MANAGED BY:
RABU
19 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 15 Desember 2017 00:21
Bisnis Terganggu karena Kesal dengan Mantan Suami
Oleh: Endro S. Efendi, SE., C.Ht., CT.

PROKAL.CO, BEBERAPA waktu lalu, saya jumpa sahabat lama. Tak sengaja, saya melihatnya berjalan kaki melintasi kantor sekretariat organisasi yang saya pimpin. Sempat takut salah orang, namun tetap saya tegur. Ternyata benar, dia adalah teman satu angkatan ketika kuliah. Sempat lama tak terdengar kabarnya karena katanya merantau ke luar Kaltim dan menjalankan sebuah bisnis.

“Usahaku hancur. Aku harus mulai dari nol lagi. Ini pun rasanya berat sekali. Setiap kali mau usaha, rasanya malas. Ada yang mengganjal,” kata wanita berhijab ini. Mau tidak mau, dia memang harus mencari nafkah. Selain dirinya, ada satu buah hatinya yang harus diurusi. Sudah lebih 5 tahun dia berpisah dari suaminya, sehingga mau tidak mau harus berusaha untuk menyambung hidupnya.

Lantas apa yang membuatnya mengganjal? “Rasanya masih kesal dengan mantan suami. Setiap mendengar namanya, badan rasanya langsung gemetaran. Nafsu makan hilang. Pokoknya ngga enak sama sekali,” bebernya. Bahkan, ketemu dengan orang lain yang namanya sama dengan mantan suaminya pun, perasaan tidak nyaman itu seketika muncul. Usahanya pun harus gulung tikar gara-gara menjalin kemitraan dengan seseorang yang namanya juga sama dengan nama mantan suaminya.

Apakah tidak ikhlas dengan perpisahan dengan mantan suaminya? Atau ada perlakuan tidak nyaman yang sebelumnya ia dapat dari suaminya? Wanita ini mengaku sudah ikhlas. Apalagi memang dirinya sendiri yang mengajukan perceraian itu. Tapi soal perlakuan suaminya, dia enggan membebernya. 

“Cukup aku aja yang tahu. Itu aib buatku,” tuturnya. Terlihat raut wajahnya seketika berubah. Ada sesuatu yang sepertinya ia pendam, dan tak ingin diungkapkan.

“Tolong bantu aku, bagaimana mengatasi perasaanngga enak ini. Aku betul-betul ngga bisa merintis usaha lagi kalau begini,” pintanya. Selama ini, ia mengaku sering mengikuti tulisan atau postingan saya di media sosial. Namuan hanya sebagai silent rider. Sama sekali tidak meninggalkan jejak.

“Mau minta tolong, malu. Mumpung ketemu, bisa kah bantu aku?” pintanya.

Tentu saja tidak memungkinkan bagi saya untuk melakukan terapi dengan prosedur lengkap. Apalagi posisinya sedang di ruang terbuka, di kantor sekretariat organisasi yang juga ada orang lalu lalang di tempat tersebut. Meski begitu, saya tetap membantunya dengan teknik lain. Teknik sederhana namun sangat efektif untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman yang dirasakannya itu.

Segera saya ambil beberapa lembar kertas putih polos dari ruang kerja. Kemudian saya minta wanita ini menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Jawaban itu harus ia tuliskan di kertas tersebut. Setelah beberapa pertanyaan kunci, terlihat ada bulir-bulir air mata yang keluar dari sudut matanya. Bahkan sempat tetesan air mata itu sedikit lebih deras, hingga sempat menimpa tulisannya sendiri.

Tahap demi tahap, saya bimbing sahabat ini menjawab semua pertanyaan sampai selesai. Perlahan, raut wajahnya mulai berubah. Tak ada lagi tetesan air mata. Padahal sebelumnya entah sudah berapa lembar tisu yang digunakan untuk menyeka air matanya itu.

Perlahan, terlihat sudah mulai ada senyum yang tersungging di bibirnya, sembari terus menuliskan jawaban atas pertanyaan saya. Akhirnya dia selesai menjawab, dan menyerahkan kertas itu ke saya. Kemudian, segera saya bimbing untuk menarik nafas panjang dari hidung, dan mengembuskannya melalui mulut. Setelah tiga kali menarik nafas dan mengembuskannya, saya minta memejamkan mata. Kemudian diminta membayangkan dan merasakan kembali kehadiran orang yang membuatnya kesal.

“Sudah ngga papa. Biasa aja. Sudah lega, nyaman. Plong rasanya,” tuturnya sembari mengembangkan senyumnya lebar-lebar. Sorot matanya pun tampak lebih bercahaya dan terlihat lebih bersemangat. “Terima kasih ya,” ujarnya.

Total ada tiga lembar kertas yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaan. Saya tidak membaca apa yang ia tuliskan. Biarlah itu menjadi rahasianya. Yang penting masalahnya selesai. Segera saya lipat kertas yang ia serahkan itu dengan rapi. Kemudian, saya minta dirinya sendiri yang membakar kertas itu sampai habis, di teras kantor. Merasa sudah tidak ada beban lagi, ia pun pamit undur diri.

Setelah itu, menjelang magrib, tiba-tiba dia mengirimkan pesan melalui WhatsApp bahwa dia semakin semangat menjalankan usahanya kembali. “Aku kembali ke fokus utama, bisnis. Memang sudah seharusnya aku melakukan ini,” sebutnya.

Tak lupa, saya juga mengingatkan agar selalu mengharap keridaan dari Allah. Agar usaha yang dijalankan mendapat berkah dan bisa menjadi bekal kelak di kehidupan selanjutnya. Tugas manusia hanya ikhtiar dan berusaha. Selebihnya biarlah menjadi urusan Allah, Sang Maha Pemberi Rezeki.Demikianlah kenyataannya. (*)

 


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 14:24

Jadikan Pusat Perbelanjaan

KETIKA awal dikerjakan, pasar ini belum punya nama. Ini lokasi…

Senin, 10 Desember 2018 14:14

Manjakan Pejalan Kaki

MINIMNYA anggaran di tahun 2018 ini, tak berarti Pemkab Berau…

Minggu, 09 Desember 2018 08:21

Catatan Pak Daeng

DATANGLAH ke Talisayan. Banyak hal menarik yang bisa disaksikan.  Bukan…

Jumat, 07 Desember 2018 13:29

Sedikit Lagi, Kata Pak Dahlan

ENTAH seberapa banyak bedanya, ketika Pak Dahlan Iskan membandingkan Bandara…

Jumat, 30 November 2018 13:59

Manajemen Pendidikan di Indonesia

“PEMIMPIN yang tak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tak melakukan…

Sabtu, 24 November 2018 13:44

Peran Sektor Pariwisata di Indonesia

”MASALAH ekonomi Indonesia sudah terlalu ruwet dan ribet. Tidak bisa…

Sabtu, 17 November 2018 11:38

Authentic Relationship Membentuk Karakter Positif

APA itu Authentic relationship? Istilah ini dari bahasa Inggris. Bila…

Rabu, 31 Oktober 2018 00:42

Masyarakat Tanpa Miras

MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan…

Minggu, 28 Oktober 2018 11:41

Tolak Bala

BELAKANGAN ramai status media sosial masyarakat Pulau Maratua tengah mengadakan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:36

Hujan Jadi Berkah bagi Petani Sayur

TANJUNG REDEB - Hujan yang terus mengguyur Tanjung Redeb dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .