MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 21 Februari 2018 12:49
Semakin Sulit Didapatkan, Diduga karena Kerusakan Ekosistem Laut

Kisah Para Pencari Balelo di Kampung Giring-Giring

HINGGA TENGAH LAUT: Dua orang warga mencari kerang di tepi pantai Bidukbiduk, Minggu (18/2).

PROKAL.CO, Jika berkunjung ke wilayah pesisir selatan, tak lengkap jika sekadar menikmati pemandangannya saja. Memang objek-objek wisata di sana sangat indah. Terlebih di Bidukbiduk. Namun, satu yang tak boleh dilewatkan adalah mencicipi makanan khasnya. Seperti kerang. Atau yang dikenal dengan sebutan balelo oleh masyarakat di Kampung Giring-Giring.

 

AGUS PRASETYO, Bidukbiduk

 

SEMILIR angin membuat perasaan teduh ketika menginjakkan kaki di Kampung Giring-Giring, Kecamatan Bidukbiduk.

Matahari mulai meninggi. Teriknya matahari menyengat hingga kulit. Namun, itu bukan penghalang para pencari kerang atau balelo.

Di tepi pantai Bidukbiduk, sejumlah warga sibuk memeriksa pasir. Di balik air laut yang jernih bersembunyi balelo.

Balelo sendiri kerap dijadikan makanan oleh masyarakat Kampung Giring-Giring. Minat masakan khas itu dari para wisatawan yang mengunjungi kecamatan paling ujung di wilayah pesisir selatan di Berau pun cukup banyak.

Hal itu menjadi peluang para masyarakat untuk berburu balelo. Terutama ketika pantai sedang surut. Seperti Minggu (18/2) lalu.

Jumiati adalah salah seorang warga yang sering mencari balelo di kala air laut tengah surut. Ia mengungkapkan, sering mendapatkan pesanan dari luar luar Kampung Giring-Riring. “Banyak yang pesan, seperti dari Talisayan hingga Tanjung Redeb,” ujarnya kepada Berau Post.

Balelo ucapnya nikmat untuk dikonsumsi. Selain karena rasa dagingnya, teksturnya juga kenyal. Bahka, balelo menjadi kerang paling disukai oleh warga di sana.

Namun, saat ini sulit untuk mendapatkan balelo. Tidak seperti dulu. Mudah mendapatkannya.

Dahulu, saat air laut sedang surut, Jumiati hanya perlu menggali pasir pantai, lalu terlihatlah balelo bersembunyi. Kini keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan. Ia bersama warga lainnya, harus lebih ke tengah laut untuk mencari balelo. “Sekarang harus berjalan hingga ke tengah,” terangnya.

Ia juga tak tahu mengapa balelo kini sulit ditemukan. Ia menduga karena ekosistem laut kini sudah rusak. Di bom oleh para nelayan dari luar Kalimantan. Hal itu, diakui Jumiati turut memengaruhi jumlah balelo.

“Salah satu penyebabnya itu karena bom itu. Rusak semua bawah laut. Seperti sekarang kalau mau mancing saja hitungan jam belum tentu dapat ikan. Dulu itu baru saja meletakan kail pancing sudah ada ikan yang makan umpan,” terangnya.

Di tempat yang sama, Hasni salah seorang yang baru menekuni pekerjaan mencari balelo mengaku, menjalaninya karena permintaan dari pengusaha rumah makan dari luar Kampung Giring-Giring. Ia mencari balelo setiap hari. Saat air laut sedang surut.

“Banyak yang pesan, jadi setiap hari mencari. Yang pesan itu ada dari Tanjung Redeb dan Bulungan, dan semua itu rata-rata pengusaha rumah makan,” tuturnya.

Selain permintaan yang tinggi, pekerjaan sebagai pencari kerang ditekuninya demi menambah pemasukan bagi keluarganya. “Biasanya kami menjual balelo yang sudah dibersihkan. Sudah siap di masak,” terangnya.

Satu bungkus balelo yang dibungkus dengan plastik dijual Rp 30 ribu. Setiap hari Hasni bisa menjual 6 sampai 10 bungkus. Rata-rata ia bisa mendapat Rp 200 ribu per hari hanya dari menjual balelo.

Sulitnya mencari balelo, turut menjadi perhatian Hasni. Apalagi, warga Kampung Giring-Giring terangnya, banyak yang bergantung dari hasil laut. Untuk itu, ia berharap agar oknum tak bertanggungjawab yang merusak ekosistem bawah laut untuk diberi sanksi.

“Terutama yang menangkap ikan menggunakan bom. Karena bom itu bisa merusak terumbu karang. Jika terumbu karang rusak, tempat ikan sering berkumpul jadi hilang, dan akan berdampak pada yang lain nantinya,” tutupnya. (*/rio)


BACA JUGA

Senin, 22 Oktober 2018 13:30

Pelayanan (Jangan) Jadi Tumbal

TANJUNG REDEB – Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bela Negara Anti Korupsi (Benak) Berau…

Senin, 22 Oktober 2018 13:29

Hindari Keretakan, Pelihara Kerukunan

MENGANGKAT tema Hindari Keretakan, Pelihara Kerukunan, dan Bangga Jadi Pemuda Indonesia, DPD Komite…

Senin, 22 Oktober 2018 13:26

Lurah Sebut Kabar Gembira

TANJUNG REDEB – Rencana pemerintah menggelontorkan dana untuk kelurahan tahun depan, disebut sebagai…

Minggu, 21 Oktober 2018 14:02

PPK Sebut Ada Kendala

TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten Berau terus bergerak, khususnya dalam membenahi saluran drainase…

Minggu, 21 Oktober 2018 14:00

Pakai Alat Seadanya, Bonus Kena Dampak

TANJUNG REDEB - Perdebatan yang terjadi dalam pembahasan anggaran keikutsertaan Berau pada Pekan Olahraga…

Minggu, 21 Oktober 2018 13:58

Diduga Korsleting, Empat Bangunan Jadi Arang

GUNUNG TABUR - Diduga karena korsleting listrik, empat bangunan di Jalan Aji Samsudin, Kelurahan Gunung…

Minggu, 21 Oktober 2018 13:52

Bantuan Sudah Tiba di Sulteng

TANJUNG REDEB - Setelah beberapa hari berangkat ke Sulawesi Tengah, kapal yang mengangkut bantuan dari…

Sabtu, 20 Oktober 2018 14:02

10 Sekolah Dibina SMP 2

TANJUNG REDEB – Bersama 17 SMP lainnya di Kaltim, SMPN 2 Tanjung Redeb menjadi satu-satunya perwakilan…

Sabtu, 20 Oktober 2018 14:01

Siap Ladeni Somasi NM

TANJUNG REDEB – Tak cukup laporannya ditangani Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Partai…

Sabtu, 20 Oktober 2018 13:58

Kekurangan Dana Sisa Rp 1,3 M

TANJUNG REDEB – Alotnya proses pembahasan anggaran untuk memberangkatkan kontingen Berau mengikuti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .