MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 14 Maret 2018 12:37
KAPITALISME LEWAT NARKOBA
Siti Aminah, S.Pd.I

PROKAL.CO, align="left">AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah, ber ton sabu-sabu siap disebar di seluruh Indonesia. Bayangkan ber ton ton, bukan angka yang sedikit. Tentunya ada permintaan impor sebanyak itu, Indonesia secara diam-diam terjadi sindikat pengedar narkoba besar-besaran, melihat permintaan pasar yang tidak sedikit.

Melihat kondisi negeri kita sangat miris dan memprihatinkan, bagaimana mungkin nasib bangsa kita di masa mendatang bila negeri kita menjadi pemasok narkoba terbesar. Mau di bawa kemana pemuda-pemudi kita?

Bayangkan, dari usia bayi, anak-anak, pelajar,nenek-nenek, pejabat, artis hingga aparat tersangkut kasus narkoba. Hal itu bukan sekadar berita hoaks, tetapi realitanya yang terjadi demikian adanya. Rumah tahanan negara dan lembaga pemasyarakatan penuh dengan narapidana kasus narkoba. Narkoba sudah menjadi virus yang mewabah dari dulu hingga sekarang.

Melihat kondisi negeri ini yang tidak ada perubahan. Apa yang harus kita lakukan? Darurat Narkoba menjadi predikat negeri ini.

Apa harus ada korban lalu diusut tuntas sampai ke akarnya? Dari beberapa artikel yang banyak saya baca, peredaran narkoba lebih banyak terjadi lewat perairan, penyelundupan narkoba lewat orang-orang asing yang bekerja sama dengan pribumi. Kemudian mengemasnya dengan kemasan yang cantik, untuk mengelabui dicampurkan dalam permen, minuman, hingga yang pernah saya tonton menyelundupkan narkoba dalam tubuh manusia, tubuh manusia dibedah kemudian memasukkan narkoba tersebut pada orang tersebut kemudian dikirim kepada yang memesan.

Banyak hal yang di lakukan para kapitalisme, dengan berbagai cara yang penting keuntungan yang diraup. Keuntungan yang didapat dari penjualan narkoba  sangat menggiurkan bagi pebisnisnya. Sehingga dari dulu hingga sekarang bisnis narkoba tidak ada matinya diperjual belikan. Tentu, sasarannya kepada negri-negri yang lengah, kepada para budak kenikmatan sesaat dengan mengonsumsi narkoba. Salah satu yang saya tahu narkoba dapat membuat tubuh kuat tanpa lelah. Membuat penggunanya melayang dan berhalusinasi seakan hidup ini begitu nikmat baginya.

Para pemuda broken home, galau sangat mudah mengonsumsi barang-barang seperti ini agar suasana hatinya damai dan tenang. Efeknya ketika tidak menemui narkoba menjadi candu yang mematikan bagi penggunanya. Rasa mengggigil kedinginan, sakit teramat sangat memaksa pengguna mencari apapun caranya agar mendapatkan kembali narkoba. Hal yang seperti ini menjadikan pengguna ketergantungan hingga mencuri uang orangtua, merampok rumah tetangga untuk membeli narkoba. Bukan lagu lama, kawan saya di lapas sebut saja namanya “A”, “bila tidak mendapatkannya tersiksa setengah mati.” katanya. Sampai kapan negeri ini harus darurat narkoba? Mau jadi apa bangsa kita? Mau jadi apa rakyat kita, bila dipasok berton-ton narkoba ke dalam negeri terus menerus?

Informasi yang saya dapatkan di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Tanjung Redeb tahun 2015 silam yang masih subur di ingatan, bincang-bincang bersama  Kepala Rutan yang saat itu dijabat Teguh Pamudji menyampaikan bahwa Rutan Kelas IIB sebenarnya sudah over kapasitas, tidak mampu menampung lagi hingga tempat tidur para napi diakali dengan tempat tidur bersusun-susun. Beliau juga mengungkapkan bahwa rata-rata kasus yang terjadi di sini adalah pengguna dan pengedar narkoba.

Tentu hal ini sangat memprihatinkan, berton-ton narkoba dikerahkan ke Indonesia, bukan saja menebar virus, tetapi lebih dari itu untuk memusnahkan Indonesia khususnya para pemuda dan pemudinya generasi selanjutnya rusak tak kepalang. Dapat kita analisa bahwa sangat terorganisir sekali sindikat narkoba yang terjadi di negeri kita. Politik kapitalisme yang besar-besaran merongrong dunia termasuk Indonesia, menjadi sasaran empuk paham kapitalisme menguras triliunan duit rakyat Indonesia dengan menjajakan kenikmatan bernama narkoba ke Indonesia. Berton-ton pasokan narkoba tentu berapa banyak pundi-pundi dolar yang diraup dari negeri ini berkat perdagangan narkoba. Narkoba tidak akan berhenti pengimporan besar-besaran hingga tidak ada candu yan terdapat pada narkoba. Candu yang ada di dalamnya menjadikan pemakai ketergantungan hingga terus-menerus mengunakan narkoba sebagai bentuk kenikmatan, ketenangan dan anti lelah ketika bekerja.

 

Para artis sedikit banyaknya yang mendekam di bui disebabkan penggunaan narkoba untuk bertahan ketika bekerja dengan porsir waktu yang tidak terbendung. Tetap tahan dan aktif bekerja dalam syuting, iklan hingga video klip ketika mengonsumsi narkoba. Masalah ketika yang digunakan narkoba yang dilarang pengunaannya dalam undang-undang dan termasuk barang haram dalam konteks agama karena merusak tubuh manusia, penyakit bagi keluarga dan masyarakat luas. Menjadi pekerjaan yang sangat berat bagi BNN menangani hal ini, sehingga sebagai rakyat Indonesia yang peduli dengan kelangsungan hidup generasi yang lebih baik di masa mendatang menjadi tugas semua masyarakat Indonesia untuk mensosialisasikan bahaya-bahaya narkoba bagi masyarakat sekitar. Sehingga rakyat lambat-laun tersadarkan dari berbahayanya narkoba.

 

Demikian, pandangan dari penulis yang dituangkan dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca khususnya pembaca yang berperan dalam masalah penangulangan narkoba.

 

*)Penulis adalah aktivis di Muhammadiyah, alumni STIT Muhammadiyah Tanjung Redeb, aktivis IMM dan pengajar di SD Muhammadiyah Tanjung Redeb


BACA JUGA

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…

Minggu, 11 Maret 2018 00:14

Tebak-tebakan Tak Berhadiah

SAYA lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga…

Sabtu, 03 Maret 2018 11:28

Menebus Dosa Proyek Raksasa

PERSAHABATAN saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara. Robert…

Selasa, 27 Februari 2018 10:52

Tujuh Bulan di Lemhannas, Sanggupkah?

SUDAH satu minggu, saya harus beradaptasi dengan hal baru. Orang baru, suasana baru, juga ilmu baru.…

Selasa, 20 Februari 2018 09:27

Menanti Angpao di Hari Imlek

TENTU saya tidak sabar menunggu waktu satu bulan. Saya sudah berusaha bersikap tenang. Saya tenang-tenangkan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .