MANAGED BY:
MINGGU
17 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Sabtu, 20 Januari 2018 11:35
Harga Tinggi, Belum Tentu Inflasi
Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Dinas Pertanian dan Peternakan sebelumnya memastikan harga cabai di Berau masih bisa dikendalikan. Dengan catatan, produktivitas petani dan luasan lahan tanam cabai lebih dimaksimalkan. Selain dapat memastikan harga tetap stabil, juga untuk mengurangi risiko kenaikan inflasi.

Meski begitu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Berau Hobel Purba menyampaikan, saat ini untuk perhitungan inflasi Berau masih belum dilakukan dan masih mengikuti perhitungan Provinsi Kaltim. “Daerah tidak menghitung inflasi, sementara ini masih tetap menggunakan data inflasi Kaltim,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Sementara ini, BPS hanya melakukan survei harga perkampungan. Untuk harga cabai tiung misalnya, pada bulan November 2017 berkisar pada Rp 3 juta per 100 kilogram. Jumlah itu mengalami kenaikan sebesar Rp 500 ribu pada bulan Desember 2017 dan Januari 2018 ini.

“Kami survei harga cabai tiung dari produsen utama di Sambaliung. Sejak bulan Desembaer sampai Januari ini, masih Rp 3,5 juga per 100 kilogramnya. Jadi sekilonya Rp 35 ribu,” ungkapnya.

Dijelaskan Hobel, pada dasarnya semua komoditas bahan pangan turut mempengaruhi inflasi. Hanya saja, untuk bisa melihat itu, diperlukan perimbangannya masing-masing. Kalimantan misalnya, dengan biaya hidup yang memang cukup tinggi, akan dibutuhkan perimbangan yang tinggi pula untuk mengetahui seberapa tinggi terjadinya inflasi. Harga cabai tersebut pun, merupakan harga normal di Berau yang biasa didapat penjual melalui produsen utama.

“Kalau hanya melihat harga yang mengalami kenaikan, bisa saja kita bilang mungkin inflasi daerah juga naik. Tapi kita tidak bisa berdasar dari itu saja,” ujarnya.

Hanya saja, jika melihat perhitungan provinsi yang menggunakan diagram timbangnya masing-masing, bisa jadi malah mengalami penurunan. Mengingat inflasi Kaltim merupakan akumulasi dari berbagai daerah, sehingga di Kabupaten Berau tidak begitu terlihat signifikan besaran inflasi yang terjadi.

“Misalnya harga cabai dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 4 juta, terus data itu kita kirim ke provinsi, jelas perhitungannya sudah dipengaruhi oleh daerah lain kan. Bisa jadi akhirnya Berau ketutupan. Jadi tidak begitu terlihat apakah terjadi inflasi seperti yang kita pikir atau tidak,” pungkasnya. (*/ech/udi)

 


BACA JUGA

Sabtu, 16 Februari 2019 14:01

Percetakan Sawah Butuh Anggaran Besar

TANJUNG REDEB – Keinginan Kepala Kampung Sukan, Bunyamin untuk segera…

Jumat, 15 Februari 2019 14:30

Harga Murah, Petani Kesulitan Perawatan Tanaman

BATU PUTIH - Petani lada yang berada di wilayah pesisir…

Kamis, 14 Februari 2019 13:18

BUMK Campur Sari Lirik Kelapa Sawit

TALISAYAN – Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Campur Sari terus…

Kamis, 14 Februari 2019 13:13

Terkait Rute Penerbangan Berau-Jakarta, Wabup: Hukum Pasar Berlaku

TANJUNG REDEB – Tingginya dorongan Ketua Kamar Dagang dan Industri…

Rabu, 13 Februari 2019 11:44

Majukan Ekonomi Masyarakat

TANJUNG REDEB - Semarakkan Imlek dan Cap Gomeh 2019, Berau…

Selasa, 12 Februari 2019 13:35

Tingkatkan Perekonomian Petani

TALISAYAN – Pemerintahan Kampung Campur Sari, Kecamatan Talisayan memprogramkan pengembangan…

Sabtu, 09 Februari 2019 14:39

Penyaluran Gas Melon Terus Jadi Keluhan

BATU PUTIH – Tak hanya di Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan,…

Sabtu, 09 Februari 2019 14:36

Pangkalan Bantah Disebut LPG Selundupan

BIDUKBIDUK - Peristiwa terbakarnya salah satu Kapal Motor (KM) Amelia…

Jumat, 08 Februari 2019 13:38

Pasokan Aman, Penyelundupan Belum Ditemukan

TANJUNG REDEB - Kecelakaan kapal yang membawa tabung LPG di…

Rabu, 30 Januari 2019 13:36

Petani Bingung Jual Hasil Panen

SAMBALIUNG – Masyarakat Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung mayoritas merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*