MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Rabu, 11 April 2018 11:55
Akui Kelapa Sawit Lebih Menguntungkan

Camat Batu Putih Khawatir Petani Alihkan Lahan

CARI SOLUSI: Pertemuan petani di Kecamatan Batu Putih dengan Distanak Berau, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, BATU PUTIH – Polemik sektor pertanian masih terjadi. Bahkan, di Kecamatan Batu Putih, para petani mengancam untuk mengganti lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit. Penyebabnya, harga komoditas pertanian yang rendah dan sulitnya memasarkan hasil produksi seperti beras dan jagung.

Kondisi ini pun dibenarkan oleh Camat Batu Putih, Mansyur. Ia mengatakan, petani mulai kurang bergairah dengan kondisi pertanian sekarang. Sehingga membuat petani lebih memilih berkebun kelapa sawit, ketimbang mengembangkan sektor pertanian.

“Akibatnya sektor pertanian di sini tidak berkembang seperti yang diharapkan,” ungkapnya saat dihubungi Berau Post, Selasa (10/4).

Menurutnya, ada banyak faktor yang mendasari petani beralih ke perkebunan kelapa sawit. Salah satunya jaminan kepastian pemasaran, serta harga berdasarkan acuan dari Dinas Perkebunan Kaltim. Di samping itu, masa panen yang cukup singkat juga menjadi pilihan utama bagi petani.

“Paling hanya bersabar selama 4 sampai 5 tahun merawat,  setelah itu sudah dipanen. Pasarnya pun sudah jelas.  Sawit belum panen, pembeli sudah menunggu karena sudah ada pabriknya di sini,” tuturnya.

Berbeda halnya dengan sektor pertanian. Kebanyakan petani mengeluhkan, pemasaran setelah hasil panen. Belum lagi harganya yang murah. Bahkan, persoalan tersebut juga sempat disampaikannya kepada Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Suparno Kasim, sewaktu melakukan pertemuan di pendopo Kecamatan Batu Putih beberapa waktu lalu.

“Petani itu maunya sebelum panen pasarnya sudah ada. Jadi sewaktu panen,  mereka tidak susah menjual. Jika ada pabrik di sini, seperti pabrik jagung dan sebagainya, mungkin petani kembali bergairah," ungkapnya.

Di sisi lain, petani saat ini mulai kesulitan dalam membuka lahan, lantaran takut tersandung persoalan hukum. Untuk diketahui, mayoritas petani di Kecamatan Batu Putih dalam bertani selalu berpindah tempat dengan membuka hutan dengan cara membakar.

“Kalau manual beban biayanya lebih besar. Kalau nekat, takut ditangkap. Ini juga yang menghambat petani di sini," ungkapnya. (*/sht/rio)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 14:16

Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik

TANJUNG REDEB – Jelang Natal dan Tahun Baru 2019, sejumlah…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:59

Petani Sawit Menjerit

BATU PUTIH – Kelapa sawit hanya dihargai Rp 400 per…

Sabtu, 08 Desember 2018 13:54

Dana Bergulir Menunjang Pertumbuhan UMKM

TANJUNG REDEB - Rencana program dana Usaha Mikro, Kecil dan…

Jumat, 07 Desember 2018 13:37

Pemerintah Serba Salah

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Muharram mengakui keluhan pedagang blok…

Kamis, 06 Desember 2018 13:26

Pertamina Tambah Kuota LPG

TANJUNG REDEB – Menjelang perayaan Natal dan tahun baru 2019,…

Selasa, 04 Desember 2018 13:38

Tuding karena Banyak ‘Pasar Tandingan’

TANJUNG REDEB – Aktivitas bazar yang terus berlangsung dalam dua…

Jumat, 30 November 2018 14:01

Pasarkan Produk lewat Teknologi

TANJUNG REDEB – Kemajuan teknologi kian pesat, segala sesuatunya lebih…

Rabu, 28 November 2018 13:57

Perusahaan Patok Harga Rendah

TANJUNG REDEB – Petani sawit di pesisir Bumi Batiwakkal, mengeluhkan…

Selasa, 27 November 2018 13:48

Gas Elpiji 3 Kg Kosong?

TANJUNG REDEB – Gas elpiji 3 Kilogram (Kg) lagi sulit…

Senin, 26 November 2018 13:51

Berau dan Samarinda, Spot Instagenik Incaran Turis Milenial

INGIN merencanakan liburan atau bisnis ke destinasi baru yang hits?…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .