MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 03 Juli 2017 10:43
Mencita-citakan Kesalehan Anak
Oleh: Ridho Anugrah, M.Sos

PROKAL.CO, PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha. Minimal punya cita-cita. Kenapa demikian? Sebab ketika seseorang sudah memiliki cita-cita artinya minimal sudah ada gambaran di dalam benaknya bahwa ketika mereka Allah karuniakan anak, mereka ingin anak-anaknya menjadi anak yang saleh. Karena, ketika cita-cita pun tak punya apalagi action untuk mewujudkannya. Bagaimana mau berbuat, di dalam alam pikirannya pun belum ada gambaran tentang hal demikian.

Khawatirlah. Khawatir akan nasib dan keadaan anak-anak kita sepeninggal kita kelak. Khawatir apakah mereka masih menyembah Allah? Khawatir apakah mereka melaksanakan salat? Khawatir apakah mereka melakukan perbuatan dosa? Khawatir apakah mereka berada di barisan orang-orang yang memperjuangkan syariat-Nya atau malah menentang-Nya? Khawatir apakah terselip doa-doa bagi orangtuanya ketika jasad tak lagi berada di dunia ini?

Mendidik anak yang saleh memang harus dimulai dari para orangtua. Mereka harus sadar akan hakikat kehidupan yang tengah di jalani di dunia ini. Kejelasan tentang makna hidup akan memberikan kejelasan visi misi keluarga yang dijalani. Apalagi seorang ayah? Ia adalah orang yang pertama bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (TQS. At-Tahrim [6]:6).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “ Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang kalian pimpin. Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.”

Kesadaran bagi seorang pemimpin termasuk pemimpin atas rumah tangga, sangat penting bagi pendidikan keluarga. Kesadaran seperti ini akan mempengaruhi visi utama membangun keluarga.  Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran bahwa ia adalah hamba Allah dan suatu hari nanti ia akan dikembalikan kepada-Nya. Kesadaran bahwa rida Allah adalah cita-cita tertinggi, surga-Nya sebagai tujuan akhir, kesadaran bahwa di dunia ini hanya sementara dan oleh karenanya ia harus bersabar menjalankan kehidupan ini sesuai dengan syariat-Nya. Begitu pula kesadaran bahwa suatu hari nanti Allah akan meminta pertanggungjawaban atas kehidupannya selama di dunia.

Iklim kehidupan yang diwarnai dengan kesadaran semacam ini akan membuat seorang kepala keluarga memiliki rasa tanggungjawab untuk membina istri dan anak-anaknya. Memberi nafkah dengan yang halal dan senantiasa menjaga istri dan anak-anaknya dari hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah.

Jika kita telah tersadar betapa pentingnya menata hidup ini sesuai dengan keridaan Allah maka segeralah untuk menata kembali keluarga kita seperti apa pun keadaannya. Mungkin tiap-tiap orang sedang berada di suatu kondisi dan keadaan yang berbeda. Ada yang memang belum menikah, ada yang sudah menikah namun belum Allah titipkan anak, atau ada yang anaknya sudah tumbuh menjadi insan dewasa dan terkadang sulit untuk dikondisikan. Begitu juga suasana dan kondisi keharmonisan rumah tangga yang berbeda-beda.

Tidak ada kata terlambat. Yang terpenting adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Menata kembali yang belum tertata. Mungkin ada yang berpikir, tulisan ini sebenarnya ingin menyampaikan apa. Di awal disampaikan tentang mencitakan anak yang saleh tapi malah membicarakan topik yang sedikit berbelok.

Begini, mendidik anak yang saleh merupakan salah satu turunan dari visi keluarga Islam. Bahkan bisa dikatakan sebagai hal yang teramat sangat penting. Hanya saja, semua itu harus dimulai dari kesadaran awal dari para orangtua akan hakikat dirinya di hadapan Allah dan corak rumah tangga yang mereka bangun. Dan ini tentu membutuhkan teladan orangtua termasuk yang paling penting adalah posisi seorang suami dan ayah sebagai orang pertama yang paling bertanggungjawab atas istri dan anaknya.

Bagaimana mungkin ia dapat mencitakan anak-anak yang saleh ketika ia saja tidak mengerti arti penting saleh di hadapan Allah? Atau ia tidak paham begitu pentingnya seorang hamba untuk bertakwa kepada Tuhannya?

Ya tulisan ini nampaknya ingin menyadarkan para ayah, para suami, agar mereka memiliki kesadaran akan tanggung jawab mereka terhadap istri dan anak-anak mereka di hadapan Allah. Suatu hari nanti mereka akan ditanya tentang dirinya, tentang istrinya yang belum menutup aurat, anak-anaknya yang meninggalkan salat sehingga semuanya menjadi tampak berat di hadapan Allah di pengadilan akhirat. Tidakkah semua hal tersebut mengkhawatirkan kita?

Lalu dari mana kita akan memulai? Tekadkan diri untuk berubah. Memohon pertolongan Allah dan datangi para alim ulama. Mudah-mudahan lewat perantara mereka Allah berikan petunjuknya agar kita semua menjadi seorang suami, seorang ayah, seorang kepala keluarga yang menuntun dan membina keluarga kita sesuai dengan keridaan-Nya. Semoga pintu keberkahan terbuka dan keberkahan tercurahkan atas keluarga-keluarga umat ini. (*/app)

 

loading...

BACA JUGA

Minggu, 18 Februari 2018 11:07

Selang Rp 500 Juta di Pembuluh Saya

KEMBALI opname, saya langsung diinfus delapan botol. Dokter Mohammed Tauqeer Ahmad, ahli syaraf itu,…

Sabtu, 17 Februari 2018 00:43

Tergoda Lanzhou Lamian Satu-satunya

ROBERT Lai mengabarkan kesuksesan operasi itu ke keluarga saya di Surabaya yang sedang menata barang…

Jumat, 16 Februari 2018 10:40

Valentine Berdarah

SEPERTIsudah menjadi tradisi bagi para pemuda mengadakan pagelaran bernuansa “cinta” pada…

Jumat, 16 Februari 2018 10:20

Pisau di Tangan Benjamin Chua dan Manish

TIBALAH saat operasi itu. Tempat tidur saya didorong dari kamar 803. Menuju ruang operasi di Rumah Sakit…

Kamis, 15 Februari 2018 10:11

Trauma Pilih Kasih dan Harta Warisan

PILIH kasih bisa menyebabkan trauma. Sikap orang tua yang pilih kasih pada anak pada akhirnya memang…

Selasa, 13 Februari 2018 00:04

Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

SETELAH anak-menantu-cucu ke Makkah, tinggal saya dan istri di Madinah. Kesakitan. Tergolek di tempat…

Senin, 12 Februari 2018 09:51

Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi Suatu Daerah

PERTUMBUHAN ekonomi suatu daerah sangat dipengaruhi oleh permasalahan ekonomi yang dihadapi daerah tersebut.…

Senin, 12 Februari 2018 09:36

Rakus Lentil dan Kurma Mentah Beku

SEMUA itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba dari Surabaya setelah…

Minggu, 11 Februari 2018 11:24

Trauma sejak Umur 15 Tahun

“PAK, tolong bantu saya. Saya tidak kuat. Saya sudah tidak sanggup. Rasanya mau mati saja,”…

Minggu, 11 Februari 2018 11:11

Merelakan Ditinggal Anak, Cucu dan Menantu

SAYA sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .