MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 11 Februari 2018 11:11
Merelakan Ditinggal Anak, Cucu dan Menantu
Catatan: Dahlan Iskan

PROKAL.CO, SAYA sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.

Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00 waktu Saudi Arabia. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.

Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.

Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.

Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.

Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.

Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umrah mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.

Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.

Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umrah. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.

Sakit saya masih datang dan pergi. Pergi dan datang.

Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk rumah sakit di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.

Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit.

“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya. “Tidak kuat.”

Isna kembali utak-atik handphone. “Besok malam ada?” tanya saya.

“Ada juga,” jawab Isna.

“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”

Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?

Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.

Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘’anak besar’’.

Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.

Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.

Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umrah itu: Prof Rowena G. Hoesin, dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita.

Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.

Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.

Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robert yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robert yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.

Robert yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robert yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.

Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.

Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.

Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.

Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (*)


BACA JUGA

Minggu, 11 Februari 2018 11:24

Trauma sejak Umur 15 Tahun

“PAK, tolong bantu saya. Saya tidak kuat. Saya sudah tidak sanggup. Rasanya mau mati saja,”…

Sabtu, 10 Februari 2018 10:34

Lebih Menyiksa dari Sakit Jantung

SAYA jatuh sakit lagi. Serius. Sangat serius. Akhir Desember lalu. Saat menjalani umrah bersama keluarga.…

Jumat, 09 Februari 2018 13:10

Kendalikan Nafsu Makan Berlebih lewat Hipnoterapi

SALAH satu yang membuat diet berantakan adalah, sulitnya mengendalikan nafsu makan. Meski sudah ikut…

Kamis, 08 Februari 2018 11:49

Meraih Simpati Pemilih

DI dalam pelaksanaan pesta demokrasi 5 tahunan yang akan dilaksanakan di Bumi Etam Ruhui- sebutan Kalimantan…

Rabu, 31 Januari 2018 14:41

Lee Min Ho Ternyata Suka Menunda Pekerjaan

PUNYA banyak impian dan rencana pengembangan bisnis. Tapi, tak ada satu pun yang dikerjakan. Setiap…

Rabu, 31 Januari 2018 14:35

Gubernur Jadi Menteri Keuangan

SAMPAI beberapa waktu ke depan, DPR dan Kementerian Keuangan akan menggodok revisi Undang-Undang Nomor…

Minggu, 28 Januari 2018 11:45

Coklit Tidaklah Sulit

GENDERANG pilkada serentak tahun 2018 telah ditabuh. Aroma pertarungan politik berbalut rasa demokrasi…

Sabtu, 27 Januari 2018 09:17

PEMILIH CERDAS YANG BERKUALITAS

PERHELATAN akbar suksesi pemilihan kepala daerah, baik itu pemilihan gubernur dan wakil gubernur, pemilihan…

Sabtu, 27 Januari 2018 09:13

Pasien Diselamatkan Pikiran Bawah Sadar

MEDIA sosial heboh dengan video berdurasi 52 detik yang memperlihatkan Junaidi, perawat pria RS National…

Rabu, 10 Januari 2018 00:16

Trauma Pilih Kasih dan Harta Warisan

PILIH kasih bisa menyebabkan trauma. Sikap orangtua yang pilih kasih pada anak pada akhirnya memang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .