MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 21 Oktober 2017 11:24
Dinas Tunggu Proposal Nelayan

Siapkan Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Larangan penggunaan pukat trawl, pukat hela dan alat tangkap lainya yang tak ramah lingkungan bagi nelayan, terus disosialisasikan Dinas Perikanan Berau.

Dijelaskan Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, sosialisasi dilakukan secara bertahap. Ketegasan itu sesuai ketentuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (trawl) dan Pukat Tarik (seinen nets). Setelah penerapan aturan tersebut, seluruh alat tangkap yang dinilai tak ramah lingkungan, statusnya jadi terlarang untuk digunakan.

“Mau tidak mau, peraturan ini harus diikuti oleh nelayan. Kita akan memberikan imbauan kepada nelayan kecil agar tidak melakukan penangkapan dengan alat yang berbahaya,” ungkapnya kepada Berau Post kemarin (20/10).

Agar tidak mematikan mata pencaharian nelayan, pihaknya menganjurkan agar nelayan Berau mengganti alat tangkap mereka yang lebih ramah lingkungan seperti purse seine atau pukat cincin.

“Aturan ini harus dipatuhi, sebab jika melaut tetap menggunakan alat-alat yang dilarang akan berdampak pada ekosistem lingkungan,” katanya.

Pihaknya juga sudah memberikan bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada sebagian nelayan. Sedangkan bagi nelayan yang belum menerima bantuan, pihaknya bisa kembali mengadakannya asal kelompok nelayan mengajukan permohonan bantuan pada pihaknya.

“Kita harus menjaga apa yang telah ada, dengan begini hewan-hewan laut nantinya dapat terus berkembang biak,” pungkasnya.

Sebelumnya, sejumlah nelayan lokal Berau, meminta Pemkab Berau segera memberikan bantuan alat tangkap baru. Pasalnya, ratusan nelayan tersebut terancam menjadi pengangguran, karena telah dilarang menangkap ikan menggunakan pukat trawl.

Kepada Berau Post, salah seorang nelayan asal Tanjung Redeb Samsul Anwar menjelaskan, setelah ditetapkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2/2015 tentang Larangan Penggunaan Pukat Hela, Pukat Tarik atau Pukat Trawl, seolah mematikan mata pencaharian mereka sebagai nelayan yang menggunakan pukat trawl.

Padahal, ujar dia, jajaran Pemkab Berau belum pernah menggelar sosialisasi larangan tersebut kepada nelayan di Tanjung Redeb. “Kami nelayan yang di Tanjung (Redeb) ini belum pernah mendapat sosialisasi atau bantuan alat pengganti. Kalau tidak salah, nelayan di Kampung Merancang sudah,” ungkapnya kepada Berau Post, Rabu (18/10) lalu.

Dirinya beranggapan, bila aturan tersebut diterapkan, nelayan-nelayan lokal yang mengandalkan trawl terancam tak bisa memenuhi kebutuhan dapur keluarganya, karena sudah lama ketergantungan menggunakan pukat trawl.

“Nelayan yang masih menggunakan trawl yang terdata sekitar 100, yang belum terdata mungkin masih banyak. Untuk mengubahnya harus ada sosialisasi mendalam, sehingga nelayan tidak mati secara perlahan. Bagaimana nelayan mau hidup, mau makan kalau tiba-tiba dilarang. Jelas ini mematikan mata pencaharian kami sebagai nelayan,” ungkapnya.

Anwar dan nelayan lainnya berharap ada solusi dari Pemkab Berau. Setidaknya ada pengecualian bagi nelayan perorangan seperti dirinya dan rekan-rekannya. Selama ini, hasil tangkapan nelayan yang dijual kepada pedagang di pasar, juga tak pernah melimpah. Sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur saja.

Untuk itu, pria yang sudah 20 tahun mengantungkan kehidupan keluarganya dari hasil tangkapan udang menggunakan trawl, mengharapkan Pemkab Berau bisa memberikan bantuan alat tangkap baru, untuk mengganti pukat trawl mereka yang telah dilarang.

“Karena hanya ini keahlian yang kami miliki. Jika tidak diperbolehkan, kami harus seperti apa? Untuk berpindah kerja, rasanya juga tidak mungkin,” pungkasnya. (*/sin/udi)


BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 11:43

Rita Tetap Umbar Senyum

JAKARTA - Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari menjalani sidang perdana di Pengadilan…

Kamis, 22 Februari 2018 11:42

Beri Edukasi soal Obat-obatan, Malah Dianggap Mempersulit

Tanggung jawab besar harus diemban Meliana Kurniawaty. Sebagai seorang apoteker, Meliana sudah disumpah…

Kamis, 22 Februari 2018 11:41

Beri Deadline Sebulan

SAMBALIUNG – Kondisi ruas jalan poros Kecamatan Sambaliung menuju Talisayan, masih mengalami kerusakan.…

Kamis, 22 Februari 2018 11:32

Rekonstruksi Digelar Pekan Ini

TANJUNG REDEB – Polres Berau akan menggelar rekonstruksi pembunuhan Redy Siswanto (76), warga…

Rabu, 21 Februari 2018 12:58

Berdalih Tak Bisa Berpolitik, Totoh Enggan Ikut Seleksi Sekkab

TANJUNG REDEB – TotohHermanto merupakan satu dari sebelas nama yang lolos kriteria mengikuti lelang…

Rabu, 21 Februari 2018 12:56

Dibantu Asuransi Lain, Gagal Terima Santunan Jasa Raharja

TANJUNG REDEB – Edi, salah seorang warga di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Tanjung Redeb mempertanyakan…

Rabu, 21 Februari 2018 12:53

Pemkab Ditegur Kemendagri, Akibat Tiga Pejabat Disdukcapil Dimutasi

TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mendapat surat teguran dari Kementerian Dalam Negeri…

Rabu, 21 Februari 2018 12:49

Semakin Sulit Didapatkan, Diduga karena Kerusakan Ekosistem Laut

Jika berkunjung ke wilayah pesisir selatan, tak lengkap jika sekadar menikmati pemandangannya saja.…

Selasa, 20 Februari 2018 09:26

Suprianto Yes, Ikut Seleksi Lelang Jabatan Sekkab

TANJUNG REDEB -  Ketertarikan ikut ambil bagian dalam seleksi jabatan Sekretaris Kabupaten (Sekkab)…

Selasa, 20 Februari 2018 09:21

Masa Registrasi Nomor Ponsel Tak Bisa Diperpanjang Lagi

TANJUNG REDEB - Beberapa bulan lalu, masyarakat diramaikan dengan aturan registrasi ulang nomor ponsel,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .