MANAGED BY:
MINGGU
27 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 03 Maret 2018 11:28
Menebus Dosa Proyek Raksasa
Oleh: Dahlan Iskan

PROKAL.CO, PERSAHABATAN saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara.

Robert lahir di Hongkong. Tapi sejak kecil diajak merantau orang tuanya ke Singapura. Karena itu meski kewarganegaraannya Singapura, Robert berhak memiliki KTP Hongkong. Dengan memegang paspor Singapura dia bebas masuk ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, negara-negara Eropa daratan bahkan ke Israel. Dan dengan KTP Hongkong dia bebas keluar masuk Tiongkok. Akibatnya, setiap kali bersama Robert ke luar negeri selalu saja dia menunggu saya yang lebih lama dalam melewati proses imigrasi.

Waktu pertama kali bertemu, Robert Lai adalah seorang pengacara perusahaan. Dia menjadi pengacara untuk banyak perusahaan publik di Hongkong maupun Singapura. Juga di Vietnam.

Hari itu, akhir tahun 1990-an, dia bertemu saya di Batam. Saya lagi ada rapat di pulau dekat Singapura itu. Robert saat itu mewakili perusahaan publik di Singapura, tapi pemiliknya orang Indonesia. Seorang konglomerat muda (waktu itu) yang lagi paling top di Indonesia.

Robert, dengan jas, dasi dan kenecisannya langsung menarik simpati kami yang lagi rapat. Antara kami dan Robert kelihatan amat kontras. Kami adalah para manajer koran yang umumnya berpenampilan agak kumuh.

Saat itulah sang konglomerat muda menawarkan kerja sama membangun super highway coridor di Kemayoran, Jakarta. Kami yang menggarap kontennya. Saat itu internet masih di awal masa pertumbuhannya. Belum banyak orang gila internet seperti sekarang.

Untuk merumuskan perjanjian kerja sama itulah sang konglomerat menugasi Robert Lai membuat draf MoU. Minggu berikutnya Robert ke Surabaya. Ke kantor saya. Seminggu lamanya. Menyusun draf perjanjian yang diawali dengan MoU itu. Itulah untuk pertama kalinya Robert ke Surabaya seumur hidupnya.

Selama di Surabaya Robert selalu makan siang di kantin Graha Pena. Sebagai orang Hongkong lidahnya kurang cocok dengan masakan yang ada. Saya tahu dia pandai masak. Maka itu saya minta Robert masuk ke dapur resto. Mengajari chef kami.

Mau. Dia ajarkan prinsip-prinsip membuat makanan yang enak. Salah satunya: api harus sangat panas. Dengan demikian makanan yang digoreng sangat lezat: luarnya kriuk-kriuk (crispy) dalamnya masih lembut.

Robert juga meninggalkan satu ajaran untuk membuat bihun goreng. Sampai sekarang, di resto Graha Pena, insyaallah, masih ada satu menu yang dinamakan “Bihun Robert”. Itulah bihun goreng dengan resep dari Robert Lai. Salah satu yang saya paling suka.

MoU dengan konglomerat muda itu akhirnya saya tanda tangani. Saya tidak menyangka dampaknya yang begitu hebat. Saat MoU itu diumumkan di pasar modal Singapura, nilai saham perusahaan konglomerat tersebut melejit jit jit. Sang konglomerat menikmati gain luar biasa saat itu juga.

Robert merasa tidak enak terhadap saya. Kok sepertinya saya hanya dimanfaatkan untuk menggoreng saham. Apalagi proses realisasi proyek super highway coridor Kemayoran tidak ada kemajuan.

Robert datang lagi ke Surabaya. Untuk minta maaf kepada saya. Dia merasa bersalah.

Saya tegaskan bahwa dia tidak bersalah. Dia hanyalah pengacara yang mendapat tugas dari perusahaan yang mengontraknya, untuk melakukan apa yang jadi tugasnya.

Tapi Robert tetap merasa ikut bersalah. Dia pun mengusulkan untuk membatalkan MoU itu. Agar saya terhindar dari konsekuensi tidak berjalannya proyek tersebut. Dia menawarkan diri untuk membuat dokumen-dokumen (dalam bahasa Inggris) yang harus saya tanda tangani. Saya setuju dan berterima kasih.

Yang kedua, Robert menyatakan tidak mau lagi bekerja untuk perusahaan tersebut. Bahkan tidak mau lagi jadi pengacara. Pensiun.

Dan yang ketiga, inilah awal persahabatan yang panjang itu, dia ingin membantu saya untuk kerja apa pun. Tanpa dibayar. Sebagai penebus dosa, katanya.

Saya menganggap hal itu berlebihan tapi Robert serius.

Dari segi ekonomi Robert sebenarnya bukan orang kaya —untuk ukuran Singapura. Tapi hidupnya cukup. Dia masih memperoleh penghasilan dari jabatannya sebagai komisaris di beberapa perusahaan publik. Baik yang di Hongkong maupun yang di Singapura.

Sejak merasa bersalah itu Robert sering ke Surabaya. Juga sering mendampingi saya ke luar negeri. Terutama kalau lagi ke Hongkong, Taiwan atau Tiongkok.

Istri Robert, Dorothy, merelakan suaminya terus pergi bersama saya. Sering Dorothylah yang mengatur jadwal perjalanan. Kemampuan bahasa asingnya, termasuk bahasa Prancis, membuat Dorothy bisa menyelesaikan banyak hal.

Secara intelektual saya juga merasa cocok dengan Robert. Pengetahuannya sangat luas. Apalagi di bidang pengelolaan bisnis. Tapi Robert juga asyik di bidang filsafat. Kami bisa diskusi filsafat berjam-jam dengan Robert.

Tidak ada sensitivitas tertentu dalam hubungan persahabatan kami. Misalnya di bidang agama. Robert adalah orang yang “tidak” beragama. Bisa menerima prinsip agama apa pun termasuk agama saya: Islam.

Bepergian dengan Robert juga hemat. Kami bisa bermalam satu kamar yang ranjangnya dua buah. Juga biasa mencuci pakaian dalam sendiri. Kami sama-sama membuat hidup ini simpel. Tidak menuhankan gengsi. Kami suka menertawakan perilaku orang kaya, yang kaus kaki pun di-laundry-kan di hotel.

Kami juga biasa cukur rambut di sebuah gang di Beijing atau Shanghai. Tidak harus di barber shopnya hotel bintang lima.

“Hidup ini indah,” ujar Robert. “Kalau kita bisa menikmatinya.”

Sikap rakuslah yang sering membuat kenikmatan hidup itu rusak. (bersambung/ disway.id/udi)


BACA JUGA

Senin, 30 April 2018 00:16

Kenapa Harus Sekolah Alam?

“Pak, saya doakan semoga Bapak terpilih nanti, dan harapan saya hanya satu. Saya ingin anak saya…

Sabtu, 21 April 2018 10:28

Kartini Kesehatan

RADEN Adjeng Kartini, sosok yang sangat menginspirasi. Tokoh emansipasi yang  menuntut persamaan…

Selasa, 03 April 2018 12:19

Heboh Pulau Bakungan

KEMARIN malam salah satu TV nasional memberitakan tentang tidak diperbolehkannya wisatawan lokal masuk…

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .