MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 04 Oktober 2017 10:31
Bupati Kalah dengan Kepala Dinas?
Oleh: Endro S Efendi

PROKAL.CO, “NDRO, mana berkas lamaranmu?” tanya Masdjuni tiba-tiba. Tentu saja saya sangat kaget mendengar pertanyaan almarhum saat masih menjabat sebagai bupati Berau kala itu. Saya bingung, lamaran apa yang ia maksudkan?

“Teman-temanmu, sudah banyak yang jadi pegawai negeri. Kamu enggak mau jadi pegawai juga? Bawa lamaranmu, nanti aku bantu,” ujar beliau ketika itu.

Saat itu saya masih kuliah di Samarinda. Namun, saya sudah menyambi sebagai wartawan Kaltim Post. Tentu saja, tawaran itu saya anggap gurauan semata. Kalau pun tawaran itu serius, tentu saya harus tahu diri. Meski lulusan SLTA ketika itu sudah bisa jadi pegawai, namun menempuh gelar sarjana adalah prioritas utama kala itu.

“Saya biar jadi wartawan saja pak,” jawab saya mantap, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau.

Saya paham betul, jalur sukses setiap orang berbeda-beda. Ada yang sangat ingin bercita-cita jadi aparatur sipil negara, sementara yang lain memilih jalur lain. Saya salah satunya, memilih wartawan sebagai jalur hidup. Tak terasa hingga saat ini, sudah 17 tahun menjadi wartawan.

Lalu bagaimana jika saat itu saya menerima tawaran almarhum? Ada satu hal yang saya sadari hingga saat ini. Ketika saya masuk menjadi abdi negara, maka secara tidak langsung saya sudah mengurangi kesempatan bagi orang lain yang justru sangat ingin menjadi pegawai negeri.

Apalagi di tengah sulitnya pekerjaan saat ini, pegawai seolah menjadi satu-satunya jalur sukses yang diburu banyak orang. Kenapa? Dijamin antikrisis, gaji terus mengalir, kenaikan pangkat sudah jelas, dan satu lagi, sangat sulit untuk dipecat. Bandingkan dengan mereka yang bekerja di perusahaan, kapan pun melakukan kesalahan, ancaman pemecatan bisa muncul kapan saja. Bahkan bupati dan wakil bupati pun masih ada masa jabatannya, hanya 5 tahun. Sementara pegawai negeri, durasinya jauh lebih panjang.

Itu sebabnya, tak berlebihan kiranya, ketika beberapa waktu lalu ada pembukaan formasi abdi negara di provinsi tetangga, Kalimantan Utara, pelamarnya membeludak. Hampir sebelas duabelas dengan suasana kampanye Pilkada beberapa waktu lalu.

Maka, publik tentu miris dan hanya bisa mengurut dada, ketika dalam beberapa hari terakhir, tersaji sebuah fakta berita yang sangat janggal. Apa itu? Apalagi kalau bukan adanya seseorang yang bahkan masih kuliah, belum lulus, tapi sudah mengantongi surat keputusan (SK) sebagai tenaga honorer. Yang lebih menyedihkan lagi, tenaga honor ini adalah anak dari seorang kepala dinas, yang seharusnya sangat paham akan hakikat pendidikan itu sendiri.

Mari bertanya pada hati nurani yang paling dalam. Inikah yang namanya mendidik? Upaya mendidik seperti apa yang hendak ditanamkan seorang kepala dinas ini pada buah hatinya? Jika seperti ini, maka pendidikan yang ditanamkan adalah semuanya serba mudah dan instan. Tidak ada kompetisi yang diajarkan kepada anaknya sendiri.

Sementara warga lain harus menunggu formasi bertahun-tahun, ikut tes pun belum tentu lulus, namun sang anak kepala dinas mendapat jalur khusus. Ibarat masuk tol dengan karpet merah. Sangat-sangat istimewa.

Saya tidak bisa membayangkan, jika hal ini lolos dari pantauan publik, dan si anak kepala dinas ini akhirnya benar-benar menjadi guru. Pendidikan seperti apa yang akan diajarkan oleh guru yang proses penerimaannya saja tanpa proses yang baik?

Bapak-ibu pejabat yang baik, tentu semua sepakat bahwa hakikat korupsi tentu tidak sekadar mengambil uang rakyat. Mengambil kesempatan orang lain yang juga ingin menjadi pegawai, sejatinya juga korupsi.

Saya bersyukur Bupati Berau Muharram langsung mengambil tindakan mencabut SK tersebut. Namun anehnya, sang kepala dinas seolah kebal dan bisa mengalahkan sang bupati. Faktanya sang kepala dinas tetap ngotot SK untuk anaknya tetap berlaku.

Bahwa gaji belum diberikan, itu urusan lain. Yang jadi persoalan adalah, kok bisa SK honorer itu terbit sementara yang bersangkutan belum lulus sarjana? Rasa-rasanya, orang tidak sekolah pun bisa menjawab pertanyaan ini. Kalau seperti ini model para kepala dinas di daerah ini, entah bagaimana nasib Berau ke depan.

Maka sebagai warga biasa, saya hanya bisa menyaksikan pertunjukan ini dari jauh. Apakah sang kepala dinas benar-benar perkasa sehingga SK anaknya tetap berlaku? Ataukah keputusan Bupati Berau benar-benar bisa membatalkan SK itu?

Kita tunggu saja kelanjutannya. (*/udi)

*) Direktur Berau Post

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 08 September 2018 12:14

‘Pintu Keluar’ Harus Dibuka dari Dalam

DI setiap kesempatan, ada saja klien yang berkirim pesan melalui WhatsApp, dari mulai konsultasi masalah…

Selasa, 28 Agustus 2018 11:39

Perempuan Mulia dengan Islam

SUDAH semestinya perempuan harus menjaga kemuliaan dirinya, kita  bersyukur karena sebagian Muslimah…

Jumat, 24 Agustus 2018 13:47

Indahnya Harmonisasi Keberagaman

BANGSA Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang terdiri dari 34 provinsi, memiliki luasan hamparan…

Rabu, 15 Agustus 2018 14:07

Makna Kemerdekaan Indonesia

TAK terasa begitu cepatnya perputaran ruang dan perputaran roda waktu yang silih berganti di antara…

Rabu, 15 Agustus 2018 14:06

Makna Kemerdekaan Indonesia

TAK terasa begitu cepatnya perputaran ruang dan perputaran roda waktu yang silih berganti di antara…

Kamis, 09 Agustus 2018 14:46

Jasa Wartawan

Wartawan adalah orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar,…

Rabu, 08 Agustus 2018 11:17

Surat Cinta Muktamar IMM XVIII Malang

DINAMIKA perdinamika dalam tubuh ikatan terjadi. Idealisme kader bermunculan demi kukuhnya suatu fondasi…

Jumat, 03 Agustus 2018 13:40

Sakit Itu Berat, BPJS Tak Akan Kuat

BADAN Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tengah mengalami defisit keuangan. Sehingga membuat lembaga…

Kamis, 02 Agustus 2018 13:29

Peduli Lingkungan, Simpel Aja!

Mendengar istilah simpel, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…

Rabu, 01 Agustus 2018 14:17

Peduli Lingkungan Berau? SIMPEL Saja!

MENDENGAR istilah SIMPEL, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .