MANAGED BY:
KAMIS
24 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 13 Februari 2018 00:04
Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas
Oleh: Dahlan Iskan

PROKAL.CO, SETELAH anak-menantu-cucu ke Makkah, tinggal saya dan istri di Madinah. Kesakitan. Tergolek di tempat tidur. Mereka terus memonitor sakit saya.

Saya bisiki istri agar mengatakan kondisi saya baik-baik saja. Agar tidak mengganggu kekhusukan mereka melakukan umrah. Toh sudah banyak dokter asal Surabaya yang bisa dihubungi setiap saat.

Saya juga terus dikirimi foto atau video saat mereka tawaf dan sya’i. Termasuk foto Azrul yang lagi berlinang di dekat Kakbah. Tapi saya hanya bisa melirik foto-foto itu sekilas.

Badan lemas. Perut masih agak sesak meski tidak seberat hari kedua. Napas masih berat meski kini sudah bisa bernapas sambil berbaring. Dada dan punggung masih nyeri tapi tidak sesakit hari kedua.

Malamnya ada ide tradisional: kerikan. Saya minta istri mengeriki punggung saya. Tidak ada alat kerik. Dipakailah sendok. Istri memotret hasil kerikannya: penuh garis-garis merah hitam di seluruh punggung saya.

Tapi tidak menolong.

Saya praktis tidak makan apa pun selama dua hari. Untuk mengistirahatkan pencernaan. Makanan terakhir saya ya lentil India dan kurma mentah itu. Yang sudah habis terbuang dalam bentuk muntah.

Prof Teddy, istri dan anaknya terus menengok saya. Melakukan pemeriksaan, memberi obat dan menenangkan jiwa. Saya ceritakan padanya hasil pemeriksaan di rumah sakit Madinah. Bahwa jantung saya prima.

Maka fokus kami pun ke pencernaan yang bermasalah. Apalagi sejak makan kurma mentah itu saya belum bisa buang angin. Belum bisa buang air besar. Sudah tiga hari. Dan belum bisa makan. Perut terasa penuh.

Kehadiran para dokter Surabaya di kamar saya itu membuat saya tenang. Lalu membangun semangat untuk bisa ke bandara. Pulang ke Indonesia. Tapi tanpa energi tidak mungkin bisa melangkah.

Saya pun berpikir apa yang bisa saya makan. Tentu makanan yang lembut. Jangan yang aneh-aneh. Sayangnya tidak ada peralatan untuk masak bubur. Tidak ada yang disuruh beli makanan lunak. Istri saya pun mengeluarkan kreativitasnya: mengambil nasi di restoran untuk dilembutkan.

Dilembutkan dengan cara bagaimana? Kan tidak ada ulek-ulek. Akhirnya nasi itu dimasukkan plastik. Diremas-remas sampai ludes. Lalu dipindah ke gelas. Ditambahkan air panas. Jadilah bubur hambar.

Demi mendapat energi untuk ke bandara. “Bubur remas” itu pun saya minum. Begitu lagi. Tiap dua jam istri saya meremas-remas nasi. Prof Teddy membekali saya obat. Untuk diminum setelah pesawat take off dari Madinah.

Sepanjang penerbangan saya tidur. Tidak minum. Tidak makan. Rupanya itu obat tidur. Agar saya tidak menderita sepanjang penerbangan Madinah-Jakarta.

Begitu mendarat di Juanda saya tidak boleh pulang. Langsung masuk rumah sakit. Saya sampaikan hasil pemeriksaan di RS Madinah: jantung prima, paru baik, dan tidak ada masalah dengan jantung.

Keluhan saya: perut sesak, dada nyeri, punggung sakit dan napas berat. Sudah empat hari tidak bisa buang angin dan tidak buang air besar. Kenyataan itu membuat dokter kian fokus ke pencernaan. Maag saya diduga bermasalah.

Saat Pimred Jawa Pos Nurwahid, menjenguk saya di rumah sakit, ternyata juga punya problem yang sama. Maka dia pun menyarankan agar saya minum tajin. Bahkan Nurwahid menegaskan di Redaksi Jawa Pos banyak yang terkena penyakit yang sama. Ah, berarti ini penyakit wartawan. Beberapa redaktur yang ikut menengok membenarkan kata-kata Nurwahid itu.

“Kalau begitu kita bisa bentuk paguyuban penderita maag,” kata saya.

Semua tertawa.

Sejak itu istri saya rajin membuat tajin. Mudah. Di Surabaya peralatannya lengkap. Tidak perlu meremas-remas nasi dalam plastik. Tiap dua jam saya minum tajin.

Robert Lai teman baik saya yang di Singapura terus memonitor keadaan saya. Dia terus mendesak saya agar ke Singapura. Saya tidak mau. Ini kan hanya urusan pencernaan. Pasti bisa teratasi.

Begitu saya ngotot tidak mau ke Singapura dia pun mengusulkan agar saya makan makanan tertentu. Orang di Tiongkok, dan orang Tionghoa di seluruh dunia, menjalani itu untuk mengatasi sakit maag.

Dia tidak tahu bahasa Inggrisnya apa. Dia hanya tahu istilah itu dalam bahasa Kanton. Dia juga tidak tahu bahasa Mandarinnya apa. Lalu saya minta Robert menceritakan proses pembuatan makanan khusus untuk orang maag itu.

Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa makanan yang dimaksud tidak lain adalah tajin!

“Saya sudah melakukannya dua hari ini,” kata saya. “Istri saya bisa buat.”

Robert pun tertawa ngakak.

Selama tiga hari di rumah sakit saya tetap tidak bisa buang angin. Tidak bisa buang air besar. Berarti total tujuh hari. Perawat sudah mengusahakan memasukkan obat lunak ke lubang dubur. Dua kali. Tetap tidak berhasil. Hari berikutnya perawat memasukkan cairan tertentu ke dalam dubur. Sampai dua kali. Juga tidak berhasil.

Malamnya saya putuskan untuk meditasi. Menarik napas panjang lewat hidung, menahannya di dada, dan mengembuskannya lewat mulut. Begitu terus sampai 99 kali. Sebanyak asma’ul husna. Sampai hitungan ke 40 saya kelelahan. Tapi saya teruskan.

Obat sudah tidak bisa mengatasi.

Pada tarikan napas ke 60 saya hampir jatuh tertidur. Saya paksakan sadar. Sampai akhirnya mencapai 99 kali.

Paginya saya bisa buang air besar. Tidak sulit sama sekali. Juga tidak keras. Saya tidak tahu apa hubungannya dengan meditasi.

Saya pun minta pulang. Dokter mengizinkan. Dirawat istri saya di rumah. Anak-anak saya belum pulang.

Tajin terus diproduksi. Dimasukkan termos. Tiap dua jam saya teguk.

Robert Lai terus mendesak agar saya ke Singapura. Dia sudah atur dokter ahli pencernaan terbaik di sana. Sudah pula punya jadwal apa yang akan dilakukan untuk saya: begitu tiba akan dilakukan pemeriksaan, lalu keesokan harinya akan dilakukan pemeriksaan perut dengan cara memasukkan peralatan ke dalam perut. Dimasukkan dari tenggorokan dan dari dubur. Dari situ akan lebih jelas apa sebenarnya yang terjadi di dalam perut saya.

Yang seperti itu di Surabaya juga bisa.

Sejak keluar dari rumah sakit, saya kembali tidak bisa buang angin dan tidak bisa buang air besar. Selama tiga hari lagi. Tajin terus melewati tenggorokan tapi perut terus sesak. Setelah tiga hari di rumah saya tidak tahan omelan.

Akhirnya saya putuskan: ke Singapura. (*/bersambung/udi)


BACA JUGA

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…

Minggu, 11 Maret 2018 00:14

Tebak-tebakan Tak Berhadiah

SAYA lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga…

Sabtu, 03 Maret 2018 11:28

Menebus Dosa Proyek Raksasa

PERSAHABATAN saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara. Robert…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .