MANAGED BY:
RABU
15 AGUSTUS
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 21 Februari 2018 12:49
Semakin Sulit Didapatkan, Diduga karena Kerusakan Ekosistem Laut

Kisah Para Pencari Balelo di Kampung Giring-Giring

HINGGA TENGAH LAUT: Dua orang warga mencari kerang di tepi pantai Bidukbiduk, Minggu (18/2).

PROKAL.CO, Jika berkunjung ke wilayah pesisir selatan, tak lengkap jika sekadar menikmati pemandangannya saja. Memang objek-objek wisata di sana sangat indah. Terlebih di Bidukbiduk. Namun, satu yang tak boleh dilewatkan adalah mencicipi makanan khasnya. Seperti kerang. Atau yang dikenal dengan sebutan balelo oleh masyarakat di Kampung Giring-Giring.

 

AGUS PRASETYO, Bidukbiduk

 

SEMILIR angin membuat perasaan teduh ketika menginjakkan kaki di Kampung Giring-Giring, Kecamatan Bidukbiduk.

Matahari mulai meninggi. Teriknya matahari menyengat hingga kulit. Namun, itu bukan penghalang para pencari kerang atau balelo.

Di tepi pantai Bidukbiduk, sejumlah warga sibuk memeriksa pasir. Di balik air laut yang jernih bersembunyi balelo.

Balelo sendiri kerap dijadikan makanan oleh masyarakat Kampung Giring-Giring. Minat masakan khas itu dari para wisatawan yang mengunjungi kecamatan paling ujung di wilayah pesisir selatan di Berau pun cukup banyak.

Hal itu menjadi peluang para masyarakat untuk berburu balelo. Terutama ketika pantai sedang surut. Seperti Minggu (18/2) lalu.

Jumiati adalah salah seorang warga yang sering mencari balelo di kala air laut tengah surut. Ia mengungkapkan, sering mendapatkan pesanan dari luar luar Kampung Giring-Riring. “Banyak yang pesan, seperti dari Talisayan hingga Tanjung Redeb,” ujarnya kepada Berau Post.

Balelo ucapnya nikmat untuk dikonsumsi. Selain karena rasa dagingnya, teksturnya juga kenyal. Bahka, balelo menjadi kerang paling disukai oleh warga di sana.

Namun, saat ini sulit untuk mendapatkan balelo. Tidak seperti dulu. Mudah mendapatkannya.

Dahulu, saat air laut sedang surut, Jumiati hanya perlu menggali pasir pantai, lalu terlihatlah balelo bersembunyi. Kini keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan. Ia bersama warga lainnya, harus lebih ke tengah laut untuk mencari balelo. “Sekarang harus berjalan hingga ke tengah,” terangnya.

Ia juga tak tahu mengapa balelo kini sulit ditemukan. Ia menduga karena ekosistem laut kini sudah rusak. Di bom oleh para nelayan dari luar Kalimantan. Hal itu, diakui Jumiati turut memengaruhi jumlah balelo.

“Salah satu penyebabnya itu karena bom itu. Rusak semua bawah laut. Seperti sekarang kalau mau mancing saja hitungan jam belum tentu dapat ikan. Dulu itu baru saja meletakan kail pancing sudah ada ikan yang makan umpan,” terangnya.

Di tempat yang sama, Hasni salah seorang yang baru menekuni pekerjaan mencari balelo mengaku, menjalaninya karena permintaan dari pengusaha rumah makan dari luar Kampung Giring-Giring. Ia mencari balelo setiap hari. Saat air laut sedang surut.

“Banyak yang pesan, jadi setiap hari mencari. Yang pesan itu ada dari Tanjung Redeb dan Bulungan, dan semua itu rata-rata pengusaha rumah makan,” tuturnya.

Selain permintaan yang tinggi, pekerjaan sebagai pencari kerang ditekuninya demi menambah pemasukan bagi keluarganya. “Biasanya kami menjual balelo yang sudah dibersihkan. Sudah siap di masak,” terangnya.

Satu bungkus balelo yang dibungkus dengan plastik dijual Rp 30 ribu. Setiap hari Hasni bisa menjual 6 sampai 10 bungkus. Rata-rata ia bisa mendapat Rp 200 ribu per hari hanya dari menjual balelo.

Sulitnya mencari balelo, turut menjadi perhatian Hasni. Apalagi, warga Kampung Giring-Giring terangnya, banyak yang bergantung dari hasil laut. Untuk itu, ia berharap agar oknum tak bertanggungjawab yang merusak ekosistem bawah laut untuk diberi sanksi.

“Terutama yang menangkap ikan menggunakan bom. Karena bom itu bisa merusak terumbu karang. Jika terumbu karang rusak, tempat ikan sering berkumpul jadi hilang, dan akan berdampak pada yang lain nantinya,” tutupnya. (*/rio)


BACA JUGA

Selasa, 14 Agustus 2018 00:30

Dewan Pengawas Diminta Jalankan Fungsi

TANJUNG REDEB – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau Saga, meminta Pemerintah…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:29

Peringati HUT Pramuka, Pawai Obor Digelar

TANJUNG REDEB - Dalam rangka memperingati HUT ke-57 Pramuka pada 14 Agustus, gerakan Pramuka Kwartir…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:29

SEDIH..!! Jamaah Haji Ini Gagal Berangkat karena ....

TANJUNG REDEB - Gagal berangkatnya salah satu jamaah haji asal Berau, saat di embarkasi Balikpapan,…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:27

Tinggal Tunggu Putusan PT

TANJUNG REDEB – Sama-sama tidak terima dengan keputusan majelis hakim, penasihat hukum Muharram…

Selasa, 14 Agustus 2018 00:26

Jamaah yang Sakit Sudah Membaik

SATU jamaah haji asal Berau yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit Jeddah, Arab Saudi, sudah…

Senin, 13 Agustus 2018 00:10

Dishub Prioritaskan Dermaga Maratua dan Teluk Sulaiman

TANJUNG REDEB – Pembangunan perpanjangan dermaga Maratua di Kampung Bohe Bukut, jadi kegiatan…

Senin, 13 Agustus 2018 00:08

Satu Jamaah Dilarikan ke Rumah Sakit

TANJUNG REDEB – Cuaca di Tanah Suci terasa cukup ekstrem bagi jamaah haji Indonesia, khususnya…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:40

Berkas Gugatan Adief Dikembalikan

TANJUNG REDEB – Gugatan Adief Mulyadi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Samarinda, dengan…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:38

Dinkes Tunggu Kepastian Anggaran

TANJUNG REDEB – Dorongan dari DPRD Berau agar jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan studi…

Minggu, 12 Agustus 2018 00:33

Bahar Ngamuk, Warga Tak Terima dan Mengusirnya

TANJUNG REDEB - Penolakan warga RT 1 Kelurahan Gunung Tabur terhadap Bahar, sangat disayangkan Sekretaris…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .