MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:24
Dinas Tunggu Proposal Nelayan

Siapkan Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Larangan penggunaan pukat trawl, pukat hela dan alat tangkap lainya yang tak ramah lingkungan bagi nelayan, terus disosialisasikan Dinas Perikanan Berau.

Dijelaskan Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, sosialisasi dilakukan secara bertahap. Ketegasan itu sesuai ketentuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawl) dan Pukat Tarik (seinen nets). Setelah penerapan aturan tersebut, seluruh alat tangkap yang dinilai tak ramah lingkungan, statusnya jadi terlarang untuk digunakan.

“Mau tidak mau, peraturan ini harus diikuti oleh nelayan. Kita akan memberikan imbauan kepada nelayan kecil agar tidak melakukan penangkapan dengan alat yang berbahaya,” ungkapnya kepada Berau Post kemarin (20/10).

Agar tidak mematikan mata pencaharian nelayan, pihaknya menganjurkan agar nelayan Berau mengganti alat tangkap mereka yang lebih ramah lingkungan seperti purse seine atau pukat cincin.

“Aturan ini harus dipatuhi, sebab jika melaut tetap menggunakan alat-alat yang dilarang akan berdampak pada ekosistem lingkungan,” katanya.

Pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada sebagian nelayan. Sedangkan bagi nelayan yang belum menerima bantuan, pihaknya bisa kembali mengadakannya asal kelompok nelayan mengajukan permohonan bantuan pada pihaknya.

“Kita harus menjaga apa yang telah ada, dengan begini hewan-hewan laut nantinya dapat terus berkembang biak,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah nelayan lokal Berau, meminta Pemkab Berau segera memberikan bantuan alat tangkap baru. Pasalnya, ratusan nelayan tersebut terancam menjadi pengangguran, karena telah dilarang menangkap ikan menggunakan pukat trawl.

Kepada Berau Post, salah seorang nelayan asal Tanjung Redeb Samsul Anwar menjelaskan, setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela, Pukat Tarik atau Pukat Trawl, seolah mematikan mata pencaharian mereka sebagai nelayan yang menggunakan pukat trawl.

Padahal, ujar dia, jajaran Pemkab Berau belum pernah menggelar sosialisasi larangan tersebut kepada nelayan di Tanjung Redeb. “Kami nelayan yang di Tanjung (Redeb) ini belum pernah mendapat sosialisasi atau bantuan alat pengganti. Kalau tidak salah, nelayan di Kampung Merancang sudah,” ungkapnya kepada Berau Post, Rabu (18/10) lalu.

Dirinya beranggapan, bila aturan tersebut diterapkan, nelayan-nelayan lokal yang mengandalkan trawl terancam tak bisa memenuhi kebutuhan dapur keluarganya, karena sudah lama ketergantungan menggunakan pukat trawl.

“Nelayan yang masih menggunakan trawl yang terdata sekitar 100, yang belum terdata mungkin masih banyak. Untuk mengubahnya harus ada sosialisasi mendalam, sehingga nelayan tidak mati secara perlahan. Bagaimana nelayan mau hidup, mau makan kalau tiba-tiba dilarang. Jelas ini mematikan mata pencaharian kami sebagai nelayan,” ungkapnya.

Anwar dan nelayan lainnya berharap ada solusi dari Pemkab Berau. Setidaknya ada pengecualian bagi nelayan perorangan seperti dirinya dan rekan-rekannya. Selama ini, hasil tangkapan nelayan yang dijual kepada pedagang di pasar, juga tak pernah melimpah. Sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur saja.

Untuk itu, pria yang sudah 20 tahun mengantungkan kehidupan keluarganya dari hasil tangkapan udang menggunakan trawl, mengharapkan Pemkab Berau bisa memberikan bantuan alat tangkap baru, untuk mengganti pukat trawl mereka yang telah dilarang.

“Karena hanya ini keahlian yang kami miliki. Jika tidak diperbolehkan, kami harus seperti apa? Untuk berpindah kerja, rasanya juga tidak mungkin,” pungkasnya. (*/sin/udi)


BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 10:52

Disdik Mengaku Belum Tahu Perubahan Jadwal UNBK 2019

TANJUNG REDEB – Tahun 2019, akan menjadi waktu yang sibuk…

Minggu, 16 Desember 2018 10:50

Peringatan hingga Distribusi BBM Distop

TANJUNG REDEB – PT Pertamina tengah mencari solusi perihal keberadaan…

Minggu, 16 Desember 2018 10:48

Wabup: Tak Akan Ada Toleransi

PULAU DERAWAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, terus berkomitmen dan…

Minggu, 16 Desember 2018 10:46

PH Anggap Perkara Nabucco Diskriminatif

TANJUNG REDEB – Terdakwa PT Nabucco dituntut selama 2 tahun…

Sabtu, 15 Desember 2018 13:19

Tinggal Tunggu Jadwal Sidang

TANJUNG REDEB – Perkara dugaan korupsi kapal pariwisata yang mencuat…

Sabtu, 15 Desember 2018 13:19

BANYAK JUGA..!! Ada 509 Perempuan Menjanda di Kabupaten Ini...

TANJUNG REDEB – Jelang akhir tahun 2018, Pengadilan Agama Berau…

Sabtu, 15 Desember 2018 13:18

Jawab Keraguan dengan Atlet-Atlet Lokal

Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim VI di Kutai Timur telah…

Sabtu, 15 Desember 2018 13:16

Empat Kecamatan Masuk Zona Merah

TANJUNG REDEB – Masa kampanye pemilihan legislatif maupun presiden sudah…

Jumat, 14 Desember 2018 10:22

ASIK..!! Dapat Kucuran Rp 300 Miliar, di Kabupaten Ini Bakal Ada Sekolah Penerbangan

TANJUNG REDEB - Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau membangun flying…

Jumat, 14 Desember 2018 10:20

Akui Gas Melon Juga Digunakan ASN

TANJUNG REDEB – Persoalan tingginya harga eceran LPG 3 kilogram…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .