MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 01 Januari 2018 00:09
Energi Fosil Menipis, Kembangkan Biofuel
Oleh: Vithya Arintalofa

PROKAL.CO, TINGGINYA harga minyak mentah dunia menyebabkan pemerintah meningkatkan pendanaan dalam menyediakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Data yang didapat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 miliar barel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam kurun waktu 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan energi fosil dan mengurangi emisi karbon, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Seiring berjalannya waktu, bahan bakar nabati (BBN) merupakan bahan bakar yang akan menjadi alternatif ke depannya. Selain dapat mengurangi beban pemerintah, juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Beberapa hal tersebut, tentunya membuat Indonesia melakukan beberapa upaya untuk mengembangkan potensi biofuel.

Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar dalam mengembangkan biofuel. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 5/2006 mengeluarkan kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan dalam negeri dan menetapkan tahun 2025 sebagai target pencapaian baruan energi (energy mix) dengan komposisi batu bara 32,7 persen, gas bumi 30,6 persen, minyak bumi 26,2 persen, PLTA 2,4 persen, panas bumi 3,8persen dan lainnya 4,4 persen.

Kebutuhan energi nasional yang semakin tahun kian bertambah, membuat pemerintah Indonesia segera mempercepat pembangunan dan pemanfaatan potensi biofuel. Dalam waktu dekat, memang mungkin biofuel belum dapat menggantikan energi fosil, tetapi akan menjadi energi yang sangat potensial, mengingat semakin menipisnya energi fosil.

Bahan baku biofuel yang potensial di Indonesia di antaranya, tebu, jagung, dan ubi kayu untuk pembuatan bioetanol. Sementara kelapa sawit, jarak pagar, dan kelapa untuk bahan dasar biodiesel. Sedikitnya ada 4 pulau yang potensial untuk dikembangkan, yaitu Sumatera, Kalimantan, Papua dan Sulawesi.

Salah satu kabupaten yang telah melakukan proses biofuel adalah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.  Bagi masyarakat Nunukan, aren atau enau adalah jenis tanaman yang sudah dikenal sejak lama. Umumnya tanaman ini diintrodusir dari luar Nunukan, yang dibawa oleh pendatang dari Sulawesi.

Di daerah asalnya sendiri, pada umumnya di Sulawesi Selatan, masyarakat telah membudidayakan enau atau aren sejak lama. Seiring dengan perkembangan zaman, maka dewasa ini posisi aren sebagai tanaman pelengkap di kebun mulai bergeser menjadi tanaman utama penghasil biofuel. Pembahasan mengenai aren ini menjadi menarik untuk diperbincangkan mengingat tanaman ini sudah dikenal lama dan hanya diketahui pemanfaatannya sebagai penghasil minuman, gula merah, dan kolang-kaling.

Para petani Nunukan belum memahami manfaat lain dari aren, yang apabila dikembangkan secara intensif akan memberikan penghasilan surplus bagi kesejahteraan mereka. Pengelolaan aren akan lebih survive bila didukung dengan sumber daya yang memadai dan modal usaha, serta sarana yang menunjang pengolahan nira menjadi bioethanol sebagai bahan baku biofuel.

Bioethanol adalah etanol (turunan alkohol) dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa, seperti singkong, jagung, nira serta tebu. Dalam dunia industri, pada umumnya etanol digunakan sebagai bahan baku industri turunan (derivat) alkohol, campuran untuk minuman keras (seperti sake atau gin), serta bahan baku farmasi dan kosmetika.

Menjadikan tanaman aren sebagai komoditas unggulan penghasil devisa bagi Nunukan, setidaknya menciptakan kemandirian di tengah masyarakat. Khususnya masyarakat pedesaan berupa penciptaan lapangan kerja. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan energi bahan bakar nabati yang senantiasa stabil, bahkan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal lain yang tidak kalah pentingnya, adalah terciptanya desa mandiri energi. Gagasan pokok terbentuknya Desa Mandiri Energi adalah melibatkan sebanyak mungkin partisipasi banyak pihak, terutama rakyat, dalam memproduksi bahan bakar nabati.

Masalahnya kemudian, karena penanganan usaha tani komoditas aren ini masih bersifat tradisional dan relatif belum mengarah kepada intensifikasi. Jika komoditi ini dikelola secara lebih intensif, maka bukan saja surplus pendapatan masyarakat yang bertambah, tetapi juga pola hidup sosial akan berubah. Masyarakat akan cenderung bertahan di daerahnya masing-masing tanpa harus berpikir untuk hijrah ke kota orang mencari pekerjaan.

Pengalaman dan praktik kerja di masyarakat, setidaknya juga akan menciptakan keterampilan baru dan tentunya mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar konvensional yang selama ini mereka ketahui. Selain mempermudah pekerjaan pemerintah pusat, masyarakat tentunya akan menyebarkan ke yang lainnya pula. Sehingga menciptakan sebuah sinergi guna pengembangan BBN. (*/udi)

*) Mahasiswi Pascasarjana Magister Energi Universitas Diponegoro Semarang, Studi Kasus Potensi Aren di Kabupaten Nunukan

 


BACA JUGA

Kamis, 26 Juli 2018 13:32

Sekolah Lapuk

TAMPAK sebagian atap tak lagi menutupi gedung tua itu. Penyangganya hampir lepas. Cahaya masuk dengan…

Selasa, 17 Juli 2018 01:07

Menuju Kota Digital

DIGITALISASI merupakan bagian dari revolusi industri 4.0 (four point zero). Jika revolusi industri 1.0…

Rabu, 11 Juli 2018 13:56

Mengukur Tensi Politik Menjelang Pileg 2019

TAK terasa roda perputaran sang waktu silih berganti, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan…

Minggu, 01 Juli 2018 00:54

Kemenangan Pilkada untuk Semua

PERHELATAN akbar sekaligus pertarungan euforiasuksesi pemilihan kepala daerah, baik itu pemilihan gubernur…

Rabu, 27 Juni 2018 12:51

Maaf, Saya Golput karena Keadaan

Hari ini, tepatnya 27 Juni 2018, digelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah. Terdiri…

Kamis, 21 Juni 2018 09:56

Mutiara Syawal

TIDAK terasa sebulan penuh kita berpuasa di bulan Ramadan menahan lapar dan dahaga. Kaum Muslimin meninggalkan…

Selasa, 12 Juni 2018 14:40

Konsumerisme di Bulan Ramadan

BULAN Ramadan adalah bulan di mana umat Islam berbondong-bondong untuk menggenggam keberkahan dan rahmat…

Sabtu, 09 Juni 2018 00:24

FILANTROPISME RAMADAN

SECARA bahasa, filantropisme adalah kedermawanan. Kemurahatian, atau sumbangan sosial, sesuatu yang…

Jumat, 01 Juni 2018 12:08

Atasi Kram saat Menstruasi

DI sela aktivitas yang cukup padat sebagai siswa Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 57 Lembaga…

Sabtu, 26 Mei 2018 00:59

Terapi Emosi dalam Sekejap

SAAT berada pada kondisi yang tidak menyenangkan atau ditimpa persoalan, pilihannya sebenarnya hanya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .