MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Kamis, 15 Februari 2018 09:55
Keliling 33 Provinsi, Ingin Temukan Obat untuk Epilepsi

Cinta Masrani kepada Sang Buah Hati, Santi

CINTA ABADI: Masrani dan Santi saat beristirahat di Jalan Ahmad Yani, Tanjung Redeb, kemarin (14/2).

PROKAL.CO, Selama 18 tahun, Masrani mengayuh sepeda bersama anaknya Santi. Modalnya hanya Rp 50 ribu. Berkeliling Indonesia. Tujuannya mengayuh sepeda untuk mengobati sang buah hati yang sakit epilepsi.

 

SINJA LUKY, Tanjung Redeb

 

RAMBUT Masrani mulai memutih. Kulit di bagian wajahnya kian mengerut. Tanda ia menua. Semangatnya tapi tidak menua. Tua bukan berarti lelah. Sepedanya tetap dikayuh demi mengelilingi nusantara.

Hanya sebuah tape besar yang ditaruh di belakang sepedanya untuk menghibur Santi di kala kesepian.

Masrani yang berusia 49 tahun itu tak berhenti mengayuh sepeda demi menemukan orang agar dapat membantu penyembuhan Santi, sang buah hati.

Sebelum memutuskan berkeliling 33 provinsi, dirinya bekerja sebagai tukang becak. Istri yang melahirkan dua putrinya pun telah meninggal dunia. “Istri saya sudah lama meninggal, dan anak sulung saya sudah menikah dan meninggalkan rumah. Bukan anak saya tidak mau mengurus adiknya, hanya saja kehidupan mereka juga jauh dari kata layak,” ujarnya.

Diungkapkannya, ia sudah mengayuh sepedanya ribuan kilometer dari tanah kelahirannya di Banjarmasin. Perjalanan panjang. Dia mulai sejak 2000. Tak pelak ia telah menjejakkan kaki di ratusan kota dan kabupaten di Indonesia.

Perjalanan yang dia lakukan saat ini bukanlah tanpa tujuan. Selain mencari orang yang dermawan, juga demi menemukan obat untuk Santi. “Sebelum saya meninggalkan tanah kelahiran, saya meminta arahan kepada pemerintah. Selain tujuan saya mencari obat untuk anak, perjalanan ini juga membuat Santi melihat banyak tempat baru dan keramahan masyarakat dari berbagai wilayah, walaupun sekarang dia terpaksa putus sekolah,” ungkapnya.

Dikatakannya, hingga saat ini dirinya tak tahu berapa banyak orang yang membantu selama perjalanan. Sebab sejak meninggalkan Kalimantan Selatan, dirinya hanya makan dan minum dari pemberian orang yang merasa iba.

“Ada saja bantuan yang datang, entah berupa uang atau makanan dan minuman,” akunya.

Saat sedang lelah ia dan putrinya mencari masjid atau langgar untuk beistirahat. Meskipun tujuan dari perjalanannya ini sangat mulia, pria kelahiran Banjarmasin 22 agustus 1969 ini tidak pernah memaksakan keinginan anaknya untuk terus melakukan perjalanan.

Diakuinya masing-masing wilayah yang telah dia datangi memiliki ceritanya masing-masing. Namun hanya di Kabupaten Berau saja dirinya mendapat keramahan yang tak pernah dia dapat sebelumnya. Dalam perjalanannya selama 18 tahun, dia mengaku telah mengganti ban selama ribuan kali dan mengganti sepeda satu kali.

Tak jarang saat berada di perjalanan, putrinya yang mengidap epilepsi kambuh di jalan. Warga yang melintas pun ikut membantu. Namun saat sendiri , Masrani hanya bisa membaca salawat sambil memegangi tubuh buah hatinya.

Berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan masih banyak lagi lainnya sudah didatangi. Semua dilakukan hanya dilakukan dengan modal Rp 50 ribu.

Obat atau orang yang dimaksud Masrani untuk menyembuhkan anaknya bukan seorang dokter spesialis atau rumah sakit mewah dengan peralatan medis terbaik. Melainkan  hanya pengobatan alternatif.  “Puluhan dukun sudah saya datangi, namun hasilnya epilepsi Santi masih sering kambuh,” keluh berkulit legam itu.

Santi yang sejak kecil bersepeda dengan sang ayah tentu tak memiliki teman sepermainan. Hanya ayahnya saja teman mainnya selama ini. “Saya yakin ada obat yang bisa menyembuhkan anak saya. Walaupun tidak tahu, tapi saya belum berencana berhenti bersepeda. Setelah ini mungkin besok atau lusa saya akan melanjutkan perjalanan ke Kaltara,” tandasnya.

Di hari kasih sayang yang dirayakan di seluruh dunia, kemarin (14/2).  Mungkin, kisah Masrani kepada putrinya, Santi bisa menjadi kisah cinta abadi yang sesungguhnya. (*/rio)


BACA JUGA

Kamis, 26 April 2018 12:47

MTQ Tidak Ganggu Proyek Drainase

TANJUNG REDEB – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi tinggal menghitung…

Kamis, 26 April 2018 12:45

PU Janji Sentuh Jalan Kemakmuran

TANJUNG REDEB – Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Rahmad, memastikan…

Kamis, 26 April 2018 12:43

PAYAH..!! Mangkir dari Panggilan Kejaksaan, Manajemen PT KN Tunggak Pajak Daerah Rp 26 M

TANJUNG REDEB – Manajemen PT Kertas Nusantara (KN) yang berada di Mangkajang, Kampung Pilanjau,…

Kamis, 26 April 2018 12:41

Maksimal Rp 40 Juta, Bantuan Sosial untuk Korban Bencana

TANJUNG REDEB - Korban kebakaran atau bencana alam, bisa mendapatkan bantuan sosial (bansos) dari Pemkab…

Rabu, 25 April 2018 00:09

Pengawas Pulau Sambangi Berau

TANJUNG REDEB – Persoalan keamanan pulau-pulau terluar di wilayah Bumi Batiwakkal – sebutan…

Rabu, 25 April 2018 00:09

Bupati Juga Kecewa, Penghapusan Proyek Rel Kereta Api Kaltim dari PSN

TANJUNG REDEB - Bupati Berau Muharram, mengaku kecewa dengan penghapusan proyek rel kereta api di Kaltim…

Rabu, 25 April 2018 00:08

Berharap Dapat Jembatan Timbang

KEPALA Dinas Perhubungan Berau Abdurahman, menghargai masukkan Wakil Ketua DPRD Berau Anwar terkait…

Rabu, 25 April 2018 00:07

Larangan Konsumsi Kima Kurang Sosialisasi

TANJUNG REDEB – Wakil Ketua DPRD Berau Saga, tak menampik jika masyarakat pesisir masih mengonsumsi…

Selasa, 24 April 2018 11:50

Wisnu Haris Tutup Usia

TANJUNG REDEB - Mantan Staf Ahli Bidang Pembangunan Wisnu Haris (59), mengembuskan napas terakhirnya…

Selasa, 24 April 2018 11:48

Hanya Lima Sekolah Gelar UNBK

TANJUNG REDEB – Sebanyak 3.942 pelajar SMP sederajat, mengikuti ujian nasional kemarin (23/4).…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .