MANAGED BY:
SELASA
16 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Minggu, 14 Januari 2018 10:14
Perjuangkan Bangun Masjid, Sempat Dianggap Bawa Aliran Sesat

Kisah Para Pengurus Masjid di Bumi Batiwakkal: Hadi Sutompo (1)

PANTANG MENYERAH: Sosok Hadi Sutompo, perantau yang memperjuangkan pembangunan Masjid Babussalam di Jalan Trans Sambaliung bersama jemaah Majelis Dzikir Al-Ikhsan.

PROKAL.CO, Berawal dari tidur di pelataran masjid, hingga berhasil membangun masjid. Ya, Sutompo sempat mengalaminya beberapa hari, saat pertama kali menginjakkan kakinya di Berau. Masjid Nurul Huda di Jalan Dr Murjani I menjadi saksi bisunya.

 

EKA RUSDIANA, Tanjung Redeb

 

TIDUR di areal masjid karena tak memiliki tempat tinggal di Berau, menjadi bagian masa lalu, sebab Masjid Babussalam di Jalan Trans Sambaliung menjadi saksi baru atas kegigihannya memperjuangkan agama Islam di tanah ini.

Segala sesuatu yang dijalani dengan niat yang tulus dan ikhlas pasti berbuah hal yang baik. Seperti pengembaraan Hadi Sutompo dari Tanah Jawa ke Bumi Batiwakkal, pada 2001 silam. Saat ditemui awak media ini di kediamannya Jalan H Isa I Tanjung Redeb kemarin (13/1) siang, Sutompo mengaku perjalanannya sama sekali tidak direncanakan.

Ceritanya, Sutompo sendirian “melarikan diri” ke Berau sebab menuai masalah setelah menghancurkan komplek pelacuran di Tanah Jawa, tempat dirinya berasal. Sang guru agamanya, menyarankan untuk merantau dan mencari peruntungan ke Kalimantan. Maka, pergilah ia. “Guru saya bilang, kalau saya tetap di Jawa dan “bertarung” hasilnya tetap sama buruk. Kalah saya celaka, menang banyak musuh. Jadi saya coba ke Berau,” ungkapnya.

Melakukan perjalanan sendirian, membuat pria asli Jawa Timur ini tidak memiliki siapa pun saat sampai di Berau. Dengan sangat terpaksa dirinya harus menumpang tidur di pelataran Masjid Nurul Huda yang ada di Jalan Dr Murjani I. Hikmahnya, ia bisa sambil memulai hidup dengan mengajar mengaji satu dua orang anak yang datang ke masjid tersebut.

Cerita menjadi lain ketika ayah empat anak ini mulai dikenal masyarakat, setelah menjadi khatib jemaah salat Jumat menggantikan seseorang yang seharusnya. Ditambah lagi, entah bagaimana dirinya kemudian bertemu dengan seorang teman perantau yang juga satu daerah dengannya.

Mulai dari sana semua berubah. Pria yang sudah beruban ini tidak lagi tinggal di pelataran masjid. Bahkan untuk menyambung hidup, selain mengajar mengaji dirinya mulai berdagang. Singkat cerita, Sutompo berhasil mengumpulkan orang-orang yang sedia berjuang bersamanya di jalan kebaikan. Mulanya hanya dua orang, lambat laun menjadi 70 orang lebih yang dinamainya Jemaah Majelis Dzikir Al-Ikhsan pada waktu itu.

“Alhamdulillah, saya tidak sendirian lagi. Awalnya berat, karena saya meninggalkan istri dan anak. Saya tidak berani membawa mereka kalau akhirnya harus ikut susah bersama saya di sini. Baru tahun 2005 saya boyong semuanya ke Berau, dan selama itu saya ditemani oleh teman-teman majelis,” katanya.

Merasa belum berbuat banyak, pria kelahiran Lamongan, 24 Mei 1967 ini bermusyawarah dengan rekan-rekannya dan memutuskan untuk menggalang dana. Tidak besar, hanya Rp 10 ribu dan dipungut setiap Jumat. Sepuluh ribu itulah menjadi awal bagi Masjid Babussalam di Jalan Trans Sambaliung saat ini. Dana yang jumlahnya kian hari kian banyak digunakan sepenuhnya untuk sosial, termasuk pembangunan masjid.

“Awalnya kami berpikir sumbangkan saja untuk pembangunan masjid. Tetapi, kalau hanya itu maka tidak ada kelanjutannya lagi. Habis sampai di situ saja. Jadi kami sepakat tahun 2012 itu uangnya dibelikan tanah saja, Rp 50 juta waktu itu. Karena letaknya yang strategis kami sepakat di atasnya kami bangun masjid sendiri,” jelasnya.

Meskipun awalnya sempat tidak disetujui lantaran pihak kelurahan khawatir dirinya membawa ajaran sesat. Namun, pria yang kerap mengisi kerohanian di rutan ini pantang menyerah. Segala berkas ia tunjukkan untuk membuat Lurah percaya, bahwa ia dan kawan-kawan bukan pembawa aliran sesat, melainkan murni ingin berbuat kebajikan. Beruntung pada akhirnya pihak kelurahan percaya dan menyetujui. Akhirnya, dalam kurun waktu dua tahun, ia bersama dengan rekan majelis lainnya pelan-pelan kembali menggalang dana, hingga terkumpul Rp 100 juta. Dana tersebut dibelikan perkakas bangunan dan pada 2014 diletakkanlah batu pertama Masjid Babussalam.

Hingga saat ini, bangunan yang sudah berdiri dan hampir selesai dikerjakan ini menghabiskan dana sebesar Rp 1,7 miliar. Semua itu diperoleh melalui campur tangan banyak pihak. Mulai pemerintah daerah, perusahaan, hingga swadaya masyarakat yang dikumpulkan melalui kotak amal, yang tersebar di sejumlah warung dan swalayan. Pembangunannya pun selain dikerjakan oleh tukang, dibantu juga oleh masyarakat setempat termasuk dirinya sendiri bersama dengan rekan-rekan Majelis Dzikir Al-Ikhsan.

Sudah cukup berhasil dengan capaian yang demikian itu, pria yang kesehariannya disibukkan mengajar mengaji ini belum lagi merasa puas. “Manusia hidup itu memang seharusnya jangan cepat merasa puas, dan jangan sampai merasa puas. Tapi, puas dalam hal ini ya mengerjakan kebaikan dan memperbaiki diri. Kalau soal itu, sampai mati pun saya tidak akan merasa puas. Kalau senang, ya senang alhamdulillah,” ujarnya.(*/app)

 


BACA JUGA

Senin, 15 Oktober 2018 13:28

Hari Ini, Bantuan Diberangkatkan

BANTUAN kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sulawesi Tengah, melalui Posko Ikatan Kerukunan Keluarga…

Senin, 15 Oktober 2018 13:27

Gangguan yang Sangat Mengganggu

GANGGUAN pelayanan telekomunikasi, kelistrikan dan air bersih yang terjadi kemarin (14/10), turut disayangkan…

Senin, 15 Oktober 2018 13:26

Jasa Pelayanan ‘KO’ di Akhir Pekan

TANJUNG REDEB – Listrik padam, air tidak mengalir dan koneksi internet terputus, terjadi dalam…

Senin, 15 Oktober 2018 13:20

DKPP Sebut Belum Jadi Laporan

TANJUNG REDEB – Informasi dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oknum komisioner Komisi…

Minggu, 14 Oktober 2018 13:47

Presiden Bakal ke Maratua?

TANJUNG REDEB – Sejak mulai beroperasional pada akhir tahun 2017 lalu, akhirnya Bandara Maratua…

Minggu, 14 Oktober 2018 13:45

Saksi Adief Tak Hadir di Sidang

TANJUNG REDEB - Proses gugatan mantan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) PT Tirta Segah Adief…

Minggu, 14 Oktober 2018 13:44

Posko Masih Terima Bantuan

JELANG keberangkatan menuju Sulawesi Tengah untuk membawa berbagai bantuan dari masyarakat Berau, Posko…

Minggu, 14 Oktober 2018 13:41

Jangan Takut Lapor Jika Dirugikan

TANJUNG REDEB - Bukan hanya di Kabupaten Berau, laporan Partai Perindo terhadap oknum komisioner Komisi…

Sabtu, 13 Oktober 2018 14:01

Senin Bantuan Diberangkatkan

KEBERANGKATAN kapal pembawa bantuan yang dikumpulkan Posko Ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Tengah…

Sabtu, 13 Oktober 2018 13:59

Penyerahan Aset Jadi Penyertaan Modal (ke PDAM)

TANJUNG REDEB – Proses penyerahan aset dari  Pemkab Berau kepada Perusahaan Daerah Air Minum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .