MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 06 Juni 2017 00:11
Ingat Ayah di Senam Puasa
Oleh: DAHLAN ISKAN

PROKAL.CO, PADA bulan puasa ini, peserta senam saya menurun drastis. Dari 50 tinggal 15 orang. Untung saya tidak memungut bayaran. Tidak perlu takut pendapatan turun.

Mengapa saya tetap berolahraga pada bulan puasa setiap pagi, satu jam lebih? Jelas. Saya ingin tetap sehat. Di samping ingin naik pangkat: ha-ha-ha, jadi pelatih. Sudah delapan tahun tiap hari senam di Monas Jakarta tidak pernah naik pangkat.

Selama terkena perkara, saya harus tinggal di Surabaya. Mau senam di mana? Banyak senam di Surabaya tapi aerobik atau pilates atau freeletics. Terlalu muda untuk orang berumur 66 tahun. Mau senam Dahlan Style, begitu teman-teman menamai senam Monas.

Maka saya putuskan bikin senam Monas Cabang Surabaya. Saya angkat diri saya sendiri jadi pelatihnya. Beberapa teman lama bisa saya ancam untuk pura-pura jadi peserta. Lalu tergiur. Jadi peserta benaran. Kian lama kian banyak. Asyik. Yang berjilbab pun kini bisa dansa Xiao Ping Guo. Atau Mambo Number Five. Atau Cha Cha Badansa. Dan banyak lagi. Yang muda-muda sudah bisa lebih lincah dari saya. Bahkan saya sudah melantik lima di antara mereka, lima dara cantik, sebagai pelatih baru.

Kian seru, kian asyik. Entahlah, apakah juga kian sehat. Ancaman penyakit memang masih terus mengintai saya. Saya harus atasi itu. Saya tidak boleh takluk. Tidak boleh jatuh sakit. Kekebalan tubuh saya memang diturunkan. Secara sengaja. Agar hati baru saya bisa tetap kerasan di tubuh saya. Menggantikan hati lama yang penuh kanker 10 tahun lalu. Saya harus jaga kesehatan melebihi orang normal.

Tidak takut batal puasa karena kehausan, karena kelelahan? Saya punya obatnya. Sangat manjur. Namanya: Moh Iskan, ayah saya yang sudah almarhum. Bayangan masa kecil tentang ayah terus hidup sampai saya tua. Pada bulan puasa pun ayah pergi ke sawah. Mencangkul selama empat jam. Biarpun panas sudah terik. Menembus punggung hitam yang tanpa baju. Yang memperlihatkan tulang-tulangnya yang menonjol.

Sesekali ayah menegakkan punggungnya, agar tidak pegal-pegal. Sesekali juga ayah membasahi celana kombor hitamnya yang sampai bawah lutut itu. Dengan air lumpur di sela-sela cangkulnya. Agar badan terasa lebih dingin. Sesekali lainnya ayah tampak mengencangkan kolornya. Agar celana kombornya tetap menempel di perutnya yang kian siang kian tipis.

Sebelum puasa, saya sering mengirim singkong rebus ke sawah untuk sarapannya. Dalam bulan puasa tidak ada lagi sarapan. Saya mendampingi dari jauh. Sambil membuat mainan. Membuat wayang dari tangkai bunga rumput. Lalu memainkannya dengan iringan gamelan dari mulut sendiri.

Belakangan ayah tidak mencangkul lagi. Sawah itu dijual. Setelah tidak ada meja dan lemari yang bisa dijual lagi. Ketika isi rumah sudah habis dijual. Ketika sakitnya ibu terus berlarut-larut.

Jadi, dibanding beratnya ayah mencangkul, di mana susahnya senam? Yang hanya 1,5 jam. Di bawah pohon rindang dengan lagu-lagu top hit bervariasi. Dengan teman-teman dansa yang sebagian seksi-seksi. “Maka,” kata saya kepada peserta senam pada bulan puasa, “Kalau Anda takut senam, ingatlah ayah saya.”

Dari sawah, ayah mampir ke parit untuk mandi. Tepatnya untuk membersihkan lumpur dari badannya. Dengan segenggam rumput sebagai penggosoknya. Saya sering ikut seperti itu.

Tiba di rumah, ayah menggelar tikar mendong. Di lantai rumah yang berupa tanah. Tidur. Dengan celana kombor hitam lainnya. Tanpa baju. Saat telentang terlihat kulit perutnya seperti menempel di bagian paling belakang tulangnya. Hanya turun naik napasnya yang menandakan kulit perut itu tidak lengket di dasar perutnya.

Satu jam kemudian ayah sudah di masjid: salat Zuhur. Lalu ambil cangkul lagi ke sebidang tanah di belakang rumah atau sabit. Merapikan pohon pisang. Atau membetulkan parit. Atau menimba air sumur untuk mengisi bak mandi. Ada saja yang dilakukannya. Sampai azan Asar ke masjid jadi imam.

Pulang dari masjid langsung buka Alquran. Membacanya sampai senja. Satu bulan puasa ayah bisa tamat dua kali. Saya satu kali. Ayahlah yang dulu mengajari saya membaca Quran. Sebelum masuk SD saya sudah bisa menamatkannya. Saya sudah bisa membaca huruf Arab sebelum bisa membaca huruf latin. Meski tidak tahu artinya. Tidak ada TK di desa saat itu. Apalagi playgroup.

Kelak, ketika di usia tua, saya memutuskan belajar bahasa Mandarin. Saya ingat itu. Saya paksakan harus bisa membaca huruf kanji meski awalnya tidak tahu artinya. Sehabis buka puasa, sampai malam, waktu ayah habis untuk ibadah. Ayahlah imam salat Tarawih. Di kampung saya hanya ayah yang hafal ayat-ayat Quran sebanyak yang diperlukan untuk salat Tarawih.

Di luar bulan puasa, ayah kembali ke sawah pada malam hari. Di bulan puasa waktunya habis di masjid. Termasuk mengawasi kami-kami yang masih anak-anak. Agar tetap dalam grup di sekeliling meja di tengah masjid. Membaca Quran sampai larut malam. Sayalah ketua grup anak-anak itu. Sebelum remaja. Saat saya harus meninggalkan kampung untuk ke pesantren Takeran, Magetan, 6 kilometer dari kampung saya.

Sosok ayah yang pekerja keras itu terpatri kuat di benak anaknya. Sampai sekarang tidak bisa hilang. Kalau tahu olahraga itu bisa menyehatkan, mengapa Pak Dahlan tidak sejak dulu-dulu olahraga? Ya, itulah. Waktu itu saya pun seperti Anda sekarang ini. (rom/k11/kpg/udi)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 20 Februari 2018 09:27

Menanti Angpao di Hari Imlek

TENTU saya tidak sabar menunggu waktu satu bulan. Saya sudah berusaha bersikap tenang. Saya tenang-tenangkan.…

Senin, 19 Februari 2018 10:57

Bahagia walau Gagal Gemuk

BERAT badan saya turun terus. Tinggal 66 kilogram (kg). Dari 70 kg sebelum operasi. Saya harus melawannya.…

Minggu, 18 Februari 2018 11:07

Selang Rp 500 Juta di Pembuluh Saya

KEMBALI opname, saya langsung diinfus delapan botol. Dokter Mohammed Tauqeer Ahmad, ahli syaraf itu,…

Sabtu, 17 Februari 2018 00:43

Tergoda Lanzhou Lamian Satu-satunya

ROBERT Lai mengabarkan kesuksesan operasi itu ke keluarga saya di Surabaya yang sedang menata barang…

Jumat, 16 Februari 2018 10:40

Valentine Berdarah

SEPERTIsudah menjadi tradisi bagi para pemuda mengadakan pagelaran bernuansa “cinta” pada…

Jumat, 16 Februari 2018 10:20

Pisau di Tangan Benjamin Chua dan Manish

TIBALAH saat operasi itu. Tempat tidur saya didorong dari kamar 803. Menuju ruang operasi di Rumah Sakit…

Kamis, 15 Februari 2018 10:11

Trauma Pilih Kasih dan Harta Warisan

PILIH kasih bisa menyebabkan trauma. Sikap orang tua yang pilih kasih pada anak pada akhirnya memang…

Selasa, 13 Februari 2018 00:04

Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

SETELAH anak-menantu-cucu ke Makkah, tinggal saya dan istri di Madinah. Kesakitan. Tergolek di tempat…

Senin, 12 Februari 2018 09:51

Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi Suatu Daerah

PERTUMBUHAN ekonomi suatu daerah sangat dipengaruhi oleh permasalahan ekonomi yang dihadapi daerah tersebut.…

Senin, 12 Februari 2018 09:36

Rakus Lentil dan Kurma Mentah Beku

SEMUA itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba dari Surabaya setelah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .