MANAGED BY:
RABU
15 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 09 Januari 2018 11:18
Sesali Bencana 2009, Emosi Masyarakat Jadi Kendala

Mengenal Petugas Pemadam Kebakaran di Berau: Yaminto (1)

BANGGA: Yaminto, Komandan Regu 4 PMK Berau.

PROKAL.CO, Tidak banyak orang bisa mencintai pekerjaan seperti mencintai hobinya. Apalagi jika pekerjaannya berisiko tinggi, bahkan mempertaruhkan nyawa. Tetapi itu dilakukan Yaminto, petugas pemadam kebakaran yang selalu siaga kapan saja dibutuhkan.

 

EKA RUSDIANA, Tanjung Redeb

 

HARI sudah menjelang senja ketika Yaminto alias Minto, duduk bersantai bersama kedua rekannya di pelataran kantor PMK yang tidak seberapa luas. Seperti hari-hari sebelumnya, tujuh unit mobil pemadam kebakaran (damkar) terparkir berjajar di dekat dengan tempat mereka bersantai.

Kakek satu cucu ini sudah lama menjadi seorang pemadam kebakaran. Bisa dibilang, separuh lebih hidupnya dihabiskan menjadi pejuang pemadam kebakaran. “Aduh, mulai dari masih miskin sampai sekarang agak kaya, saya sudah di PMK. Sudah 27 tahun lah,” ungkap Minto, kemarin (8/1) sore.

Minto berkarier sebagai pemadam kebakaran sejak 1990 silam, dengan honor RP 30 ribu tiap bulan. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil di tahun 2007. “Dulu orang sini susah mau kerja di pemerintahan karena gajinya kecil,” ungkapnya.

Berurusan dengan api sudah menjadi keahlian pria ini. Api kecil atau besar, sebentar atau lama waktu memadamkannya, tentu bukan hal baru bagi pria setengah abad ini. Suka dukanya, sudah tidak terhitung lagi. Emosi masyarakat menjadi hal yang biasa dihadapinya saat menjalankan tugas.

Menjadi petugas pemadam kebakaran, katanya, hampir seperti pepatah lama, ‘Buah Simalakama’. Datang salah, tidak datang lebih salah. Tetapi, apapun situasinya ia tetap datang dan berusaha sebaik mungkin untuk memadamkan api. Tentu sambil menjaga emosi masyarakat.

“Jujur saja sampai sekarang ini sebenarnya emosi masyarakat kerap jadi kendala kami. Tapi kita maklum, karena mereka tidak mengerti dalamnya PMK seperti apa. Kami tetap tunaikan tanggung jawab kami," terangnya.

Baginya, kebanggaan seorang pemadam kebakaran adalah ketika berhasil memadamkan api dan menyelamatkan nyawa manusia. Selebihnya bonus. Maka itu, dirinya tidak pernah ambil pusing dengan tanggapan masyarakat yang terkadang menyakitkan.

Hanya satu yang masih sangat disesalinya hingga kini. Ketika bencana kebakaran di Jalan Ramania, Tanjung Redeb, 2009 silam. Saat itu, kebakaran memakan 1 korban jiwa, yakni anak-anak yang terjebak di kobaran api.

Bapak empat anak ini hanya bisa mengangkat jenazah anak kecil yang tinggal tulang-belulangnya saja. Padahal prioritas utama pemadam kebakaran ialah mencegah bencana meluas dan risiko hilangnya nyawa manusia.

“Miris sekali. Padahal kebakaran tidak besar, satu rumah, tapi satu nyawa tidak bisa kami selamatkan. Mending kalau jasadnya utuh, ini ya Allah, tinggal kerangkanya saja," kenang pria kelahiran Nganjuk, 5 April 1967 ini.

Komandan Regu 4 di PMK yang berada di bawah naungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau ini mengaku, jika semua itu di luar kuasanya. Saat itu mereka menerima informasi bahwa masih ada satu anak yang terjebak di dalam kamarnya. Sesegera mungkin ia bergegas menjebol tembok dan mencari anak itu. Namun takdir berbicara lain, rupanya si Anak sudah berlari ke depan pintu rumah dan terbakar di sana.

“Seandainya kami tau dia di depan pintu, kami akan langsung dobrak dan selamatkan dia. Bukannya mati-matian menjebol tembok kamar. Alih-alih menyelamatkan, justru saya harus terima saat itu saya menyelimuti jasad yang sudah tinggal tulang dan memindahkannya dari rumah,” ujarnya penuh sesal.

Untuk itu, dirinya sangat mengharapkan agar masyarakat lebih berhati-hati dan menjaga apa yang disayangi. Jika terjadi kebakaran, pahamilah situasi dengan benar dan berilah ruang bagi petugas untuk memadamkan api. Partisipasi masyarakat sangat penting, demi membantu petugas meminimalisasi dampak bencana kebakaran.

“Jangan sampai ada lagi kejadian seperti itu,” tandasnya. (*/bersambung/udi)

 

 


BACA JUGA

Selasa, 14 Agustus 2018 00:30

Dewan Pengawas Diminta Jalankan Fungsi

TANJUNG REDEB – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau Saga, meminta Pemerintah…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:29

Peringati HUT Pramuka, Pawai Obor Digelar

TANJUNG REDEB - Dalam rangka memperingati HUT ke-57 Pramuka pada 14 Agustus, gerakan Pramuka Kwartir…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:29

SEDIH..!! Jamaah Haji Ini Gagal Berangkat karena ....

TANJUNG REDEB - Gagal berangkatnya salah satu jamaah haji asal Berau, saat di embarkasi Balikpapan,…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:27

Tinggal Tunggu Putusan PT

TANJUNG REDEB – Sama-sama tidak terima dengan keputusan majelis hakim, penasihat hukum Muharram…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:26

Jamaah yang Sakit Sudah Membaik

SATU jamaah haji asal Berau yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit Jeddah, Arab Saudi, sudah…

Senin, 13 Agustus 2018 00:10

Dishub Prioritaskan Dermaga Maratua dan Teluk Sulaiman

TANJUNG REDEB – Pembangunan perpanjangan dermaga Maratua di Kampung Bohe Bukut, jadi kegiatan…

Senin, 13 Agustus 2018 00:08

Satu Jamaah Dilarikan ke Rumah Sakit

TANJUNG REDEB – Cuaca di Tanah Suci terasa cukup ekstrem bagi jamaah haji Indonesia, khususnya…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:40

Berkas Gugatan Adief Dikembalikan

TANJUNG REDEB – Gugatan Adief Mulyadi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Samarinda, dengan…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:38

Dinkes Tunggu Kepastian Anggaran

TANJUNG REDEB – Dorongan dari DPRD Berau agar jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan studi…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:33

Bahar Ngamuk, Warga Tak Terima dan Mengusirnya

TANJUNG REDEB - Penolakan warga RT 1 Kelurahan Gunung Tabur terhadap Bahar, sangat disayangkan Sekretaris…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .