MANAGED BY:
KAMIS
24 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 11 Desember 2017 10:35
Kata Bodoh di Lingkungan Anak
Siti Aminah HM, S.pd.I

PROKAL.CO, align="left">Sebagai seorang pendidik, sangat miris memperhatikan anak-anak kita sekarang. Mulut-mulut anak sepolos dan sekecil itu sudah tercederai dengan kata-kata yang tidak baik. Menjamurnya kata bodoh atau bodok di lingkungan kehidupan anak, di lingkungan tempat tinggal mereka, di pasar, di warnet, kata itu selalu melekat di lidah-lidah anak.

Melihat dan mengamati sendiri fenomena sosial ini, ada rasa sedih hingga geram di hati. Timbul banyak pertanyaan mengepung dalam hati penulis. Apa sebenarnya yang terjadi? Tingkah pola anak-anak dalam bertutur kata sudah jauh panggang dari api. Dalam proses kegiatan belajar-mengajar di kelas pun, tidak lolos dari kata bodok. Ada saja laporan anak-anak kepada saya jika si A berkata bodok dan seterusnya. Sebagai seorang pendidik, saya sadari anak-anak adalah sosok manusia peniru yang hebat, apa yang kita lakukan dan tuturkan akan sontak ditiru oleh anak-anak kita. Barangkali banyak faktor yang memicu, sehingga anak-anak kita bertutur kata yang tidak sopan dan tidak berakhlak.

Pertama dari orangtua yang tidak menjaga perkataannya sehingga kata-kata tidak pantas, baik ketika bercanda maupun bertengkar dalam rumah tangga.

Kedua, barangkali juga faktor lingkungan. Yakni teman sepergaulan yang tidak baik akhlaknya dalam bersikap dan berbicara yang jauh dari tata krama.

Ketiga, barangkali dari tontonan anak-anak kita setiap hari, yang menyebabkan pergaulan anak dan sikap bertutur anak kita jadi tidak senonoh dan tidak berakhlak.

Akhir-akhir ini saya perhatikan, baik di luar sekolah, di taman, di pasar, anak-anak dilenakan dengan handphone yang dibebaskan oleh orangtua. Anak-anak bebas membuka apa saja dalam “kotak ajaib” bernama YouTube. Tak masalah jika dalam pengawasan orangtua. Tapi tidak dibenarkan memberikan handphone pada anak tapi tanpa pengawasan. Anak akan bebas menjelajahi apa saja yang diinginkan, termasuk hal-hal yang tidak di benarkan dalam adat kesopanan dan akhlak dalam agama.

Orangtua sebagai pendidik pertama dalam keluarga, hendaknya selalu memperhatikan dan menghindari apakah tutur katanya, sikapnya sudah benar dalam mendidik anak atau tidak. Ada banyak orangtua yang terlalu memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas tertentu hingga anak-anak terlalu manja karena orangtua selalu menuruti kemauan anak.

Sayang terhadap anak tidak dilarang. Namun yang perlu digarisbawahi adalah sayangnya seperti apa. Sayang dengan menuruti segala kemauannya si anak, malah justru mengajarkan anak tentang kemalasan dan tidak mau bekerja keras. Didiklah anak dengan kasih sayang sesuai porsinya, bukan kasih sayang memanjakan anak secara berlebihan. Malah kedewasaan dan kemandirian anak terpenjarakan oleh sikap orangtua yang memanjakannya melampaui batas.

Menyikapi hal tersebut, maka merupakan tugas kita sebagai orangtua, kemudian tugas pendidik di sekolah yang mengamati dan memperhatikan tingkah laku anak-anak kita agar sesuai dengan tata krama kesopanan dan akhlak dalam agama. Karena siapa lagi yang akan bertanggung jawab dari rusaknya akhlak dan moralitas anak-anak kita kalau bukan kita sebagai orangtua pertama dan guru di sekolah.

Kerusakan generasi kita akan menjarah dari segala lini kehidupan bermasyarakat. Menjadi sampah-sampah masyarakat dari generasi pemalas serta bumi dipenuhi dengan manusia pasif pengangguran.

Sebagai orangtua yang peduli dengan masa depan anak-anak kita kelak, tidak akan mau melihat suramnya masa depan anak-anak kita. Maka sedari sekarang didiklah anak-anak kita sesuai degan porsinya, yakni tidak terlalu memanjakan dan tidak terlalu keras dalam mendidik anak kita.

Menjaga dengan mengerem kata-kata yang tidak baik ketika berbicara semarah-marahnya kepada anak, baik sikap anak yang membandel atau kesulitan anak ketika belajar, yang membuat kata-kata “bodoh” hinggap di lidah Anda sebagai orangtuanya sendiri.

Sebodoh-bodohnya anak kita, sesulit-sulitnya ia menangkap pelajaran di sekolah, tahan lidah Anda dari berucap “bodoh” kepada anak-anak Anda.

Selalu ingat bahwa setiap anak terlahir pandai, hanya kesungguhan dan kerja keras yang terus menerus serta fokus dalam suatu hal yang dipelajari, maka dijamin anak-anak Anda akan pandai.

Perlu digarisbawahi ketika anak-anak Anda tidak pandai dalam mata pelajaran tertentu, boleh jadi ia pandai pada mata pelajaran yang lain.

Kepandaian anak bermacam-macam, begitu pula sejalan dengan karakter anak tersebut yang beraneka ragam. Ada anak yang pemarah, pemalu, pendiam, namun di balik itu semua, tentunya ada kelebihan lain yang dimiliki si anak.

Ada banyak cara untuk membantu anak-anak kita menjadi pandai, salah satunya dengan mendaftarkannya privat atau kursus, atau  mendatangkan guru ke rumah untuk mengajari buah hati Anda.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka kesadaran orangtua agar selalu menjaga segala tingkah lakunya, karena ada anak, sang perekam hebat, yang selanjutnya akan menirukan tingkah laku Anda, baik ketika Anda ada maupun tidak ada yang dipraktikkan bersama teman-teman sepermainannya.

Begitu pula dengan pendidik selaku orangtua kedua agar selalu menjaga perilaku dan tutur kata, karena semua tingkah laku dan bicara Anda akan direkam dan ditirukan anak didik Anda.

Maka selalu berhati-hatilah dan bersikaplah yang baik layaknya orangtua kepada anaknya sendiri. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang baik sesuai yang kita harapkan, berguna bagi nusa, bangsa dan agama di kemudian hari. (*/udi) 

 

*) Pendidik di SD Muhammadiyah Tanjung Redeb dan Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Berau 


BACA JUGA

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…

Minggu, 11 Maret 2018 00:14

Tebak-tebakan Tak Berhadiah

SAYA lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga…

Sabtu, 03 Maret 2018 11:28

Menebus Dosa Proyek Raksasa

PERSAHABATAN saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara. Robert…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .