MANAGED BY:
SENIN
23 APRIL
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 26 September 2017 09:49
STATISTICAL THINKING
OLEH: AGUS HARYANTO

PROKAL.CO, STATISTICIAL thinking will one day be as necessary a qualification for efficient citizenship as the ability to read and write. (H.G. Wells).

Tersajinya data statistik demi menunjang pembangunan negeri ini menjadi tugas pokok dari Badan Pusat Statistik menyajikan data yang berkualitas dan terpercaya. Akan tetapi tersedianya data yang berkualitas tersebut akanlah sia-sia jika pengguna data tidak dapat memahami dengan baik atau dapat menginterprestasikan dengan benar data statistik tersebut.

Jika setiap kegiatan statistik mulai dari perencanaan kegiatan, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data sampai dengan cara publikasi dan diseminasi data dilakukan dengan baik sesuai dengan ketentuan, tentunya kualitas data akan menjadi sangat terjaga. Kualitas data yang baik merupakan kunci utama pelayanan yang optimal kepada pengguna data.

Tak bisa ditampik, hingga kini keraguan publik terhadap sejumlah statistik resmi yang dihasilkan Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai  satu-satunya lembaga statistik resmi di negeri ini, masih saja terjadi. Komentar ‘miring’ terhadap data-data yang dihasilkan BPS pun kerap ditemui di berbagai media.

Keraguan publik terhadap statistik resmi sebetulnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara maju, kesenjangan antara ukuran standar variabel-variabel penting sosial-ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran dengan persepsi yang ada di masyarakat, yang didasarkan pada “fakta” keseharian dan persepsi individu, telah merusak kepercayaan publik terhadap statistik resmi.

Rusaknya kepercayaan publik terhadap statistik resmi tentu merupakan persoalan serius karena bakal berdampak pada cara berlangsungnya perdebatan publik tentang kondisi perekonomian dan kebijakan yang harus diambil.

Statistik perlu dipopulerkan agar masyarakat awam dapat memahami dasar-dasar statistik mencakup data, proses dan hasil (output) sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru mengenai suatu hasil sensus/survei ataupun informasi ilmiah. Masyarakat juga perlu berpikir secara statistik, yang berarti berpikir secara ilmiah sehingga dapat memahami dalam membaca suatu data dan informasi.

Statistical thinking bukan hak milik insan statistik saja, akan lebih baik masyarakat umum juga mengetahui dan memahaminya walaupun hanya esensinya saja. Dalam sistem statistik nasional, masyarakat memiliki peran sebagai pengguna data dan sumber data itu sendiri.  Lewat edukasi itu pasti akan meningkatkan kesadaran statistik masyarakat, terutama untuk mengurangi ketidakpercayaan dan kesalahtafsiran masyakarat akan data statistik.

Esensi dari statistical thinking yang perlu dipahami masyarakat, bahwa data statistik pasti mengandung error/kesalahan sehingga tidak bisa dibilang 100 persen benar. Penyelenggara statistik dalam setiap melakukan pengumpulan data, memiliki prinsip bahwa data yang dikumpulkan itu pasti mengandung kesalahan, tetapi dalam melaporkan dan mendiseminasikan datanya tidak melakukan kebohongan.

Penyelenggara statistik bekerja bukan untuk bertujuan menghasilkan data yang 100 persen benar, akan tetapi bekerja untuk sedapat mungkin mengecilkan error data statistik. Selain itu dalam membaca data, masyarakat harus (cukup) memahami terlebih dahulu selubung luar metodologi yang dipakai untuk menghasilkan data statistik itu.

Jika statistical thinking tersebut telah dipahami oleh segenap lapisan masyarakat, baik itu para pemimpin negeri ini ataupun para penikmat kopi di warung-warung kopi yang seringkali menjadikan obrolan tentang perekonomian negeri ini sebagai topik menarik tak lagi  terjebak pada ungkapan-ungkapan verbal (kualitatif) dan opini yang menyesatkan dan mengaburkan realitas, atau lebih memilih menggunakan data-data statistik lain meski statistik tersebut didasarkan pada metodologi yang kurang bisa dipertanggungjawabkan dibandingkan menggunakan data statistik resmi.

Karena, interprestasi  data yang keliru sama bahayanya dengan data yang tak akurat. Selamat Hari Statistik Nasional. Kerja bersama dengan data untuk membangun negeri.(*/app)

*)Statistisi Pertama BPS

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 21 April 2018 10:28

Kartini Kesehatan

RADEN Adjeng Kartini, sosok yang sangat menginspirasi. Tokoh emansipasi yang  menuntut persamaan…

Selasa, 03 April 2018 12:19

Heboh Pulau Bakungan

KEMARIN malam salah satu TV nasional memberitakan tentang tidak diperbolehkannya wisatawan lokal masuk…

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .