MANAGED BY:
RABU
23 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 08 Mei 2018 00:28
Ekonomi Syukur
Oleh: Bambang Iswanto

PROKAL.CO, BERSYUKUR adalah salah satu ajaran terpenting dalam Islam. Bersyukur sebanding dengan bersabar. Dua sikap muslim sejati yang hadir di saat dan kondisi yang berbeda. Sikap syukur biasanya hadir dalam kondisi ketika seseorang menerima karunia dan nikmat Allah, dan sikap sabar merupakan respons positif seorang muslim saat tertimpa musibah.

Sebagian ahli tafsir mengatakan kedua sikap tersebut bisa saja tercakup dalam satu konsep yang disebut Syakur. Profesor Nasaruddin Umar misalnya, menyebutkan dalam suatu ceramahnya di Masjid Sunda Kelapa Jakarta bahwa orang yang memiliki sikap syakur (huruf syin berharkat fathah) adalah orang yang bersyukur ketika diberi nikmat dan tetap bersyukur saat musibah menimpanya. Dalam hal ini makna syakur melampaui makna syukur.

Sikap syakur terjabar dalam gambaran ketika seorang hamba tetap berterima kasih kepada Penciptanya meskipun yang diterimanya adalah penyakit. Seorang yang syakur tetap berbaik sangka kepada Allah dan menganggap bahwa sakitnya adalah pembayar dosa dia di dunia.

Dalam praktik, seseorang untuk sampai kepada level syakur, sangat sulit untuk mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk tingkatan syukurpun masih banyak manusia yang melalaikannya. Maka tak berlebihan kalau dalam setiap kitab yang ditulis oleh ulama, ceramah dan khotbah, senantiasa diawali dengan ajakan bersyukur. Mungkin disebabkan betapa seringnya manusia lupa berterima kasih kepada Allah, kita sudah tidak merasa bahwa kenikmatan sebenarnya pemberian dan karunia Allah.

Betapa setiap detik atau setiap satuan terkecil waktu kita, tidak pernah lepas dari nikmat-Nya dan kita mati rasa untuk merasakan karunia-karunia Allah yang harus disyukuri.

Kesadaran bersyukur biasanya muncul setelah adanya kesulitan hidup, sehingga ada ungkapan yang sering diperdengarkan, “manusia baru tahu nikmatnya sehat kala dia sakit, baru merasakan nikmat buang angin ketika dia tidak bisa buang angin dan harus dioperasi”.

Hasil Kualitatif-Kuantitatif

Dalam konsep syukur tercakup di dalamnya aspek ekonomi. Terkesan memaksakan memang. Tapi tidak, ada sejumlah hal yang bisa jadi penghubung antara syukur dan ekonomi. Ada korelasi antara syukur dan nilai-nilai ekonomi.

Dalam ilmu ekonomi, sesuatu bisa diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Orang yang memiliki sikap bersyukur bisa merasakan manfaat ekonomis dari rasa syukurnya. Bertambahnya nikmat bagi orang yang bersyukur sebagaimana janji Allah, “Lain syakartum laazidannakum” yang artinya kutambah nikmat bagi orang yang bersyukur. Pertambahan nikmat ini bisa diberikan secara kuantitatif dan kualitatif atau keduanya sekaligus.

Sebagai contoh kuantitatif misalnya, seseorang yang mensyukuri nikmat memiliki satu motor, motornya bisa Allah tambahkan menjadi 2, 3, 4, dan seterusnya. Orang yang bersyukur sudah memiliki satu rumah kemudian ia syukuri, Allah akan tambahkan rumahnya menjadi 2, 3, 4, dan seterusnya. Orang yang punya istri satu kemudian ia syukuri, maka istrinya akan bertambah menjadi……ups, stop! Jangan dilanjutkan dengan bertambah menjadi 2, 3, sampai 4.

Dalam hal ini, yang bertambah bukan nilai kuantitatifnya, tetapi nilai kualitatif dari seorang istri. Yang Allah akan tambahkan adalah tingkat kesalehan istri, makin sayang anak dan suami. Contoh bersyukur atas karunia motor yang diterima seperti di atas, bisa jadi yang bertambah bukan jumlah kendaraannya tapi kualitas kendaraan yang dimilikinya, misalnya orang yang bersyukur memiliki motor, motornya tidak bertambah tetapi Allah tambahkan kualitas kendaraan berupa mobil. Orang yang bersyukur memiliki satu rumah, bisa jadi rumahnya tidak bertambah tetapi Allah tambahkan rumahnya menjadi rumah yang lebih besar lagi atau bisa juga Allah jadikan rumahnya yang kecil tersebut menjadi “baitii jannatii”, memiliki rumah seperti surga yang membuat penghuninya betah di dalamnya, dan selalu rindu pulang ke rumah berkumpul keluarga dalam ikatan keluarga yang harmonis.

Dalam konsep ekonomi Islam, tujuan utama yang ingin dicapai oleh manusia dalam aktivitas ekonominya adalah al-fallaah yang maknanya adalah kesejahteraan. Al-Falah lebih merefleksikan nilai-nilai kualitatif. Nilai-nilai al-falaah terjabar dalam perasaan bahagia dan senang.

Maka dalam perspektif ekonomi Islam, yang dikejar bukan banyaknya harta saja, tetapi bagaimana harta tersebut didapat dari hasil yang halal dan memiliki manfaat yang menyejahterakan pemilik harta. Pernyataan ini bisa saja ditafsirkan dengan pernyataan bahwa tidak setiap harta yang dicari pasti halal dan mendatangkan manfaat.

Kuantitas harta yang banyak bukan jaminan tercapainya kesejahteraan seseorang. Ada orang yang punya uang triliunan tapi tidurnya tidak pernah nyenyak karena waswas harus mempertahankan kekayaannya. Atau ada yang khawatir ditangkap oleh pihak berwajib karena harta yang didapat banyak dari hasil korupsi.

Sebaliknya ada orang yang hartanya tidak banyak tetapi tercapai nilai falaah dalam hidupnya. Ia dapat tidur nyenyak dan hidup bahagia.

Sangat mungkin, rasa bahagia yang didapatkannya bersumber dari rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah. Dalam ketidakbanyakan harta, Allah sisipkan nilai keberkahan sehingga ia merasa selalu menerima dan cukup atas pemberian Allah.

Bukankah kosakata kaya dalam bahasa Arab adalah ghaniy yang bersumber dari asal kata ghanaa yang berarti cukup. Orang kaya sesungguhnya adalah orang yang merasa selalu cukup atas pemberian Allah, dan orang miskin yang sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah merasa cukup atas karunia-Nya.

Menyukuri Serpihan Surga

Saya dan mungkin banyak orang lain yang pernah datang ke Berau, memiliki pernyataan yang sama tentang Bumi Batiwakkal ini. Untuk keempat kalinya datang ke Berau, saya selalu merasa nyaman dan ketagihan untuk datang kembali. Warganya yang agamis, ramah, dan sopan, membuat siapa pun merasa tidak asing di daerah ini. Ditambah lagi Allah karuniakan serpihan surga-Nya di Berau.

Bagaimana tidak, Allah telah memberikan pulau-pulau eksotik seperti Derawan, Kakaban, Maratua yang sohor di seluruh tanah air bahkan masyarakat internasional, dengan keindahan panorama laut dan bawah lautnya. Belum lagi keindahan Labuan Cermin seperti berada di negeri dongeng, melihat kejernihan air yang sempurna. Jika ada perahu atau benda lain di atas air, benda tersebut seakan-akan berada di atas kaca bening. Banyak lagi tempat luar biasa lain yang dititipkan Allah di Berau.

Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi masyarakat Berau yang memiliki rasa keberagaman yang tinggi untuk tidak bersyukur atas segala karunia nikmat geografi dan alam dari Allah. Implementasi syukur yang paling nyata adalah dengan melestarikan dan memelihara alam dan keindahannya. Dengan sikap demikian yakinlah Allah akan menambahkan keberkahan bagi masyarakatnya.

Sebaliknya sikap dan tindakan mengotori alam, menjadikan mata tidak nyaman lagi melihatnya, atau merusak dan membunuh atau mengganggu kelestarian biota yang menjadi ikon Berau seperti penyu hijau, ubur-ubur ‘tanpa racun’ yang hidup di dalamnya, merupakan sikap kufur (mengingkari), antonim dari syukur.

Ingatlah, Allah akan memberi azab bagi siapapun yang kufur nikmat. Na’udzubillah, jangan sampai Berau menjadi kepingan ‘neraka’ karena kekufuran masyarakatnya. Semoga Berau senantiasa menjadi surga yang dirindukan. Amin. (*/udi)

*) Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

 


BACA JUGA

Sabtu, 17 Maret 2018 00:23

Meneropong Visi dan Misi Calon Kepala Daerah

TAHUN 2018 sejumlah daerah di Indonesia akan melaksanakan Pemilu kepala daerah secara serentak. Di Kalimantan…

Kamis, 15 Maret 2018 11:09

Surabaya Pertama, Bali Berikutnya

SAYA penasaran dengan kepeloporan Surabaya di bidang persewaan sepeda listrik Migo. Sambil menjemput…

Rabu, 14 Maret 2018 12:37

KAPITALISME LEWAT NARKOBA

AKHIR-akhir ini hangat di media pemberitaan terkait impor berton-ton sabu-sabu ke Indonesia. Tidak salah-salah,…

Selasa, 13 Maret 2018 13:01

Apa Kabar RS Baznas?

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata "Rumah Sakit/RS" didefinisikan sebagi 1) Gedung tempat…

Selasa, 13 Maret 2018 12:49

Tak Cukup Hanya Terpesona

ORANG awam akan bertanya: mengapa pembangkit listrik tenaga angin itu dibangun di daerah yang sudah…

Senin, 12 Maret 2018 10:50

TAKING OWNERSHIP

ADA perubahan paradigma dari dunia usaha dalam mewujudkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap…

Senin, 12 Maret 2018 10:37

Kepastian yang Tidak Pasti

KALAU Anda bisa paham tulisan seri 4 ini, kecerdasan Anda pasti di atas rata-rata. Inilah bagian yang…

Minggu, 11 Maret 2018 00:14

Tebak-tebakan Tak Berhadiah

SAYA lagi bertaruh dengan beberapa aktivis green energy. Tentang berapa banyak pembangkit listrik tenaga…

Sabtu, 03 Maret 2018 11:28

Menebus Dosa Proyek Raksasa

PERSAHABATAN saya dengan Robert Lai sudah berlangsung lebih 20 tahun. Sudah seperti saudara. Robert…

Selasa, 27 Februari 2018 10:52

Tujuh Bulan di Lemhannas, Sanggupkah?

SUDAH satu minggu, saya harus beradaptasi dengan hal baru. Orang baru, suasana baru, juga ilmu baru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .