MANAGED BY:
JUMAT
19 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Jumat, 05 Januari 2018 09:47
Imbas Kenaikan Harga Batu Bara, Lebih Berdampak Sosial
BERIRINGAN: Kenaikan harga batu bara diharapkan ikut mendongkrak kesejahteraan para pekerjanya.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Kenaikan harga “emas hitam”, diharapkan tidak hanya berdampak pada kestabilan perekonomian. Tapi juga kesejahteraan sosial para pekerjanya.

Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Berau Suyadi mengharapkan, tahun ini dibuka kembali penyerapan tenaga kerja di sektor pertambangan batu bara. Hal itu sejatinya sudah dilakukan pada 2017 lalu, namun belum begitu massif.

“Ya semoga saja akan lebih baik. Karena banyak sekali pihak yang bergantung pada sektor pertambangan ini,” ujarnya kepada Berau Post, kemarin (4/1).

Pasalnya, pada 2014-2016 terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran pada sektor pertambangan batu bara. Kondisi itu juga cukup membuat para pekejar khawatir kenaikan harga batu bara kali ini, hanya sementara dan tidak berlangsung lama.

Maka untuk itu, menurut Suyadi perlu juga sekiranya dibahas lebih lanjut terkait jaminan hidup kepada tenaga kerja sebelum membuka peluang dan mempekerjakannya. 

“Itu yang perlu diperhatikan. Sehingga tidak terulang kembali hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti gaji yang masih di bawah upah minimum sektor khusus (UMSK). Jangan sampai itu terjadi. Semua harus mendapat porsi yang adil,” tegasnya.

Ya, kenaikan harga batu bara bukan hanya menjadi “angin surga” bagi perusahaan pertambangan atau pemilik modal sektor tersebut. Tapi juga tenaga kerja yang selama ini memiliki keahlian di sektor tersebut. Ia memperkirakan, jika harga batu bara tetap stabil, setidaknya akan ada penambahan 3.000-4.000 orang yang bekerja. Namun, jumlah itu masih hitungan kasar.

“Artinya, akan ada penambahan ribuan orang yang nasibnya bergantung pada pertambangan batu bara. Nah, ini yang harus diperhatikan. Dampak sosial pada pekerja yang harus lebih diperhatikan, bukan hanya dari segi bisnis,” ungkapnya.

Senada, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Berau Fitrial Noor, pun berharap perekrutan tenaga kerja lebih baik. “Biasanya dengan naiknya produksi batu bara, terkadang tidak diiringi koordinasi yang baik. Perusahaan sering mengambil tenaga kerja dari luar yang siap pakai untuk menunjang kebutuhan pekerja demi mengejar target produksi,” jelasnya.

Padahal, hal tersebut ucapnya tidak perlu terjadi mengingat masih banyak tenaga kerja yang belum terserap di Berau. Terutama mereka yang dirumahkan pascapenutupan sejumlah perusahaan batu bara beberapa tahun lalu.

Selain itu, ia meminta agar perusahaan pertambangan di Bumi Batiwakkal-sebutan Kabupaten Berau- turut memerhatikan aspek sosial dan lingkungan. Melalui program corporate social responsibility (CSR), Pipit-sapaan akrabnya- meminta agar perusahaan memanfaatkan dana tersebut untuk hal yang lebih baik.

Sehingga manfaat yang dirasakan lebih maksimal. “Saya pribadi berharap, aspek dampak lingkungan dan termasuk CSR para perusahaan tambang harusnya juga lebih besar lagi,” tuturnya.

Bukan, hanya para pekerja sebenarnya yang berharap peningkatan haraga batu bara ini juga memberi dampak sosial di masyarakat. Para pengusaha pun sejatinya juga mengharapkan hal serupa.

Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Berau Al Hamid memprediksi, taraf hidup para pekerja yang sempat merosot seiring penurunan harga batu bara beberapa tahun lalu akan ikut terdongkrak.

“Setidaknya dampak ke pekerja lebih terasa. Para pengusaha tentunya juga sangat bergantung dari para pekerja untuk bisa menjalankan bisnisnya. Kami para pengusaha juga sangat memerhatikan terhadap tanggung jawab sosial para pekerja,” ungkapnya.

Apindo yang juga termasuk dalam dewan pengupahan pun ikut memerhatikan kestabilan harga tersebut. Memang ada sektor-sektor tertentu yang belum menjalankan ketentuan upah minimum kabupaten. Namun, paling tidak pada UMSK sektor pertambangan setidaknya bisa lebih baik. Ia juga meminta kepada para tenaga kerja untuk lebih bersabar, mengingat kondisi ekonomi juga masih belum memperlihatkan tanda-tanda kestabilan. (rio/app)

 

Harus Lebih Transparan

PENINGKATAN harga batu bara diharapkan bukan sekadar “angin surga”. Di mana, yang merasakan keuntungannya hanya segelintir pihak saja. Salah satu yang patut diperhatikan adalah para pekerja pada sektor tersebut.

Namun, menurut Ketua Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Berau Suyadi mengatakan, masih banyak permasalahan tenaga kerja pada sektor pertambangan yang hingga kini tak kunjung tuntas.

Permasalahan itu terangnya berkutat seputar upah tenaga kerja yang tak kunjung dibayar, serta pemutusan hubungan kerja sepihak.

Nah, dengan membaiknya harga batu bara dan kembali terbukanya peluang bekerja di perusahaan pertambangan, diharapkan tidak terjadi permasalahan serupa di kemudian hari.

Suyadi pun meminta kepada pemerintah, khususnya Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) lebih transparan dalam mengurus hal tersebut.

Setidaknya, Disnakertrans memiliki data berapa jumlah lowongan bekerja di perusahaan serta jumlah pekerja yang dibutuhkan. Serta ikut mengawasi proses recruitment pekerja. Hal itu terangnya, lebih memudahkan pihak pekerja untuk bisa mendapat mendapat informasi soal jaminan hidupnya. “Paling tidak tenaga kerja ini merasa lebih nyaman. Karena jelas perusahaannya,” ucap Suyadi.

Pasalnya, selama ini pengawasan terhadap proses perekrutan karyawan ujarnya, tidak diawasi secara penuh oleh pemerintah. Padahal pemerintah berhak melakukan intervensi terhadap proses perekrutan tersebut.

Ia mencontohkan bagaimana kartu kuning itu menjadi bagian administrasi yang dibutuhkan pekerja untuk melamar pekerjaan. Tapi sayangnya, kartu tersebut hanya bagian administrasi saja. Tidak benar-benar dimanfaatkan sebagai bentuk pengawasan.

“Coba didata, berapa banyak yang melamar. Berapa yang keterima, lalu yang tidak diterima. Akhirnya terlihat itu jumlahnya, berapa jumlah tenaga kerja yang terserap. Data riil itu sangat diperlukan sebagai acuan untuk mengawasi,” ujarnya.

Lalu hal lain yang perlu diperhatikan jelas Suyadi, ihwal investasi perusahaan pertambangan batu bara. Jangan sampai yang mengeruk kekayaan alam Bumi Batiwakkal ini, hanya datang dan pergi.

Hal itu terangnya, terjadi pada sejumlah perusahaan pertambangan batu bara di Berau. “Artinya, investasinya diawasi. Mengikuti aturan izin usaha pertambangan yang berlaku. Jangan seenaknya saja mengambil kekayaan di Berau. Begitu sudah dirasa mau habis, hutannya tidak dikembalikan, karyawan diterlantarkan. Ini yang tentu tidak diinginkan,” tandasnya.(rio/app)

 

 


BACA JUGA

Minggu, 14 Januari 2018 10:18

Harga Lada Kian Darurat, Petani Ubah Pola Penanaman

TANJUNG REDEB – Penurunan harga lada sejak tahun lalu, membuat para petani kian resah. Pada pertemuan…

Minggu, 14 Januari 2018 10:16

Cuaca Buruk, Pasokan Ikan Stabil

TELUK BAYUR – Stok ikan di Berau masih dalam kondisi aman, meski saat ini sedang memasuki musim…

Minggu, 14 Januari 2018 10:10

Harga Cabai Tak Kunjung Turun

TANJUNG REDEB - Jika di beberapa daerah harga komoditas sayuran sudah mulai menurun saat memasuki pertengahan…

Sabtu, 13 Januari 2018 12:21

Tekan Harga Sembako Agar Tetap Stabil

TANJUNG REDEB - Untuk mengantisipasi melonjaknya harga kebutuhan bahan pokok, Dinas Perindustrian…

Sabtu, 13 Januari 2018 12:06

Pencairan Dana Bergulir bagi UMKM, Tunggu Payung Hukum

TANJUNG REDEB – Pemkab Berau melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop)…

Selasa, 09 Januari 2018 11:28

Lirik Perkebunan Sawit, Tetap Perhatikan Pertanian

TALISAYAN – Berbeda dengan Imam Supriadi, mantan Kepala Kampung Eka Sapta yang menggeliatkan komoditas…

Selasa, 09 Januari 2018 11:24

Tambah Anggaran untuk Balai Benih Ikan

TANJUNG REDEB - Dinas Perikanan Berau, tengah fokus dalam mengembangkan budidaya ikan di Kabupaten Berau.…

Sabtu, 06 Januari 2018 12:41

Terpenting Pasar Tumbuh Dahulu

TANJUNG REDEB – Efek positif dari kestabilan harga batu bara tidak hanya diharapkan oleh pengusaha…

Kamis, 04 Januari 2018 00:20

Harapan dari “Emas Hitam”

TANJUNG REDEB – 2018 menjadi tahun paling ditunggu bagi para pelaku usaha. Bagaimana tidak, bisnis…

Rabu, 03 Januari 2018 00:04

Monyet Rugikan Petani, Minta Distertan Mengambil Tindakan

BATU PUTIH – Hama monyet kian meresahkan petani palawija di Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .