MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Minggu, 18 Februari 2018 11:04
Beringas di Kebun Nanas, Tersangka Sempat Kelabui Polisi

Melakukan Penelusuran Terhadap Pembunuh Orangutan di TNK

KUMPULKAN PETUNJUK: Tim gabungan dipimpin Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Yuliansyah melakukan identifikasi penembakan orangutan di pondok milik Hanas di TNK, Rabu (14/2).

PROKAL.CO, Penembakan orangutan di Taman Nasional Kutai (TNK) berhasil diungkap tim gabungan Polres Kutim dan Polda Kaltim dalam waktu 11 hari. Kaltim Post (induk Berau Post) secara eksklusif turut dalam pengungkapan sejak Rabu (14/2).

 

//////

 

YULIANSYAH tak henti-hentinya menarik napas. Air mineral 600 mililiter di tangan kiri Kasat Reskrim Polres Kutim itu perlahan menyusut. Cuaca di Taman Nasional Kutai (TNK) Rabu (14/2) siang begitu terik. Tak ada bekal selain air mineral. Rombongan juga membawa kamera dan perangkat global positioning system (GPS).

Ini adalah kali keempat personel Polres Kutim dan Polda Kaltim menyambangi TNK. Kematian orangutan dengan 130 luka tembak membuat aparat berseragam cokelat itu dalam tekanan. Pertanyaan tentang progres penyelidikan mengalir deras dari kantor Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK).

Akhir Januari lalu, seekor orangutan ditemukan sekarat oleh pemilik kebun nanas di kawasan TNK, Nasir. Dengan menunjukkan wajah polosnya, Nasir melansir laporan kepada petugas taman nasional. Dia juga aktif dan kooperatif saat dimintai keterangan. Jadi, petugas sempat yakin pria itu tak berandil atas tewasnya primata dilindungi tersebut.

Sayangnya, ilmu Nasir tak cukup tinggi untuk mengelabuhi petugas. Puluhan petunjuk mengarah kepada dirinya sebagai aktor penembakan. Petunjuk itu pula yang membawa Nasir ke balik jeruji Mapolres Kutim, Jumat (16/2) siang.

Nasir tak sendiri. Tiga keluarganya menjadi rekan kejahatan; Andi (menantu), Hendri (cucu), dan Rustam (adik). Satu tersangka lagi adalah Muis, pemilik salah satu pondok sawit tak jauh dari TKP. Penembakan brutal dilakukan dengan alasan orangutan memakan hasil panen kebun nanas.

”Tersangkanya ada lima orang. Sudah kita amankan," ujar Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan melalui Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Yuliansyah, kemarin. Lima tersangka dijemput anggota Reskrim Polres Kutim.

Keputusan diambil setelah empat kali olah TKP di kawasan TNK. Mereka berjalan kaki 7–10 kilometer di kawasan TNK. Di sekitar lokasi penemuan orangutan yang ditembak. Satu demi satu pondok kebun warga didatangi. Kemudian mencari dan menelusuri jejak lintasan orangutan di area perkebunan sawit yang rimbun. Temuan kemudian mengarah kepada Nasir cs, yang sudah lebih dulu berstatus saksi.

Sejumlah barang bukti disita. Seperti senapan angin dan peluru timah. Melengkapi dokumen hasil otopsi. Lebih dari 20 peluru dilepaskan dari senapan angin milik Nasir. Mereka melakukan aksinya, Sabtu (3/2) lalu. Dari pondok kebun nanas milik Nasir.

Orangutan yang mendekati kebun diberondong dengan senapan angin. Jaraknya sekitar 100 meter. Primata itu semakin terpojok, sempat memanjat sebuah pohon tak jauh dari pondok. Masih terlihat bekas gigitan orangutan di pohon setinggi 7 meter itu.

Pesta tembakan tersebut diduga baru berakhir ketika orangutan terjatuh di sungai yang disebut dihuni banyak buaya. Di sekitar pohon juga masih terdapat patahan pohon lain yang menjadi petunjuk bahwa orangutan tersebut sempat beraktivitas di sana. "Saat ini tersangka sudah ditahan. Masih terus dilakukan pemeriksaan," tambah Yuliansyah.

Masuknya orangutan ke kebun Nasir bukan tanpa alasan. Ditengarai, hewan dilindungi itu lebih dulu tersesat di kawasan kebun sawit. Berbulan-bulan. Selain ditemukan tiga sarang orangutan di tengah perkebunan sawit di TNK, lokasi hutan yang menjadi habitat awal juga masih sangat jauh.

Sementara itu, orangutan tersebut juga pernah membuat tiga sarang yang berdekatan dengan kebun nanas lainnya. Petugas TNK menyebut, kawasan kebun Nasir dan ribuan hektare sawit juga masuk dalam kawasan TNK. Hal itulah yang juga disebut-sebut menjadi pengganggu habitat orangutan yang semakin berkurang.

SETELAH EMPAT KALI SISIR HUTAN

Deru mesin Toyota Avanza putih memecah keheningan di halaman rumah Nasir, Rabu (14/2) pagi. Di sinilah titik berkumpul rombongan petugas yang akan melakukan olah TKP yang keempat kalinya. Saat itu pukul 11.05 Wita. Setidaknya ada lima mobil lain yang bergabung. Selain tiga awak media Kaltim Post, tim gabungan telah tiba. Yaitu, dari Polres Kutim, Polda Kaltim, petugas TNK, serta perwakilan Centre for Orangutan Protection (COP) yang dilibatkan sebagai ahli orangutan. Belasan orang yang telah berkumpul itu di bawah komando AKP Yuliansyah.

Setelah mengenakan sepatu safety, rombongan mengawali identifikasi dengan berdoa. Kemudian berjalan kaki dalam dua tim. Sejumlah anggota Polres Kutim berpakaian sipil disebar ke rumah-rumah penduduk di sekitar TNK. Lainnya berjalan kaki mengawali proses olah TKP di lokasi penemuan orangutan. Di sana ditemukan sejumlah fakta yang memperkuat petunjuk awal penyidik. Berbekal sketsa lokasi kawasan TNK yang telah diisi kebun warga, polisi lalu memulai diskusi.

Dilihat dari area penemuan orangutan, tampak jarak bentang danau cukup jauh. Jika tidak dalam posisi terdesak, orangutan yang tidak bisa berenang, dipastikan tak bakal terjun ke danau. Hal itu menjadi anomali lantaran orangutan tersebut justru ditemukan pertama kali di kawasan danau. "Pasti ada sesuatu yang menyebabkan dia ke danau ini," ujar Linus, relawan dari COP.

Tak jauh dari lokasi, terdapat pohon-pohon yang berdiri kukuh di tengah danau. Terdapat patahan pohon yang juga diduga bekas orangutan berupaya menyelamatkan diri. Tak hanya itu, lokasi gigitan juga ditemukan sangat jelas di salah satu pohon. Diduga, orangutan tersebut sempat jatuh dari pohon sehingga menyebabkan luka sobek di tubuhnya.

Hanya selang beberapa puluh meter, terdapat kebun nanas dan pondok milik Nasir. Kecurigaan polisi terhadap penembakan yang dilakukan dari titik ini pun mencuat. Pasalnya, jarak tembakan senapan angin dengan pohon tak begitu jauh. Apalagi, orangutan juga menyukai buah-buahan seperti nanas.

Meski telah mendapat petunjuk kuat, polisi lebih dulu menyisir kawasan TNK yang kini telah menjadi kebun sawit. Lokasinya di seberang danau, dan dipastikan menjadi lintasan orangutan sebelum menuju kebun nanas milik Nasir. Tim kemudian beringsut ke sejuh pondok dengan berjalan kaki.

Pondok sawit milik Hanas disambangi pertama kali. Di sana, polisi melakukan identifikasi serta pengambilan titik koordinat untuk kepentingan pemetaan. Satu biji buah sawit juga diambil untuk diuji di laboratorium. Kemudian, dicocokkan dengan varietas yang ditemukan di lambung orangutan saat dilakukan otopsi. "Semua sampel akan kita lakukan pengujian," ujar Yuliansyah.

Perjalanan dilanjutkan menuju pondok milik Muis yang diduga turut mengusir orangutan saat masuk ke kawasan sawit miliknya. Dari lokasi ini, Muis disebut sempat melihat langsung orangutan yang masuk ke kebun sawit miliknya. Merasa terganggu, dia pun turut memberondong tembakan kepada orangutan. Lokasi pondoknya juga berada tak jauh dari danau ditemukannya orangutan.

Dengan menempuh ratusan langkah kaki, tim mendatangi sejumlah pondok lain. Yaitu, pondok Haji Amir, Suwardi, dan Sofyan. Ketiganya merupakan pemilik pondok di kawasan kebun sawit yang dijaga. Di pondok Sofyan, polisi menemukan senapan angin yang telah rusak. Hanya, di lokasi ini, polisi tidak menemukan barang bukti kuat yang mengaitkan Sofyan sebagai tersangka.

"Saya pernah melihat orangutan waktu pertama kali ke sini. Dulu diusir-usir warga yang sedang merintis lahan. Tapi diusir dengan cara diteriaki saja," ujar Sofyan saat berada di rumahnya.

Dari mulut Sofyan ini, tim akhirnya kembali mendapat petunjuk. Ditengarai orangutan telah tersesat di kawasan sawit selama berbulan-bulan. Pasalnya, penampakan orangutan tersebut dia akui sekitar enam bulan lalu. Pernyataan ini dianggap masuk akal. Lantaran juga terdapat tiga sarang orangutan yang masuk dalam kategori tiga. COP menyebut, sarang dengan kategori tiga berarti telah dibuat lebih dari empat bulan. Lokasi penemuan sarang orangutan tersebut berdekatan dengan kebun nanas.

Kaltim Post merekam tiga gambar sarang orangutan yang berada di lokasi tersebut. Dilihat dari karakternya, ternyata juga ada kesamaan dengan sarang orangutan yang ditemukan tewas. Diduga, di lokasi penemuan itu, orangutan sempat ingin membangun sarang dekat kebun nanas milik Nasir. Naluri bertahan hidup orangutan sangat kuat, dengan cara membangun sarang di dekat sumber makanan.

Dalam olah TKP di sini, sedikitnya polisi mengamankan lima sampel buah sawit. Berdasarkan alat khusus yang dibawa, setidaknya 824 kali petugas melangkahkan kakinya dalam proses olah TKP tersebut.

"Di lokasi ini sarangnya juga dekat dengan kebun nanas. Sama dengan lokasi di tempat kebun Haji Nasir," ujar petugas. Dari kesimpulan yang diperoleh polisi, orangutan tersebut masuk dari habitat awal yang berada lebih dari 10 kilometer menuju kawasan sawit.

Ironisnya, kawasan sawit tersebut ternyata juga masih masuk kawasan TNK. Petugas TNK pun tak menampik, mereka bahkan menyebut sudah sering melakukan sosialisasi kepada warga, namun tak juga diindahkan. "Iya, ini memang masih masuk TNK. Sudah sering kami peringatkan warga sini," ujar Deden, pegawai pengelola pengendali ekosistem TNK yang ikut olah TKP.

Untuk melengkapi bukti, polisi juga menggunakan hasil foto udara yang diambil awak Kaltim Post. Foto tersebut dianggap sangat membantu untuk mendiskusikan jejak orangutan di kawasan itu. Kemungkinan terjadinya kasus orangutan yang tersesat pun muncul. Orangutan yang jadi korban penembakan diduga hanya melihat buah-buahan yang menjadi makanannya.

"Orangutan ini tidak mengerti apakah buah itu milik warga atau bukan. Sebab, dia mengira itu adalah masuk dalam kawasan hutan," ujar Linus, relawan COP.

Kepala Balai TNK Nur Patria Kurniawan memastikan lokasi penemuan orangutan berada di dalam TNK. Bukan Areal Penggunaan Lain (APL). Merujuk peta TNK, tempat tersebut berjarak 80–100 meter dari batas APL. Disinggung mengenai kebun sawit dan nanas yang berada di wilayah itu, Nur mengutarakan hal itu melanggar. Namun, untuk menindaknya tidak mudah. Mengingat, warga sudah lama berada di kawasan itu. “Kebun masuk situ. Padahal masih berada di dalam TNK,” katanya ditemui Selasa (13/2) lalu.

Lokasi APL saat ini hanya bisa diketahui dari peta. Namun belum ada tata batas. Nur mengungkapkan, kewenangan pematokan berada di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH). Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Kutai Timur, diketahui APL tersebar di wilayah Kecamatan Sangatta Selatan dan Teluk Pandan. Yakni, Desa Singa Geweh 517 hektare, Desa Sangatta Selatan 3.847,78 hektare, Desa Sangkima 262,12 hektare, Desa Sangkima Lama 679,35 hektare, Desa Teluk Pandan 1.299,06 hektare, Desa Kandolo 821,29 hektare, dan Desa Martadinata 419 hektare.

Sementara itu, untuk Desa Sukarahmat, pelepasan kawasan dari Hutan Lindung seluas 370,74 hektare. Lalu, Desa Sukadamai seluas 107,62 hektare yang terdiri dari 16,24 hektare APL dan 91,38 hektare hutan produksi konservasi (HPK). Serta Desa Danau Redan pelepasan kawasan Hutan Lindung menjadi HPK seluas 465,27 hektare.

Mencuatnya kasus ini membuat pihaknya semakin berupaya keras agar perambahan TNK tidak semakin meluas. Salah satunya, berkoordinasi dengan petugas kepolisian untuk menyikapi perkebunan ilegal tersebut. “Kami juga bertanya, siapa yang mengizinkan mereka,” terangnya.

Berdasarkan peta Nilai Penting Kawasan TNK yang dikeluarkan tahun lalu, TKP memang berdekatan dengan habitat orangutan. Hal ini sejalan dengan pengakuan Nur yang menyebut bahwa populasi mamalia itu berada di pinggiran TNK. “Sebenarnya di tengah. Tapi setelah ada jalan poros Bontang-Sangatta posisinya jadi di pinggir. Padahal, sejak dulu itu memang habitat mereka,” katanya. (timkpg/rio)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 15:07

KPU Jangan ‘Cuci Tangan’

TANJUNG REDEB – Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau yang tetap menilai H Rustan telah…

Rabu, 19 September 2018 13:02

Bupati Akui Angka Kesejahteraan Masyarakat Menurun

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Muharram menyoroti menurunnya angka kesejahteraan masyarakat di Bumi…

Rabu, 19 September 2018 12:58

Menteri Tantang Bupati

TANJUNG REDEB – Mendapatkan penghargaan sebagai kabupaten layak anak tingkat pratama, Menteri…

Rabu, 19 September 2018 12:57

Pelaku Atraksi Maut Divonis 1 Tahun

TANJUNG REDEB – Dua terdakwa kasus atraksi maut pada momen perpisahan santri kelas IX Madrasah…

Selasa, 18 September 2018 16:43

Yakin Bawa Pulang Tiga Medali Emas

Cabang olahraga Muay Thai merupakan salah satu cabor yang nyatakan kesiapannya di ajang Porprov 2018…

Selasa, 18 September 2018 16:40

Muncul Koperasi TKBM ‘Tandingan’

TANJUNG REDEB – Polemik antara buruh Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Tanjung…

Selasa, 18 September 2018 16:39

12 Juli, Rustan Mundur dari Gerindra

Polemik mengenai Pergantian Antar Waktu (PAW) Firmansyah, membuat komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU)…

Selasa, 18 September 2018 16:33

Internal Demokrat Berau Memanas

TANJUNG REDEB – Keputusan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Berau yang menunjuk…

Selasa, 18 September 2018 16:20

Berpuasa, Widi Tertidur saat Berkendara

TANJUNG REDEB – Enam pengendara roda dua dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul…

Senin, 17 September 2018 15:27

Mogok Kerja Merugikan Masyarakat, K2 di Berau Diimbau Tak Ikut-ikutan

TANJUNG REDEB – Kembali mencuatnya rencana honorer kategori 2 (K2) se-Indonesia menggelar aksi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .