MANAGED BY:
RABU
19 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 15 Desember 2017 00:16
Dua Kali Kemalingan, Betah walau Tak Ada Sinyal

Pengabdian Petugas-Petugas Kesehatan di Kampung: Sahmi Nur Qoyyimah (6)

TUGAS DI PERBATASAN: Sahmi Nur Qoyyimah.

PROKAL.CO, Namanya juga amanah, mau bagaimanapun harus ditunaikan. Apalagi sebagai petugas kesehatan yang selalu dibutuhkan masyarakat. Berangkat dari pemikiran sederhana itu, Bidan Pukesmas Pembantu (Pustu) Perbatasan Berau-Bulungan KM 56, Kampung Maluang, Gunung Tabur, Sahmi Nur Qoyyimah, tetap betah bertugas di lokasi yang serba minim fasilitas.

 

EKA RUSDIANA, Tanjung Redeb

 

AMI, begitu sehari-hari ia kerap disapa. Seorang bidan yang ramah dan santun. Begitu juga saat berjumpa Berau Post di Puskesmas Gunung Tabur saat hendak mengambil persediaan obat-obatan, Kamis (14/12).

Lokasi Pustu di tempat Ami bertugas, memang tidak strategis. Berada di pinggiran jalan poros, dengan pepohonan yang rindang di kiri dan kanannya. Jauh dari tetangga, tanpa listrik, tanpa air dan tanpa sinyal telepon seluler. Bekerja di perbatasan tentu bukan keinginan ibu satu anak ini.

Awal mula karier Ami sebagai bidan bermula pada 2015 silam. Kala itu ia mengikuti tes pegawai tak tetap (PTT) di Dinas Kesehatan Berau. Ami yang lulus bersama beberapa peserta seleksi lainnya, kemudian diberi amanah untuk melayani masyarakat RT 8 Kampung Maluang. Meskipun pada kenyataannya, lokasinya merupakan wilayah paling ujung Bumi Batiwakkal yang berbatasan dengan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

“Awal-awal jelas berat, kaget dan takut. Apalagi pustunya dekat dengan jalan poros, tapi jauh dari orang-orang. Lampu enggak ada, hanya mengandalkan tenaga surya. Kalau mataharinya enggak muncul, terpaksa berakhir dengan gelap-gelapan,” tutur bidan kelahiran 10 Juli 1991 ini.

Dua tahun bertugas di perbatasan, Ami mengaku pernah mengalami kejadian mengerikan. Tepatnya pada Maret 2016, ketika ia harus meninggalkan pustunya untuk menghadiri rapat selama dua hari. Nahasnya, selama ditinggalkan, pustunya dibobol maling. Semua raib, baik fasilitas pustu hingga barang-barang pribadi miliknya.

“Ya kaget, takut kalau bakal terjadi lagi dan saya pas lagi ada di pustu. Tetapi ya mau bagaimana lagi, saya langsung saja lapor ke Puskesmas Gunung Tabur, lapor ke RT, buat berita acara juga ke Polsek Gunung Tabur, mengajukan juga ke Dinas Kesehatan,” katanya.

“Tetapi namanya fasilitas ini memang enggak bisa langsung dipenuhi. Jadi sampai sekarang belum ada gantinya itu,” jelas Alumni Akademi Kebidanan Borneo Medistra Balikpapan ini.

Berselang satu tahun, kejadian yang sama terulang. Pada bulan yang sama pula. Kali ini ia sempat merasa geram. “Minta diadakan fasilitas kesehatan, minta diadakan petugas. Semua sudah ada, harusnya bisa dijaga bersama-sama,” begitu ujar Ami.

Tetapi itu tidak berlangsung lama, setelah tahu bahwa memang seperti itulah kenyataannya tinggal di perbatasan. Bahkan warga setempat juga kerap mengalami hal yang sama. “Sekarang kalau mau pergi saya titipkan ke salah seorang warga. Jadi enggak ada lagi kejadian seperti itu sampai sekarang, alhamdulillah,” ujarnya.

Suka-dukanya tidak hanya itu. Untuk memenuhi kewajibannya, ia harus tinggal berjauhan dari keluarga. Sang suami bekerja di Kantor Kampung Buyung-Buyung, sementara buah hatinya dititipkan bersama orangtuanya di Jalan Dr Murjani II, Tanjung Redeb. Setiap pekan, ia hanya berkesempatan berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya selama dua hari.

Itu baru yang di luar tugas. Jika berbicara soal kewajiban di pustu, lain lagi cerita. Lokasi yang jauh dari tetangga dan tanpa sinyal telekomunikasi, membuatnya kesulitan untuk berkonsultasi dengan dokter jika ada pasien hamil yang akan melahirkan. Putri sulung pasangan Suharno dan Siti Muamanah ini harus “berlari” ke KM 40 atau 45 demi mendapatkan sinyal.

“Kalau enggak begitu, enggak bisa apa-apa. Seperti itu di awal-awal memang berat, tapi sekarang sudah biasa, sudah kebal dan tahan banting,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Sempat sih kepikiran mau pindah, tapi karena sudah diberi amanah di sini, ya dijalani. Insya Allah ada waktunya nanti dapat rezeki dan kesempatan lain, ya ditunggu aja sambil sabar,” ujarnya menutup pembicaraan. (*/bersambung/udi)


BACA JUGA

Rabu, 19 Desember 2018 13:36

Dua Pekan Ditelantarkan di Pinggir Jalan

TANJUNG REDEB – Personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)…

Rabu, 19 Desember 2018 13:34

Berkas Perkara Diteliti Kejaksaan

TANJUNG REDEB – Berkas perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor)…

Rabu, 19 Desember 2018 13:31

Tetap Yakin Tak Bersalah

TANJUNG REDEB – Pelimpahan berkas perkara dugaan korupsi pengadaan kapal…

Selasa, 18 Desember 2018 12:18

Tak Menghilangkan Pertanggungjawaban Pidana

TANJUNG REDEB – Dua pelaku kasus dugaan tindak pidana korupsi…

Selasa, 18 Desember 2018 12:17

Tuntut Pejabat Berinovasi

TANJUNG REDEB – Pemkab Berau untuk pertama kalinya menggelar mutasi…

Selasa, 18 Desember 2018 12:15

Bully Membunuh Karakter Anak

KETUA Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau…

Selasa, 18 Desember 2018 12:13

Berkiprah di Tingkat Nasional, Ulang Prestasi di Apsetra X

Teater Aji Kannik Barrau Sanipah (AKBS) SMAN 1 Berau terus…

Senin, 17 Desember 2018 14:54

Tutup ‘Wisata Seribu Lubang’

TANJUNG REDEB – Keluhan masyarakat mengenai kondisi jalan poros pesisir…

Senin, 17 Desember 2018 14:53

Penyu Sisik Masuk Daftar Merah Kepunahan

TANJUNG REDEB – Ketegasan Pemkab Berau yang tidak akan menolerir…

Senin, 17 Desember 2018 14:49

Minibus Seruduk Traffic Light, Pengemudi Dilarikan ke Rumah Sakit

TANJUNG REDEB – Kecelakaan tunggal terjadi di Jalan  Pemuda Tanjung…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .