MANAGED BY:
JUMAT
15 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 20 September 2017 11:31
Mengenal Ampik Salayang dari Kesultanan Sambaliung
Datu Edy Fachriadi

PROKAL.CO, ADA berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti kejayaan masa lalu dan masih bisa dilihat hingga saat ini. Salah satunya adalah busana adat pengantin yang bernama “Ampik Salayang”.

Munculnya busana adat pengantin ini, terlahir dari sebuah keagungan dan keluhuran budaya di kalangan kerabat Keraton Sambaliung.

Terlahir dari keturunan Kesultanan Sambaliung, saya sudah sepatutnya menjaga dan terus melestarikan budaya leluhur. Saya merupakan anak dari Datu Fachruddin yang notabennya adalah anak dari Sultan Muhammad Aminuddin (Sultan terakhir di Kesultanan Sambaliung).

Saya sekarang memang sedang membenahi susunan adat budaya kami yang terkesan agak berantakan beritanya di media sosial akibat ketidaktahuan masyarakat yang ikut jadi pelaku budaya. Sebenarnya ini satu komponen budaya yang harus dirapikan agar kita nyaman untuk melihat rentetan kronologis sejarah di Berau dengan barometer yang valid dan akurat.

Edy menjelaskan, berawal dari kisah perjuangan Sultan Alimuddin (Raja Alam) sebagai sultan pertama Sambaliung yang dibuang ke Makassar bersama istrinya. Sultan Alimuddin adalah putra Sultan Amiril Mukminin dari garis keturunan Pangeran Tua. Sultan Alimuddin ini bergelar “Raja Alam”. Mempersunting seorang putri Kesultanan Wajo bernama Andi Nantu anak dari Pangeran Petta.

Sewaktu Sultan Alimuddin bersama istrinya dibuang ke Makassar pada tahun 1834, beliau tidak mempunyai kesempatan untuk membawa serta barang-barang kerajaan juga pakaian kebesaran, sebab dalam kondisi pengasingan ke negeri istrinya. Sang istri Andi Nantu sangat mengagumi dan mengasihi Raja Alam. Manifestasi rasa cinta kasihnya dengan melihat sisi kegagahan dan kepahlawanan Raja Alam yang berpendirian teguh, rela berkorban demi mempertahankan harga diri untuk rakyatnya melawan penjajah pada waktu itu. Maka istrinya menghadiahkan selembar kain sutra yang berwarna kuning dari hasil tenun. Kain tenun yang berwarna kuning itu melambangkan kemegahan, kejayaan dan keagungan.

Untuk mengenang Raja Alam kain tersebut diberi nama Ampik Raja Alam karena kain ini adalah kain kesayangan beliau, tersimpan dengan baik sebagai penghargaan kepada sang istri. Janji Raja Alam kepada istrinya apabila Allah masih mempercayainya mengemban tugas dan amanah maka ia akan kembali memimpin di Kerajaan Berau.

Ketika Sultan Salehuddin yang berkuasa tahun 1863 - 1869 sebagai Sultan ke-V ingin menikahkan putrinya yang bernama Pangian Bungsu saat itu Kesultanan Sambaliung belum mempunyai baju adat pengantin. Sebab waktu itu kain berwarna kuning sulit didapat. Akhirnya keturunan dari Andi Nantu memberikan kain milik Raja Alam tersebut kepada cucunya demi kelangsungan hidup mereka.

“Maka dibuatlah busana adat pengantin Kesultanan Sambaliung dari kain selembar Raja Alam yang tidak terpotong sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada nenek moyangnya,” bebernya.

Setelah menjadi sebuah busana adat pengantin yang dipakai pertama kalinya oleh cucu Raja Alam dalam pesta pernikahan maka dinamakan Busana Adat Pengantin Ampik Salayang. Busana adat pengantin ini sangat sakral dan bernilai filosofi yang tinggi dalam mencerminkan keyakinan, filsafat hidup, upacara adat, ritual, dan pola pikir di kalangan kerabat Keraton Sambaliung.

Sehingga kita masih bisa menyaksikan aktivitas budaya dalam balutan upacara adat pernikahan dengan menonjolkan aspek-aspek keindahan fisik dari sebuah busana adat pengantin yang elegan, unik dan memancarkan aura positif bagi sepasang pengantin.

Anak, cucu dan cicit dari keturunan Kesultanan Sambaliung masih mengenakan busana adat pengantin ini sebagai lambang pelestarian budaya di lingkungan kerabat Keraton Sambaliung. (*/app)


BACA JUGA

Selasa, 05 Desember 2017 11:54

Begini Caranya ‘Move On’ dari Mantan

BAGI sebagian orang, tidaklah mudah menghapus memori atau melupakan seseorang yang sebelumnya pernah…

Minggu, 03 Desember 2017 10:43

Bisakah Belajar Tanpa Guru?

BELAKANGAN ini banyak yang menyampaikan, belajar tidak harus dengan seorang guru. Belajar bisa dengan…

Minggu, 26 November 2017 00:46

Optimalisasi Pengasuhan Anak

  PEMBACA yang budiman, anak merupakan amanah sekaligus aset berharga yang dimiliki para orangtua.…

Minggu, 26 November 2017 00:41

Terlanjur Terjebak Riba, Coba Ubah Pola Pikir

SALAH satu yang membuat seseorang terpuruk bahkan tak sanggup lagi bangkit adalah persoalan utang-piutang.…

Jumat, 17 November 2017 10:08

CSR demi Kesejahteraan Masyarakat

TANGGUNG jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR),adalah pendekatan mekanisme…

Minggu, 12 November 2017 11:55

Bentengi Keluarga dari Predator Anak

PEDOFILIA atau dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai predator anak merupakan sejenis penyakit kelainan…

Jumat, 10 November 2017 11:10

MEMAKNAI HARI PAHLAWAN

HARI ini tanggal 10 November 2017, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Kalau kita berbicara mengenai…

Selasa, 07 November 2017 11:22

Budaya Membaca di Era High Tech

ERA globalisasi di zaman sekarang sudah banyak berkembang pesat. Seperti halnya teknologi yang semakin…

Selasa, 07 November 2017 10:59

Alasan Penghapusan Pidana

DALAM hukum pidana dikenal istilah alasan pemaaf dan alasan pembenar tindak pidana. Alasan pemaaf adalah…

Senin, 30 Oktober 2017 10:56

Manguati Banua (1)

MASA muda sebagai masa pencarian jati diri (eksistensi), mencerminkan psikis pemuda yang menggebu-gebu.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .