MANAGED BY:
MINGGU
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 13 April 2017 11:00
Letusan Gunung Tambora yang Gegerkan Dunia
Nining Febriani

PROKAL.CO, TAMBORA, sebuah nama gunung yang terletak di Nusa Tenggara Barat. Tambora memiliki sejarah panjang yang selalu diingat dengan kedasyatannya. Karena efek fenomena alam itu tidak hanya mempengaruhi Indonesia, tapi segala penjuru dunia.

Musim dunia berubah seketika. Pada 5-11 April 2017, Festival Pesona Tambora pun digelar di Dompu, NTB. Tepatnya di Doro Ncanga. Event ini diadakan untuk memperingati 202 tahun Letusan Gunung Tambora.

Kedahsyatan letusan Tambora pun diabadikan dalam novel Tambora, karya Agus Sumbogo. Berkisah tentang penemuan Lesly, seorang mahasiswa arkeologi dari Universitas Rhode Island Amerika Serikat, yang akan membawa mereka ke Indonesia. Bermula dari rasa penasaran yang dimiliki Lesly pada kesibukan ayahnya, Profesor Thomas yang selalu mengurung diri di museum pribadinya. Setiap ayahnya di sana, Lesly melihat keanehan yang terjadi. 

Lesly pun diam-diam menyusup, dan seperti dugaannya di sana dia menemukan benda yang sangat hebat. Dalam museum tersebut, Lesly menemukan sebuah tengkorak kepala manusia dan kopiah emas dari Pulau Sumbawa.

“Di musim panas tahun 2004, Profesor Thomas Wilson sempat melakukan ekpedisi penggalian tiga kesultanan yang terkubur abu vulkanik dan lahar Gunung Tambora yang meletus pada tahun 1815” (Sumbogo, 2015: 19).

Pada kutipan di atas, benar adanya bahwa pada tahun 2004 penggalian arkeologi oleh para peneliti dari Amerika Serikat yang dipimpin oleh Prof Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island. Tetapi para peneliti itu hanya menemukan sisa-sisa peradaban seperti perunggu, tembikar dan kaca. Akan tetapi penulis novel Tambora Agus Sumbogo tidak hanya menjiplak kenyataan semata, melainkan merupakan sebuah proses kreatif yang bertitik pangkal pada kenyataan.

Contoh yang pertama proses kreatif Agus Sumbogo adalah nama Prof Haraldur yang diubah menjadi Prof Thomas. Kedua, proses kreatif Agus Sumbogo adalah Prof Thomas yang tanpa sengaja sebuah benda bertuah dengan daya magis yang hebat terbawa hingga ke tempat tinggalnya, Rhode Island Amerika. Berikutnya, proses kreatif Agus Sumbogo adalah benda tersebut yang selama ini berada di museum pribadi bereaksi secara mistis karena pada tanggal 10 dan 11 April 2015 akan diadakan peringatan dua abad meletusnya Tambora.

Perjalanan mereka pun dimulai. Pada langkah awal mereka pergi ke Bali untuk bertemu Pak Made, sahabat Profesor Thomas. Di sana Lesly dan Jeff selain bisa menikmati keindahan Bali juga bertemu dengan Wayan dan Uma yang akan mendampingi mereka untuk menyelesaikan misi pengembalian peninggalan itu.

Setelah istirahat beberapa hari di Bali, Lesly, Jeff, Uma dan wayan pun memulai perjalanan mereka. Tapi siapa sangka dalam perjalanan dari Bali, mobil yang mereka naiki mogok, cuaca mendadak gelap dan hujan deras muncul. Mereka pun terjebak tidak bisa melanjutkan jalan.

Namun sebuah cahaya dan suara dari orang sakti yang sering Lesly dengar menuntun mereka pada sebuah pintu gerbang besar berwarna putih tanpa dinding. Orang sakti itu menyuruh mereka masuk. Dimulai dari sana letusan Tambora akan terkuak.

Mereka berempat terlempar ke zaman silam yang akan memperlihatkan tentang sejarah masa lalu yang tidak terduga. Tentang penderitaan rakyat Dompu,  kekejaman Belanda, dan perang saudara yang terlihat nyata. Belanda melakukan siasat adu domba untuk memecah kekerabatan Kesultana Sanggar, Kesultaan Tambora dan Kesultanan Pekat. Ada juga proses penyebaran Islam dengan adanya seorang Syekh yang dihormati.

Setelah Lesly, Jeff, Uma dan wayan menyaksikan kejadian-kejadian masa silam sebelum tambora meletus dan akhirnya gunung tambora pun meletus. Lesly dan kawan-kawan menyaksikan detik-detik gunung tambora itu meletus, mereka mendengar suara gemuruh disertai semburan abu dari lubang di tengah gunung yang tinggal separuh. Semua terjadi dengan cepat, sulit digambarkan dengan kata-kata.

Kedahsyatan letusannya 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau. Hampir 110.000 orang meninggal, seluruh daratan di Kepulauan Indonesia terguncang. Musim dunia berubah. Bahkan di Amerika Utara banyak petani yang hampir bunuh diri karena ribuan hektar lahan pertaniannya gagal panen. Di Eropa musim salju berlangsung berkepanjangan sehingga mereka menyebut masa itu the year without summer, tahun tanpa musim panas” (Sumbogo, 2015: 13). Pada kutipan di atas yaitu fakta dari masa silam yang menggegerkan dunia menurut VEI (Volcanic Explosivity Index).

Catatan tentang letusan Gunung Tambora juga tercantum pada naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai. “Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah krisik batu dan habu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam,” sebut naskah kuno itu sebagaimana dibacakan ahli filologi Siti Maryam Salahuddin (88 tahun) yang merupakan putri Sultan Bima terakhir, Muhamad Salahuddin.

Pada akhir cerita perjalanan mereka, di rumah sakit dokter sedang memberikan kejutan jantung kepada empat sekawan itu. Ketika sampai pada kejutan ketiga, tubuh mereka kejang-kejang. Saat itulah roh Lesly dan teman-temannya mendarat dan masuk ke raga masing-masing. Lesly, Uma, Wayan, dan Jeff siuman. Mereka kaget begitu melihat dokter dan para perawat. Mereka sepakat tidak akan menceritakan apapun mengenai pengalaman mereka kepada orang-orang.

Semoga dari tulisan ini, dapat memberi wawasan tentang bencana alam. Manusia hidup tidak pernah bisa lepas dari alam. Dari kekayaan alam, kebutuhan manusia terpenuhi. Akan tetapi, melalui alam juga, manusia disadarkan bahwa bencana bisa terjadi kapan saja. Sebut saja gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan sebagainya. Inilah saatnya kita memahami keseimbangan geografis. Di setiap sudut wilayah di Bumi, potensi baik dan buruk alam pasti ada. Begitu juga dengan alam Indonesia. Bencana yang terjadi seharusnya menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua. (rjp)

 


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:16

Memaknai Kemerdekaan

TAK terasa ruang dan roda waktu berputar silih berganti. Tak terasa tanggal 17 Agustus 2017 bangsa…

Senin, 07 Agustus 2017 10:26

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

DI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama seorang perjaka. Umur…

Senin, 31 Juli 2017 00:48

Ekonomi Menunggu Obat Ayam Stres

SAYA bersyukur kedatangan ahli yang satu ini. Yang bisa jadi teman diskusi untuk persoalan berat saat…

Rabu, 19 Juli 2017 10:06

Isi Masa Muda dengan Hal Positif

MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan…

Rabu, 12 Juli 2017 09:44

Berau, Kaltara, Rumah Kita

WACANA kabupaten Berau bergabung ke Provinsi Kaltara yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Berau,…

Senin, 10 Juli 2017 09:08

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

INILAH urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR.…

Minggu, 09 Juli 2017 00:42

Investasi Anti Rugi

TAK semua orang punya mental bisnis. Butuh experience (pengalaman) yang malang melintang untuk jadi…

Rabu, 05 Juli 2017 10:59

Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage

TIDAK ada maaf lahir dan batin. Kelihatannya. Sabtu sore lalu, justru sikap Lee Hsien Yang, adik…

Senin, 03 Juli 2017 10:43

Mencita-citakan Kesalehan Anak

PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha.…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Budaya Bersedekah

RAMADAN setelah umrah 2014 lalu, baru Ramadan tahun ini saya sempat umrah kembali. Tiga tahun jadi jarak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .