MANAGED BY:
RABU
22 NOVEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 28 Oktober 2017 21:45
Tak Ada Anak yang Bermasalah
Oleh: Endro S Efendi

PROKAL.CO, BEBERAPA sekolah dasar di Samarinda sudah rutin bekerja sama dengan saya. Karena itu, ketika ada murid yang dianggap bermasalah atau membuat ulah, maka guru sekolah biasanya akan langsung merekomendasikan orang tuanya untuk membuat janji konsultasi.   

Beberapa hari lalu, salah satu orang tua murid dari sebuah sekolah dasar menghubungi saya. Dia menyampaikan, anaknya sudah membuat gurunya kewalahan dengan semua sikap dan tingkahnya.

“Anaknya selalu bertindak sesuka hati. Nanti ngga mau nulis. Kadang mengganggu temannya. Saya sampai stress pak,” sebut ibu ini dari ujung telepon. Dari suaranya terdengar ada kecemasan yang membuatnya tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak ingin berlarut-larut, saya langsung meluangkan waktu keesokan harinya, untuk janji bertemu membicarakan masalah anaknya.

Sesuai kesepakatan, keesokan harinya saya berkunjung ke sekolah tersebut, dan meminta ruangan khusus agar bisa berbincang dengan murid yang dianggap bermasalah, didampingi orangtuanya.

Dari hasil bincang santai dengan sang murid, tidak terlihat ada yang aneh, semuanya normal. Namun dari sikapnya bisa diketahui, ada pola asuh yang kurang tepat.

Tanpa menunggu penjelasan dari ibunya, saya langsung mencoba beberapa kesimpulan. Di antaranya, anak ini selalu mengendalikan orangtuanya. Anak ini selalu berhasil menyusahkan orangtuanya.

Sahabat, dari pengalaman di ruang praktik, selalu ada kesamaan kesimpulan. Apa itu? Tidak ada anak yang bermasalah. Umumnya, orangtua yang membuat anaknya bermasalah. Dari kasus di atas, pola asuh yang kurang tepat adalah, orangtua tidak berhasil memegang kendali atas anaknya sendiri.

Anak-anak selalu punya senjata ampuh dan pamungkas. Menangis atau mengamuk, bahkan kombinasi dari keduanya. Biasanya, orangtua akan langsung lemah dan tidak berdaya jika anaknya berbuat seperti ini. Hasilnya, orangtua langsung luluh dan menuruti semua kemauan anak.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Sebelum bicara solusi, mari menengok sebentar ke belakang, apa yang menjadikan anak mengamuk atau mudah menangis. Tangisan dan amukan adalah cara anak menyampaikan pesan bahwa dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Ini biasanya terjadi pada anak yang memiliki dua orangtua yang sama-sama sibuk. Ayahnya sibuk kerja, ibunya pun sibuk bekerja. Kalau pun ibunya tidak bekerja, umumnya punya kesibukan lain. Misalnya sibuk arisan atau sibuk bersosialita. Akibatnya, anak lebih banyak mendapat kasih sayang dari benda lain, misalnya smartphone atau televisi.

Coba diingat, pernahkah Anda sebagai orang tua, lebih memilih memberikan anak gadgetketimbang anak keluyuran atau bertindak yang aneh-aneh. Lebih senang melihat anak duduk anteng tenang menatap layar smartphone, sehingga sebagai orangtua bisa bebas melakukan apa saja. Kalau sudah seperti ini, maka jangan heran jika anak memiliki orangtua baru, bernama smartphone.    

umumnya anak yang bermasalah karena kekurangan perhatian. Baterai kasih sayang anak umumnya dibiarkan kosong sehingga anak menjadi mudah cemas dan sulit konsentrasi.

Penyebab lain biasanya karena anak kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja, serta perhatian anak terpecah antara ingin belajar dan main gadget. Persoalan lain adalah anak merasa tidak berdaya karena tidak ada kehadiran orangtuanya dalam hidup mereka untuk membantu mengatasi masalahnya.

Hal lain yang juga menjadi masalah adalah, kondisi di rumah kurang representative untuk belajar. Misalnya, saat anak disuruh belajar, orangtuanya justru menonton televisi atau bermain smartphone. Anak tidak punya tempat belajar khusus.

Bisa juga disebabkan orangtua yang sering bertengkar sehingga membuat anak tidak nyaman bahkan trauma melihat pemandangan tidak nyaman tersebut.

Penyebab lain, orangtua terkadang tidak sadar memberikan program kurang tepat dan disampaikan berulang-ulang. Misalnya kalimat, “anak ini nakal”, “anaknya malas”, “anaknya susah konsentrasi”, dan berbagai kalimat negatif yang diucapkan berulang-ulang. Secara tidak disadari, kalimat itu justru menjadi program yang masuk ke dalam pikiran bawah sadar anak dan berjalan dengan baik.

Kembali ke masalah anak di atas tadi. Salah satu hal yang sulit dikendalikan adalah ketergantungan smartphone. Sang ibu pun mengakui, sejak kecil usia 3 tahun, sudah dibiarkan pegang gadget, dengan alasan biar tidak merepotkan. Nyatanya, kebiasaan ini berlanjut sampai dewasa dan anak menjadi sulit belajar dan susah dikendalikan.

Dari penjelasan yang saya sampaikan, sang ibu akhirnya mengakui, banyak pola asuh yang kurang tepat. Di antaranya terlalu permisif dan tidak disiplin dalam memberikan perintah. Ketegasan dan kejelasan dalam memberikan perintah pada anak sangat diperlukan.

Maka, ibu dari anak ini diingatkan kembali untuk tegas dan terukur terhadap anaknya. Terkaitsmartphone, yang perlu dilakukan adalah harus ‘membeli’ smartphone itu dari anaknya. Tentu harus benar-benar diberi uang, dan diarahkan untuk ditabung. Supaya apa? Agar status kepemilikan smartphone berpindah dari milik anak, menjadi milik orangtuanya. Maka sejak itu,smartphone bukan lagi milik anak, namun bisa dipakai dengan sistem pinjam. Karena pinjam, maka sudah bisa ada ketegasan aturan yang perlu diterapkan. Ketika anak melanggar, maka status pinjamnya bisa dicabut. Hal ini jelas tidak bisa dilakukan kalau status smartphone masih milik anak.

Lagi pula, jika tetap mengambil smartphone sebelum dilakukan ‘pembelian’, maka sama saja orangtua sedang mengajarkan pada anak, boleh merampas barang milik orang lain.    

Setelah cukup lama berbincang, sang anak ini menghampiri ibunya. “Ma, aku ngga mau bimbel, ayo pulang,” kata anak ini. Saya kemudian mengajak ibunya mulai mengendalikan anaknya dengan tegas. Cukup satu kata yang disampaikan, “bimbel”.

Sang anak mengamuk, kemudian mulai memukul ibunya. Saya ajarkan ibunya untuk mengelak dan tidak membiarkan dirinya sebagai sansak hidup. Orangtua harus dihormati dan dihargai, maka harus ada ketegasan. Sekali lagi, saya ajarkan ibunya mengatakan satu kata “bimbel” dengan tegas namun tetap tenang, tanpa amarah.

Hasilnya luar biasa. Sang anak merasa kalah dan luluh, tak lama kemudian, anak ini pun langsung berkata, “ya udah aku bimbel aja,” sembari berlari menuju kelasnya.

Sang ibu jelas kaget dan tidak menyangka, perubahan sikap itu bisa mengalahkan anaknya.

Dari contoh kasus ini, nyatanya untuk mengatasi masalah tidak selalu harus dengan hipnoterapi. Biasanya cukup dengan sedikit perubahan pola asuh dari orang tua, maka hasilnya secara signifikan langsung bisa dirasakan.(*)

 


BACA JUGA

Sabtu, 18 November 2017 12:19

Demi Setya Novanto, Fortuner Tuntut Tiang Listrik

TIBA-tiba, publik menyalahkan sebuah tiang listrik. Ya, tiang listrik milik Perusahaan Listrik Negara…

Jumat, 17 November 2017 10:08

CSR demi Kesejahteraan Masyarakat

TANGGUNG jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR),adalah pendekatan mekanisme…

Minggu, 12 November 2017 11:55

Bentengi Keluarga dari Predator Anak

PEDOFILIA atau dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai predator anak merupakan sejenis penyakit kelainan…

Jumat, 10 November 2017 11:10

MEMAKNAI HARI PAHLAWAN

HARI ini tanggal 10 November 2017, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Kalau kita berbicara mengenai…

Selasa, 07 November 2017 11:22

Budaya Membaca di Era High Tech

ERA globalisasi di zaman sekarang sudah banyak berkembang pesat. Seperti halnya teknologi yang semakin…

Selasa, 07 November 2017 10:59

Alasan Penghapusan Pidana

DALAM hukum pidana dikenal istilah alasan pemaaf dan alasan pembenar tindak pidana. Alasan pemaaf adalah…

Senin, 30 Oktober 2017 10:56

Manguati Banua (1)

MASA muda sebagai masa pencarian jati diri (eksistensi), mencerminkan psikis pemuda yang menggebu-gebu.…

Sabtu, 28 Oktober 2017 21:37

Pemuda Zaman Now

SEMBARI berbisik, Moehammad Yamin kepada Soegondo Djojopoespito mengeluarkan secarik kertas. “Saya…

Minggu, 22 Oktober 2017 10:52

Gay Selama 21 Tahun, Pernah Diejek Bencong

CUKUP lama bagi Feri, bukan nama sebenarnya, mempertimbangkan rencana untuk menjalani sesi hipnoterapi.…

Jumat, 20 Oktober 2017 10:16

Gugatan Cerai dan Tuntutan Ranking Satu

TAK tahan dengan sikap suaminya, Viona (bukan nama sebenarnya), melayangkan gugatan cerai ke pengadilan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .