MANAGED BY:
JUMAT
28 JULI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 30 Juni 2017 12:26
Konsumsi dan Adat

PROKAL.CO, Konsumsi penyu hijau di Bali tidak lepas dari budaya dan tradisi masyarakat Pulau Dewata yang menjadikan penyu sebagai hewan suci. Dalam mitologi Hindu, penyu disebutkan sebagai penjelmaan dari Betara Wisnu (Tuhan dalam manifestasinya sebagai pemeliharaan alam). Penyu pula yang menyangga dunia sehingga terjadi keseimbangan dan keharmonisan alam. Itu pula sebabnya, persembahan penyu dalam upacara dimaksudkan untuk menjaga alam selalu dalam keseimbangan dan keharmonisan.

Menurut penelitian Adnyana (2003), alasan konsumsi penyu hijau di Bali adalah untuk kelengkapan upacara adat. Jenis upacara yang mengharuskan penggunaan daging penyu antara lain Pedudusan Agung, Ngenteg Linggih, Eka Dasa Rudra, dan Panca Bali Krama yang di dalamnya ada ritual Pecaruan Agung.

Teknis penggunaan penyu dalam ritual tidak jauh berbeda dengan penggunaan hewan lain seperti sapi atau kerbau. Bagian kepala, ekor, dan sirip dibiarkan utuh, sedangkan dagingnya diolah menjadi bahan sesajen dalam bentuk sate, lawar dan lainnya. Hewan yang dijadikan caru dalam yajna, nantinya tingkatan rohnya dipercaya akan naik lebih tinggi.

Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti, menyebut sesuai UU 5 Tahun 1990, pemanfaatan penyu sebagai satwa langka sangat dilarang. UU itu juga menjadi dasar aparat penegak hukum menindak para pedagang penyu. Keresahan timbul karena upacara adat dan agama membutuhkan penyu hijau, namun aturan nasional melarangnya. Ditambah lagi adanya oknum-oknum yang memperdagangkan daging penyu dengan mengatasnamakan upacara agama dan adat.

Para pemuka agama Hindu (Pedanda) melalui Pesamuhan Agung, pada 2005, memutuskan suatu Bhisama mengenai tata cara penggunaan sumberdaya hayati langka dan terancam punah dalam upacara keagamaan Hindu. Diatur mengenai ukuran penyu yang boleh dimanfaatkan dan jenis upacara apa yang perlu memanfaatkan penyu.

Untuk menggunakan penyu dalam upacara agama, umat Hindu di Bali harus mendapatkan izin dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan mengajukannya ke Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) setempat. Melalui kesepakatan ini, maka pemanfaatan penyu yang berlebihan dapat dicegah.

“Perdagangan penyu di Bali antara untuk adat dan konsumsi itu berbeda. Kalau untuk adat sudah diatur dan gratis, tidak perlu bayar. Dan, hanya boleh mengambil penyu hijau di TCEC (Turtle Conservation and Education Center) Serangan sebagai penyedia penyu untuk kepentingan adat. Kalau yang perdagangan untuk konsumsi itu beda,” sebut Dwi.

Bukan tanpa sebab dilakukan pembatasan konsumsi penyu untuk upacara adat di Pulau Dewata. Pada 2016, Dwi mengatakan ada delapan kasus penyelundupan dengan lebih 170 ekor penyu berhasil digagalkan. Jumlah kasus itu tercatat yang terbanyak dalam 16 tahun terakhir. Kasus pada 2016 juga lebih banyak dibandingkan tahun 2001 sebanyak tujuh kasus dan enam kasus pada 2003. (selengkapnya lihat grafis)

“Data itu khusus untuk penyelundupan dengan tujuan akhir diduga untuk konsumsi (komersial),” ujar Dwi.

Perdagangan penyu yang terjadi antara 2015-2016, kata Dwi, seperti fenomena gunung es. Sebab, tahun 1960, Bali tercatat pernah menjadi pusat perdagangan penyu terbesar. Puncaknya terjadi sekitar tahun 1999, di mana tercatat tidak kurang 10 ribu ekor penyu diperdagangkan per tahun. Hal itu juga sempat menjadi perhatian dunia yang kemudian memboikot pariwisata di Pulau Dewata.

Secara komersial, perdagangan penyu memang cukup menggiurkan. Pada satu ekor penyu, bisa didapatkan rupiah dari tiga bagian. Telur, daging dan karapas. Dwi mengatakan untuk telur penyu dihargai antara Rp 7-10 ribu per butirnya. Sementara, untuk satu ekor penyu utuh bisa menghasilkan uang mencapai Rp 10 juta, dengan pemanfaatan untuk diambil daging atau karapasnya sebagai souvenir.

Begitu pula yang disampaikan Banyu Sandi berdasarkan investigasinya di Kecamatan Bidukbiduk. Sebanyak 1 kilogram (kg) daging penyu di Bidukbiduk dijual Rp 40 ribu. Di Bontang atau Bali bisa lebih tinggi lagi mencapai Rp 80 ribu per kg. Dalam satu ekor penyu dewasa beratnya bisa sampai 100 kg, uang yang dihasilkan satu ekor bisa Rp 8 juta,” terangnya.(rus/app)


BACA JUGA

Kamis, 27 Juli 2017 10:11

Potensi Wisata Religi

TANJUNG REDEB – Haul Akbar ke-74 Syech H Muhammad Ali Djunaidi Al-Banjari pada Sabtu (22/7) lalu,…

Kamis, 27 Juli 2017 10:10

Tawarkan Pembangunan pada Pihak Ketiga

TANJUNG REDEB – Rencana hibah lahan dari PT Berau Coal untuk pembangunan Sport Center, mendapat…

Kamis, 27 Juli 2017 10:08

Besaran APBD Berau 2018, Rp 1,3 T Diduga Keliru

TANJUNG REDEB – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau Tahun 2018, berdasarkan Peraturan…

Kamis, 27 Juli 2017 10:07

Bangga saat Tampil di Istana Merdeka

Kemahirannya memainkan sampe dan alat musik tradisional lainnya, mengantarkan Muhammad Budhi Setiyawan…

Kamis, 27 Juli 2017 10:07

Masalah Keselamatan Transportasi Laut Jadi Perhatian Dishub

TANJUNG REDEB – Kecelakaan yang menimpa speedboat SB Rejeki Baru Karisma di Tarakan, turut menjadi…

Rabu, 26 Juli 2017 10:06

Diduga Korsleting Listrik, Satu Kamar Indekos Hangus

TANJUNG REDEB – Masyarakat Jalan Durian III, Tanjung Redeb, dibuat panik saat terjadi kebakaran…

Rabu, 26 Juli 2017 10:05

Hadiahkan Lukisan Wajah untuk Presiden

Apakah menjadi anak berkebutuhan khusus akan menutup semua kemungkinan untuk berkarya dan berprestasi?…

Rabu, 26 Juli 2017 10:03

Bupati Kaji Usulan Tinjau Ulang Proyek MYC, Sebagian Besar Usulan Dewan

TANJUNG REDEB – Usulan legislatif agar bupati dan jajarannya meninjau kembali pelaksanaan proyek-proyek…

Rabu, 26 Juli 2017 10:02

Hibah Aset Terminal Bandara Kalimarau, Tinggal Tunggu Bupati

TANJUNG REDEB – Hibah aset Terminal Bandara Kalimarau, selangkah lagi tuntas. Unit Penyelenggara…

Selasa, 25 Juli 2017 09:36

APBD 2018 Kian Menyusut

MARATUA – Wakil Bupati (Wabup) Berau Agus Tantomo beserta istri Fika Yuliana Tantomo dan sejumlah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .