MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Kamis, 22 Juni 2017 11:16
Mengenal Lokasi-Lokasi Rawan Jalur Berau-Samarinda
Teror dari Gunung Telor dan Bukit Empat Mayat
GUNUNG DAHLAN: Truk pengangkut pupuk ini harus dievakuasi dari tengah jalan setelah tak mampu menanjak di Gunung Dahlan, Kelay, Berau, pada Senin (19/6).

PROKAL.CO, Di tanah ini, kali-kali adalah anugerah. Bukit-bukit juga jadi sumber hidup, pula dengan hutan dan lautan. Hanya saja, untuk melintasi pulau beralias Borneo, perlu dibutuhkan lebih dari sekadar nyali.

ROBITHOH JOHAN PALUPI, Muara Wahau

MELINTASI jalur darat di Kalimantan memang mengasyikkan. Dalam sejarahnya, jalan di atas tanah memang bukan pilihan utama penduduk Kalimantan. Sungai dan laut lebih dulu dikenal. Itu terlihat dari kota-kota yang berkembang selalu berada di tepi air. Baik sungai ataupun laut.

Jalur darat di Kalimantan memang ekstrem. Untuk menjangkau satu wilayah setingkat kecamatan dengan kecamatan lain, pun bisa berbilang hari. Bukan hanya jam atau menit layaknya kondisi antarkecamatan di Pulau Jawa atau Sumatera.

Sebagai satu ilustrasi, di Berau, dari pusat pemerintahan di Tanjung Redeb ke kecamatan terjauh di Biduk-Biduk, perlu waktu lebih 7 jam jalur darat. Namun jika seorang di ujung Kecamatan Segah yang berada di posisi paling barat ke Kecamatan Biduk-Biduk, bersiaplah dengan durasi minimal 12 jam. Perlu setengah putaran matahari mengelilingi bumi untuk menyelesaikan rute itu, pun dengan syarat tambahan, jalur tak ada gangguan.

Menempuh jalur darat di Kalimantan mungkin sama sulitnya dengan Papua dan Green Land. Dua pulau terbesar di dunia dilihat dari luasannya yang lebih unggul dari Kalimantan yang memiliki daratan 743.330 km2. Green Land sendiri memiliki luas 2.175.600 km2, dan Papua dengan 890.000 km2.

Persoalan melintasi jalur darat ini juga bukan hanya perkara jarak tempuh yang super jauh. Infrastruktur yang belum sempurna juga jadi kendala. Itu juga masih ditambah dengan mitos-mitos yang turut menjadi bumbu.

Pengalaman Berau Post menjajal jalur darat dari Tanjung Redeb menuju Samarinda pada Senin (19/6) adalah satu contohnya. Dengan alasan mudik Lebaran, jalan darat penuh risiko pun dilalui. Memulai perjalanan pada pukul 05.30 Wita, rute 497 km itu ditempuh 21 jam, dan baru berakhir pukul 02.30 Wita, sehari berselang.

Ada dua kendala besar kenapa jalur yang normalnya dijalani 12 jam itu harus dilalui hingga hampir dua kali lipat lamanya. Truk pengangkut pupuk yang menghalangi titik di tengah hutan Kelay, Berau, yang memaksa perjalanan terhenti lebih lima jam, juga banjir di wilayah utara Samarinda yang memaksa kendaraan menepi untuk menunggu air surut lebih dulu.

Tapi, bagi mereka yang sudah terbiasa dengan jalan trans nasional, yang jalurnya lebih banyak memakai bekas jalur logging di masa keemasan kayu itu, beragam risiko sudah biasa dihadapi. Dari yang berkemah bermalam-malam di tengah hutan, hingga harus keroyokan mendorong kendaraan mogok di tengah kubangan.

Untuk hal semacam ini, saat ini memang sudah jarang terjadi. Pengaspalan dan peningkatan kualitas jalan sudah banyak memberi perubahan wajah transportasi darat di bumi Borneo. Hanya, cerita seram masih terus menghantui. Seperti penuturan Edi Suhandono, sopir kendaraan ekspedisi pengangkut sembako  yang sudah lima tahun terakhir mengantarkan barang dari Samarinda ke kota-kota di Kalimantan Timur dan Utara. Ia mengakui, jalur paling berbahaya ada di wilayah antara Muara Wahau, Kutai Timur, ke Kelay, Berau. Jalur yang menembus lebatnya rimba itu acap kali memakan korban.

"Karena itu, ada nama-nama yang aneh untuk menandai tempat biasa terjadi kecelakaan," ujarnya.

Edi menyebut ada nama seperti Gunung Telor, Gunung Dahlan, Gunung Bangsat, serta Bukit Empat Mayat. "Kalau Gunung Telor itu tempat biasa truk pengangkut telor terbalik. Dulu ada dua truk pembawa telor, sama-sama terbalik di situ, dan setelahnya juga ada beberapa kali kejadian serupa," ujar pria yang tinggal di Sambutan, Samarinda itu.

Cerita serupa juga diamini oleh Basri. Sopir angkutan barang itu menjadi saksi meninggalnya empat orang sekaligus di sebuah bukit di sekitar KM 110 Berau-Samarinda. Pria perantauan asal Sulawesi yang sudah lebih dari 10 tahun pulang balik Berau-Samarinda itu, mengaku di lokasi itu kerap terjadi hal-hal aneh. "Tapi karena ini pekerjaan saya, apapun risikonya ya dijalani saja," ucapnya.

Pada Senin (19/6) lalu itu pun, lokasi truk yang macet, tepatnya di KM 120 Berau-Samarinda, yang lokasinya di tengah tanjakan juga bukan untuk kali pertama. Bahkan, sopir-sopir lebih karib dengan sebutan Gunung Dahlan. "Dulu ada kejadian di sini yang meninggal namanya Dahlan. Makanya lokasi ini sering disebut Gunung Dahlan," tutur Edi kepada Berau Post. (*/udi)


BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 00:14

Warga Tak Tahu Bakal Caleg 2019, Sosialisasi KPU Tak Beres?

TANJUNG REDEB – Minimnya sosialisasi, membuat warga Kecamatan Maratua ‘buta’ akan…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:12

Suharto Jadi Tersangka

TANJUNG REDEB – Setelah membenarkan adanya penangkapan oleh pihaknya terhadap Kepala Kampung (Kakam)…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:11

Pembebasan Lahan Dibatalkan, Khawatir Kinerja Dinilai Menurun

TANJUNG REDEB - Adanya pembatalan usulan pembebasan lahan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sangat…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:10

Bupati Bakal Evaluasi Dewan Pengawas PDAM

TANJUNG REDEB – Tak hanya direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Bupati Berau…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:09

Lagi, Kibarkan Bendera di Laut Maratua

MARATUA – Pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut Maratua, kembali dilaksanakan Berau Jurnalis…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:12

Sosialisasi DCS “Hanya” di Perkotaan

TALISAYAN – Tahapan pemilihan legislatif sudah masuk penetapan daftar caleg sementara. Namun DCS…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:06

Upacara Diwarnai Putusnya Tali Bendera

TANJUNG REDEB – Ada kejadian tak terduga pada upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan ke-73…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:04

Auditor Bantah Ada Kongkalikong

SALAH satu auditor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Tenni Ginting, menegaskan jika pihaknya…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:02

Gara-Gara Ini, Kepala Kampung Biatan Ulu Dipolisikan

BIATAN - Diduga menerbitkan izin garapan di hutan lindung, Kepala Kampung Biatan Ulu Suharto, harus…

Jumat, 17 Agustus 2018 01:05

Pesawat di Gunung Itu Diduga Martin B-10

BANGKAI pesawat di gunung Kampung Long Keluh, diduga kuat berjenis bomber medium, yakni Martin B-10…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .