MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 23 Mei 2018 00:27
Relokasi Sulit, Bupati Minta Redam Aroma Tak Sedap TPA
CARI SOLUSI: Air sungai berwarna hitam yang diduga tercemar air lindi dari TPA.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Banyaknya keluhan masyarakat terkait keberadaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga, membuat Bupati Berau Muharram turun langsung meninjau kondisi TPA yang berada di Jalan Sultan Agung, Tanjung Redeb, Senin (21/5) lalu.

Orang nomor satu di pemerintah Berau ini, ingin merasakan langsung keluhan masyarakat mengenai aroma tak sedap yang muncul dari TPA. Termasuk melihat kondisi kolam air lindi yang disebut masyarakat ikut mengalir ke wilayah permukiman.

Menurutnya, permasalahan bau merupakan hal lumrah dan tidak aneh. “Namanya tempat sampah, saya rasa pasti bau. Tapi kami sedang berusaha supaya bau tak sedap yang tercium bisa diredam,” katanya kepada Berau Post saat berbincang santai di kediamannya, Selasa (22/5).

Banyaknya keluhan masyarakat terkait kondisi TPA, disebut mantan anggota DPRD Kaltim ini sangat berbanding terbalik dengan status TPA Bujangga yang menjadi terbaik kedua di Kaltim. Pengelolaan TPA Bujangga hanya kalah dari Balikpapan.

Dikatakan, permintaan masyarakat agar TPA direlokasi, menurutnya persoalan yang berbeda lagi. Karena dengan kondisi TPA yang masih bisa difungsikan hingga 10 tahun ke depan, permintaan merelokasi cukup sulit dilakukan. Apalagi merelokasi TPA tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sehingga solusi untuk menjawab keluhan masyarakat, pihaknya harus bisa meredam aroma tak sedap yang benar-benar bersumber dari TPA. “Karena kalau untuk memindah tidak bisa begitu saja, perlu kajian dan hal-hal lainnya lagi. Itu tidaklah mudah,” ucapnya.

Untuk mendesai sebuah TPA baru, lanjut dia, juga membutuhkan dana yang mencapai miliaran. “Makanya kami coba benahi yang ada terlebih dahulu. Karena semua hal itu ada masalahnya. Tapi bagaimana caranya kita bisa mencari solusinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, keberaan TPA Bujangga terus menuai polemik. Tidak hanya “teror” aroma tak sedap, cairan limbah dari tumpukan sampah di TPA juga mengalir hingga ke permukiman warga di sekitarnya.

Seperti diutarakan Moko, warga yang tinggal di sekitar TPA. Dikatakannya, setiap hujan mengguyur lingkungan TPA, air limbah sampah selalu mengalir dan menggenangi lingkungan di sekitar rumahnya.

“Kalau sudah surut, airnya berwarna hitam pekat. Baunya jangan ditanya lagi, luar biasa menyengat,” katanya kepada Berau Post, Sabtu (18/5).

Ia mengungkapkan, sebelum dibangunnya TPA beberapa tahun silam, aliran air tidak pernah membanjiri pemukiman di lingkungannya. Bahkan sungai kecil yang mengalirkan air limbah dari TPA, disebutnya bukanlah sungai yang sengaja dibuat. “Itu bukan sungai. Dulu kering, tidak pernah meluber (limbah cair dari TPA, red) hingga permukiman,” ungkapnya.

Warga setempat juga pernah memutus aliran air limbah dengan menimbun tanah di tengah alirannya. Tapi justru airnya mengalir ke permukiman lainnya hingga menimbulkan protes warga sekitar TPA lainnya. “Akhirnya aliran limbahnya dibuka lagi,” tuturnya.

Hal senada dikatakan Swardi, warga lainnya. Ia mengatakan, aroma aliran limbah sangat mengganggu waktu istirahatnya di rumah. “Makan saja tidak selera. Aroma makanan ditutup bau limbah,” ucapnya.

Yang ditakutkannya, jika kondisi ini terus dibiarkan, lingkungan tempat tinggalnya akan menjadi lautan limbah sampah. “Daerah kami ini tidak bisa dikatakan permukiman lagi, tapi sebagai lokasi pembuangan limbah saja,” sebutnya.

Santi, warga lainnya juga mengatakan hal yang sama. Air limbah berwarna hitam dan berbau menyengat itu menjadi wabah penyakit. “Kalau anak-anak memegang atau menginjaknya langsung gatal-gatal. Makanya, saya selalu melarang anak saya keluar rumah saat hujan atau setelahnya. Baunya pun menyengat luar biasa, membuat kami tidak nyaman,” tuturnya.

Dirinya berharap ada tindakan yang dilakukan Pemkab Berau melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau. Mengingat, kondisi ini sudah terjadi sejak lama, namun tidak ada tindakan yang dilakukan pemerintah.

“Kami berharap, persoalan ini segera tuntas,” pungkasnya. (arp/udi)


BACA JUGA

Kamis, 18 Oktober 2018 13:38

PPP dan Gerindra Membantah

TANJUNG REDEB – Berita acara pemeriksaan (BAP) terhadap NM, oknum komisioner Komisi Pemilihan…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:31

Boleh Gunakan Dana Tanggap Bencana

TANJUNG REDEB - Beberapa daerah menjadi tempat persinggahan korban gempa dan tsunami yang terjadi di…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:29

Pendistribusian Bantuan ke 11 Desa

SETELAH dua pekan melakukan penggalangan bantuan, bantuan kemanusiaan yang terdiri dari ribuan paket…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:28

Pengungsi asal Sigi Diterima di SMPN 3

RATUSAN korban bencana asal Donggala, Sigi dan Palu, sudah berada di Kabupaten Berau untuk mengungsi.…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:26

Tak Punya Pelatih, Atlet Berlatih Mandiri

Walau belum memiliki pelatih profesional, atlet-atlet dansa Berau tetap tak ingin menjadi penggembira…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:34

20 Relawan Berangkat Hari Ini

BANTUAN kemanusiaan yang dikumpulkan Posko Ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Tengah (IKKLAST) di Jalan…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:33

NM Bantah Semua Tuduhan

TANJUNG REDEB – NM, oknum komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Berau yang dilaporkan telah meminta…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:26

APS Tinjau Bandara Maratua

TANJUNG REDEB – Meski Presiden RI Joko Widodo belum pasti datang ke Maratua, namun UPBU Kalimarau…

Rabu, 17 Oktober 2018 13:25

Semua Atlet Menetap di Samarinda

Melihat performa dan hasil pada pra-porprov tahun lalu di Samarinda. Pengurus Petanque Berau optimistis…

Selasa, 16 Oktober 2018 13:20

Tunda Pemberangkatan hingga Besok

RENCANA memberangkatkan bantuan kemanusiaan yang dikumpulkan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Sulawesi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .