MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 20 September 2017 11:31
Mengenal Ampik Salayang dari Kesultanan Sambaliung
Datu Edy Fachriadi

PROKAL.CO, ADA berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti kejayaan masa lalu dan masih bisa dilihat hingga saat ini. Salah satunya adalah busana adat pengantin yang bernama “Ampik Salayang”.

Munculnya busana adat pengantin ini, terlahir dari sebuah keagungan dan keluhuran budaya di kalangan kerabat Keraton Sambaliung.

Terlahir dari keturunan Kesultanan Sambaliung, saya sudah sepatutnya menjaga dan terus melestarikan budaya leluhur. Saya merupakan anak dari Datu Fachruddin yang notabennya adalah anak dari Sultan Muhammad Aminuddin (Sultan terakhir di Kesultanan Sambaliung).

Saya sekarang memang sedang membenahi susunan adat budaya kami yang terkesan agak berantakan beritanya di media sosial akibat ketidaktahuan masyarakat yang ikut jadi pelaku budaya. Sebenarnya ini satu komponen budaya yang harus dirapikan agar kita nyaman untuk melihat rentetan kronologis sejarah di Berau dengan barometer yang valid dan akurat.

Edy menjelaskan, berawal dari kisah perjuangan Sultan Alimuddin (Raja Alam) sebagai sultan pertama Sambaliung yang dibuang ke Makassar bersama istrinya. Sultan Alimuddin adalah putra Sultan Amiril Mukminin dari garis keturunan Pangeran Tua. Sultan Alimuddin ini bergelar “Raja Alam”. Mempersunting seorang putri Kesultanan Wajo bernama Andi Nantu anak dari Pangeran Petta.

Sewaktu Sultan Alimuddin bersama istrinya dibuang ke Makassar pada tahun 1834, beliau tidak mempunyai kesempatan untuk membawa serta barang-barang kerajaan juga pakaian kebesaran, sebab dalam kondisi pengasingan ke negeri istrinya. Sang istri Andi Nantu sangat mengagumi dan mengasihi Raja Alam. Manifestasi rasa cinta kasihnya dengan melihat sisi kegagahan dan kepahlawanan Raja Alam yang berpendirian teguh, rela berkorban demi mempertahankan harga diri untuk rakyatnya melawan penjajah pada waktu itu. Maka istrinya menghadiahkan selembar kain sutra yang berwarna kuning dari hasil tenun. Kain tenun yang berwarna kuning itu melambangkan kemegahan, kejayaan dan keagungan.

Untuk mengenang Raja Alam kain tersebut diberi nama Ampik Raja Alam karena kain ini adalah kain kesayangan beliau, tersimpan dengan baik sebagai penghargaan kepada sang istri. Janji Raja Alam kepada istrinya apabila Allah masih mempercayainya mengemban tugas dan amanah maka ia akan kembali memimpin di Kerajaan Berau.

Ketika Sultan Salehuddin yang berkuasa tahun 1863 - 1869 sebagai Sultan ke-V ingin menikahkan putrinya yang bernama Pangian Bungsu saat itu Kesultanan Sambaliung belum mempunyai baju adat pengantin. Sebab waktu itu kain berwarna kuning sulit didapat. Akhirnya keturunan dari Andi Nantu memberikan kain milik Raja Alam tersebut kepada cucunya demi kelangsungan hidup mereka.

“Maka dibuatlah busana adat pengantin Kesultanan Sambaliung dari kain selembar Raja Alam yang tidak terpotong sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada nenek moyangnya,” bebernya.

Setelah menjadi sebuah busana adat pengantin yang dipakai pertama kalinya oleh cucu Raja Alam dalam pesta pernikahan maka dinamakan Busana Adat Pengantin Ampik Salayang. Busana adat pengantin ini sangat sakral dan bernilai filosofi yang tinggi dalam mencerminkan keyakinan, filsafat hidup, upacara adat, ritual, dan pola pikir di kalangan kerabat Keraton Sambaliung.

Sehingga kita masih bisa menyaksikan aktivitas budaya dalam balutan upacara adat pernikahan dengan menonjolkan aspek-aspek keindahan fisik dari sebuah busana adat pengantin yang elegan, unik dan memancarkan aura positif bagi sepasang pengantin.

Anak, cucu dan cicit dari keturunan Kesultanan Sambaliung masih mengenakan busana adat pengantin ini sebagai lambang pelestarian budaya di lingkungan kerabat Keraton Sambaliung. (*/app)


BACA JUGA

Selasa, 08 Mei 2018 00:28

Ekonomi Syukur

BERSYUKUR adalah salah satu ajaran terpenting dalam Islam. Bersyukur sebanding dengan bersabar.…

Senin, 07 Mei 2018 11:18

“Ya Allah, muliakan dan bahagiakanlah Pak Jokowi.”

SAAT membaca kalimat doa di atas, bagaimana tanggapan Anda? Ingat, respons Anda yang paling pertama…

Rabu, 02 Mei 2018 00:28

Ketika Hak “Dilayani” Terabaikan

MASIH terlintas di benak saya, sebanyak 42 kepala daerah mendapat penghargaan berupa piala dan piagam…

Senin, 30 April 2018 00:16

Kenapa Harus Sekolah Alam?

“Pak, saya doakan semoga Bapak terpilih nanti, dan harapan saya hanya satu. Saya ingin anak saya…

Sabtu, 21 April 2018 10:28

Kartini Kesehatan

RADEN Adjeng Kartini, sosok yang sangat menginspirasi. Tokoh emansipasi yang  menuntut persamaan…

Selasa, 03 April 2018 12:19

Heboh Pulau Bakungan

KEMARIN malam salah satu TV nasional memberitakan tentang tidak diperbolehkannya wisatawan lokal masuk…

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .