MANAGED BY:
SABTU
19 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 19 Juli 2017 10:06
Isi Masa Muda dengan Hal Positif
Oleh: Mayor Cpn Rahmat Trianto

PROKAL.CO, MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan perkembangan zaman yang makin pesat dengan adanya teknologi yang semakin canggih. Belum lagi makin maraknya peredaran narkoba di negara kita, membuat kehidupan masa muda terbuai dengan hal-hal yang tidak baik.

Jika kita melihat dari data berapa banyak anak muda terkena dampak narkoba, sex bebas dan banyak hal negatif lainnya, maka menjadi pertanyaan bagaimana mengisi masa muda dengan hal positif? Terutama di Kabupaten Berau ini.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi masa muda dengan kegiatan positif. Salah satunya menjadi Paskibrka, seperti yang saya lakukan ketika masih duduk di bangku SMA, menjadi paskibraka nasional tahun angkatan 1996 utusan Provinsi Jambi. Saya bertugas menjadi pengibar bendera dalam HUT ke-51 RI di Istana Merdeka Jakarta.

Apa sih Paskibraka itu???
Paskibraka adalah singkatan dari pasukan pengibar bendera pusaka dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di tiga tempat. Pertama untuk tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional di Istana Merdeka. Anggotanya berasal dari pelajar kelas 1 dan 2 SMA sederajat yang terpilih.

Sejarah Paskibraka

Gagasan paskibraka lahir pada tahun 1946, saat ibu kota Indonesia dipindahkan ke Jogjakarta.

Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Jogjakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru tanah air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (tiga putra dan dua putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Jogjakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Jogjakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka setiap 17 Agustus di Istana Merdeka, dilaksanakan oleh jajaran Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden Soekarno, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Jogjakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi tiga kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu: kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai pembawa atau inti; kelompok 45 atau pengawal.

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota pandu atau pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal), terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat bendera pusaka merah putih dan reproduksi naskah proklamasi oleh Suharto kepada gubernur/kepala daerah tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan bendera pusaka pada peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan bendera pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.

Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja SMA sederajat se-tanah air yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka”. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan paskibraka. Pas berasal dari pasukan, kib dari kibar mengandung pengertian pengibar, ra berarti bendera dan ka berarti pusaka. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut paskibraka.

Dengan demikian sampai saat ini paskibraka terus dilaksanakan mulai dari daerah hingga pusat, dan suatu kebanggaan bagi pemuda/pemudi bisa menjadi anggota paskibraka ini. Karena ini bisa dilakukan sekali dalam sumur hidup dan merupakan pemuda/pemudi terpilih. Serta bisa secara nyata sebagai salah satu cara ikut bela negara dan mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif. (*/udi)
*) Wadanron 13/Serbu Puspenerbad,


BACA JUGA

Minggu, 13 Agustus 2017 00:16

Memaknai Kemerdekaan

TAK terasa ruang dan roda waktu berputar silih berganti. Tak terasa tanggal 17 Agustus 2017 bangsa…

Senin, 07 Agustus 2017 10:26

Tamu-Tamu dengan Persoalan Keluarga

DI antara tamu-tamu saya, hari itu ada dua yang membawa masalah keluarga. Pertama seorang perjaka. Umur…

Senin, 31 Juli 2017 00:48

Ekonomi Menunggu Obat Ayam Stres

SAYA bersyukur kedatangan ahli yang satu ini. Yang bisa jadi teman diskusi untuk persoalan berat saat…

Rabu, 19 Juli 2017 10:06

Isi Masa Muda dengan Hal Positif

MASA muda merupakan masa yang indah bagi setiap manusia. Apalagi dihadapi dengan era globalisasi dan…

Rabu, 12 Juli 2017 09:44

Berau, Kaltara, Rumah Kita

WACANA kabupaten Berau bergabung ke Provinsi Kaltara yang dilontarkan salah seorang anggota DPRD Berau,…

Senin, 10 Juli 2017 09:08

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

INILAH urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR.…

Minggu, 09 Juli 2017 00:42

Investasi Anti Rugi

TAK semua orang punya mental bisnis. Butuh experience (pengalaman) yang malang melintang untuk jadi…

Rabu, 05 Juli 2017 10:59

Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage

TIDAK ada maaf lahir dan batin. Kelihatannya. Sabtu sore lalu, justru sikap Lee Hsien Yang, adik…

Senin, 03 Juli 2017 10:43

Mencita-citakan Kesalehan Anak

PARA orangtua selayaknya memiliki cita-cita agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan saleha.…

Sabtu, 24 Juni 2017 00:05

Budaya Bersedekah

RAMADAN setelah umrah 2014 lalu, baru Ramadan tahun ini saya sempat umrah kembali. Tiga tahun jadi jarak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .