MANAGED BY:
SABTU
21 JULI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Senin, 20 November 2017 09:54
PAD Harus Didobrak

Sumber Potensial Perlu Dimanfaatkan

POTENSI: Pemerintah Kabupaten Berau perlu meningkatkan PAD. Perkebunan kelapa sawit bisa menjadi potensi PAD baru yang perlu digali.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Rendahnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam kurun 2 tahun ini, jika dibandingkan pada 2015 silam, menjadi penanda penurunan ekonomi yang signifikan. Kecilnya Dana Perimbangan yang diberikan pemerintah pusat, turut menjadi penyebab utama.

Untuk itu, perlu sekiranya memaksimalkan sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang ada. Pasalnya, pada Rancangan APBD 2018, sumbangsih PAD hanya sebesar Rp 247 miliar. Nilai itu dirasa sangat kecil, mengingat banyaknya potensi daerah yang belum tergarap maksimal.

Kritik itu disampaikan anggota Komisi I DPRD Berau Abdul Waris. Ia mengatakan, rendahnya APBD disebabkan karena pemerintah belum maksimal dalam menyerap PAD. Sehingga, biaya belanja pun ikut rendah.

“Selama ini kita terlalu nyaman dengan besarnya dana perimbangan. Ketika menurun akhirnya kelimpungan. PAD perlu didobrak,” katanya pada diskusi yang diselenggarakan Berau Post bertajuk “APBD 2018 untuk Apa?”, Sabtu (18/11) lalu.

Potensi yang belum digarap maksimal oleh Abdul Waris seperti retribusi parkir dan pajak bumi bangunan (PBB). Hingga yang belum dimasukkan seperti pajak sarang burung walet juga perkebunan kelapa sawit. Padahal, potensi pada sektor tersebut cukup besar.

“Kaya retribusi parkir saat ini angkanya tidak jelas. Ada atau tidak? Ini perlu jadi pertanyaan. Untuk sarang burung walet juga masih belum ditarik pajaknya. Padahal kan itu membantu untuk membantu pemerintah daerah juga,” tegasnya.

Di tengah kondisi seperti ini, pemerintah daerah ucapnya perlu lebih kreatif. Terutama untuk mendorong roda perekonomian berputar lebih cepat. Bukan sekadar berharap dari Dana Perimbangan serta lain-lain pendapatan yang sah. “Itu kan (lain-lain pendapatan yang sah) hanya dana mengendap di bank yang tidak terpakai. Baru dikeluarkan lagi untuk jadi APBD. Harusnya memikirkan untuk bisa menambah PAD,” kesalnya.

Menambahkan, perlu sekiranya mencontoh Kabupaten Badung, Bali yang mempunyai PAD hingga Rp 4 triliun. “Pendapatannya didapat hanya dari hotel dan restoran. Karena Kabupaten Badung itu yang memiliki Pantai Kuta,” ucapnya.

Senada anggota Komisi III DPRD Berau Mulyadi mengaku, perlu sekiranya pola pikir kita dalam menanggulangi APBD diubah. Jika sebelumnya bergantung pada Dana Perimbangan, maka untuk tahun depan, sudah sepatutnya untuk memaksimalkan dan mencari potensi baru untuk PAD. “Target PAD sekiranya perlu lebih ditingkatkan. Jika rata-rata targetnya Rp 200-250 miliar. Mungkin tahun depan bisa sampai Rp 500 miliar. Sehingga kita bersama-sama bekerja lebih keras,” sarannya.

Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menjelaskan, dengan meningkatnya PAD, maka APBD pun otomatis ikut terdongkrak. Namun, persoalannya, perlu juga mengamati pertumbuhan ekonomi. Sehingga target dan pencapaian berjalan beriringan.

Keluhan soal rendahnya PAD turut disampaikan Imam Sururi selaku Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kamar Dagang Industri (Kadin) Berau. Ia menerangkan, perlu mencari sumber lain untuk bisa meningkatkan pemasukan daerah.

Jika pemerintah selama ini berorientasi pada pertambangan, maka perlu melirik untuk potensi lain. Selain itu, dia menyarankan agar izin Galian C untuk lebih dipermudah. Karena potensi pajak dari sektor tersebut cukup besar.

“Tapi, persoalannya untuk mendapat izin tidak mudah. Saya pengajuan dari April lalu, sampai sekarang tidak selesai. Jadi untuk bisa membayar pajak terkait izin Galian C itu, tidak diterima,” akunya.

PAD menjadi salah satu komponen penting dalam APBD. Untuk itu, perlu sekiranya dipikirkan bersama rencana meningkatkan PAD tersebut. Mulyadi pun menyarankan agar Berau Post kembali menggelar diskusi, berkaitan dengan cara meningkatkan pemasukan daerah tersebut. (rio/app)


BACA JUGA

Kamis, 05 Juli 2018 13:37

Kerajinan Tangan Tradisional Mulai Ditinggalkan

TANJUNG REDEB – Meski kerajinan anyaman tangan kini sudah tidak sepopuler dulu, tapi tidak membuat…

Kamis, 05 Juli 2018 13:34

KOK BISA..!! Harga Ikan Mahal di Kampung Nelayan

TALISAYAN - Meskipun sejumlah kampung di pesisir selatan Berau dikenal sebagai daerah penghasil ikan…

Kamis, 05 Juli 2018 13:32

Modal untuk UMKM lewat Dana Bergulir

TANJUNG REDEB - Dalam rangka memberikan kemudahan akses pembiayaan berupa dana bantuan untuk Usaha Mikro…

Kamis, 05 Juli 2018 13:31

Juni, Harga TBS Kembali Turun

TANJUNG REDEB - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali mengalami…

Selasa, 03 Juli 2018 11:11

Cuaca Tak Menentu, Pembuat Bata Merugi

TANJUNG REDEB - Tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, mengakibatkan para pengrajin batu…

Selasa, 03 Juli 2018 11:11

Harga Sawit Turun, Petani Tak Khawatir

BATU PUTIH - Menurunnya harga hasil perkebunan tidak hanya lada saja. Saat ini, harga kelapa sawit di…

Sabtu, 30 Juni 2018 12:18

Tingkatkan PAK Lewat Sektor Perikanan

TALISAYAN – Tingkatkan Pendaptan Asli Kampung (PAK) Pemerintah Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan,…

Jumat, 29 Juni 2018 10:57

Harga Lada Selalu Turun Drastis

TANJUNG REDEB – Data dari Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, disebutkan harga lada saat…

Selasa, 26 Juni 2018 12:15

Bantuan Sapi Diganti Program Inseminasi Buatan

TANJUNG REDEB - Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, terus menggalakkan berbagai program guna mempertahankan…

Senin, 25 Juni 2018 11:57

Disperindagkop Dukung Peningkatan Kualitas Produk IKM

TANJUNG REDEB - Kabar baik bagi para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Bumi Batiwakkal, dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .