MANAGED BY:
SENIN
18 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 06 Desember 2017 11:32
Sempat Ingin Bunuh Diri

PROKAL.CO, NURALAM, ibunda Habibie, mengaku sang buah hatinya adalah anak yang manja dan pendiam di rumah. Jarang sekali peraih medali perunggu SEA Games Malaysia 2017 itu bercerita kepadanya. Hanya sesekali Habibie mau bercerita soal kehidupan pribadinya.

"Kalau soal pacar tidak pernah. Enggak tahu kalau ke kakaknya. Tapi dia pendiam, jarang sekali berbicara," ujar perempuan berjilbab itu.

Apalagi keduanya kini dipisahkan jarak 16.459 kilometer antara Berau-Jerman. Habibie hanya sesekali mengirim pesan singkat kepada ibunya. Dua-tiga hari sekali. Sekadar menanyakan kabar.

Tapi ada momen paling diingat sang ibu tentang Habibie di awal perjalanan kariernya sebagai atlet. Yakni ingin bunuh diri karena dilarang berlatih di Bontang, Kaltim dan Kediri, Jawa Timur.

Habibie yang baru berusia 10 tahun saat itu, mendapat tawaran berlatih dengan salah satu klub di dua kota itu. Dengan keras, Nuralam melarang. “Tidak boleh nak, kamu masih kecil,” ujar Nuralam dengan logat Bugisnya menasihati Habibie kecil saat itu.

Kepada Berau Post, perempuan yang telah melahirkan enam orang anak hasil pernikahannya dengan Abdul Wahid, itu mengaku enggan berpisah jauh atau malah kehilangan putra bungsunya. Apalagi, Habibie sejak kecil hingga usia 12 tahun masih tidur bersamanya.

Tapi bukan itu saja alasan Nuralam tidak ingin jauh dari putra kesayangannya itu. Perempuan berusia 58 tahun itu masih merasa trauma. Delapan bulan sebelum Habibie lahir, tepatnya pada Desember 1997, musibah menimpa keluarga kecilnya.

Rumah Abdul Wahid di Jalan Pangeran Diguna, Kelurahan Bugis, Kecamatan Tanjung Redeb, terbakar. Nahas, dua putrinya bernama Suci Wahid dan Hajrah Wahid, jadi korban pada musibah itu. Keduanya yang baru berusia balita terpanggang api. Bersamaan dengan rumahnya yang hangus menjadi abu.

Ketika bercerita kepada awak media ini, Abdul Wahid yang dikenal tegas oleh anak-anaknya, tak kuasa membendung air matanya mengenang kedua buah hatinya.

Maka, lewat kebanggaan yang diberikan Habibie, luka itu terobati. Pelan tapi pasti, awan duka yang menyelimuti perasaan Abdul Wahid mulai menghilang. Dengan tekad, ia berjuang membangun kembali rumahnya. Lalu, ia memulai kembali bisnis mebelnya.

“Kini (anaknya) yang masih hidup sisa empat, termasuk Habibie. Makanya ketika anak-anak masih kecil, kami tidak mau jauh dari mereka,” timpal Abdul Wahid.

Keinginan orangtua yang ingin selalu dekat dengan anaknya, berbanding terbalik dengan keinginan Habibie menjadi atlet tenis meja terbaik di Kaltim. Habibie kecil ngotot agar bisa berlatih di Bontang atau Kediri. Sementara orangtuanya ingin agar putra bungsunya itu berlatih di Berau melalui bimbingan Iwan Rifani Jaya.

“Tak disangka-sangka dia (Habibie) mau bunuh diri. Sambil mandi, dia menangis. Katanya mending bunuh diri saja karena tidak diizinkan ke Kediri dan Bontang,” ujar Nuralam mengisahkan keteguhan Habibie kecil.

Sewaktu dikonfirmasi ihwal kisah tersebut, Habibie tak menampik. Ia sempat tertawa mendegar kembali kebodohannya waktu itu. Kepada Berau Post, ia beralasan ingin sekali dilatih di klub tenis meja yang lebih maju. Habibie mau menjadi petenis meja terbaik di Bumi Etam.

“Habisnya orangtua tidak mengizinkan saya untuk berlatih di luar. Padahal saya sudah ingin sekali,” akunya.

Kesempatan itu datang pada 2010. Ketika Habibie mendapat panggilan dari SKOI Kaltim untuk berlatih dan belajar di Samarinda. Tak ingin gagal lagi, Habibie memanfaatkan Iwan Rifani Jaya untuk bisa meyakinkan orangtuanya.

“Om Iwan yang cerita sama orangtua. Tapi saya sebelumnya sudah cerita kalau ada tawaran untuk sekolah di SKOI,” ujarnya.

Tapi Iwan tidak langsung mendatangi kedua orangtua Habibie. Justru meminta komitmen Habibie untuk serius dengan keinginannya sekolah di SKOI.

“Saya tahu, Habibie itu disayang orangtuanya. Makanya saya enggak berani juga. Takut ditolak. Makanya anaknya dulu yang saya dorong supaya mau,” tutur Iwan.

Setelah bersekolah di SKOI, Habibie tumbuh menjadi anak mandiri, walau sempat ada keraguan bahwa ia tidak akan berhasil di sana.

Kini Habibie sudah empat bulan berada di Jerman. Menumpang tinggal di rumah pelatihnya, Thomas Keinath, di wilayah Steinham, Kota Hanau. Keraguan orangtuanya bahwa Habibie anak manja dan tak bisa mandiri, kini terjawab dengan prestasi yang telah ditorehkan anak bungsunya itu.

Bahkan, Habibie kini bisa mengurus makan untuk dirinya sendiri. Dengan cara membeli bahan makanan mentah untuk dimasak olehnya. Gunanya untuk berhemat. Karena untuk membeli makanan siap saji, bisa menghabiskan banyak biaya. Sekali makan di sebuah rumah makan, Habibie bisa menghabiskan 10-20 Euro (setara Rp 130-260 ribu).

“Lagian juga tidak cocok makanannya. Jadi lebih baik masak sendiri. Sambil dilengkapi dengan sambal dari Indonesia,” akunya.

Penggemar masakan Padang ini juga sedang mengatur pola makannya. Dengan melakukan diet khusus atlet, yang ilmunya didapatkan dari YouTube. “Lebih banyak protein dibandingkan karbohidrat. Serta minum jus saat pagi hari itu penting. Karena saya berlatih selama enam jam sehari,” bebernya.

Alasan lainnya untuk melakukan diet, karena di Jerman saat ini sedang musim dingin. Salju sudah turun sejak awal Desember. Suhunya, terang Habibie, bisa mencapai minus 2 derajat celcius saat siang hari. “Kalau malam lebih dingin lagi. Bisa sampai minus 5 derajat celcius,” terangnya.

Tapi, biar bagaimana pun, Habibie tetap putra manja sang ibu. Meski sudah mandiri dan memiliki pemasukan sendiri. Ketika pulang ke Berau, ia tetap tidur dengan orangtuanya. Bukan karena takut. Tapi untuk melepas rindu karena berada di perantauan dalam jangka waktu yang lama.

“Kalau pulang masih tetap tidur sama orangtua,” jawabnya lalu tertawa kecil.(rio/udi/asa)


BACA JUGA

Senin, 18 Desember 2017 10:53

Bikin Regu Keberangkatan Haji 2018

KANTOR Kementerian Agama (Kemenag) Berau, mengumpulkan 120 calon jemaah haji Berau yang bakal diberangkatkan…

Senin, 18 Desember 2017 10:52

Kesampingkan Kepentingan Pribadi, Duka Dijadikan Suka

Mengenal lingkungan dan memahami karakter masyarakat, jadi hal pertama yang dilakukan Dadang Munandar…

Senin, 18 Desember 2017 10:51

Batas Penangguhan UMK Sisa Lima Hari

TANJUNG REDEB –Penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Berau berjalan mulus. Hal itu disampaikan…

Minggu, 17 Desember 2017 18:55

Dihakimi Massa sebelum Digiring ke Polisi

TANJUNG REDEB – Tak kuasa membendung hawa nafsunya, Ramli (22) warga RT 05, Gunung Tabur, dibantu…

Minggu, 17 Desember 2017 00:11

PU Evaluasi Proyek U-Gutter

TANJUNG REDEB - Pemasangan u-gutter di simpang tiga Jalan Dr Soetomo dan Pangeran Antasari, bakal dievaluasi.…

Minggu, 17 Desember 2017 00:09

Beruntung karena Ditugaskan di Kampung Halaman

Menjadi seorang bidan, memang sudah dicita-citakan Hefi Theopani sejak kecil. Apalagi bisa ditugaskan…

Minggu, 17 Desember 2017 00:07

Penanganan Bujangga Terancam Molor

TANJUNG REDEB – Proyek penanganan Jalan Bujangga dengan membangun kembali jalan yang ambles sekaligus…

Sabtu, 16 Desember 2017 15:03
BREAKING NEWS

Remas Payudara Pengendara, Pelaku Dipukul Massa

TANJUNG REDEB - Aksi pelecehan terhadap wanita menggegerkan warga di Jalan Niaga I, Tanjung Redeb, sekitar…

Sabtu, 16 Desember 2017 13:03

Sodikin Tewas Tertembak Senjata Sendiri

TALISAYAN – Senjata makan tuan. Itulah yang terjadi pada Sodikin (30), warga Jalan Kenangan RT…

Sabtu, 16 Desember 2017 12:59

Jauh dari Suami, Pelayanan Juga untuk Wisatawan

Pulau Derawan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Berau dan Kaltim yang sudah mendunia. Sebagian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .