MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Senin, 20 November 2017 09:54
PAD Harus Didobrak

Sumber Potensial Perlu Dimanfaatkan

POTENSI: Pemerintah Kabupaten Berau perlu meningkatkan PAD. Perkebunan kelapa sawit bisa menjadi potensi PAD baru yang perlu digali.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Rendahnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam kurun 2 tahun ini, jika dibandingkan pada 2015 silam, menjadi penanda penurunan ekonomi yang signifikan. Kecilnya Dana Perimbangan yang diberikan pemerintah pusat, turut menjadi penyebab utama.

Untuk itu, perlu sekiranya memaksimalkan sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang ada. Pasalnya, pada Rancangan APBD 2018, sumbangsih PAD hanya sebesar Rp 247 miliar. Nilai itu dirasa sangat kecil, mengingat banyaknya potensi daerah yang belum tergarap maksimal.

Kritik itu disampaikan anggota Komisi I DPRD Berau Abdul Waris. Ia mengatakan, rendahnya APBD disebabkan karena pemerintah belum maksimal dalam menyerap PAD. Sehingga, biaya belanja pun ikut rendah.

“Selama ini kita terlalu nyaman dengan besarnya dana perimbangan. Ketika menurun akhirnya kelimpungan. PAD perlu didobrak,” katanya pada diskusi yang diselenggarakan Berau Post bertajuk “APBD 2018 untuk Apa?”, Sabtu (18/11) lalu.

Potensi yang belum digarap maksimal oleh Abdul Waris seperti retribusi parkir dan pajak bumi bangunan (PBB). Hingga yang belum dimasukkan seperti pajak sarang burung walet juga perkebunan kelapa sawit. Padahal, potensi pada sektor tersebut cukup besar.

“Kaya retribusi parkir saat ini angkanya tidak jelas. Ada atau tidak? Ini perlu jadi pertanyaan. Untuk sarang burung walet juga masih belum ditarik pajaknya. Padahal kan itu membantu untuk membantu pemerintah daerah juga,” tegasnya.

Di tengah kondisi seperti ini, pemerintah daerah ucapnya perlu lebih kreatif. Terutama untuk mendorong roda perekonomian berputar lebih cepat. Bukan sekadar berharap dari Dana Perimbangan serta lain-lain pendapatan yang sah. “Itu kan (lain-lain pendapatan yang sah) hanya dana mengendap di bank yang tidak terpakai. Baru dikeluarkan lagi untuk jadi APBD. Harusnya memikirkan untuk bisa menambah PAD,” kesalnya.

Menambahkan, perlu sekiranya mencontoh Kabupaten Badung, Bali yang mempunyai PAD hingga Rp 4 triliun. “Pendapatannya didapat hanya dari hotel dan restoran. Karena Kabupaten Badung itu yang memiliki Pantai Kuta,” ucapnya.

Senada anggota Komisi III DPRD Berau Mulyadi mengaku, perlu sekiranya pola pikir kita dalam menanggulangi APBD diubah. Jika sebelumnya bergantung pada Dana Perimbangan, maka untuk tahun depan, sudah sepatutnya untuk memaksimalkan dan mencari potensi baru untuk PAD. “Target PAD sekiranya perlu lebih ditingkatkan. Jika rata-rata targetnya Rp 200-250 miliar. Mungkin tahun depan bisa sampai Rp 500 miliar. Sehingga kita bersama-sama bekerja lebih keras,” sarannya.

Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menjelaskan, dengan meningkatnya PAD, maka APBD pun otomatis ikut terdongkrak. Namun, persoalannya, perlu juga mengamati pertumbuhan ekonomi. Sehingga target dan pencapaian berjalan beriringan.

Keluhan soal rendahnya PAD turut disampaikan Imam Sururi selaku Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kamar Dagang Industri (Kadin) Berau. Ia menerangkan, perlu mencari sumber lain untuk bisa meningkatkan pemasukan daerah.

Jika pemerintah selama ini berorientasi pada pertambangan, maka perlu melirik untuk potensi lain. Selain itu, dia menyarankan agar izin Galian C untuk lebih dipermudah. Karena potensi pajak dari sektor tersebut cukup besar.

“Tapi, persoalannya untuk mendapat izin tidak mudah. Saya pengajuan dari April lalu, sampai sekarang tidak selesai. Jadi untuk bisa membayar pajak terkait izin Galian C itu, tidak diterima,” akunya.

PAD menjadi salah satu komponen penting dalam APBD. Untuk itu, perlu sekiranya dipikirkan bersama rencana meningkatkan PAD tersebut. Mulyadi pun menyarankan agar Berau Post kembali menggelar diskusi, berkaitan dengan cara meningkatkan pemasukan daerah tersebut. (rio/app)


BACA JUGA

Sabtu, 14 April 2018 12:06

Harga Masih Rendah, Petani Lada Dilema

BATU PUTIH - Tren harga lada yang buruk sepertinya masih akan terus berlanjut di wilayah pesisir selatan…

Sabtu, 14 April 2018 12:03

Mulai Terjadi Fluktuasi Harga

TANJUNG REDEB – Harga kebutuhan bahan pokok mengalami fluktuasi. Pasokan disebut-sebut sebagai…

Sabtu, 14 April 2018 12:02

HBA Stabil, Ekonomi Membaik

TANJUNG REDEB – Kestabilan harga batu bara membuat sejumlah pengusaha kembali bergairah untuk…

Jumat, 13 April 2018 11:50

Faktor Kondisi Tanah, Setara dengan Kelapa Sawit

Ada banyak cara untuk mendongkrak perekonomian. Salah satu yang dapat dicontoh seperti mengikuti langkah…

Jumat, 13 April 2018 11:48

Tumbuhkan Motivasi UMKM

TANJUNG REDEB - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hingga kini masih menjadi salah satu sektor unggulan…

Jumat, 13 April 2018 11:47

Intensitas Hujan Tinggi, Pengusaha Bata Merugi

TANJUNG REDEB – Hujan dalam beberapa pekan terakhir, menghambat  proses pengeringan bata.…

Kamis, 12 April 2018 12:57

Siapkan Sistem Distribusi dan Pengawasan

TALISAYAN – Pembahasan pendistribusian dan pengawasan tabung elpiji tiga kilogram (3 kg) dengan…

Kamis, 12 April 2018 12:39

Stok Beras Bulog Aman hingga Ramadan

TANJUNG REDEB – Badan Urusan Logistik (Bulog) Berau memastikan stok beras aman untuk memenuhi…

Kamis, 12 April 2018 12:37

Pedagang Resah, Kerugian Menghantui

TANJUNG REDEB – Harga kebutuhan bahan pokok, terutama bumbu dapur mengalami fluktuasi dalam beberapa…

Rabu, 11 April 2018 11:55

Akui Kelapa Sawit Lebih Menguntungkan

BATU PUTIH – Polemik sektor pertanian masih terjadi. Bahkan, di Kecamatan Batu Putih, para petani…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .