MANAGED BY:
MINGGU
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 17 April 2017 10:10
Investor Monyet
Agus Tantomo

PROKAL.CO, WAKTU ikut mata kuliah investment analysis, ada satu cerita populer di kalangan anak-anak mahasiswa bisnis yg sekarang sering saya ceritakan ulang. Alkisah, di suatu desa yang terkenal dengan kekayaan monyetnya, suatu hari kedatangan investor. Sang investor berniat membeli monyet-monyet yang ada di desa itu.

Sang investor butuh 1.000 ekor monyet dan akan membeli dengan harga Rp 100.000 per ekor. Penduduk desa menyanggupinya. Transaksi terjadi, investor kemudian pergi, dengan 1.000 ekor monyet.

Selang sebulan kemudian, si investor kembali ke desa dan kali ini akan membeli 2.000 ekor monyet. Karena, katanya harga pasar lagi bagus, siinvestor kali ini bersedia membayar Rp 200.000 per ekor! Transaksi terjadi dan si investor pergi, dengan 2.000 ekor monyetnya.

Sebulan kemudian, sang investor yang sudah menjelma jadi idola masyarakat desa, datang lagi dengan penawaran yang lebih hebat. Akan membeli 3.000 ekor monyet dan sanggup membayar Rp 400.000 per ekor! Masalahnya, monyet di desa itu sudah habis.....


Sang investor pergi dan berjanji akan datang lagi kalau 3.000 monyet itu sudah tersedia.

Seminggu kemudian, datang investor lain yang menawarkan 3.000 monyet dengan harga "hanya" Rp 300.000 per ekor. Naluri  bisnis orang desa dengan cepat menghitung, mereka akan untung Rp 100.000 per ekor jika dijual ke investor yang pertama, yang sanggup membayar Rp 400.000 per ekor.

Transaksi terjadi. Investor yang kedua pergi, tanpa monyet, tapi dengan uang hasil penjualan 3.000 monyet.

Selanjutnya, bisa ditebak, investor pertama tidak bisa lagi dihubungi. Dan orang desa akhirnya sadar, monyet-monyet yang mereka beli adalah monyet-monyet yg sebelumnya mereka jual.

Pesan moral dari cerita di atas adalah ; investor yang baru datang selalu membawa kesan hebat dan membubungkan harapan kita.

Sewaktu kerja, mereka dapat menimbulkan kesan yang baik dan berhasil menutup yang buruk-buruknya. Setelah mereka pergi, kita baru sadar dengan semua keburukannya. Setelah semuanya terlambat.

Betul, tidak semua investor. Tapi saya berani mengatakan sebagian besar. Betapa hebat harapan masyarakat Berau ketika tahu di Berau akan dibuka pabrik kertas. Sekarang pabrik itu tinggal onggokan besi tua dengan bergumpal masalah yang ditinggalkan; karyawan yang dirumahkan tanpa digaji, sekolah yang tidak terurus, menyebut di antaranya. Dan pewaris tunggal masalah itu adalah pemerintah daerah.

Di Kutai Barat, pasca tutupnya Kelian Equatorial Mining (KEM), pemdanya sekarang cuma bisa menatap "kenang-kenangan" yang ditinggalkan perusahaan; lubang-lubang pasca tambang dan pengangguran dengan segala ekses sosial yang timbul.

Di Berau, kami masih punya beberapa perusahaan yang belum pergi. Yang masih belum habis kontraknya dan  masih belum kenyang menikmati keuntungan.

Persoalan tenaga kerja lokal, cuma satu dari sedikit masalah yang sering dibahas. Masalah lain, kerusakan jalan, lingkungan dan CSR.

Khusus masalah CSR, ada persepsi seolah-olah CSR itu adalah sumbangan perusahaan kepada masyarakat. Padahal, CSR adalah tanggung jawab perusahaan. Wajib.Hak masyarakat yang dikelola perusahaan. CSR tidak ada hubungannya dengan break even point, tingkat keuntungan, dan sejenisnya.

CSR wajib karena perusahaan mengelola lingkungan. Besarannya, memang di undang-undang TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) perusahaan tidak disebut angka dan persentase. Tapi, ditegaskan dengan kata "patut". Dan saya menilai, jumlah CSR yang diberikan perusahaan kepada masyarakat sangat tidak patut. Sangat kecil.

Ambil contoh, Berau coal dengan rencana produksi 38 juta metrik ton per tahun pada 2017 ini, hanya berencana mengalokasikan CSR sebesar Rp 110 miliar. Sekilas, angka Rp 110 miliar itu jumlah yang luar biasa.

Tapi, jika dibandingkan dengan harga 38 juta metrik ton batu bara, Rp 110 miliar setara kurang lebih 0,25 persennya saja. Apakah itu patut? Kata sahabat saya, zakat saja 2,5 %.

Kita baru sadar itu tidak patut, ketika kontrak perusahaan sudah habis dan mereka sudah pergi. Harus ada sesuatu yang kita lakukan sebelum semua terlambat.(rjp)


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:16

Memaknai Kemerdekaan

TAK terasa ruang dan roda waktu berputar silih berganti. Tak terasa tanggal 17 Agustus 2017 bangsa…

Senin, 07 Agustus 2017 10:26

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

DI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama seorang perjaka. Umur…

Senin, 31 Juli 2017 00:48

Ekonomi Menunggu Obat Ayam Stres

SAYA bersyukur kedatangan ahli yang satu ini. Yang bisa jadi teman diskusi untuk persoalan berat saat…

Rabu, 19 Juli 2017 10:06

Isi Masa Muda dengan Hal Positif

MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan…

Rabu, 12 Juli 2017 09:44

Berau, Kaltara, Rumah Kita

WACANA kabupaten Berau bergabung ke Provinsi Kaltara yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Berau,…

Senin, 10 Juli 2017 09:08

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

INILAH urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR.…

Minggu, 09 Juli 2017 00:42

Investasi Anti Rugi

TAK semua orang punya mental bisnis. Butuh experience (pengalaman) yang malang melintang untuk jadi…

Rabu, 05 Juli 2017 10:59

Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage

TIDAK ada maaf lahir dan batin. Kelihatannya. Sabtu sore lalu, justru sikap Lee Hsien Yang, adik…

Senin, 03 Juli 2017 10:43

Mencita-citakan Kesalehan Anak

PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha.…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Budaya Bersedekah

RAMADAN setelah umrah 2014 lalu, baru Ramadan tahun ini saya sempat umrah kembali. Tiga tahun jadi jarak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .