MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 06 Desember 2017 11:32
Sempat Ingin Bunuh Diri

PROKAL.CO, NURALAM, ibunda Habibie, mengaku sang buah hatinya adalah anak yang manja dan pendiam di rumah. Jarang sekali peraih medali perunggu SEA Games Malaysia 2017 itu bercerita kepadanya. Hanya sesekali Habibie mau bercerita soal kehidupan pribadinya.

"Kalau soal pacar tidak pernah. Enggak tahu kalau ke kakaknya. Tapi dia pendiam, jarang sekali berbicara," ujar perempuan berjilbab itu.

Apalagi keduanya kini dipisahkan jarak 16.459 kilometer antara Berau-Jerman. Habibie hanya sesekali mengirim pesan singkat kepada ibunya. Dua-tiga hari sekali. Sekadar menanyakan kabar.

Tapi ada momen paling diingat sang ibu tentang Habibie di awal perjalanan kariernya sebagai atlet. Yakni ingin bunuh diri karena dilarang berlatih di Bontang, Kaltim dan Kediri, Jawa Timur.

Habibie yang baru berusia 10 tahun saat itu, mendapat tawaran berlatih dengan salah satu klub di dua kota itu. Dengan keras, Nuralam melarang. “Tidak boleh nak, kamu masih kecil,” ujar Nuralam dengan logat Bugisnya menasihati Habibie kecil saat itu.

Kepada Berau Post, perempuan yang telah melahirkan enam orang anak hasil pernikahannya dengan Abdul Wahid, itu mengaku enggan berpisah jauh atau malah kehilangan putra bungsunya. Apalagi, Habibie sejak kecil hingga usia 12 tahun masih tidur bersamanya.

Tapi bukan itu saja alasan Nuralam tidak ingin jauh dari putra kesayangannya itu. Perempuan berusia 58 tahun itu masih merasa trauma. Delapan bulan sebelum Habibie lahir, tepatnya pada Desember 1997, musibah menimpa keluarga kecilnya.

Rumah Abdul Wahid di Jalan Pangeran Diguna, Kelurahan Bugis, Kecamatan Tanjung Redeb, terbakar. Nahas, dua putrinya bernama Suci Wahid dan Hajrah Wahid, jadi korban pada musibah itu. Keduanya yang baru berusia balita terpanggang api. Bersamaan dengan rumahnya yang hangus menjadi abu.

Ketika bercerita kepada awak media ini, Abdul Wahid yang dikenal tegas oleh anak-anaknya, tak kuasa membendung air matanya mengenang kedua buah hatinya.

Maka, lewat kebanggaan yang diberikan Habibie, luka itu terobati. Pelan tapi pasti, awan duka yang menyelimuti perasaan Abdul Wahid mulai menghilang. Dengan tekad, ia berjuang membangun kembali rumahnya. Lalu, ia memulai kembali bisnis mebelnya.

“Kini (anaknya) yang masih hidup sisa empat, termasuk Habibie. Makanya ketika anak-anak masih kecil, kami tidak mau jauh dari mereka,” timpal Abdul Wahid.

Keinginan orangtua yang ingin selalu dekat dengan anaknya, berbanding terbalik dengan keinginan Habibie menjadi atlet tenis meja terbaik di Kaltim. Habibie kecil ngotot agar bisa berlatih di Bontang atau Kediri. Sementara orangtuanya ingin agar putra bungsunya itu berlatih di Berau melalui bimbingan Iwan Rifani Jaya.

“Tak disangka-sangka dia (Habibie) mau bunuh diri. Sambil mandi, dia menangis. Katanya mending bunuh diri saja karena tidak diizinkan ke Kediri dan Bontang,” ujar Nuralam mengisahkan keteguhan Habibie kecil.

Sewaktu dikonfirmasi ihwal kisah tersebut, Habibie tak menampik. Ia sempat tertawa mendegar kembali kebodohannya waktu itu. Kepada Berau Post, ia beralasan ingin sekali dilatih di klub tenis meja yang lebih maju. Habibie mau menjadi petenis meja terbaik di Bumi Etam.

“Habisnya orangtua tidak mengizinkan saya untuk berlatih di luar. Padahal saya sudah ingin sekali,” akunya.

Kesempatan itu datang pada 2010. Ketika Habibie mendapat panggilan dari SKOI Kaltim untuk berlatih dan belajar di Samarinda. Tak ingin gagal lagi, Habibie memanfaatkan Iwan Rifani Jaya untuk bisa meyakinkan orangtuanya.

“Om Iwan yang cerita sama orangtua. Tapi saya sebelumnya sudah cerita kalau ada tawaran untuk sekolah di SKOI,” ujarnya.

Tapi Iwan tidak langsung mendatangi kedua orangtua Habibie. Justru meminta komitmen Habibie untuk serius dengan keinginannya sekolah di SKOI.

“Saya tahu, Habibie itu disayang orangtuanya. Makanya saya enggak berani juga. Takut ditolak. Makanya anaknya dulu yang saya dorong supaya mau,” tutur Iwan.

Setelah bersekolah di SKOI, Habibie tumbuh menjadi anak mandiri, walau sempat ada keraguan bahwa ia tidak akan berhasil di sana.

Kini Habibie sudah empat bulan berada di Jerman. Menumpang tinggal di rumah pelatihnya, Thomas Keinath, di wilayah Steinham, Kota Hanau. Keraguan orangtuanya bahwa Habibie anak manja dan tak bisa mandiri, kini terjawab dengan prestasi yang telah ditorehkan anak bungsunya itu.

Bahkan, Habibie kini bisa mengurus makan untuk dirinya sendiri. Dengan cara membeli bahan makanan mentah untuk dimasak olehnya. Gunanya untuk berhemat. Karena untuk membeli makanan siap saji, bisa menghabiskan banyak biaya. Sekali makan di sebuah rumah makan, Habibie bisa menghabiskan 10-20 Euro (setara Rp 130-260 ribu).

“Lagian juga tidak cocok makanannya. Jadi lebih baik masak sendiri. Sambil dilengkapi dengan sambal dari Indonesia,” akunya.

Penggemar masakan Padang ini juga sedang mengatur pola makannya. Dengan melakukan diet khusus atlet, yang ilmunya didapatkan dari YouTube. “Lebih banyak protein dibandingkan karbohidrat. Serta minum jus saat pagi hari itu penting. Karena saya berlatih selama enam jam sehari,” bebernya.

Alasan lainnya untuk melakukan diet, karena di Jerman saat ini sedang musim dingin. Salju sudah turun sejak awal Desember. Suhunya, terang Habibie, bisa mencapai minus 2 derajat celcius saat siang hari. “Kalau malam lebih dingin lagi. Bisa sampai minus 5 derajat celcius,” terangnya.

Tapi, biar bagaimana pun, Habibie tetap putra manja sang ibu. Meski sudah mandiri dan memiliki pemasukan sendiri. Ketika pulang ke Berau, ia tetap tidur dengan orangtuanya. Bukan karena takut. Tapi untuk melepas rindu karena berada di perantauan dalam jangka waktu yang lama.

“Kalau pulang masih tetap tidur sama orangtua,” jawabnya lalu tertawa kecil.(rio/udi/asa)


BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 00:14

Warga Tak Tahu Bakal Caleg 2019, Sosialisasi KPU Tak Beres?

TANJUNG REDEB – Minimnya sosialisasi, membuat warga Kecamatan Maratua ‘buta’ akan…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:12

Suharto Jadi Tersangka

TANJUNG REDEB – Setelah membenarkan adanya penangkapan oleh pihaknya terhadap Kepala Kampung (Kakam)…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:12

Dapat Bingkisan, Kaget Dikunjungi Istri Bupati

17 Agustus merupakan momen berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali Nina. Namun, tahun…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:11

Pembebasan Lahan Dibatalkan, Khawatir Kinerja Dinilai Menurun

TANJUNG REDEB - Adanya pembatalan usulan pembebasan lahan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sangat…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:10

Bupati Bakal Evaluasi Dewan Pengawas PDAM

TANJUNG REDEB – Tak hanya direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Bupati Berau…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:09

Lagi, Kibarkan Bendera di Laut Maratua

MARATUA – Pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut Maratua, kembali dilaksanakan Berau Jurnalis…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:12

Sosialisasi DCS “Hanya” di Perkotaan

TALISAYAN – Tahapan pemilihan legislatif sudah masuk penetapan daftar caleg sementara. Namun DCS…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:06

Upacara Diwarnai Putusnya Tali Bendera

TANJUNG REDEB – Ada kejadian tak terduga pada upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan ke-73…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:04

Auditor Bantah Ada Kongkalikong

SALAH satu auditor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Tenni Ginting, menegaskan jika pihaknya…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:02

Gara-Gara Ini, Kepala Kampung Biatan Ulu Dipolisikan

BIATAN - Diduga menerbitkan izin garapan di hutan lindung, Kepala Kampung Biatan Ulu Suharto, harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .