MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Senin, 12 Februari 2018 09:42
Mengisi Waktu Luang, Buktikan dengan Kreativitas

Cara KKMM Mengubah Nasib dan Melawan Himpitan Ekonomi

COBA PERUNTUNGAN: Eko Ismail (tiga kanan) bersama anggota KKMM menunjukkan hasil karya yang dibuat.

PROKAL.CO, “Kami ini orang kecil,” ucap Eko Ismail. Kalimat itu terlontar ketika pria berkulit legam itu membuka pembicaraan. Matanya nanar.

 

 

SUMARNI, Sambaliung

 

BANYAK yang berpikir bahwa usaha menjanjikan, hanya bagi orang yang bertempat tinggal di kota. Ternyata tidak demikian. Ada banyak sekali peluang usaha yang bisa dijalankan di desa. Yakni dengan dengan menciptakannya sendiri. Asalkan mau berusaha dan belajar mengembangkan diri untuk terus maju.

Seperti yang dilakukan oleh warga Kampung Suaran, kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau.

Pelopornya Eko Ismail. Pria berumur 39 tahun itu, ingin mengubah nasib koleganya di Kampung Suaran. Ia sedih. Selama ini, para kerabatnya di kanan dan kiri rumahnya, hanya berprofesi sebagai petani. Pendapatan pas-pasan. “Hanya orang kecil,” ucap Ketua Kerukunan Keluarga Margo Mulyo (KKMM) itu kepada Berau Post, Jumat (9/2).

KKMM didirikan 2016 silam. Tujuannya yakni mengubah nasib warga Kampung Suaran.

Meski belum besar, namun KKMM perlahan memberikan “angin surga” bagi keluarga tidak mampu yang bermukim di kampung itu. Meski kecil, tapi KKMM berharap bisa memberikan perubahan besar bagi keluarga tersebut.

Eko Ismail ingin membuktikan, bahwa warga kampung tersebut mampu mengubah keadaan. Terlepas dari himpitan ekonomi. Caranya, menghasilkan karya kerajinan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Awalnya, Eko menggandeng beberapa temannya untuk mulai mengisi waktu luang saat tidak sedang bertani. Eko menggandeng mereka dengan merintis bisnis kerajinan daur ulang.

Pria kelahiran 17 September 1978 itu menuturkan, bahwa usaha kerajinan limbah tersebut baru dirintis dua bulan yang lalu. Sehingga, penghasilan pun belum ada.

Eko mengaku belum puas. Karena pihaknya masih terkendala pada wadah yang bisa menampung para pengrajinannya. Sebab, produksinya masih dilakukan di rumahnya yang terletak di Jalan Raja Diwa Tinyu, RT 03 Nomor 75. Semua kegiatan produksi dilakukan di situ. Mulai dari memahat, melukis hingga membuat jajanan kuliner khas Suaran.

 “Belum bisa menopang, belum dapat dibilang tercukupi. Karena kendala wadah tersebut,” tuturnya.

Membuat kerajinan daur ulang sebenarnya, datang dari keprihatinan Indah (38) dan Susi (35) yang merupakan tetangga Eko.

Di tangan keduanya, sampah rumah tangga disulap menjadi karya bernilai tinggi. Seperti tas, dompet, wadah tisu, serta keranjang dan lain sebagainya.

Waktu pengerjaan satu jenis kerajinan tangan menghabiskan satu bulan. Karena proses pengumpulan bahan yang diperoleh dari bahan baku limbah seperti misalnya bungkus makanan dan minuman memakan waktu cukup lama. Proses bahan agar bisa diolah pun cukup lama. Karena ketika limbah itu dikumpulkan, masih harus dibersihkan. Dicuci dan dikeringkan. Menghabiskan waktu satu hari. Kemudian barulah digunting mengikuti pola kerajinan yang akan dibuat.

Indah menjelaskan, untuk membuat satu tas yang mampu mengangkat beban hingga 6 kilogram, membutuhkan ratusan bungkus bekas minuman seperti kopi atau jenis lainnya. “Pengerjaannya pun harus sesuai mood ya. Harus pandai menyesuaikan motif agar terlihat cantik,” ujar Indah.

Khusus untuk kerajinan seni rupa, dibuat oleh tangan-tangan pria di Kampung Suaran.

Maestro kerajinan yang berasal dari Kampung Suaran biasanya dikerjakan Sahidun (34) dan Kamalluddin (38). Keduanya mampu menciptakan seni ukir dengan beragam bentuk.

Seni ini sangat membutuhkan ketelitian dan tingkat fokus yang tinggi. Bahannya dibuat dari kayu ulas, pahit yang berasal dari pohon songga dan gaharu. Proses pengerjaanya diakui Sahidun dan Kamalluddin susah-susah, gampang. Untuk menyelesaikan satu jenis kerajinan, keduanya membutuhkan waktu 2-3 hari.

Salah satu karya yang paling sulit dikerjakan adalah membuat ukiran kepala naga. Jenis ukiran yang dikhususkan untuk gagang parang.

Meski hanya menggunakan peralatan sederhana, tapi di tangan Sahidun dan Kamalludin, kayu yang awalnya hanya berbentuk balok perlahan-lahan terlihat bentuknya.

Terkadang yang dihasilkan selalu berbeda ukiran. Karena semaunya tangan dan pikiran yang bergerak itu jadi terkadang berbeda. Namun bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli.

“Membuat seni tergantung pikiran dan imajinasi. Jadi langsung dibuat tanpa digambar dulu,” beber Sahidun.

Tidak sampai di situ, KKMM juga melahirkan dua orang pelukis andal. Mereka adalah  Ardimansyah (21) dan Sigit Arianto (25). Lukisan yang dihasilkan pun begitu indah. Padahal hanya  menggunakan  dari bahan dasar cat minyak biasa. Selain itu kanvas dan kuas tentunya.

Lukisan yang dibuat beragam. Seperti pemandangan, hewan, alam hingga wajah seseorang. Alirannya realis.

Untuk satu lukisan, baik Ardimansyah Arianto membutuhkan waktu pengerjaan dua minggu.

“Ya, karena perlu buat konsep awal. Namun bagian tersulitnya pada menghidupkan sebuah lukisan itu. Karena butuh kejelian,” tegas Ardimansyah.

Untuk pengerjaannya mula-mula dibentang satu buah kanvas putih. Kemudian membuat sketsa dengan pensil, Sebagai pola. Kemudian membuat dasar warna. Keringkan. Proses pengeringan tergantung angin dan cuaca. Jika cuaca sedang cerah hanya membutuhkan waktu 45 menit.

Setelah itu lanjut pewarnaan kedua. Lapisan warna untuk satu lukisan bisa sampai 2 hingga 3 kali. Tergantung pola dari lukisan dan motif yang dibuat. Semakin rumit semakin lama.

Terakhir yakni finishing. Yakni cara pelukis membuat lukisannya tampak hidup baik dari dasar hingga objeknya. Untuk hasil yang maksimal tunggu kering hingga satu hari. “Dan tahap yang terakhir yaitu pembersihan,” imbuh Ardimansyah yang masih berstatus mahasiswa itu.

Tidak hanya sebatas kerajinan tangan, Kampung Suaran yang juga terkenal dengan hasil buminya, juga dimanfaatkan dengan maksimal. Penggiatnya adalah Indin Wahyuningsi (34) dan Dali (39). Dua orang ibu itu, manfaatkan hasil bumi tersebut dengan mengolah berbagai macam jenis makanan ringan. Seperti keladi manis, keladi jepang, lembut sawit, stik jengkol, bonggol pisang, bonggol sawit, kripik tempe dan tahu mawar serta stik pepaya.

“Semuanya jenis kripik. Dan yang paling ribet jenis makanan bonggol pisang, karena harus melewati beberapa tahapan seperti dikupas sampai ketemu putihnya. Kemudian ditiriskan, lalu direndam selama satu hari. Sampai hilang kadar getahnya itu, barulah digoreng dengan tepung,” kata Indin.

Mengenai nilai-nilai ekonomi, harga satu lukisan dihargai KKMM Rp 1,5 juta tergantung tingkat kesulitan. Sedangkan untuk wajah seseorang dibanderol Rp 500 ribu. Sedangkan satu gagang ukir Rp 200 ribu. Sementara untuk kerajinan tangan anyaman mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 80 ribu. Namun makanan ringan diberi harga Rp 10.000 per bungkus.

Sayangnya, masih belum banyak permintaan atas hasil karya Kampung Suaran. Untuk makanan ringan pun belum bisa dipasarkan secara luas di toko tempat penjualan oleh-oleh khas Berau. Sebab, saat ini pihaknya masih menunggu persetujuan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia. 

“Semoga dalam waktu dekat usaha kami ini membuahkan hasil. Ini semua dilakukan demi mengubah nasib kami yang hanya orang kecil. Terlepas dari itu, kami juga membuktikan bahwa kami juga bisa membuat karya,” tutup Eko. (*/rio)


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 13:42

Segera Buka Seleksi Direktur PDAM

PENGADILAN Tata Usaha Negara (PTUN) telah memutuskan menolak gugatan mantan…

Senin, 10 Desember 2018 13:40

Keseharian Berubah, Jadi Lebih Disiplin dan Profesional

Meningkatkan kompetensi putra-putri daerah, bukan sekadar tanggung jawab pemerintah. PT…

Minggu, 09 Desember 2018 08:17

Jadi Gaya Hidup

TANJUNG REDEB – Perkembangan kopi dalam rentan waktu 40 sampai…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:51

Pelindo Cek Kedalaman Sungai

SAMBALIUNG – Pembangunan Pelabuhan Gurimbang oleh PT Pelindo IV, bakal…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:48

Kerugian Negara Rp 15,2 Miliar

TANJUNG REDEB – Penanganan kasus-kasus tindak pidana korupsi (tipikor) yang…

Jumat, 07 Desember 2018 13:34

Borong 12 Medali, Berau Juara Umum

TANJUNG REDEB – Cabang Olahraga Layar berhasil memborong 12 medali…

Jumat, 07 Desember 2018 13:32

Tanamkan Moral, Pelajar Jadi Sasaran

Suasana tegang biasanya mengiringi jalannya pelaksanaan lomba pidato yang digelar…

Jumat, 07 Desember 2018 13:25

Bupati Serahkan pada Kejaksaan

TANJUNG REDEB - Bupati Berau Muharram menyerahkan sepenuhnya persoalan dugaan…

Kamis, 06 Desember 2018 13:25

Sopir Truk Diperiksa sebagai Saksi

TANJUNG REDEB – Polisi masih mendalami penyelidikan kecelakaan maut di…

Kamis, 06 Desember 2018 13:23

Tambah Pengetahuan melalui Pelatihan Jurnalistik

Pendokumentasian sebuah kegiatan merupakan salah satu hal penting. Apalagi bagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .