MANAGED BY:
JUMAT
20 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 19 Juli 2017 10:06
Isi Masa Muda dengan Hal Positif
Oleh: Mayor Cpn Rahmat Trianto

PROKAL.CO, MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan perkembangan zaman yang makin pesat dengan adanya teknologi yang semakin canggih. Belum lagi makin maraknya peredaran narkoba di negara kita, membuat kehidupan masa muda terbuai dengan hal-hal yang tidak baik.

Jika kita melihat dari data berapa banyak anak muda terkena dampak narkoba, sex bebas dan banyak hal negatif lainnya, maka menjadi pertanyaan bagaimana mengisi masa muda dengan hal positif? Terutama di Kabupaten Berau ini.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi masa muda dengan kegiatan positif. Salah satunya menjadi Paskibrka, seperti yang saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMA, menjadi paskibraka nasional tahun angkatan 1996 utusan Provinsi Jambi. Saya bertugas menjadi pengibar bendera dalam HUT ke-51 RI di Istana Merdeka Jakarta.

Apa sih Paskibraka itu???
Paskibraka adalah singkatan dari pasukan pengibar bendera pusaka dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di tiga tempat. Pertama untuk tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional di Istana Merdeka. Anggotanya berasal dari pelajar kelas 1 dan 2 SMA sederajat yang terpilih.

Sejarah Paskibraka

Gagasan paskibraka lahir pada tahun 1946, saat ibu kota Indonesia dipindahkan ke Jogjakarta.

Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Jogjakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru tanah air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (tiga putra dan dua putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Jogjakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Jogjakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka setiap 17 Agustus di Istana Merdeka, dilaksanakan oleh jajaran Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden Soekarno, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Jogjakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi tiga kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu: kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai pembawa atau inti; kelompok 45 atau pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota pandu atau pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal), terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat bendera pusaka merah putih dan reproduksi naskah proklamasi oleh Suharto kepada gubernur/kepala daerah tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan bendera pusaka pada peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan bendera pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.

Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja SMA sederajat se-tanah air yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka”. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan paskibraka. Pas berasal dari pasukan, kib dari kibar mengandung pengertian pengibar, ra berarti bendera dan ka berarti pusaka. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut paskibraka.

Dengan demikian sampai saat ini paskibraka terus dilaksanakan mulai dari daerah hingga pusat, dan suatu kebanggaan bagi pemuda/pemudi bisa menjadi anggota paskibraka ini. Karena ini bisa dilakukan sekali dalam sumur hidup dan merupakan pemuda/pemudi terpilih. Serta bisa secara nyata sebagai salah satu cara ikut bela negara dan mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif. (*/udi)
*) Wadanron 13/Serbu Puspenerbad,


BACA JUGA

Rabu, 18 Oktober 2017 11:41

Gengsi Orangtua, Anak Jadi Korban

Belum lama ini, datang seorang ibu membawa anaknya. Sang anak sebelumnya dikeluhkan oleh guru di sekolah,…

Minggu, 15 Oktober 2017 10:21

Ironi Biaya Perjalanan Dinas

UNDANG-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah menegaskan bahwa penyelenggaraan…

Rabu, 04 Oktober 2017 10:31

Bupati Kalah dengan Kepala Dinas?

“NDRO, mana berkas lamaranmu?” tanya Masdjuni tiba-tiba. Tentu saja saya sangat kaget mendengar…

Senin, 02 Oktober 2017 01:06

Selamat Datang Hu, Bye Bye Sun

HARI ini seluruh jalan tol di Tiongkok digratiskan. Tujuh hari. Selama libur perayaan Hari Kemerdekaan…

Selasa, 26 September 2017 09:49

STATISTICAL THINKING

STATISTICIAL thinking will one day be as necessary a qualification for efficient citizenship as the…

Selasa, 26 September 2017 09:39

Angpao Pun Dikirim dengan WeChat

TIBA di Tianjin, Tiongkok, pekan lalu, saya tersenyum: jumlah sepeda yang bisa disewa bertambah…

Rabu, 20 September 2017 11:31

Mengenal Ampik Salayang dari Kesultanan Sambaliung

ADA berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti kejayaan masa lalu dan masih bisa dilihat hingga saat…

Jumat, 15 September 2017 12:17

Memaknai Hari Jadi

Kabupaten Berau yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, hari…

Senin, 11 September 2017 00:23

Airi Sawah dengan Pompa Tenaga Solar Cell

SUDAH sebulan ini saya melakukan uji coba: pasang panel surya untuk pengairan. Listrik yang dihasilkan…

Sabtu, 09 September 2017 18:42

Memaknai Ibadah Haji

Setelah sampai di Kota Madinah, baru saya menyadari bahwa ibadah Haji telah usai kami laksanakan. Sebuah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .