MANAGED BY:
JUMAT
18 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 17 Juni 2017 00:05
Mengukur Kebahagiaan
Oleh: Agus Haryanto

PROKAL.CO, JIKA ditanya, seberapa bahagiakah anda? Maka jawaban yang kita dapat pasti akan sangat beragam. Karena kebahagiaan tidak dapat diukur secara kuantitatif. Nilai kebahagiaan orang yang satu dengan yang lain akan berbeda. Bisa saja orang yang hidup dengan istri dan kedua anaknya mengatakan dia bahagia, akan tetapi seorang yang hidup sendiri juga dapat mengatakan dia sangat bahagia. Semua orang pasti ingin memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) disebutkan bahwa kebahagiaan adalah perasaan bahagia, terdapat kesenangan dan ketenteraman hidup baik lahir dan batin. Sejauh ini memang definisi kebahagiaan bisa menjadi sangat begitu subjektif dan berbeda-beda pada bagi setiap orang.

Banyak faktor yang mempengaruhi pada tinggi rendahnya tingkat kebahagiaan. Ada berbagai pendekatan dalam usaha untuk memahami arti kebahagiaan. Misalnya pendekatan biologis, psikologis, agama, dan filsafat yang telah berusaha untuk mendefinisikan kebahagiaan dan mengidentifikasi darimana sumber kebahagiaan tersebut.

Selain itu, para peneliti juga telah mengidentifikasi beberapa atribut yang berkorelasi dengan kebahagiaan diantaranya adalah hubungan dan interaksi sosial, status perkawinan, pekerjaan, kesehatan, kebebasan demokrasi, optimisme, keterlibatan dalam kegiatan agama, pendapatan ekonomi dan kedekatan dengan orang bahagia lain.

Definisi kebahagiaan sangatlah kualitatif, karena menyangkut perasaan atau kondisi emosional yang dirasakan oleh seseorang pada saat tertentu. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh kualitas hidup yang tengah dirasakan. Karena itu, pengukuran kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mudah. Meskipun tak mudah, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengukur kebahagian. Upaya ini didasari oleh kesadaran bahwa kebahagiaan merupakan variabel sosial yang perlu dievaluasi progresnya.

Pada tahun 2017 ini, untuk kedua kalinya Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) dengan cakupan seluruh provinsi di Indonesia. Responden yang didata tersebar di berbagai kelurahan maupun desa. Data yang dikumpulkan oleh survei ini sedikit berbeda dengan data yang biasa dikumpulkan BPS dalam berbagai survei.

Pada umumnya, survei BPS mengumpulkan data dari responden yang bersifat kuantitatif berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian kondisi objektif. Sebaliknya data yang dikumpulkan pada SPTK2017 mencakup pengamatan dan penilaian objektif yang dilengkapi dengan data yang merupakan hasil penilaian responden yang sifatnya subjektif. SPTK2017 ini bertujuan untuk menghitung indeks kebahagiaan dan menghitung indikator modal sosial 2017.

Indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Setiap aspek kehidupan memiliki besaran kontribusi yang berbeda-beda terhadap indeks kebahagiaan. Hal ini terjadi karena perbedaan penilaian mengenai derajat pentingnya setiap aspek kehidupan terhadap tingkat kebahagiaan secara keseluruhan. Semakin besar kontribusi suatu aspek kehidupan, menunjukkan semakin penting aspek tersebut bagi indeks kebahagiaan.

Tiga aspek kehidupan yang memiliki kontribusi paling tinggi adalah pendapatan rumah tangga (14,48%), pendidikan (14,18%), serta pekerjaan (12,21%).

Indeks kebahagiaan Kalimantan Timur pada tahun 2014 sebesar 71,45 pada skala 0 – 100. Penduduk yang belum menikah lebih bahagia dibandingkan dengan yang sudah menikah, hal ini dapat kita lihat dari angka indeks kebahagiaan belum menikah sebesar 73,09 sedangkan yang sudah menikah sebesar 71,9. Dari data tersebut para jomblowan dan jomblowati harus bangga karena ternyata mereka lebih bahagia.  Para remaja dan pemuda yang berumur antara 17 -24 tahun juga memiliki angka indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.  Semakin tinggi rata-rata pendapatan rumah tangga, semakin tinggi pula indeks kebahagiaannya. Pada tingkat pendapatan lebih dari 7,2 juta rupiah per bulan, indeks kebahagiaannya mencapai 77,40 sementara pada tingkat pendapatan 1,8 juta rupiah ke bawah maka indeks kebahagiannya hanya 65,79.

Kita sebagai warga Negara perlu berupaya untuk mencapai peningkatan kebahagiaan pribadi masing-masing melalui berbagai faktor yang berada dalam kendali kita. Untuk mencapai kebahagiaan tidak hanya sekadar berangan-angan dan tenggelam dalam buaian mimpi indah semata. Harus diusahakan dengan berbagai cara yang ada. Semoga kita semua dapat meraih kebahagiaan yang kita inginkan. Hidup bahagia adalah salah satu modal dasar untuk menuju kehidupan yang lebih baik.(*/app)

*) Statistisi Pertama Badan Pusat Statistik

 


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:16

Memaknai Kemerdekaan

TAK terasa ruang dan roda waktu berputar silih berganti. Tak terasa tanggal 17 Agustus 2017 bangsa…

Senin, 07 Agustus 2017 10:26

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

DI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama seorang perjaka. Umur…

Senin, 31 Juli 2017 00:48

Ekonomi Menunggu Obat Ayam Stres

SAYA bersyukur kedatangan ahli yang satu ini. Yang bisa jadi teman diskusi untuk persoalan berat saat…

Rabu, 19 Juli 2017 10:06

Isi Masa Muda dengan Hal Positif

MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan…

Rabu, 12 Juli 2017 09:44

Berau, Kaltara, Rumah Kita

WACANA kabupaten Berau bergabung ke Provinsi Kaltara yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Berau,…

Senin, 10 Juli 2017 09:08

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

INILAH urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR.…

Minggu, 09 Juli 2017 00:42

Investasi Anti Rugi

TAK semua orang punya mental bisnis. Butuh experience (pengalaman) yang malang melintang untuk jadi…

Rabu, 05 Juli 2017 10:59

Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage

TIDAK ada maaf lahir dan batin. Kelihatannya. Sabtu sore lalu, justru sikap Lee Hsien Yang, adik…

Senin, 03 Juli 2017 10:43

Mencita-citakan Kesalehan Anak

PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha.…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Budaya Bersedekah

RAMADAN setelah umrah 2014 lalu, baru Ramadan tahun ini saya sempat umrah kembali. Tiga tahun jadi jarak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .