MANAGED BY:
JUMAT
20 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 17 April 2017 10:10
Investor Monyet
Agus Tantomo

PROKAL.CO, WAKTU ikut mata kuliah investment analysis, ada satu cerita populer di kalangan anak-anak mahasiswa bisnis yg sekarang sering saya ceritakan ulang. Alkisah, di suatu desa yang terkenal dengan kekayaan monyetnya, suatu hari kedatangan investor. Sang investor berniat membeli monyet-monyet yang ada di desa itu.

Sang investor butuh 1.000 ekor monyet dan akan membeli dengan harga Rp 100.000 per ekor. Penduduk desa menyanggupinya. Transaksi terjadi, investor kemudian pergi, dengan 1.000 ekor monyet.

Selang sebulan kemudian, si investor kembali ke desa dan kali ini akan membeli 2.000 ekor monyet. Karena, katanya harga pasar lagi bagus, siinvestor kali ini bersedia membayar Rp 200.000 per ekor! Transaksi terjadi dan si investor pergi, dengan 2.000 ekor monyetnya.

Sebulan kemudian, sang investor yang sudah menjelma jadi idola masyarakat desa, datang lagi dengan penawaran yang lebih hebat. Akan membeli 3.000 ekor monyet dan sanggup membayar Rp 400.000 per ekor! Masalahnya, monyet di desa itu sudah habis.....


Sang investor pergi dan berjanji akan datang lagi kalau 3.000 monyet itu sudah tersedia.

Seminggu kemudian, datang investor lain yang menawarkan 3.000 monyet dengan harga "hanya" Rp 300.000 per ekor. Naluri  bisnis orang desa dengan cepat menghitung, mereka akan untung Rp 100.000 per ekor jika dijual ke investor yang pertama, yang sanggup membayar Rp 400.000 per ekor.

Transaksi terjadi. Investor yang kedua pergi, tanpa monyet, tapi dengan uang hasil penjualan 3.000 monyet.

Selanjutnya, bisa ditebak, investor pertama tidak bisa lagi dihubungi. Dan orang desa akhirnya sadar, monyet-monyet yang mereka beli adalah monyet-monyet yg sebelumnya mereka jual.

Pesan moral dari cerita di atas adalah ; investor yang baru datang selalu membawa kesan hebat dan membubungkan harapan kita.

Sewaktu kerja, mereka dapat menimbulkan kesan yang baik dan berhasil menutup yang buruk-buruknya. Setelah mereka pergi, kita baru sadar dengan semua keburukannya. Setelah semuanya terlambat.

Betul, tidak semua investor. Tapi saya berani mengatakan sebagian besar. Betapa hebat harapan masyarakat Berau ketika tahu di Berau akan dibuka pabrik kertas. Sekarang pabrik itu tinggal onggokan besi tua dengan bergumpal masalah yang ditinggalkan; karyawan yang dirumahkan tanpa digaji, sekolah yang tidak terurus, menyebut di antaranya. Dan pewaris tunggal masalah itu adalah pemerintah daerah.

Di Kutai Barat, pasca tutupnya Kelian Equatorial Mining (KEM), pemdanya sekarang cuma bisa menatap "kenang-kenangan" yang ditinggalkan perusahaan; lubang-lubang pasca tambang dan pengangguran dengan segala ekses sosial yang timbul.

Di Berau, kami masih punya beberapa perusahaan yang belum pergi. Yang masih belum habis kontraknya dan  masih belum kenyang menikmati keuntungan.

Persoalan tenaga kerja lokal, cuma satu dari sedikit masalah yang sering dibahas. Masalah lain, kerusakan jalan, lingkungan dan CSR.

Khusus masalah CSR, ada persepsi seolah-olah CSR itu adalah sumbangan perusahaan kepada masyarakat. Padahal, CSR adalah tanggung jawab perusahaan. Wajib.Hak masyarakat yang dikelola perusahaan. CSR tidak ada hubungannya dengan break even point, tingkat keuntungan, dan sejenisnya.

CSR wajib karena perusahaan mengelola lingkungan. Besarannya, memang di undang-undang TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) perusahaan tidak disebut angka dan persentase. Tapi, ditegaskan dengan kata "patut". Dan saya menilai, jumlah CSR yang diberikan perusahaan kepada masyarakat sangat tidak patut. Sangat kecil.

Ambil contoh, Berau coal dengan rencana produksi 38 juta metrik ton per tahun pada 2017 ini, hanya berencana mengalokasikan CSR sebesar Rp 110 miliar. Sekilas, angka Rp 110 miliar itu jumlah yang luar biasa.

Tapi, jika dibandingkan dengan harga 38 juta metrik ton batu bara, Rp 110 miliar setara kurang lebih 0,25 persennya saja. Apakah itu patut? Kata sahabat saya, zakat saja 2,5 %.

Kita baru sadar itu tidak patut, ketika kontrak perusahaan sudah habis dan mereka sudah pergi. Harus ada sesuatu yang kita lakukan sebelum semua terlambat.(rjp)


BACA JUGA

Jumat, 20 Oktober 2017 10:16

Gugatan Cerai dan Tuntutan Ranking Satu

TAK tahan dengan sikap suaminya, Viona (bukan nama sebenarnya), melayangkan gugatan cerai ke pengadilan…

Rabu, 18 Oktober 2017 11:41

Gengsi Orangtua, Anak Jadi Korban

Belum lama ini, datang seorang ibu membawa anaknya. Sang anak sebelumnya dikeluhkan oleh guru di sekolah,…

Minggu, 15 Oktober 2017 10:21

Ironi Biaya Perjalanan Dinas

UNDANG-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah menegaskan bahwa penyelenggaraan…

Rabu, 04 Oktober 2017 10:31

Bupati Kalah dengan Kepala Dinas?

“NDRO, mana berkas lamaranmu?” tanya Masdjuni tiba-tiba. Tentu saja saya sangat kaget mendengar…

Senin, 02 Oktober 2017 01:06

Selamat Datang Hu, Bye Bye Sun

HARI ini seluruh jalan tol di Tiongkok digratiskan. Tujuh hari. Selama libur perayaan Hari Kemerdekaan…

Selasa, 26 September 2017 09:49

STATISTICAL THINKING

STATISTICIAL thinking will one day be as necessary a qualification for efficient citizenship as the…

Selasa, 26 September 2017 09:39

Angpao Pun Dikirim dengan WeChat

TIBA di Tianjin, Tiongkok, pekan lalu, saya tersenyum: jumlah sepeda yang bisa disewa bertambah…

Rabu, 20 September 2017 11:31

Mengenal Ampik Salayang dari Kesultanan Sambaliung

ADA berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti kejayaan masa lalu dan masih bisa dilihat hingga saat…

Jumat, 15 September 2017 12:17

Memaknai Hari Jadi

Kabupaten Berau yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, hari…

Senin, 11 September 2017 00:23

Airi Sawah dengan Pompa Tenaga Solar Cell

SUDAH sebulan ini saya melakukan uji coba: pasang panel surya untuk pengairan. Listrik yang dihasilkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .