MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

SANGGAM

Selasa, 20 Februari 2018 09:40
Albothyl Ditarik dari Pasaran
IZIN EDAR DICABUT: Staf Dinkes mengamankan Albothyl yang beredar di sejumlah apotek.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Setelah menghentikan peredaran dan izin produksi Viostin DS dan Enzyplex yang mengandung DNA babi, kali ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat, karena penggunaan policresulen di dalamnya.

Kepala Dinas Kesahatan (Dinkes) Berau Totoh Hermanto, mengatakan akan meneruskan siaran pers BPOM tersebut, dan meminta kepada seluruh apotek atau toko obat agar tidak lagi menjual tiga jenis obat yaitu Viostin DS, Enzyplex, dan Albothyl. Selanjutnya mengganti dengan obat pilihan lainnya.

“Untuk itu kami berharap masyarakat serta pengelola toko obat dan apotek di Berau juga ikut mentaati intruksi dari BPOM,” ungkapnya.

Dijelaskan Totoh, merk suplemen Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dan Enzyplex Tablet produksi PT Mediafarma Laboratories positif mengandung DNA babi. Sampel produk yang tertera dalam surat tersebut adalah Viostin DS produksi PT. Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771, nomor bets BN C6K994H, dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101.

“Jadi hasil pengambilan sampel yang dilakukan BPOM dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa produk di atas terbukti positif mengandung DNA babi. Dari pengawasan yang kami lakukan, sudah tidak ada lagi apotek atau toko obat yang menjual dua jenis suplemen makanan tersebut,” tegas Totoh.

Selain itu, Dinkes Berau juga mulai menginformasikan ke apotek terkait pemantauan Albothyl, dalam 2 tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan, di antaranya efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi.

Diterangkan Totoh, BPOM juga telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT) sariawan (stomatitis aftosa) dan gigi (odontologi).

“Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi di sarana pelayanan kesehatan terdekat,” terangnya.

Ditegaskannya, setelah ini, apabila masih ada apotek atau toko obat yang masih menjual tiga jenis obat tersebut dalam waktu satu bulan setelah mendapat surat terusan dari Dinkes, maka pihaknya akan memberikan teguran. (sin/app)


BACA JUGA

Jumat, 16 Mei 2014 20:12

Bulan Terang, Bagan Kapal Libur Melaut

<div> <div style="text-align: justify;"> <strong>TALISAYAN - </strong>Hasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .