MANAGED BY:
SABTU
26 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 13 Maret 2018 12:49
Tak Cukup Hanya Terpesona

Penari Langit Bule di Bukit Pabbaresseng (5-Habis)

Dahlan Iskan

PROKAL.CO, ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah kelebihan listrik seperti Sulsel? Mengapa tidak dibangun di Papua atau di Seram, atau di Halmahera, atau di Sumba, atau di Flores? Yang mereka kekurangan listrik?Kenapa investor tidak sekalian mengabdi mengatasi kekurangan listrik di suatu daerah di Indonesia?

Jawabnya: Anda ini siapa? Investor? Orang PLN? Atau orang pemerintah?

Kalau Anda investor, pasti Anda akan pilih membangunnya di daerah yang sudah kelebihan listrik. Bahkan di daerah yang sistem kelistrikannya sudah mapan.

Sejak tiga tahun lalu Sulsel sudah kelebihan listrik dan sistemnya sudah cukup andal.

Dengan memilih investasi di daerah yang kelebihan listrik investasi Anda akan lebih aman. Misalnya, Anda hanya bisa kirim listrik ke PLN 10 MW dari yang Anda janjikan 75 MW. Kebetulan pada jam itu lagi tidak ada angin. Anda tidak akan dimarahi. Anda tidak akan kena klaim. Baik dari PLN maupun dari masyarakat.

Meski kiriman listrik dari Anda hanya sedikit, tidak perlu ada mati lampu. Tidak perlu ada pemadaman. Kekurangan suplai dari Anda itu bisa ditutupi oleh kiriman listrik dari pembangkit milik orang lain.

Ini beda dengan kontrak pembelian listrik dari PLTU batu bara. Atau dari tenaga gas. Atau lainnya. Begitu listrik yang Anda kirim ke PLN tidak mencapai jumlah yang ada di kontrak, Anda harus membayar ganti rugi ke PLN. Yang nilainya bisa memusingkan Anda. Ini karena Anda telah dianggap memusingkan PLN.

Jadi, kalau investor tenaga angin itu membangun proyeknya di Sulsel sudah pintarlah dia. Kita harus merelakan orang lain pintar. Asal kita tidak merelakan diri kita sendiri bodoh.

Saya tidak bisa membandingkan proyek penari langit bule yang dibangun investor asing di Sulsel ini dengan proyek penari langit yang dibangun putra bangsa kita, Ricky Elson, di desa miskin di pedalaman Sumba.

Empat tahun lalu Ricky, anak Padang yang 14 tahun hidup di Jepang itu, membangun 100 kincir penari langit di Sumba. Juga di atas bukit. Agar dapat angin lebih banyak. Tinggi tiangnya hanya 12 meter dan panjang bilahnya hanya 1 meter.

Tidak ada kelebihan listrik di desa itu. Bahkan tidak ada listrik. Penduduknya masih menggunakan lampu ublik atau petromaks. Ricky: untuk apa membangun pembangkit listrik di daerah yang sudah kelebihan listrik.

Kincir-kincir itu ciptaannya sendiri. Mulai dari motornya sampai bilah baling-balingnya. Ricky memang ahli motor listrik. Dia memiliki beberapa paten di Jepang di bidang itu. Dia menciptakan motor yang bisa digerakkan oleh baling-baling.

Bukan itu intinya. Yang dia unggulkan adalah motor itu menggunakan sesedikit mungkin magnet. Agar angin yang hanya berkecepatan 1 meter perdetik sudah bisa menggerakkan baling-balingnya. Motor itu dia buat sedemikian ringan tarikannya. Berkat kadar magnet minimalis yang dia ciptakan.

Mengingat desa itu tidak ada listrik, dan juga tidak pernah ada sistem, Ricky harus membangun sendiri sistemnya. Dia harus mengadakan baterai dalam jumlah banyak. Listrik dari angin siang hari dia simpan dibaterai. Malamnya dialirkan ke rumah-rumah penduduk.

Tentu Ricky ingin mengembangkan teknologinya ini. Yang sudah terbukti berfungsi baik selama dua tahun. Hanya saja dia bukan investor.

Dia perlu dukungan kebijakan. Dia tidak bisa memilih, misalnya, membangun itu di daerah yang sudah kelebihan listrik.

Saya mengagumi proyek raksasa di Pabbaressa dan Jeneponto itu. Terpesona. Sebagai penonton.

Tapi saya tidak hanya kagum saat berkunjung ke pedalaman Sumba melihat para penari langit ciptaan Ricky. Kagum campur bangga. Dan terharu. Dan kasihan. Dan nelongso. Apalagi ketika sekarang seperti kena gilas trailer. (dis/udi)


BACA JUGA

Senin, 30 April 2018 00:16

Kenapa Harus Sekolah Alam?

“Pak, saya doakan semoga Bapak terpilih nanti, dan harapan saya hanya satu. Saya ingin anak saya…

Sabtu, 21 April 2018 10:28

Kartini Kesehatan

RADEN Adjeng Kartini, sosok yang sangat menginspirasi. Tokoh emansipasi yang  menuntut persamaan…

Selasa, 03 April 2018 12:19

Heboh Pulau Bakungan

KEMARIN malam salah satu TV nasional memberitakan tentang tidak diperbolehkannya wisatawan lokal masuk…

Senin, 26 Maret 2018 12:19

Dari Haul Sekumpul, hingga Mendadak Dekat Ulama

HAUL Sekumpul ke-13 diadakan pada 25 Maret 2018. Haul Sekumpul merupakan agenda tahunan yang diadakan…

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .