MANAGED BY:
SENIN
18 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 26 November 2017 00:46
Optimalisasi Pengasuhan Anak
Oleh: Alghi Fari Smith, SST

PROKAL.CO,   PEMBACA yang budiman, anak merupakan amanah sekaligus aset berharga yang dimiliki para orangtua. Anak-anak hari ini, ketika mereka beranjak dewasa akan menjadi sosok yang menggantikan generasi tua dalam membangun peradaban di masa yang akan datang.

Penulis melihat realitas anak hari ini terbagi menjadi enam kondisi. Pertama anak yang bernaung dan diasuh langsung oleh keluarga kandung (inti), kedua anak yang diasuh oleh kerabat, ketiga anak yang diadopsi dan diasuh oleh keluarga lain (keluarga angkat),
keempat anak yang tinggal dan diasuh di lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA), kelima anak yang diterlantarkan dan keenam anak yang terjebak menjadi anak jalanan, pekerja anak, korban trafficking dan anak berhadapan dengan hukum (ABH).

Berangkat dari hal di atas, setidaknya ada tiga kebijakan yang mendukung program kesejahteraan sosial anak, diantaranya Undang-Undang Nomor 23/2002
tentang perlindungan anak. Deklarasi dalam “A World Fit for Children” dan tujuan pembangunan dalam “Millenium Development Goals” (MDGs) yang memprioritaskan fokus penanganan pada peningkatan gizi anak, peningkatan perlindungan terhadap anak
dari penganiayaan, eksploitasi dan kekerasan, mendorong institusi penyelenggara kesejahteraan sosial untuk memperluas dan menguatkan fungsi lembaga kesejahteraan sosial anak.

Anak memiliki hak untuk mengembangkan kepribadiannya secara sepenuhnya dan serasi dalam lingkungan keluarga dengan suasana kebahagiaan, cinta dan pengertian. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orangtuanya sendiri, kecuali jika ada alasan atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak,
dan merupakan pertimbangan terakhir (Pasal 14 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).

Prinsip utama dalam pengasuhan anak adalah para orangtua dan keluarga harus memiliki tanggung jawab terhadap anaknya. Prinsip dalam pengasuhan anak ditekankan pada kewajiban orangtua dalam memelihara, mendidik, melindungi, menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya. Serta mencegah terjadinya perkawinan usia dini pada anak.

Bagaimana bila pada kondisi kedua orangtua tidak ada atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena sesuatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya? Dalam pasal 26 Undang-Undang 23/2002 tentang Perlindungan Anak, tanggung jawab dan pengasuhan anak dapat beralih kepada keluarga besar (diluar keluarga inti), yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Cukup sering kita menjumpai bahwa anak yang terlantar diakibatkan orangtuanya tidak berfungsi secara sosial, baik karena tidak bisa mencari nafkah, anak dipisahkan dari kedua orangtuanya, padahal seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Alasan ekonomi dan kemiskinan tidak boleh menjadi alasan utama bagi pemisahan anak dari keluarga dan penempatan anak dalam pelayanan lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA).

Dalam buku pedoman tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak yang diterbitkan Kementerian Sosial RI, prinsip pengasuhan anak hendaknya mencegah keterpisahan anak dari keluarga inti. Semua organisasi yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial bagi anak-anak yang tergolong rentan, termasuk LKSA harus memfasilitasi bantuan bagi kebutuhan pengasuhan anak dalam keluarga kandung inti mereka. Termasuk bantuan keuangan dan psikososial agar anak tidak ditempatkan di LKSA karena alasan ekonomi. Dalam situasi ini, bisa disebut sebagai anak binaan di luar LKSA.

Upaya ini harus menjadi tujuan utama dalam penyelenggaraan pelayanan kepada anak-anak, kecuali jika ada alasan atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi keperntingan terbaik anak.

Dalam lingkup pengasuhan, tujuan utama pelayanan sosial bagi anak adalah memperkuat kapasitas orangtua dan keluarga untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap anaknya dan menghindarkan keterpisahan dari keluarga. Dari sini, sikap yang benar adalah dengan mengembalikan keberfungsian keluarga dengan memperkuat ketahanan keluarga.

Pembaca yang budiman, pernah kita melihat kondisi anak yang sangat memprihatainkan dan kurang beruntung. Kedua orangtua bermasalah dalam lingkungan sosialnya, kepala keluarga suka judi dan istri yang suka marah-marah dan main pukul saat mendidik anak. Dapat dibayangkan sang anak dalam keluarga ini akan memiliki masalah dalam tumbuh kembangnya. Bagaimana menyikapi hal itu?

Masih dalam buku panduan di atas, jika kondisi pengasuhan anak di dalam keluarga tidak memungkinkan atau tidak sesuai dengan kepentingan terbaik anak, maka pengasuhan anak berbasis keluarga pengganti melalui orangtua asuh, perwalian dan pengangkatan anak harus menjadi prioritas sesuai dengan situasi dan kebutuhan pengasuhan anak.

Tempat tumbuh kembang anak yang terbaik adalah di dalam keluarga inti. Namun, bila hal itu tidak memungkinkan, maka pengasuhan alternatif dapat diberlakukan, yaitu pengasuhan berbasis pengganti atau berbasis LKSA yang dilaksanakan oleh pihak-pihak di luar keluarga inti atau kerabat dekat anak. Hal ini bisa dilakukan melalui sistem orangtua asuh atau pengangkatan anak dan pada pilihan terakhir adalah pengasuhan berbasis residental (LKSA).

Pengasuhan ini (kecuali pengangkatan anak), bersifat sementara. Apabila setelah melalui assesmen, orangtua atau keluarga besar atau kerabat anak dianggap sudah mampu untuk mengasuh anak, maka anak akan dikembalikan kepada asuhan dan tanggung jawab mereka.

Pembaca yang budiman, tujuan dari pengasuhan alternatif termasuk yang dilakukan melalui LKSA harus diprioritaskan untuk menyediakan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan kasih sayang anak, kelekatan dan permanensi melalui keluarga pengganti. Anak yang membutuhkan pengasuhan alternatif adalah anak yang berada pada situasi sebagai berikut: keluarga anak tidak memberikan pengasuhan yang memadai sekalipun dengan dukungan yang sesuai, mengabaikan atau melepaskan tanggung jawab terhadap anaknya.

Selanjutnya anak yang tidak memilki keluarga atau keberadaan keluarga atau kerabat taidak diketahui. Anak yang menjadi korban kekerasan, perlakuan salah, penelantaran atau eksploitasi, sehingga demi keselamatan dan kesejahteraan diri mereka, pengasuhan dalam keluarga justru bertentangan dengan kepentingan terbaik anak. Kondisi lainnya, yaitu anak yang terpisah dari keluarga karena bencana, baik bencana sosial maupun bencana alam.

Pengasuhan anak berbasis LKSA merupakan alternatif terakhir dari pelayanan pengasuhan anak yang tidak bisa diasuh dalam keluarga. LKSA memiliki peran memberikan pelayanan kesejahteraan anak melalui dukungan langsung ke keluarga atau keluarga pengganti, pengasuhan sementara berbasis LKSA dengan tujuan menjamin keselamatan, kesejahteraan diri dan terpenuhinya kebutuhan permanensi anak, fasilitasi
dan dukungan pengasuhan alternatif berbasis keluarga pengganti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penempatan anak dalam LKSA harus direview secara teratur dengan tujuan utama untuk segera mengembalikan anak pada keluarganya. Jika untuk kepentingan terbaik anak, pengasuhan anak tidak dapat dikembalikan ke keluarga, maka penempatan di LKSA merupakan solusi sementara sambil mengupayakan solusi pengasuhan alternatif berbasis keluarga pengganti. Bayi dan anak sampai umur lima tahun harus selalu ditempatkan dalam pengasuhan alternatif berbasis keluarga dan hanya ditempatkan di LKSA untuk periode waktu sangat singkat, sebagai tindakan darurat sampai diperolehnya orangtua asuh atau orangtua angkat yang tepat.

Pembaca yang budiman, upaya untuk menentukan kebutuhan anak terhadap pengasuhan baik yang berbasis keluarga maupun pengasuhan alternatif, dilakukan melalui tahapan yang bersifat berkelanjutan mulai dari pendekatan awal, assesment, perencanaan, pelaksanaan rencana pengasuhan sampai dengan evaluasi dan pengakhiran pelayanan. Penempatan anak dalam pengasuhan alternatif harus dilakukan atas keputusan formal sesuai peraturan perundang-undangan bersama instansi sosial yang berwenang berdasarkan assesment kebutuhan anak dan keluarga. Setiap LKSA harus memiliki izin untuk menyelenggarakan pengasuhan alternatif sesuai dengan peratutan perundang-undangan.

Sebagai penutup, penulis menegaskan kembali bahwa orangtua dan keluarga inti merupakan tempat pengasuhan terbaik bagi anak. Berangkat dari hal ini penulis mengajak para orangtua untuk mengoptimalkan perannya dengan menunaikan kewajibannya sebagai orangtua dan memenuhi hak-hak anaknya. Orangtua tidak boleh menelantarkan anaknya dan bahkan menjadikan anaknya berperilaku menyimpang. Hal ini diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS At Tahrim: 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..” (*/udi)

 

 

 

 

 

       

        


BACA JUGA

Jumat, 15 Desember 2017 00:21

Bisnis Terganggu karena Kesal dengan Mantan Suami

BEBERAPA waktu lalu, saya jumpa sahabat lama. Tak sengaja, saya melihatnya berjalan kaki melintasi kantor…

Senin, 11 Desember 2017 10:35

Kata Bodoh di Lingkungan Anak

Sebagai seorang pendidik, sangat miris memperhatikan anak-anak kita sekarang. Mulut-mulut anak sepolos…

Selasa, 05 Desember 2017 11:54

Begini Caranya ‘Move On’ dari Mantan

BAGI sebagian orang, tidaklah mudah menghapus memori atau melupakan seseorang yang sebelumnya pernah…

Minggu, 03 Desember 2017 10:43

Bisakah Belajar Tanpa Guru?

BELAKANGAN ini banyak yang menyampaikan, belajar tidak harus dengan seorang guru. Belajar bisa dengan…

Minggu, 26 November 2017 00:41

Terlanjur Terjebak Riba, Coba Ubah Pola Pikir

SALAH satu yang membuat seseorang terpuruk bahkan tak sanggup lagi bangkit adalah persoalan utang-piutang.…

Sabtu, 18 November 2017 12:19

Demi Setya Novanto, Fortuner Tuntut Tiang Listrik

TIBA-tiba, publik menyalahkan sebuah tiang listrik. Ya, tiang listrik milik Perusahaan Listrik Negara…

Jumat, 17 November 2017 10:08

CSR demi Kesejahteraan Masyarakat

TANGGUNG jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR),adalah pendekatan mekanisme…

Minggu, 12 November 2017 11:55

Bentengi Keluarga dari Predator Anak

PEDOFILIA atau dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai predator anak merupakan sejenis penyakit kelainan…

Jumat, 10 November 2017 11:10

MEMAKNAI HARI PAHLAWAN

HARI ini tanggal 10 November 2017, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Kalau kita berbicara mengenai…

Selasa, 07 November 2017 11:22

Budaya Membaca di Era High Tech

ERA globalisasi di zaman sekarang sudah banyak berkembang pesat. Seperti halnya teknologi yang semakin…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .