MANAGED BY:
SENIN
20 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Minggu, 14 Januari 2018 10:12
Berau, Difteri Masih Zona Aman

Warga Diimbau Vaksin di Dokter atau Puskesmas

Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Penyakit difteri mulai mewabah di sejumlah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), seperti di Balikpapan dan Samarinda. Untuk sementara, Berau masih aman dari penyebaran penyakit ini, tapi kewaspadaan harus tetap dilakukan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Totoh Hermanto melalui Staf Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) bagian Pemberantasan Penyakit Menular, Romansyah mengatakan, saat ini Berau masih dalam keadaan aman dari penyebaran penyakit difteri.

“Untuk sementara kami pastikan Berau aman dari adanya bahaya difteri itu,” tegasnya kepada Berau Post, Sabtu (13/1) kemarin.

Untuk mencegah bahaya difteri tersebut, yang dilakukan yakni terus menerus vaksin di setiap Puskesmas.

“Vaksin harus terus dilakukan, hanya cara itu yang bisa mencegah difteri. Setiap bulan puskesmas juga masih rutin mengadakan vaksin itu,” bebernya.

Bahkan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai Tanjung Redeb, diketahui telah siaga dengan menyiapkan ruangan khusus untuk penanganan jika ada pasien difteri di Bumi Batiwakkal.

“Nah pihak rumah sakit juga sudah menyediakan ruangan isolasi khusus, jadi yang jelas terkait penyakit difteri ini sudah kami tanggulangi untuk pencegahannya,” ungkapnya

Warga Berau, Rio, mengaku sudah vaksin untuk mengantisipasi terjangkit difteri. “Setiap bulan harus vaksin, sampai tiga bulan saja. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” jelasnya.

Apa yang dilakukannya, diharapkan Rio dapat dilakukan oleh warga lainnya.

SAMARINDA DAN BALIKPAPAN PASIEN DIFTERI BERTAMBAH

Sebuah pesan singkat dari media sosial tentang penyakit difteri kembali tersebar. Dalam pesan berantai tersebut menyebut, satu lagi warga Balikpapan terjangkit difteri. Disebutkan pula, sang pasien terinfeksi difteri setelah berenang. Masih dari pesan itu, kini pasien sudah dirujuk ke RSUD AW Sjahranie, Samarinda, lantaran ruang isolasi RSUD Kanujoso Djatiwibowo sudah kelebihan pasien. 

Lalu, benarkah berenang satu kolam renang dengan pengidap difteri bisa tertular penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheria itu? Dokter spesialis anak, dr Herwina SpA mengatakan, difteri sangat mudah menular. Penularannya melalui droplet. Yakni, bisa lewat bersin, batuk, atau kontak langsung dengan penderita. “Jadi kalau ada orang menderita difteri di kolam renang, ya sangat bisa menular,” ujar dokter spesialis anak tersebut.

Dia mengatakan, jika ada orang menderita difteri di pusat perbelanjaan juga sangat bisa menular. Karena itu, salah satu kewaspadaan atau pencegahan terjangkit difteri adalah dengan menghindari tempat-tempat ramai.

Sementara itu, terang dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan, kepala, dan leher dr Moriko Pratiningrum SpTHT-KL, langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin tersebut meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, yakni terhirup percikan air liur penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Bahkan, bisa menular melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

“Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita juga menjadi media penularannya. Sebab itu, para perawat yang menangani pasien difteri akan mengenakan pakaian khusus. Penularan umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga,” pungkas Moriko.

Dari RSUD AW Sjahranie, pasien difteri di Samarinda kian bertambah. Selasa (9/1), tercatat jumlah pasien positif difteri di rumah sakit kelas A itu sebanyak lima orang positif dan seorang suspect. Perkembangan Jumat (12/1), jumlah pasien positif difteri bertambah menjadi delapan orang. Sedangkan sepuluh orang masih dinyatakan suspect.

 

“Pasien terbaru datang hari ini (kemarin),” ujarnya. Jadi, total pasien yang dirawat di RSUD AW Sjahranie ada 18 orang dengan rentang usai 2–22 tahun. Terdiri dari delapan pasien positif difteri, sisanya masih suspect atau terduga difteri. Artinya, gejalanya sama dengan difteri namun bakteri belum ditemukan,” tutur Kepala Unit Humas RSUD AW Sjahranie dr Muhammad Febian Satrio saat ditemui, Jumat (12/1).

Dia menyebut, total pasien kasus difteri yang dirawat sejak awal hingga kini mencapai 21 pasien. Dari semua pasien positif, dua orang sudah diperbolehkan pulang. Yakni, anak usia dua tahun dan ibu hamil tujuh bulan berusia 18 tahun.

Mengenai peningkatan jumlah pasien difteri, lanjut dia, pihak rumah sakit akan menyiapkan tambahan ruang isolasi. Bila sebelumnya ruang isolasi untuk pasien difteri hanya ada di Ruang Melati dan Flamboyan, rumah sakit terbesar di Kaltim itu menyiapkan tambahan ruang isolasi di Ruang Seruni. Pasien yang masih suspect akan dipisah dengan pasien yang positif.

“Karena kamar isolasi yang terbatas, kemungkinan kami hanya bisa menampung tambahan lima pasien lagi,” terangnya. Dia menjelaskan, rumah sakit pelat merah itu sepertinya akan meminta bantuan rumah sakit lain untuk penanganan pasien difteri.

Mengenai asal pasien, Satrio mengatakan, semua pasien berasal dari Kota Tepian. Dia membantah ada pasien dari Balikpapan yang dirujuk ke RSUD AW Sjahranie. Mayoritas pasien di sana bertempat tinggal di kawasan padat penduduk di Samarinda. “Seperti Jalan M Yamin, Gerilya, Sentosa, Hasan Basri, dan Achmad Yani,” ungkapnya.

Seluruh pasien sudah diperiksa secara mikroskopik. Pemeriksaan ini diklaim 90 persen akurat. Pasien juga diperiksa secara kultur agar hasilnya benar-benar akurat. Namun, pemeriksaan secara kultur ini tidak sebentar, bisa memakan 1–3 pekan untuk mengetahui hasilnya. Bahkan, pasien pertama positif difteri (anak yang berusia 2 tahun) hasil pemeriksaan kulturnya belum keluar. Padahal pasien sudah dinyatakan sembuh.

BELUM KLB

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Rustam mengatakan, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan difteri. Meski belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), pihaknya telah melakukan beberapa langkah untuk mengendalikan difteri. Sebab, yang berhak menetapkan KLB adalah pemerintah kota.

Pertama, lanjut dia, pihaknya telah melaksanakan penyelidikan epidemiologi (PE) di daerah kontak terjadinya kasus difteri. Daerah yang dilakukan PE yakni, Kelurahan Air Putih, Bandara, Selili, dan beberapa kelurahan lain di Samarinda. Hasil PE yang diperoleh negatif.

Dia meneruskan, pihaknya juga memberikan antibiotik dan vaksin untuk daerah sebaran difteri di Samarinda. SMK 4 Samarinda menjadi tempat vaksin pertama. Sebanyak 1.300 orang terdiri dari siswa, guru, hingga petugas sekolah divaksin. Senin (15/1), pihaknya akan melanjutkan vaksinasi ke SD Kecamatan Sungai Pinang. “Masyarakat boleh waspada tapi jangan panik. Meski cepat menular, difteri bisa disembuhkan,” ujar Rustam.

Dia mengatakan, sebaiknya masyarakat melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebab, bakteri mudah berkembang pada lingkungan yang kotor. Kemudian, jaga sistem imun dengan mengonsumsi makanan sehat. Difteri dapat dicegah dengan imunisasi.

“Melakukan vaksin tidak langsung membuat tubuh kebal. Perlu waktu untuk vaksin itu bekerja. Bisa mencapai waktu 3 bulan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim drg Soeharsono menerangkan, kasus difteri bukan hal baru. Namun, dengan jumlah pasien di RSUD AW Sjahranie adalah acuan Samarinda sedang terancam difteri.

Dia mengatakan, ada tiga status kondisi difteri, yakni suspect, probable, dan terkonfirmasi. Suspect adalah pasien memiliki gejala-gejala klinis khas difteri yaitu ditemukannya pseudomembran (selaput putih keabu-abuan) pada tenggorokan. Kalau probable, kemungkinan status imunisasi pasien tidak lengkap, pernah berkunjung ke tempat yang terkontaminasi difteri atau kontak langsung dengan penderita difteri. Dikatakan terkonfirmasi yaitu jika sudah positif difteri dengan pemeriksaan kultur.

Di Kaltim, Balikpapan adalah daerah yang paling sering ditemukan suspect. Pasalnya, Kota Minyak adalah pintu gerbang Kaltim. Baik untuk masyarakat luar Kaltim maupun warga Kaltim yang baru selesai bepergian ke luar pulau. 

Data yang dihimpun Diskes Kaltim, tren penyakit difteri tiga tahun terakhir cukup dinamis. Pada 2015 ada 12 kasus, jumlah ini turun pada 2016 dengan 9 kasus. Kemudian kembali meroket pada 2017 dengan 25 kasus. Nah, pada 2018 hingga pertengahan Januari sudah dilaporkan 13 kasus. “Itu pun akan bertambah, karena belum ada laporan terbaru,” ujarnya. 

VAKSIN GRATIS BERTAHAP

Tersisa tiga pasien suspect dari enam orang yang diduga terkena difteri di Balikpapan. Hingga sekarang mereka masih menjalani observasi di RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo. Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Esther Vonny mengatakan, tiga orang yang telah diperbolehkan pulang dinyatakan negatif dari difteri.

“Semoga ketiga warga asal Muara Rapak, Batu Ampar, dan Karang Jati ini juga negatif difteri. Sehingga status kejadian luar biasa (KLB) bisa dicabut, dan penyebaran difteri tidak meluas hingga menimbulkan korban,” ujarnya. Ketiga warga yang tengah menjalani observasi berusia 9, 35, dan 39 tahun.

Dan kini DKK tengah menggiatkan outbreak response immunization (ORI), yang dilakukan di sekolah-sekolah maupun kawasan dengan kasus mikroskopis positif. Dia tidak menyebutkan lokasi-lokasi tersebut, namun vaksin dilakukan secara bertahap. Seperti halnya yang dilakukan pada Kamis (11/1) di Madrasah Tsanawiyah 1 Kelurahan Muara Rapak. Vaksinasi diberikan selama dua hari, pada hari pertama ada 125 anak dan hari kedua 75 anak.

“Imunisasi akan terus berlanjut, dalam sepekan atau dua pekan lagi. (Daerahnya) masih kita bahas, yang pasti kawasan dengan kultur difteri positif akan kami fokuskan. Hingga sekarang, vaksin telah diberikan kepada 936 orang,” sebut Vonny. “Vaksin diberikan oleh pemerintah, gratis. Tidak ada jual-beli. Jadi jangan sampai terbujuk bila ada yang menawarkan vaksin dan mesti berbayar,” imbuhnya. 

Terkait adanya isu penderita difteri di Samarinda setelah berenang, Vonny menampik. Menurut dia, difteri tidak hidup di dalam air yang memiliki kandungan kaporit seperti kolam renang. Pemicu difteri ialah bakteri Corynebacterium diphtheria, yang ditularkan melalui udara. Para penderitanya dapat mudah terjangkit apabila tidak memiliki daya kekebalan tubuh (imun) yang baik. Terlebih bila tak pernah terkena matahari.

Untuk itu, perlu dipahami bahwa gejala difteri tak ubahnya demam. Penderita akan merasakan nyeri saat menelan, pembesaran kelenjar getah bening di leher, adanya selaput kelabu yang tebal menutupi tenggorokan dan amandel. Bersamaan itu, dia akan mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, dan menggigil. Maka, selain menggunakan masker, masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan maupun diri pribadi.

“Penularannya melalui batuk, bersin, ataupun kontak dengan tisu yang telah digunakan penderita. Bakteri tersebut bisa saja mati bila terkena sinar matahari, tapi kan orang sangat jarang berada di luar rumah kalau tidak ada keperluan,” ucapnya. (*/lil/*/yuv*/fch/dwi/k8/kpg/*/mar/app)

 

 

 


BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 00:14

Warga Tak Tahu Bakal Caleg 2019, Sosialisasi KPU Tak Beres?

TANJUNG REDEB – Minimnya sosialisasi, membuat warga Kecamatan Maratua ‘buta’ akan…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:12

Suharto Jadi Tersangka

TANJUNG REDEB – Setelah membenarkan adanya penangkapan oleh pihaknya terhadap Kepala Kampung (Kakam)…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:12

Dapat Bingkisan, Kaget Dikunjungi Istri Bupati

17 Agustus merupakan momen berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali Nina. Namun, tahun…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:11

Pembebasan Lahan Dibatalkan, Khawatir Kinerja Dinilai Menurun

TANJUNG REDEB - Adanya pembatalan usulan pembebasan lahan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sangat…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:10

Bupati Bakal Evaluasi Dewan Pengawas PDAM

TANJUNG REDEB – Tak hanya direksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Bupati Berau…

Minggu, 19 Agustus 2018 00:09

Lagi, Kibarkan Bendera di Laut Maratua

MARATUA – Pengibaran bendera Merah Putih di bawah laut Maratua, kembali dilaksanakan Berau Jurnalis…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:12

Sosialisasi DCS “Hanya” di Perkotaan

TALISAYAN – Tahapan pemilihan legislatif sudah masuk penetapan daftar caleg sementara. Namun DCS…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:06

Upacara Diwarnai Putusnya Tali Bendera

TANJUNG REDEB – Ada kejadian tak terduga pada upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan ke-73…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:04

Auditor Bantah Ada Kongkalikong

SALAH satu auditor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Segah, Tenni Ginting, menegaskan jika pihaknya…

Sabtu, 18 Agustus 2018 12:02

Gara-Gara Ini, Kepala Kampung Biatan Ulu Dipolisikan

BIATAN - Diduga menerbitkan izin garapan di hutan lindung, Kepala Kampung Biatan Ulu Suharto, harus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .