MANAGED BY:
KAMIS
21 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

EKONOMI

Rabu, 11 April 2018 11:55
Akui Kelapa Sawit Lebih Menguntungkan

Camat Batu Putih Khawatir Petani Alihkan Lahan

CARI SOLUSI: Pertemuan petani di Kecamatan Batu Putih dengan Distanak Berau, beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, BATU PUTIH – Polemik sektor pertanian masih terjadi. Bahkan, di Kecamatan Batu Putih, para petani mengancam untuk mengganti lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit. Penyebabnya, harga komoditas pertanian yang rendah dan sulitnya memasarkan hasil produksi seperti beras dan jagung.

Kondisi ini pun dibenarkan oleh Camat Batu Putih, Mansyur. Ia mengatakan, petani mulai kurang bergairah dengan kondisi pertanian sekarang. Sehingga membuat petani lebih memilih berkebun kelapa sawit, ketimbang mengembangkan sektor pertanian.

“Akibatnya sektor pertanian di sini tidak berkembang seperti yang diharapkan,” ungkapnya saat dihubungi Berau Post, Selasa (10/4).

Menurutnya, ada banyak faktor yang mendasari petani beralih ke perkebunan kelapa sawit. Salah satunya jaminan kepastian pemasaran, serta harga berdasarkan acuan dari Dinas Perkebunan Kaltim. Di samping itu, masa panen yang cukup singkat juga menjadi pilihan utama bagi petani.

“Paling hanya bersabar selama 4 sampai 5 tahun merawat,  setelah itu sudah dipanen. Pasarnya pun sudah jelas.  Sawit belum panen, pembeli sudah menunggu karena sudah ada pabriknya di sini,” tuturnya.

Berbeda halnya dengan sektor pertanian. Kebanyakan petani mengeluhkan, pemasaran setelah hasil panen. Belum lagi harganya yang murah. Bahkan, persoalan tersebut juga sempat disampaikannya kepada Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Suparno Kasim, sewaktu melakukan pertemuan di pendopo Kecamatan Batu Putih beberapa waktu lalu.

“Petani itu maunya sebelum panen pasarnya sudah ada. Jadi sewaktu panen,  mereka tidak susah menjual. Jika ada pabrik di sini, seperti pabrik jagung dan sebagainya, mungkin petani kembali bergairah," ungkapnya.

Di sisi lain, petani saat ini mulai kesulitan dalam membuka lahan, lantaran takut tersandung persoalan hukum. Untuk diketahui, mayoritas petani di Kecamatan Batu Putih dalam bertani selalu berpindah tempat dengan membuka hutan dengan cara membakar.

“Kalau manual beban biayanya lebih besar. Kalau nekat, takut ditangkap. Ini juga yang menghambat petani di sini," ungkapnya. (*/sht/rio)


BACA JUGA

Selasa, 19 Maret 2019 13:03

Dinas Perikanan Pasang Target Tinggi

TANJUNG REDEB – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Berau…

Senin, 18 Maret 2019 14:56

Kembangkan Perkebunan Kelapa, Petani Usulkan Bibit

BIDUKBIDUK – Perkebunan kelapa cukup potensi dikembangkan di Kampung Giring-Giring,…

Jumat, 15 Maret 2019 15:06

Peternak Usulkan 200 Ekor Sapi

TALISAYAN – Pemerintah Kampung Bumi Jaya, Kecamatan Talisayan, mengusulkan pengadaan…

Kamis, 14 Maret 2019 13:55

Olah Limbah Kelapa jadi Barang Bernilai Ekonomis

BIDUKBIDUK – Kampung Giring-Giring, Kecamatan Bidukbiduk dikenal dengan tanaman kelapa.…

Kamis, 28 Februari 2019 14:26

Cepuak Bangun Sarang Walet Rumahan

TALISAYAN - Investasi sarang walet rumahan cukup menggiurkan. Terlebih harga…

Senin, 18 Februari 2019 13:22

Berau Jadi Sentra Jagung Kaltim

TANJUNG REDEB – Berau yang berada di ujung Kalimantan Timur…

Sabtu, 16 Februari 2019 14:01

Percetakan Sawah Butuh Anggaran Besar

TANJUNG REDEB – Keinginan Kepala Kampung Sukan, Bunyamin untuk segera…

Jumat, 15 Februari 2019 14:30

Harga Murah, Petani Kesulitan Perawatan Tanaman

BATU PUTIH - Petani lada yang berada di wilayah pesisir…

Kamis, 14 Februari 2019 13:18

BUMK Campur Sari Lirik Kelapa Sawit

TALISAYAN – Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Campur Sari terus…

Kamis, 14 Februari 2019 13:13

Terkait Rute Penerbangan Berau-Jakarta, Wabup: Hukum Pasar Berlaku

TANJUNG REDEB – Tingginya dorongan Ketua Kamar Dagang dan Industri…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*