MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 16 Februari 2018 10:40
Valentine Berdarah
Oleh: Siti Aminah, Spd.I

PROKAL.CO, align="left">SEPERTIsudah menjadi tradisi bagi para pemuda mengadakan pagelaran bernuansa “cinta” pada bulan Februari. Katanya sih hari kasih sayang, yang mana sepasang pemuda dengan berdebar-debar menyiapkan momen Hari Valentine atau Valentine's Day, yang diperingati setiap 14 Februari.

Mulai dari mengadakan acara di sebuah hotel, di kafe, hingga di tempat sepi jauh dari permukiman penduduk. Tak lupa memesan kado berisi cokelat dihiasi pernak-pernik yang indah. 

Tak jarang, perayaan hari kasih sayang ini juga kebablasan. Dengan bercinta semalam suntuk.

Sungguh ironi. Malah di kota-kota besar, jajanan kondom laris manis terjual pada momen ini. Di luar negeri apalagi. Negeri yang mengadopsi gaya hidup kebebasan, seks bebas sudah menjadi hal biasa.

Momen kasih sayang atau Valentine's Day, mereka lakukan dengan bermesuman bersama pacar.

Lalu? Kasih sayang mana yang pemuda kita maksud? Apakah kasih sayang dengan melepaskan lajang bersama pacar. Apakah kasih sayang membiarkan kehormatan diri kepada pacar?

Sejatinya yang namanya kasih sayang, maka sepasang kekasih akan komitmen untuk sehidup-semati dalam ikatan pernikahan. Pembuktian cinta dan kasih sayang adalah dengan menikahi, bukan berpacaran. Sungguh akal yang terbalik, bila pemuda mengartikan kasih sayang dengan menyerahkan kehormatan kepada pacar di malam valentine. Apakah semurah itu harga diri seseorang? Apakah semurah itu harga segepok cinta?

Sebagai pemuda, seyogianya membuka mata, membuka telinga dengan lebar agar terbelalaklah dengan kebenaran sejarah. Sejarah telah menuliskan asal-muasal hari kasih sayang atau Valentine's Day, tidak lain dan tidak bukan berasal dari kebudayaan paganisme penyembah berhala di masa Romawi.

Penuh dengan perusakan aqidah dan kesyirikan di dalamnya. Rentan praktik kemesuman dengan berbalut kata cinta bertopeng kasih sayang, padahal hanya kamuflase praktik perzinaan.

Dahulu, Februari di peringati sebagai festival Lupercalia yang mana suatu permainan para pemuda memasukkan nama-nama perawan di dalam sebuah kotak, kemudian mengocok kotak tersebut. untuk setiap pemuda, nama perawan yang keluar wajib menjadi pasangannya selama setahun penuh.

Dalam permainan tersebut, pemuda bebas seutuhnya terhadap si perawan, dari mulai bermesraan hingga melakukan hubungan seksual layaknya pasangan suami-istri.

Asal-muasal momen valentine juga berasal dari kematian 3 Santo Valentine yang di hukum kaisar, akibat melanggar perintah kaisar dengan menikahkan pasangan prajurit yang saling mencintai. Sehingga Santo tersebut diberi hukuman yang berat, yakni hukuman mati.

Sejarah kelam muasal Hari Valentine yang ditutupi, laksana aib yang ditutupi hingga banyak sekali korban pemuda yang salah dalam mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayangnya pada kekasih yang belum semestinya mendapatkannya. Hanya sebatas pacar, tidak pantas untuk melakukan perbuatan yang hanya berhak dilakukan pasangan yang telah menikah.

Kerusakan yang sangat fatal di tubuh peradaban kita dari zaman dahulu hingga sekarang. Budaya valentine selalu turun-temurun dilakukan pemuda kita.

Padahal, media yang telah canggih memudahkan mereka dalam mencari informasi yang benar, cukup “berselancar” di Google, informasi yang diinginkan akan leluasa muncul dan tinggal sentuh untuk membaca artikel demi artikel.

Pembodohan publik dan pengaburan sejarah terkait valentine yang notabene bukan hari kasih sayang.

Seyogianya kehormatan diri dibuktikan dengan akad pernikahan. Tidak benar dan sangat dilarang dalam agama dan adat ketimuran yang kita anut, yang begitu menjunjung tinggi sebuah kehormatan seseorang.

Namun pada Hari Valentine seolah murah sekali harga dari sebuah kehormatan. Atas nama cinta, atas nama kasih sayang, rela korbankan mahkota diri kepada sang pacar yang bukanlah siapa-siapa. Termasuk kebodohan dan keterbelakangan berpikir bagi pemuda yang masih saja melakukan budaya valentine ini.

Barangkali, bulan Februari bisa disebut hari tanggalnya kehormatan pemuda.

Melalui tulisan singkat ini, penulis mengajak pembaca agar kembali memahami apa sebenarnya makna kasih sayang yang sebenarnya? Apakah hanya di bulan Februari kita memperingati kasih sayang? Tidak mungkin kan.

Makna kasih sayang pun demikian luas. Mari berkasih sayang dengan keluarga kita, seperti menyayangi ayah dan ibu dengan memberikannya sebuah hadiah, memberikan hadiah kepada adik atau kakak yang kita sayangi, sangat bermanfaat ketimbang memberikan kasih sayang kepada orang yang bukan siapa-siapa kita. Berkasih sayanglah setiap saat, membantu keluarga dan orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. Sehingga semakin dekat dan baik hubungan bersama keluarga. Semakin terasa kebermanfaatan kita di tengah keluarga. Yang mana di zaman sekarang, hubungan keluarga telah tergantikan dengan gadget. Gadget menjadi keluarga utama di mana saja. Dengan mendekatkan diri memberikan sesuatu atau hadiah untuk keluarga akan memberikan energi positif untuk keharmonisan dalam keluarga.

Mengajak kepada pembaca agar tidak sekadar membaca, tetapi menyampaikan kepada sahabat dan keluarga yang lain, agar budaya kasih sayang Hari Valentine, tidak turun-temurun dilakukan generasi pemuda kita. Akan dibawa ke mana generasi kita bila kerusakan moral selalu terjadi setiap saat, karena tidak ada timbal balik dalam menyampaikan suatu informasi yang sebenarnya terjadi.

Jauhkan keluarga kita dari budaya ikut-ikutan, budaya asal saya senang sebelum tahu asal-muasal sejarah suatu momen atau kegiatan.

Agar generasi tidak tergiring kepada momen bersejarah yang keliru. Sehingga sebagai sahabat dan keluarga, agar memutus mata rantai kebobrokan moral di bulan kasih sayang dengan menjadi penyampai yang baik dan santun.

Akhirnya, melalui tulisan singkat ini, semoga bermanfaat dan membuka cakrawala berpikir, membuka wawasan bapak, ibu pembaca koran tercinta kita. (*)

*) Penulis seorang aktivis Muhammadiyah, aktivis IMM, alumni STIT Muhamamdiyah  dan pengajar di SD Muhammadiyah Tanjung Redeb

 


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 14:14

Manjakan Pejalan Kaki

MINIMNYA anggaran di tahun 2018 ini, tak berarti Pemkab Berau…

Minggu, 09 Desember 2018 08:21

Catatan Pak Daeng

DATANGLAH ke Talisayan. Banyak hal menarik yang bisa disaksikan.  Bukan…

Jumat, 07 Desember 2018 13:29

Sedikit Lagi, Kata Pak Dahlan

ENTAH seberapa banyak bedanya, ketika Pak Dahlan Iskan membandingkan Bandara…

Jumat, 30 November 2018 13:59

Manajemen Pendidikan di Indonesia

“PEMIMPIN yang tak melakukan kesalahan adalah pemimpin yang tak melakukan…

Sabtu, 24 November 2018 13:44

Peran Sektor Pariwisata di Indonesia

”MASALAH ekonomi Indonesia sudah terlalu ruwet dan ribet. Tidak bisa…

Sabtu, 17 November 2018 11:38

Authentic Relationship Membentuk Karakter Positif

APA itu Authentic relationship? Istilah ini dari bahasa Inggris. Bila…

Rabu, 31 Oktober 2018 00:42

Masyarakat Tanpa Miras

MINUMAN keras atau minuman beralkohol jelas hukumnya haram dalam pandangan…

Minggu, 28 Oktober 2018 11:41

Tolak Bala

BELAKANGAN ramai status media sosial masyarakat Pulau Maratua tengah mengadakan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:36

Hujan Jadi Berkah bagi Petani Sayur

TANJUNG REDEB - Hujan yang terus mengguyur Tanjung Redeb dan…

Jumat, 26 Oktober 2018 13:34

Mengenal Bendera Islam

PERINGATAN Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, Senin…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .