karena malu dengan guru serta teman-teman sekolahnya karena tidak mampu membayar iuran untuk ekstrakurikuler sebesar  Rp 2.500.

Selain itu semua, masih banyak contoh kasus percobaan bunuh diri dengan motif yang kebanyakan orang menganggapnya sepele. Seperti diolok-olok atau diejek karena nilai pelajaran di sekolah rendah, dicap bodoh, malas dan nakal, serta bentuk fisik yang berbeda atau status sosial dan lainnya. Tentunya alasan atau motif apapun yang melatarbelakangi anak menjadi depresi dan mencoba bunuh diri, tidak bisa dibiarkan, mengingat anak adalah aset penerus bangsa. Sehingga dengan adanya kasus depresi ini, haruslah menjadi tanggung jawab kita bersama.

Sebagai informasi, data Komisi Perlindungan Anak mengungkapkan, kasus bunuh diri pada anak semakin tahun semakin meningkat. Bahkan di tahun 2014, sebanyak 89 anak meninggal dengan sia-sia dan ini cukup memprihatinkan.

Sedikit mengulas tentang depresi pada anak, menurut seorang psikiater anak dr. Gitayanti Hadiukusuma, Sp.KJ dari FKUI RSCM, mengatakan penyebab depresi anak sebagian besar karena faktor lingkungan. Sedikit sekali yang disebabkan faktor genetik. Anak-anak yang dilanda depresi memiliki pandangan buruk mengenai dirinya dan dunianya. Anak merasa bahwa orangtua tidak sayang lagi, di mana dalam ingatannya, anak masih menyimpan kejadian dan perlakuan masa lalu dari orangtuanya. Anak mengalami sakit hati yang membekas dan terkadang dibesar-besarkan.

Awalnya anak akan menyalahkan orang lain, namun lama-lama akan menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan, merasa buruk, tidak dicintai dan layak dijauhi. Begitu juga dalam kehidupan sosial, anak depresi merasa tidak diterima di suatu kelompok atau komunitas tertentu, dipojokkan dan selalu disalahkan oleh siapapun di sekitarnya dengan kata-kata yang tidak pantas dan tidak nyaman bagi anak. Sebenarnya, bila ini ditilik, hal tersebut sudah termasuk dalam kekerasan pada anak dalam bentuk non verbal.

Anak memiliki faktor ketergantungan yang besar terhadap lingkungan luar, terutama dari ibunya dan juga orang dewasa di sekitarnya. Anak membutuhkan kasih sayang yang tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga sentuhan kasih dan komunikasi. Jika kasih sayang itu tidak ada, maka akan timbul depresi pada anak.

Ada beberapa gejala depresi yang bisa dilihat secara kasat mata. Biasanya anak berbicara monoton, cenderung datar dan kehilangan minat terhadap sesuatu. Anak tidak tertarik lagi untuk bermain dan lebih suka menyendiri. Tetapi ada juga anak yang menunjukkan sikap yang hiperaktif, bandel yang luar biasa dan sikap yang tidak biasanya, yang memberikan sinyal bahwa dia dalam kondisi depresi.

Peran kita sebagai orangtua dan juga orang dewasa bagi anak, wajib mengetahui bahwa pada anak usia SD ada   perkembangan kognitif, di mana daya pikirnya mengarah kepada konkret, rasional dan objektif. Pada masa ini, anak telah mengembangkan tiga proses yaitu, negasi adalah anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir di mana pada masa konkret anak memahami proses apa yang terjadi di antara kegiatan itu, dan memahami hubungan antarkeduanya. Proses yang kedua adalah, hubungan timbal balik dan proses yang ketiga adalah identitas di mana anak sudah bisa mengenal satu persatu yang ada di sekitarnya, termasuk benda-benda.

Harapan kita, kasus depresi dan percobaan bunuh diri pada anak SD, khususnya di Berau tidak terulang kembali, sehingga kita harus bersama-sama mengantisipasi dan mengatasi depresi pada anak seperti: Melakukan pendekatan dan  memberikan kasih sayang dengan ikhlas; buat anak menjadi aman dan nyaman di manapun ia berada; membantu anak memahami masalah yang dialaminya, misalnya jika anak mulai bercerita dengan masalah yang dialaminya, ini berarti sinyal baik; meyakinkan anak dengan kemampuan diri yang dimilikinya; hingga mengembalikan semangat hidup anak.

Agar anak tidak merasa tergantung dengan suasana hati yang dialaminya, maka anak sangat perlu dilatih dalam mengembangkan pikiran positif. Latihan yang sering membuat anak lebih siap menghadapi keadaan yang menekannya dan lebih fokus pada mencari solusi. Mengembangkan rasa percaya diri anak dengan memberikan kesempatan untuk berkreasi dan inovatif

Harapan ke depannya, semoga tidak ada lagi permasalahan tentang anak usia SD yang depresi dan mencoba bunuh diri. Untuk hal tersebut marilah kita sebagai  orangtua, pendidik, pemerintah, agar lebih peduli lagi pada hak-hak anak, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus punya fondasi yang kuat dan berkarakter. #Save our children# (*/udi)

*) Aktivis Perempuan dan Anak Konsorsium Javlec Berau/ Ketua PDRI Berau


BACA JUGA

Jumat, 15 Desember 2017 00:21

Bisnis Terganggu karena Kesal dengan Mantan Suami

BEBERAPA waktu lalu, saya jumpa sahabat lama. Tak sengaja, saya melihatnya berjalan kaki melintasi kantor…

Senin, 11 Desember 2017 10:35

Kata Bodoh di Lingkungan Anak

Sebagai seorang pendidik, sangat miris memperhatikan anak-anak kita sekarang. Mulut-mulut anak sepolos…

Selasa, 05 Desember 2017 11:54

Begini Caranya ‘Move On’ dari Mantan

BAGI sebagian orang, tidaklah mudah menghapus memori atau melupakan seseorang yang sebelumnya pernah…

Minggu, 03 Desember 2017 10:43

Bisakah Belajar Tanpa Guru?

BELAKANGAN ini banyak yang menyampaikan, belajar tidak harus dengan seorang guru. Belajar bisa dengan…

Minggu, 26 November 2017 00:46

Optimalisasi Pengasuhan Anak

  PEMBACA yang budiman, anak merupakan amanah sekaligus aset berharga yang dimiliki para orangtua.…

Minggu, 26 November 2017 00:41

Terlanjur Terjebak Riba, Coba Ubah Pola Pikir

SALAH satu yang membuat seseorang terpuruk bahkan tak sanggup lagi bangkit adalah persoalan utang-piutang.…

Sabtu, 18 November 2017 12:19

Demi Setya Novanto, Fortuner Tuntut Tiang Listrik

TIBA-tiba, publik menyalahkan sebuah tiang listrik. Ya, tiang listrik milik Perusahaan Listrik Negara…

Jumat, 17 November 2017 10:08

CSR demi Kesejahteraan Masyarakat

TANGGUNG jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR),adalah pendekatan mekanisme…

Minggu, 12 November 2017 11:55

Bentengi Keluarga dari Predator Anak

PEDOFILIA atau dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai predator anak merupakan sejenis penyakit kelainan…

Jumat, 10 November 2017 11:10

MEMAKNAI HARI PAHLAWAN

HARI ini tanggal 10 November 2017, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Kalau kita berbicara mengenai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .