MANAGED BY:
SELASA
19 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Minggu, 11 Maret 2018 00:14
Tebak-tebakan Tak Berhadiah

Penari Langit Bule di Bukit Pabbaresseng (3)

Dahlan Iskan

PROKAL.CO, SAYA lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga angin di bukit Pabbaresseng, Kabupaten Siddereng Rappang, Sulawesi Selatan itu nanti akan menghasilkan listrik.

Anda juga boleh ikut bertaruh lewat likedisway@gmail.com. Pertanyaannya: berapa persen dari kapasitasnyakah akan menghasilkan listrik?

Asumsinya: kapasitas pembangkit itu 75 MW. Kalau kecepatan angin 7 meter/detik kapasitas itu akan tercapai.

Yang kita sama-sama tidak tahu: data rill kecepatan angin di bukit tersebut selama 24 jam.

Tentu investornya lebih tahu kecepatan angin di sana. Bagi yang tebakannya ingin lebih tepat boleh mencoba cari data ke badan meteorologi di Sidrap (Siddenreng Rappang) atau Makassar. Siapa tahu punya. Setidaknya angka kasar.

Saya sendiri sudah bisa umumkan tebakan saya. Sekarang. Pembangkit itu nanti hanya akan menghasilkan listrik 25 MW. Hanya 30 persen dari kapasitas.

Tentu sesekali akan menghasilkan listrik sesuai kapasitasnya tapi hanya untuk beberapa jam sehari. Ketika kecepatan angin sedang tinggi.

Saya benar-benar tidak tahu berapa jam sehari ada angin cepat di sana. Namun kita tahu bahwa angin kita itu angin-anginan. Bisa saja di bukit Pabbaresseng itu anginnya lebih bagus dari lokasi lain sehingga tebakan saja meleset.

Tapi seorang aktivis yang sudah menyampaikan tebakannya kepada saya mengatakan: hanya akan menghasilkan 20 MW saja. Bahkan bisa di bawah itu.

“Tebakan Pak Dahlan terlalu optimistis,” katanya.

Saya tahu tebakan saya memang saya optimis-optimiskan. Untuk menyenangkan. Agar semangat ber-green energy jangan patah.

Dari pengalaman saya meninjau pembangkit listrik di berbagai negara maju memang seperti itu. Sulit mencapai 30 persennya. Bahkan ada yang hanya 17 persennya saja.

Kita doakan bukit Pabbaresseng beda dengan dunia selebihnya.

Itulah mahalnya investasi listrik tenaga angin. Investasi Rp 2 triliun tidak bisa menghasilkan 75 MW melainkan hanya sekitar 20 MW. Berarti, rillnya, hitungan investasi itu mencapai Rp 100 miliar per Megawatt. Empat kali lipat lebih mahal dari investasi pembangkit PLTU batu bara.

Tapi kelebihannya jangan dilupakan: ini paling ramah lingkungan. Dan tidak perlu beli bahan bakar sama sekali. Bahan bakarnya sepenuhnya dari Tuhan YME.

Saya tidak tahu bagaimana bunyi kontrak jual belinya dengan PLN. Apakah berdasar kapasitas atau berdasar listrik yang nyata-nyata masuk ke PLN. Tentu yang terakhir itu mestinya. Karena PLN pasti tidak mau dirugikan.

Yang saya tahu (dari pemberitaan Harian Fajar), PLN harus membeli listrik dari proyek ini USD 11 cent/kWh. Atau sekitar Rp 1.500/kWh. Cukup mahal kalau dibandingkan dengan PLN membeli listrik dari PLTU batu bara. Lebih mahal sekitar 50 persennya. Tapi batu bara merusak lingkungan.

Berarti PLN membeli listrik dari proyek ini lebih mahal dari PLN menjual listrik ke masyarakat.

Investasi ini memang sangat mengagumkan. Biaya investasinya untuk 75 MW tapi uang yang didapat hanya dari penjualan listriknya yang sekitar 20 MW. Itulah sebabnya kontrak pembelian listrik ini (disebut PPA) berlaku selama 30 tahun.

Hanya perusahaan yang benar-benar amat dalam sakunya dan amat panjang napasnya bisa melakukan investasi ini.

Perkiraan saya investasi ini akan kembali dalam sembilan atau 12 tahun. Atau lebih cepat dari itu karena bunga bank di Amerika sangat rendah. Apalagi untuk proyek mulia seperti ini. Bisa hanya sepertiga dari bunga bank di Indonesia.

Jangka panjang proyek ini sangat menguntungkan juga. Setelah investasi kembali masih ada waktu kontrak 20 tahun lagi.

Kita tidak akan bisa melawannya. Tanpa ada kebijakan keperpihakan pada pencipta-pencipta teknologi dari putra bangsa sendiri.

Kebijakanlah yang akan menentukan nasib kita: jadi pemain atau penonton.(dis/app)

 


BACA JUGA

Sabtu, 16 Maret 2019 13:53

Selamat Jalan Pak Janna

KAMIS (14/3) lalu, tiba-tiba ada ucapan duka di semua Grup…

Jumat, 15 Maret 2019 14:58

Piano Usia 107 Tahun

BANYAK koleksi benda bersejarah yang ada di rumah Adji Bahrul…

Kamis, 14 Maret 2019 13:51

Jejak Kapal Taiwan

KEGIATAN penangkapan ikan secara ilegal, sudah berlangsung lama. Buktinya, dua…

Rabu, 13 Maret 2019 12:48

Koi seharga Rp 27 M

INI berlangsung di Jepang. Negara yang dikenal asalnya ikan Koi.…

Selasa, 12 Maret 2019 14:01

Petak 4x6 Meter

MEMANG ada nama jalannya. Yakni Jalan AKB Sanipah I.  Tapi,…

Senin, 11 Maret 2019 13:40

Jadi Koki Dadakan

PERNAHKAH merasakan perjalanan ke pulau wisata dalam kondisi cuaca yang…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:41

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (3-Habis)

MENURUT Kemendikbud (2016 : 61) menyatakan bahwa bimbingan klasikal merupakan…

Sabtu, 09 Maret 2019 13:33

Masih Ingat Lapis Banua?

TIGA atau lima tahun lalu, tiba-tiba seperti ada berkah yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:12

Fenomena Dunia Pendidikan Zaman Milenial (2)

DALAM pemberian layanan bimbingan kelompok ada beberapa cara atau yang…

Jumat, 08 Maret 2019 14:08

Perumahan di Tengah Rimba

MUNGKIN perlu juga warga mengunjunginya. Bagaimana kehidupan warga Basap sekarang. …