MANAGED BY:
MINGGU
27 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 17 April 2017 10:10
Investor Monyet
Agus Tantomo

PROKAL.CO, WAKTU ikut mata kuliah investment analysis, ada satu cerita populer di kalangan anak-anak mahasiswa bisnis yg sekarang sering saya ceritakan ulang. Alkisah, di suatu desa yang terkenal dengan kekayaan monyetnya, suatu hari kedatangan investor. Sang investor berniat membeli monyet-monyet yang ada di desa itu.

Sang investor butuh 1.000 ekor monyet dan akan membeli dengan harga Rp 100.000 per ekor. Penduduk desa menyanggupinya. Transaksi terjadi, investor kemudian pergi, dengan 1.000 ekor monyet.

Selang sebulan kemudian, si investor kembali ke desa dan kali ini akan membeli 2.000 ekor monyet. Karena, katanya harga pasar lagi bagus, siinvestor kali ini bersedia membayar Rp 200.000 per ekor! Transaksi terjadi dan si investor pergi, dengan 2.000 ekor monyetnya.

Sebulan kemudian, sang investor yang sudah menjelma jadi idola masyarakat desa, datang lagi dengan penawaran yang lebih hebat. Akan membeli 3.000 ekor monyet dan sanggup membayar Rp 400.000 per ekor! Masalahnya, monyet di desa itu sudah habis.....


Sang investor pergi dan berjanji akan datang lagi kalau 3.000 monyet itu sudah tersedia.

Seminggu kemudian, datang investor lain yang menawarkan 3.000 monyet dengan harga "hanya" Rp 300.000 per ekor. Naluri  bisnis orang desa dengan cepat menghitung, mereka akan untung Rp 100.000 per ekor jika dijual ke investor yang pertama, yang sanggup membayar Rp 400.000 per ekor.

Transaksi terjadi. Investor yang kedua pergi, tanpa monyet, tapi dengan uang hasil penjualan 3.000 monyet.

Selanjutnya, bisa ditebak, investor pertama tidak bisa lagi dihubungi. Dan orang desa akhirnya sadar, monyet-monyet yang mereka beli adalah monyet-monyet yg sebelumnya mereka jual.

Pesan moral dari cerita di atas adalah ; investor yang baru datang selalu membawa kesan hebat dan membubungkan harapan kita.

Sewaktu kerja, mereka dapat menimbulkan kesan yang baik dan berhasil menutup yang buruk-buruknya. Setelah mereka pergi, kita baru sadar dengan semua keburukannya. Setelah semuanya terlambat.

Betul, tidak semua investor. Tapi saya berani mengatakan sebagian besar. Betapa hebat harapan masyarakat Berau ketika tahu di Berau akan dibuka pabrik kertas. Sekarang pabrik itu tinggal onggokan besi tua dengan bergumpal masalah yang ditinggalkan; karyawan yang dirumahkan tanpa digaji, sekolah yang tidak terurus, menyebut di antaranya. Dan pewaris tunggal masalah itu adalah pemerintah daerah.

Di Kutai Barat, pasca tutupnya Kelian Equatorial Mining (KEM), pemdanya sekarang cuma bisa menatap "kenang-kenangan" yang ditinggalkan perusahaan; lubang-lubang pasca tambang dan pengangguran dengan segala ekses sosial yang timbul.

Di Berau, kami masih punya beberapa perusahaan yang belum pergi. Yang masih belum habis kontraknya dan  masih belum kenyang menikmati keuntungan.

Persoalan tenaga kerja lokal, cuma satu dari sedikit masalah yang sering dibahas. Masalah lain, kerusakan jalan, lingkungan dan CSR.

Khusus masalah CSR, ada persepsi seolah-olah CSR itu adalah sumbangan perusahaan kepada masyarakat. Padahal, CSR adalah tanggung jawab perusahaan. Wajib.Hak masyarakat yang dikelola perusahaan. CSR tidak ada hubungannya dengan break even point, tingkat keuntungan, dan sejenisnya.

CSR wajib karena perusahaan mengelola lingkungan. Besarannya, memang di undang-undang TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) perusahaan tidak disebut angka dan persentase. Tapi, ditegaskan dengan kata "patut". Dan saya menilai, jumlah CSR yang diberikan perusahaan kepada masyarakat sangat tidak patut. Sangat kecil.

Ambil contoh, Berau coal dengan rencana produksi 38 juta metrik ton per tahun pada 2017 ini, hanya berencana mengalokasikan CSR sebesar Rp 110 miliar. Sekilas, angka Rp 110 miliar itu jumlah yang luar biasa.

Tapi, jika dibandingkan dengan harga 38 juta metrik ton batu bara, Rp 110 miliar setara kurang lebih 0,25 persennya saja. Apakah itu patut? Kata sahabat saya, zakat saja 2,5 %.

Kita baru sadar itu tidak patut, ketika kontrak perusahaan sudah habis dan mereka sudah pergi. Harus ada sesuatu yang kita lakukan sebelum semua terlambat.(rjp)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 26 Mei 2018 00:59

Terapi Emosi dalam Sekejap

SAAT berada pada kondisi yang tidak menyenangkan atau ditimpa persoalan, pilihannya sebenarnya hanya…

Jumat, 25 Mei 2018 00:42

Inokulasi Bakteri Probiotik Atasi Bau Sampah

POLUSI berupa bau sampah yang tidak sedap di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga Berau, sempat menjadi…

Kamis, 24 Mei 2018 14:30

Ibu, Kembalilah pada Fitrahmu

Beredarnya video penganiayaan seorang ibu kepada anak kandungnya di media sosial, membuat geram semua…

Senin, 21 Mei 2018 13:50

Ibu Senang, Bayi Girang

BULAN suci Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan. Semua umat Islam bersuka cita atas kehadiran…

Sabtu, 19 Mei 2018 12:24

SELAMAT DATANG RAMADAN

ALHAMDULILLAH, umat islam sudah memasuki bulan Ramadan, aromanya yang beberapa minggu lalu sudah semerbak…

Jumat, 18 Mei 2018 00:05

Penyegaran atau Balas Dendam?

BAHWA mutasi atau perombakan pejabat di lingkungan pemerintahan, baik di tingkat kabupaten dan kota…

Rabu, 16 Mei 2018 00:51

Islam Melawan Terorisme

JAGAT media kembali memberitakan aksi terorisme. Menurut keterangan juru bicara Kepolisian Daerah Jawa…

Selasa, 08 Mei 2018 00:28

Ekonomi Syukur

BERSYUKUR adalah salah satu ajaran terpenting dalam Islam. Bersyukur sebanding dengan bersabar.…

Senin, 07 Mei 2018 11:18

“Ya Allah, muliakan dan bahagiakanlah Pak Jokowi.”

SAAT membaca kalimat doa di atas, bagaimana tanggapan Anda? Ingat, respons Anda yang paling pertama…

Rabu, 02 Mei 2018 00:28

Ketika Hak “Dilayani” Terabaikan

MASIH terlintas di benak saya, sebanyak 42 kepala daerah mendapat penghargaan berupa piala dan piagam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .