MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Minggu, 12 November 2017 11:54
Mengantar Para Dewa, Hening dalam Persembahyangan

Perayaan Hari Galungan ditutup Upacara Kuningan

KHIDMAT: Jemaah Hindu sedang sembahyang di Pura Agung Giri Natha pada upacara Kuningan, Hari Raya Galungan, malam tadi (11/11).

PROKAL.CO, Setiap umat beragama, pasti memiliki hari-hari besar/sakral untuk diperingati. Jika umat Islam ada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha,umat Hindu ada Hari Raya Galungan dengan upacara Kuningan sebagai penutupnya.

 

 

EKA RUSDIANA, Sambaliung

 

SABTU (11/11) kemarin, merupakan hari istimewa bagi umat Hindu Bali di Kabupaten Berau. Pasalnya serangkaian Hari Raya Galungan yang selalu dirayakan setiap 210 hari perhitungan kalender Bali ditutup pada hari itu.

Suasana hening begitu terasa di Pura Agung Giri Natha di jalan poros Sambaliung-Bangun saat itu. Kurang lebih 40 jemaah dengan pakaian adat Bali hadir untuk melakukan persembahyangan penutup, yaitu Kuningan.

“Kuningan ini sebenarnya rangkaian dari Hari Raya Galungan yang diperingati setiap enam bulan sekali, tapi pakai kalender Bali. Setelah 10 hari, ditutuplah dengan Kuningan,” jelas Putu, salah satu jemaah yang ikut melakukan persembahyangan, kemarin (11/11).

Lebih jauh dijelaskannya, Hari Raya Galungan selalu jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan (Budha Kliwon Dungulan), yang dikenal sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Selama hari suci ini masyarakat Hindu Bali percaya bahwa leluhur atau dewa-dewa sedang turun ke dunia untuk “membesuk” umat Hindu di muka bumi.

Sementara Kuningan, yang juga selalu jatuh pada hari Sabtu Saniscara Kliwon wuku Kuningan, diyakini merupakan hari kembalinya para leluhur dari dunia menuju ke khayangan. Dalam prosesnya, hari Kuningan di Pura Agung Giri Natha dipimpin oleh dua Pendeta (Pemangku) laki-laki dan satu Pemangku perempuan.

“Sama seperti umat beragama lainnya, ketika di tempat persembahyangan kita semua sama. Hanya memang kalau Muslim kan ada ulama ada jemaah. Hindu juga sama, bedanya kita Pendeta biasanya bisa juga disebut Pemangku,” ujarnya menerangkan. “Sembahyangnya pun hari Kuningan dengan Galungan itu sama. Hanya doanya saja yang membedakan, ditujukan kepada siapa, apa yang dihaturkan,” tambahnya lagi.

Sebelumnya, pada pagi hari para pria dan wanita menyiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam rangkaian persembahyangan malam tadi. Mulai dari bebantenan (sesaji), menghias tempat persembahyangan, hingga memasak makanan khas Bali. Sudah menjadi tradisi, sesaji bebantenan menjadi bagiannya para wanita dan masak-memasak sepenuhnya diserahkan kepada para pria.

Sebelum menghaturkan doa bersama, terlebih dahulu semua sesaji dihadapkan kepada para Pemangku untuk dihaturkan doa. Barulah selanjutnya melakukan sembah pertama hingga sembah keempat sekaligus yang terakhir.

“Sebelum sembahyang ini selesai, kita meminta Tirtha (air suci) untuk dibasuhkan ke kepala 3 kali, untuk diminum 3 kali, dan untuk dibasuhkan ke wajah 3 kali,” ujar Putu menerangkan.

Setelah rangkaian itu, barulah setelahnya di kening masing-masing jemaah dipakaikan bija, beras yang direndam dengan air suci. Proses ini dilakukan persis setelah menerima tirtha atau amertha pada akhir proses persembahyangan. Beras pun tidak sembarang, harus diusahakan dengan beras utuh dan tidak patah (aksata).

Perayaan Hari raya Galungan dan Kuningan kali ini ujar Putu, umat Hindu Bali diharapkan dapat meningkatkan Sradha Bhakti (pemujaan) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sehingga, para leluhur dan para Dewa senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada umat Hindu di dunia. (*/app)

 


BACA JUGA

Kamis, 18 Oktober 2018 13:38

PPP dan Gerindra Membantah

TANJUNG REDEB – Berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap NM, oknum komisioner Komisi Pemilihan…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:31

Boleh Gunakan Dana Tanggap Bencana

TANJUNG REDEB - Beberapa daerah menjadi tempat persinggahan korban gempa dan tsunami yang terjadi di…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:29

Pendistribusian Bantuan ke 11 Desa

SETELAH dua pekan melakukan penggalangan bantuan, bantuan kemanusiaan yang terdiri dari ribuan paket…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:28

Pengungsi asal Sigi Diterima di SMPN 3

RATUSAN korban bencana asal Donggala, Sigi dan Palu, sudah berada di Kabupaten Berau untuk mengungsi.…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:26

Tak Punya Pelatih, Atlet Berlatih Mandiri

Walau belum memiliki pelatih profesional, atlet-atlet dansa Berau tetap tak ingin menjadi penggembira…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:34

20 Relawan Berangkat Hari Ini

BANTUAN kemanusiaan yang dikumpulkan Posko Ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Tengah (IKKLAST) di Jalan…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:33

NM Bantah Semua Tuduhan

TANJUNG REDEB – NM, oknum komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau yang dilaporkan telah meminta…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:26

APS Tinjau Bandara Maratua

TANJUNG REDEB – Meski Presiden RI Joko Widodo belum pasti datang ke Maratua, namun UPBU Kalimarau…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:22

Perbaikan Kakaban Kekurangan Material

MARATUA – Perbaikan fasilitas di Pulau Kakaban, Kecamatan Maratua, setelah mengalami kerusakan…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:20

Tunda Pemberangkatan hingga Besok

RENCANA memberangkatkan bantuan kemanusiaan yang dikumpulkan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .