MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:24
Dinas Tunggu Proposal Nelayan

Siapkan Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Larangan penggunaan pukat trawl, pukat hela dan alat tangkap lainya yang tak ramah lingkungan bagi nelayan, terus disosialisasikan Dinas Perikanan Berau.

Dijelaskan Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, sosialisasi dilakukan secara bertahap. Ketegasan itu sesuai ketentuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawl) dan Pukat Tarik (seinen nets). Setelah penerapan aturan tersebut, seluruh alat tangkap yang dinilai tak ramah lingkungan, statusnya jadi terlarang untuk digunakan.

“Mau tidak mau, peraturan ini harus diikuti oleh nelayan. Kita akan memberikan imbauan kepada nelayan kecil agar tidak melakukan penangkapan dengan alat yang berbahaya,” ungkapnya kepada Berau Post kemarin (20/10).

Agar tidak mematikan mata pencaharian nelayan, pihaknya menganjurkan agar nelayan Berau mengganti alat tangkap mereka yang lebih ramah lingkungan seperti purse seine atau pukat cincin.

“Aturan ini harus dipatuhi, sebab jika melaut tetap menggunakan alat-alat yang dilarang akan berdampak pada ekosistem lingkungan,” katanya.

Pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada sebagian nelayan. Sedangkan bagi nelayan yang belum menerima bantuan, pihaknya bisa kembali mengadakannya asal kelompok nelayan mengajukan permohonan bantuan pada pihaknya.

“Kita harus menjaga apa yang telah ada, dengan begini hewan-hewan laut nantinya dapat terus berkembang biak,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah nelayan lokal Berau, meminta Pemkab Berau segera memberikan bantuan alat tangkap baru. Pasalnya, ratusan nelayan tersebut terancam menjadi pengangguran, karena telah dilarang menangkap ikan menggunakan pukat trawl.

Kepada Berau Post, salah seorang nelayan asal Tanjung Redeb Samsul Anwar menjelaskan, setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela, Pukat Tarik atau Pukat Trawl, seolah mematikan mata pencaharian mereka sebagai nelayan yang menggunakan pukat trawl.

Padahal, ujar dia, jajaran Pemkab Berau belum pernah menggelar sosialisasi larangan tersebut kepada nelayan di Tanjung Redeb. “Kami nelayan yang di Tanjung (Redeb) ini belum pernah mendapat sosialisasi atau bantuan alat pengganti. Kalau tidak salah, nelayan di Kampung Merancang sudah,” ungkapnya kepada Berau Post, Rabu (18/10) lalu.

Dirinya beranggapan, bila aturan tersebut diterapkan, nelayan-nelayan lokal yang mengandalkan trawl terancam tak bisa memenuhi kebutuhan dapur keluarganya, karena sudah lama ketergantungan menggunakan pukat trawl.

“Nelayan yang masih menggunakan trawl yang terdata sekitar 100, yang belum terdata mungkin masih banyak. Untuk mengubahnya harus ada sosialisasi mendalam, sehingga nelayan tidak mati secara perlahan. Bagaimana nelayan mau hidup, mau makan kalau tiba-tiba dilarang. Jelas ini mematikan mata pencaharian kami sebagai nelayan,” ungkapnya.

Anwar dan nelayan lainnya berharap ada solusi dari Pemkab Berau. Setidaknya ada pengecualian bagi nelayan perorangan seperti dirinya dan rekan-rekannya. Selama ini, hasil tangkapan nelayan yang dijual kepada pedagang di pasar, juga tak pernah melimpah. Sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur saja.

Untuk itu, pria yang sudah 20 tahun mengantungkan kehidupan keluarganya dari hasil tangkapan udang menggunakan trawl, mengharapkan Pemkab Berau bisa memberikan bantuan alat tangkap baru, untuk mengganti pukat trawl mereka yang telah dilarang.

“Karena hanya ini keahlian yang kami miliki. Jika tidak diperbolehkan, kami harus seperti apa? Untuk berpindah kerja, rasanya juga tidak mungkin,” pungkasnya. (*/sin/udi)


BACA JUGA

Minggu, 23 September 2018 15:32

Pusat Diminta Cari Solusi, Larangan Pemkab Mengangkat Guru Honorer

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Muharram, anggap keputusan Presiden Republik Indonesia yang meminta…

Minggu, 23 September 2018 15:30

Agendakan World Summit Coral Triangle di Maratua

TANJUNG REDEB - Banyak gagasan yang bisa dilakukan dalam mempromosikan Pulau Maratua di Berau, sebagai…

Minggu, 23 September 2018 15:26

Target Dua Emas, Yakin dengan Kualitas Atlet

Cabang olahraga wushu bukanlah cabang baru di Berau, khalayaknya Gateball maupun Woodball. Dua medali…

Minggu, 23 September 2018 12:30

Hari Ini Masa Kampanye Dimulai

TANJUNG REDEB - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau, telah menetapkan daftar calon tetap (DCT) sebanyak…

Sabtu, 22 September 2018 11:27

Keteladanan Lebih Baik dari Seribu Nasihat

TANJUNG REDEB – Rangkaian kegiatan memeriahkan perayaan Hari Jadi ke-208 Kota Tanjung Redeb dan…

Sabtu, 22 September 2018 11:26

Tak Perlu Ditutup-tutupi, KPU Diminta Beber Caleg Mantan Napi

TANJUNG REDEB – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau diminta lebih terbuka kepada masyarakat, untuk…

Sabtu, 22 September 2018 11:25

Minim Kejuaraan, Maksimalkan Waktu Pemulihan

Atlet-atlet Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Berau, terus meningkatkan porsi latihan menjelang…

Sabtu, 22 September 2018 11:23

Dirut Berau Post Lulus Sangat Memuaskan

JAKARTA - Setelah 7,5 bulan menjalani proses pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI,…

Sabtu, 22 September 2018 11:22

Jadwal Pendaftaran CPNS Belum Jelas

TANJUNG REDEB – Kepala Bidang Pengadaan dan Mutasi, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan…

Jumat, 21 September 2018 10:55

Wakil Rakyat Dinilai Pasif

TANJUNG REDEB – DPRD Berau kembali menggelar hearing atau rapat dengar pendapat menindaklanjuti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .