MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 01 Januari 2018 00:09
Energi Fosil Menipis, Kembangkan Biofuel
Oleh: Vithya Arintalofa

PROKAL.CO, TINGGINYA harga minyak mentah dunia menyebabkan pemerintah meningkatkan pendanaan dalam menyediakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Data yang didapat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 miliar barel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam kurun waktu 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan energi fosil dan mengurangi emisi karbon, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Seiring berjalannya waktu, bahan bakar nabati (BBN) merupakan bahan bakar yang akan menjadi alternatif ke depannya. Selain dapat mengurangi beban pemerintah, juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Beberapa hal tersebut, tentunya membuat Indonesia melakukan beberapa upaya untuk mengembangkan potensi biofuel.

Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar dalam mengembangkan biofuel. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 5/2006 mengeluarkan kebijakan energi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan dalam negeri dan menetapkan tahun 2025 sebagai target pencapaian baruan energi (energy mix) dengan komposisi batu bara 32,7 persen, gas bumi 30,6 persen, minyak bumi 26,2 persen, PLTA 2,4 persen, panas bumi 3,8persen dan lainnya 4,4 persen.

Kebutuhan energi nasional yang semakin tahun kian bertambah, membuat pemerintah Indonesia segera mempercepat pembangunan dan pemanfaatan potensi biofuel. Dalam waktu dekat, memang mungkin biofuel belum dapat menggantikan energi fosil, tetapi akan menjadi energi yang sangat potensial, mengingat semakin menipisnya energi fosil.

Bahan baku biofuel yang potensial di Indonesia di antaranya, tebu, jagung, dan ubi kayu untuk pembuatan bioetanol. Sementara kelapa sawit, jarak pagar, dan kelapa untuk bahan dasar biodiesel. Sedikitnya ada 4 pulau yang potensial untuk dikembangkan, yaitu Sumatera, Kalimantan, Papua dan Sulawesi.

Salah satu kabupaten yang telah melakukan proses biofuel adalah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.  Bagi masyarakat Nunukan, aren atau enau adalah jenis tanaman yang sudah dikenal sejak lama. Umumnya tanaman ini diintrodusir dari luar Nunukan, yang dibawa oleh pendatang dari Sulawesi.

Di daerah asalnya sendiri, pada umumnya di Sulawesi Selatan, masyarakat telah membudidayakan enau atau aren sejak lama. Seiring dengan perkembangan zaman, maka dewasa ini posisi aren sebagai tanaman pelengkap di kebun mulai bergeser menjadi tanaman utama penghasil biofuel. Pembahasan mengenai aren ini menjadi menarik untuk diperbincangkan mengingat tanaman ini sudah dikenal lama dan hanya diketahui pemanfaatannya sebagai penghasil minuman, gula merah, dan kolang-kaling.

Para petani Nunukan belum memahami manfaat lain dari aren, yang apabila dikembangkan secara intensif akan memberikan penghasilan surplus bagi kesejahteraan mereka. Pengelolaan aren akan lebih survive bila didukung dengan sumber daya yang memadai dan modal usaha, serta sarana yang menunjang pengolahan nira menjadi bioethanol sebagai bahan baku biofuel.

Bioethanol adalah etanol (turunan alkohol) dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa, seperti singkong, jagung, nira serta tebu. Dalam dunia industri, pada umumnya etanol digunakan sebagai bahan baku industri turunan (derivat) alkohol, campuran untuk minuman keras (seperti sake atau gin), serta bahan baku farmasi dan kosmetika.

Menjadikan tanaman aren sebagai komoditas unggulan penghasil devisa bagi Nunukan, setidaknya menciptakan kemandirian di tengah masyarakat. Khususnya masyarakat pedesaan berupa penciptaan lapangan kerja. Hal ini dikarenakan kebutuhan akan energi bahan bakar nabati yang senantiasa stabil, bahkan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal lain yang tidak kalah pentingnya, adalah terciptanya desa mandiri energi. Gagasan pokok terbentuknya Desa Mandiri Energi adalah melibatkan sebanyak mungkin partisipasi banyak pihak, terutama rakyat, dalam memproduksi bahan bakar nabati.

Masalahnya kemudian, karena penanganan usaha tani komoditas aren ini masih bersifat tradisional dan relatif belum mengarah kepada intensifikasi. Jika komoditi ini dikelola secara lebih intensif, maka bukan saja surplus pendapatan masyarakat yang bertambah, tetapi juga pola hidup sosial akan berubah. Masyarakat akan cenderung bertahan di daerahnya masing-masing tanpa harus berpikir untuk hijrah ke kota orang mencari pekerjaan.

Pengalaman dan praktik kerja di masyarakat, setidaknya juga akan menciptakan keterampilan baru dan tentunya mengurangi ketergantungan kepada bahan bakar konvensional yang selama ini mereka ketahui. Selain mempermudah pekerjaan pemerintah pusat, masyarakat tentunya akan menyebarkan ke yang lainnya pula. Sehingga menciptakan sebuah sinergi guna pengembangan BBN. (*/udi)

*) Mahasiswi Pascasarjana Magister Energi Universitas Diponegoro Semarang, Studi Kasus Potensi Aren di Kabupaten Nunukan

 


BACA JUGA

Selasa, 08 Mei 2018 00:28

Ekonomi Syukur

BERSYUKUR adalah salah satu ajaran terpenting dalam Islam. Bersyukur sebanding dengan bersabar.…

Senin, 07 Mei 2018 11:18

“Ya Allah, muliakan dan bahagiakanlah Pak Jokowi.”

SAAT membaca kalimat doa di atas, bagaimana tanggapan Anda? Ingat, respons Anda yang paling pertama…

Rabu, 02 Mei 2018 00:28

Ketika Hak “Dilayani” Terabaikan

MASIH terlintas di benak saya, sebanyak 42 kepala daerah mendapat penghargaan berupa piala dan piagam…

Senin, 30 April 2018 00:16

Kenapa Harus Sekolah Alam?

“Pak, saya doakan semoga Bapak terpilih nanti, dan harapan saya hanya satu. Saya ingin anak saya…

Sabtu, 21 April 2018 10:28

Kartini Kesehatan

RADEN Adjeng Kartini, sosok yang sangat menginspirasi. Tokoh emansipasi yang  menuntut persamaan…

Selasa, 03 April 2018 12:19

Heboh Pulau Bakungan

KEMARIN malam salah satu TV nasional memberitakan tentang tidak diperbolehkannya wisatawan lokal masuk…

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .