MANAGED BY:
KAMIS
25 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 19 April 2017 10:12
The Power of Susenas
Oleh: Agus Haryanto

PROKAL.CO, BADAN Pusat Statistik (BPS) dalam menyediakan data memiliki berbagai macam survei dalam pengumpulannya. Salah satu survei yang dilaksanakan oleh BPS adalah Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional), sebuah survei yang ketika pelaksanaannya cukup menguras tenaga segenap insan BPS.

Susenas merupakan salah satu survei rutin BPS yang menjadi sumber data utama untuk kegiatan pembangunan di bidang sosial dan ekonomi. Data dan informasi yang dihasilkan susenas selalu ditunggu dan menjadi rujukan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Susenas juga menjadi rujukan utama untuk memantau perkembangan pencapaian sustainable development goals (SDGs) setiap tahunnya hingga 2030. Sebuah survei yang mengemban amanah cukup berat di dalamnya.

Rumah tangga responden susenas pasti akan merasa sedikit terganggu dengan kehadiran petugas survei, karena pertanyaan yang diajukan petugas sangat banyak yang tentu memakan waktu sekitar dua jam saat melaksanakannya. Bisa dibayangkan bagaimana keponya survei ini ketika responden ditanya berapa beras yang dihabiskan selama seminggu untuk keperluan rumah tangganya? Makan ikan apa saja? Ada membeli perabotan rumah tangga apa tidak dalam sebulan terakhir? Balita yang berada di rumah tangga tersebut sudah mendapat imunisasi apa belum? Menggunakan alat kontrasepsi apa wanita yang berstatus kawin atau pernah kawin? Sampai berapa batang rokok yang dihabiskan dalam seminggu?

Pada susenas yang dilaksanakan Maret 2017 lalu, juga ada pertanyaan mengenai akses terhadap makanan. Di mana tujuan pertanyaan ini adalah untuk memperkirakan prevalensi food insecurity. Food security adalah ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi terhadap makanan yang cukup, aman dan bergizi, yang memenuhi kebutuhan makanan mereka dan preferensi makanan untuk hidup aktif dan sehat.

Salah satu target pada SDG’s adalah mengakhiri kelaparan dan menjamin akses bagi semua orang, khususnya orang miskin dan rentan, termasuk bayi, untuk memperoleh makanan yang aman, bergizi dan cukup sepanjang tahun pada tahun 2030.

Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) dua kali dalam setahun adalah satu-satunya survei yang mampu menangkap pola pengeluaran penduduk Indonesia, termasuk kelompok penduduk miskin. Dalam beberapa tahun terakhir, susenas telah menangkap fakta menarik terkait pola pengeluaran penduduk miskin, yakni tingginya konsumsi rokok filter dan kretek. Sebagian besar pengeluaran atau pendapatan penduduk miskin, ternyata selain dialokasikan untuk membeli beras juga dialokasikan untuk membeli rokok. Hal ini tercermin dari kontribusi pengeluaran untuk rokok dalam perhitungan garis kemiskinan (GK).

GK adalah batas rupiah minimum yang mesti dikeluarkan oleh setiap orang dalam sebulan agar tidak terkategori miskin. Penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan lebih kecil dari GK disebut miskin.

Susenas begitu banyak meracik indikator sosial dan ekonomi, komponen penuyusun Indeks Pembangunan Manusia (IPM), seperti rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, serta komponen standar hidup layak berupa pengeluaran riil yang disesuaikan dengan paritas daya beli bersumber dari susenas.

Begitu luar biasa banyaknya data yang dapat dihasilkan oleh survei ini, kumpulan data yang dapat menjadi acuan dalam menggerakkan roda pembangunan negeri ini. Perjuangan rekan-rekan pengumpul data juga perlu mendapat apresiasi, bagaimana ketika mereka harus menahan teriknya sengatan matahari atau dinginnya guyuran air hujan yang menemani mereka saat mengumpulkan data di lapangan. Sebuah kesungguhan dalam mengemban amanah untuk menyediakan data yang berkualitas.

Hingga tidaklah berlebihan jika kita katakan apabila ada the power of love dalam cerita Romeo and Juliet atau Rama dan Shinta, maka juga ada the power of susenas dalam menentukan kebijakan pembangunan di bidang sosial ekonomi negeri ini. (*/udi)

*) Statistisi Pertama BPS Berau


BACA JUGA

Kamis, 25 Mei 2017 10:30

Bahasa dan Pergolakan Sosial pada Novel Jatisaba

Seorang perempuan dari sebuah novel Jatisaba lakon utamanya Mainah, yang biasa dipanggil Mae. Mae adalah…

Selasa, 23 Mei 2017 09:29

Pelajaran Menikmati Diri Sendiri

INILAH salah satu kesibukan utama saya selama diperkarakan oleh Kejati Jatim: nonton Dangdut Academy…

Senin, 22 Mei 2017 09:36

Bahasa Banua Jadi Identitas

KAREKTERISTIK satu daerah semakin diperlukan seiring semakin mencuatnya politik identitas pada hampir…

Minggu, 21 Mei 2017 01:01

Refleksi dari Omelan Ibu Misterius

TENGAH pekan lalu, tiba-tiba, saat siang bolong, Gedung Biru Berau Post di Jalan Bukit Ria seketika…

Sabtu, 13 Mei 2017 00:59

Mengurai Masalah Rangkap Jabatan

PERMASALAHAN rangkap jabatan kerap mencuat dan muncul di permukaan sebagai buah simalakama, khususnya…

Jumat, 12 Mei 2017 11:09

Rasanya, Kita yang Besarkan HTI

Begitu banyak kelompok dalam Islam. Non-Islam sering tidak tahu. Lalu mengira sama. Bahaya semua. HTI,…

Selasa, 09 Mei 2017 10:26

Menuju Pemilihan Kepala Kampung Serentak

SEBUAH hajatan besar yang merupakan pesta demokrasi di tingkatan kampung akan digelar di Bumi Batiwakkal…

Senin, 08 Mei 2017 09:46

Ibarat Kehamilan yang Aneh

MEREALISASIKAN ide Presiden SBY agar “Yang mampu menjadi populer dan kemudian terpilih”…

Minggu, 07 Mei 2017 10:39

Bagaimana Menjaring Orang Mampu

MESKI  di belakang hari banyak yang kecewa, saya akui ide awal Presiden SBY ini sangat brilian.…

Sabtu, 06 Mei 2017 10:36

Mampu Belum Tentu Terpilih, Terpilih Belum Tentu Mampu

DIA tampak sering gelisah. Terutama pada dua tahun terakhir masa kepresidenannya. Jenderal TNI Prof…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .