MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

SANGGAM

Jumat, 23 Februari 2018 11:28
Rokok Penyumbang Kemiskinan Terbesar Kedua

Angka Kemiskinan Berau Capai 5,41 Persen

KONSUMSI: Merokok menjadi salah satu faktor penyumbang kemiskinan di Indonesia.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, mencatat tingkat kemiskinan masyarakat di Bumi Batiwakkal, terus mengalami peningkatan sejak 2015 lalu.

Kepala BPS Berau, Hotbel Purba, mengatakan berdasarkan data dari BPS Berau, angka kemiskinan di Berau mengalami peningkatan sekitar 0,04 persen dari tahun 2016 dan 2017. Pada tahun 2015 angka kemiskinan mencapai 5,33 persen,  2016 sekitar 5,37 persen, tahun 2017 menjadi 5,41 persen.

Jika berbicara indeks kedalaman kemiskinan (P1), dikatakannya, pada 2016 angka kemiskinan bertambah 0,97 persen. Untuk faktor pemicu, banyak hal, seperti kenaikan harga barang dan berkurangnya lapangan kerja. Tentu saja, dua faktor tersebut yang memiliki andil besar terhadap peningkatan angka kemiskinan saat ini.

"Pertumbuhan ekonomi Berau mengalami minus 1,70 persen. Hal tersebut tidak bisa diartikan menurun, karena ekonomi Berau hanya melambat dan tetap berproses jalan," ungkapnya.

Jika dimisalkan rata-rata rumah tangga miskin ada 5 orang, maka garis kemiskinan untuk Maret 2016 adalah Rp 77.500 per rumah tangga per hari. “Nah, penduduk dengan pengeluaran rumah tangga di bawah garis kemiskinan itulah yang dikategorikan miskin,” jelasnya.

Sementara itu garis kemiskinan (GK) yang dipakai BPS, merupakan hasil penjumlahan garis kemiskinan makanan dan non makanan, seperti perumahan, pendidikan dan kesehatan.

GK di Berau lanjut dia, mengalami peningkatan. Hal ini bisa disebabkan oleh inflasi yang dirasakan hampir di seluruh daerah, pertumbuhan penduduk, dan konsumsi rokok.

“Karena rokok bagi sebagian orang yang merokok tidak masalah, konsumsi beras dan ikan berkurang asal tetap bisa merokok. Di level nasional, penyumbang kemiskinan yang pertama adalah beras, kedua rokok," ujarnya.

“Kontribusi rokok terhadap kemiskinan lebih tinggi dari daging sapi, telur ayam, daging ayam, mi instan, gula pasir, hingga tahu. Kontribusi rokok juga di atas biaya komoditi bukan makanan, seperti perumahan, listrik, hingga bensin sekalipun,” lanjutnya.

Yang jadi perhatian lain adalah indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan tingkat keparahan kemiskinan (P2). Hampir di seluruh kabupaten di Indonesia yang sebagian besar perdesaan, tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan cenderung memburuk. (sin/app)


BACA JUGA

Jumat, 16 Mei 2014 20:12

Bulan Terang, Bagan Kapal Libur Melaut

<div> <div style="text-align: justify;"> <strong>TALISAYAN - </strong>Hasil…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .