MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Senin, 23 April 2018 10:17
Dinas Perikanan Dilema

Kima yang Dilindungi Masih Dikonsumsi Masyarakat

Ilustrasi

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Berbagai jenis olahan makanan berbahan utama Kima, sudah lama menjadi kuliner andalan masyarakat di kawasan pesisir. Seperti di Pulau Derawan dan Maratua. Namun hal itu sudah dilarang, seiring penetapan Kima sebagai salah satu satwa yang dilindungi negara.

 Dijelaskan Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, kima masuk dalam jenis kerang laut yang dilindungi negara sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

“Kima seperti yang kita ketahui merupakan kuliner khas pesisir seperti Derawan dan Maratua. Dan selama ini kami sudah pernah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sana, bahwa kima adalah satwa dilindungi,” katanya saat diwawancara Berau Post, Minggu (22/4).

Dikatakannya, selama ini sosialisasi yang dilakukan pihaknya bukanlah bersifat formal. Tapi lebih mengedepankan pendekatan secara persuasif dengan masyarakat.

Tapi karena mengonsumsi kima telah dilakukan secara turun-menurun oleh masyarakat pesisir, memaksa pihaknya untuk terus gencar bersosialisasi. Bahkan, pada sosialisasi yang dilakukan beberapa waktu lalu, pihaknya justru disuguhi makanan dengan bahan dasar kima.

 “Jadi saat kami berkunjung ke daerah laut sana seperti Derawan, kami beri tahu jenis satwa ini yang boleh dikonsumsi dan ini (kima) tidak. Lebih secara pendekatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Mengenai populasi kima di Berau, wanita berhijab ini mengaku tak mengetahui secara detail. Namun, apabila melihat banyaknya peredaran hewan dilindungi tersebut saat ini, ia merasa populasinya masih terbilang cukup banyak.

Ia juga mengungkapkan bahwa tak semua jenis kima dilarang dikonsumsi atau diperjualbelikan. Tapi itu harus yang berasal dari tempat pembudidayaan. “Tapi kima yang dibudidayakan ini harus keturunan keduanya atau bisa dibilang cucunya kima sejak dibudidayakan. Kalau itu, baru boleh dikonsumsi,” tuturnya.

Pada 2010 lalu, pihaknya pernah berencana membuat pembudidayaan kima di Pulau Derawan. Namun, karena adanya persyaratan khusus yang tidak bisa dilakukan pihaknya, wacana tersebut batal dilakukan.

“Untuk di Indonesia sendiri, kalau tidak salah yang baru ada pembudidayaan kima itu di Sulawesi dan di luar negeri saja. Karena memang untuk membudidayakan kima harus di lokasi yang pas dan tidak sembarangan,” pungkasnya. (arp/udi)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 12:23

Terus Berproses, Jaksa Teliti Berkas

TANJUNG REDEB – Penyidik kembali melimpahkan berkas perkara kasus perusakan…

Rabu, 23 Januari 2019 12:21

Air Laut Naik hingga 2 Meter

TANJUNG REDEB – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau,…

Rabu, 23 Januari 2019 12:20

Sudah Waktunya Ditangani

TANJUNG REDEB – Fenomena Supermoon membuat air laut naik cukup…

Rabu, 23 Januari 2019 12:17

Sesak, Satu Ruangan Fungsi Ganda

Pelayanan untuk kesehatan tentu harus senyaman mungkin, tentu harus didukung…

Selasa, 22 Januari 2019 14:23

Lakukan Studi Kelayakan Dulu

TANJUNG REDEB - Dinas Pertanahan Berau, siap melakukan studi kelayakan…

Selasa, 22 Januari 2019 14:18

Kamaruddin Akui Caleg PBB

TANJUNG REDEB – Walau sempat tak mengetahui kebenarannya, kemarin (21/1)…

Selasa, 22 Januari 2019 14:16

Diduga Tak Bisa Berenang, Nelayan Tewas Tenggelam

TALISAYAN – Setelah melakukan pencarian selama satu malam, pada Minggu…

Selasa, 22 Januari 2019 14:15

Penderita DBD Capai 38 Orang

TANJUNG REDEB – Pada pekan ketiga Januari 2019, jumlah pasien…

Selasa, 22 Januari 2019 14:11

Antisipasi Kemacetan, Jalan Milono Jadi Percontohan

Pemerintah terus bergerak menata Kabupaten Berau, termasuk halnya menata lalu…

Senin, 21 Januari 2019 14:16

Kerugian Negara Capai Rp 149 Juta

TANJUNG REDEB – Walau sudah mendapatkan angka kerugian negara berdasarkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*