MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Jumat, 19 Januari 2018 11:43
Pencegahan untuk Wabah Difteri, Vaksin Sangat Menentukan
AKTIF: Kabid P2PL Dinkes Berau Garna Sudarsono (dua kiri) bersama staf Bidang P2PL saat sosialisasi pencegahan difteri ke Puskesmas Suaran, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Beberapa daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), terjangkit wabah penyakit difteri. Dari rapat koordinasi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov), disepakati semua pihak harus berupaya melakukan pencegahan, pengendalian dan penanggulangan

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)  Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Garna Sudarsono kepada Berau Post, Kamis (18/1) kemarin.

“Maksudnya semua pihak itu diperlukan seperti swasta, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Majelis Ulama Indonesia (MUI), termasuk juga Organisasi Masyarakat,” ujarnya.

Lanjut Garna, dalam rapat juga dibahas harus adanya Outbreak Response Imunization (ORI) yang dilaksanakan dengan pertimbangan jumlah kasus, jika ada KLB. Kalau hanya ada satu saja atau dua yang terjangkit tidak perlu melaksanakan ORI.

“Kemudian cakupan imunisasi, kalau sudah di atas 95 persen sebenarnya ya tidak perlu lagi. Dan juga perlu ketersediaan logistik, artinya berupa vaksin difteri untuk imunisasi bagi masyarakat cukup atau tidak,” tegasnya.

Paling penting juga dijelaskan Garna pihak rumah sakit harus menyiapkan ruang isolasi. Dan khususnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai Tanjung Redeb, sudah tersedia.

Dikatakannya, suatu daerah yang terjangkit difteri, dinyatakan KLB itu apabila dianggap berpotensi meluas dan memerlukan bantuan sumber daya yang banyak, maka yang menyatakan KLB bukanlah dari kepala dinas, melainkan kepala daerah seperti bupati/walikota.

“Seperti kasus di Samarinda yang diketahui sudah positif terjangkit satu orang namun tetap belum bisa menyatakan KLB,” ucapnya.

Sedangkan untuk pelaksanaan sosialisasi oleh Dinkes Berau, Garna menegaskan, bahwa hal tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak awal dengan membuat surat edaran ke setiap puskesmas untuk peningkatan kewaspadaan, termasuk di dalamnya memberikan penyuluhan seperti melalui posyandu.

“Nah itulah bentuk sosialisasi dari kami, kata-kata sosialasi ini kan sebenarnya penyebaran informasi. Karena kalau kami mau bentuk sosialisasi dengan mengumpulkan orang bakal membutuhkan waktu. Tangan kanan kami kan puskesmas, nah jadi bisa diteruskan ke posyandu-posyandu. Namun mohon maaf memang tidak semua apa yang disampaikan oleh rekan kami di puskesmas itu tidak terserap oleh masyarakat, bisa kami maklumi karena keterbatasan tempat, dan waktu,” terangnya.

Sementara untuk mengantisipasi adanya difteri itu ditambahkan Garna memang memerlukan kewaspadaan yang tinggi. “Jadi memang mesti sistem kewaspadaan dini,” ucapnya.

Dituturkannya, tindakan pertama jika ada penderita yang dicurigai terjangkit difteri sebaiknya langsung melakukan verifikasi di rumah sakit untuk mengetahui kebenarannya, kemudian diisolasi jika telah dinyatakan difteri. Selanjutnya tata laksana, artinya pengobatan bagi pasien yang diisolasi sampai masa akut terlampaui, yang bisa berlangsung selama 2-3 pekan.

“Kemudian pemberian Anti-Difteri Serum (ADS), suportif dan simtomatis artinya gejala yang mengikuti itu apa, tindaklanjut setelah diberikan tindakan apakah ada reaksi atau tidak. Kemudian penanganan kontak, artinya orang-orang disekelilingnya seperti keluarga termasuk teman kerja,” ujarnya.

Dinkes sendiri diakui Garna-sapaan akrabnya- pun telah menyiapkan tim penanggulangan yakni tim gerak cepat.

“Dari pihak kesehatan kami sudah bentuk tim khusus yang juga diisi oleh personal dari rumah sakit,” bebernya.

Menurutnya, penyakit difteri ini adalah penyakit indemis yang bisa dicegah dengan imunisasi. Jadi kalau pelaksanaan imunisasinya sudah bagus, harusnya tidak perlu khawatir. Di Berau sendiri untuk Peningkatan cakupan imunisasi berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) se-kabupaten telah mencapai 101,85 persen, artinya target Dinkes 95 persen tercapai. 

“Hanya saja memang imunisasi kita ini masih ada saja orang-orang atau bayi yang tidak mau diimunisasi. Sebenarnya kan difteri ini yang paling rawan itu adalah bayi. Meski sudah 95 persen tapi bayi masih ada saja tidak melakukan. Rutin berimunisasi dan harus bergerak cepat. Jika puskesmas meragukan maka kita harus merujuk pasien itu ke rumah sakit,” terangnya.

Karena untuk mendiagnosa difteri ini tidak mudah. Buktinya saja Samarinda, rumah sakit terbesar dengan tipe A, dan memiliki dokter spesialis, baru satu kasus yang dinyatakan positif, yang lain masih menunggu hasil kultur dari Surabaya.

“Meski secara kasat mata kita nyatakan ini difteri tapi hasil kultur yang menentukan kalau itu difteri. Dari sekian banyaknya pasien, baru satu yang dinyatakan positif,” jelasnya.

Tambahnya lagi, faktor risiko yang perlu juga Garna sampaikan ialah, kepadatan penduduk. Hal ini juga bisa membuat mudah penyebarannya. Namun Berau belum sebegitu padatnya dibanding Samarinda, Balikpapan, dan pulau Jawa.

“Mobilisasi penduduk juga termasuk itu, karena pendatang di sini kan datang dan pergi tuh. Namun di Kaltim sudah 7 Kabupaten yang terkena, sisanya Berau, Mahulu dan Paser yang tidak terpapar, tapi diharapkan jangan sampai ada lah,” harapnya. (*/mar/app)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 13:21

Pelindo Tak Pernah Terima Permohonan Pandu

TANJUNG REDEB – Manajer Pelayanan Kapal Pelindo IV Berau, Manggi, menyebut tugboat Bintang Setiawan…

Selasa, 25 September 2018 13:18

Minim Jam Terbang, Tingkatkan Intensitas Latihan

Terbilang cabang olahraga baru dan kurang dikenal di Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau…

Selasa, 25 September 2018 13:17

Progres Perbaikan Masih 15 Persen

MARATUA – Perbaikan atas kerusakan beberapa fasilitas di Pulau Kakaban, belum menunjukkan progres…

Selasa, 25 September 2018 13:17

Hanya 1 Formasi untuk K2

TANJUNG REDEB – Menjelang dibukanya tahap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018,…

Senin, 24 September 2018 13:21

Terseret Tongkang, Tugboat Bintang Setiawan Terbalik

TANJUNG REDEB – Tugboat atau kapal tunda dengan nama lambung TB Bintang Setiawan 98, kandas di…

Senin, 24 September 2018 13:20

Gelar Pemusatan Latihan di Bidukbiduk

Cabang olahraga Dayung ingin tampil maksimal di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2018 di Kutim.…

Senin, 24 September 2018 13:19

Perekrutan Dilakukan Sekolah

TANJUNG REDEB – Sekretaris Dinas Pendidikan Berau Didi Rahmadi, mengakui jika instruksi presiden…

Minggu, 23 September 2018 15:32

Pusat Diminta Cari Solusi, Larangan Pemkab Mengangkat Guru Honorer

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Muharram, anggap keputusan Presiden Republik Indonesia yang meminta…

Minggu, 23 September 2018 15:30

Agendakan World Summit Coral Triangle di Maratua

TANJUNG REDEB - Banyak gagasan yang bisa dilakukan dalam mempromosikan Pulau Maratua di Berau, sebagai…

Minggu, 23 September 2018 15:26

Target Dua Emas, Yakin dengan Kualitas Atlet

Cabang olahraga wushu bukanlah cabang baru di Berau, khalayaknya Gateball maupun Woodball. Dua medali…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .