MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 23 Mei 2018 00:27
Relokasi Sulit, Bupati Minta Redam Aroma Tak Sedap TPA
CARI SOLUSI: Air sungai berwarna hitam yang diduga tercemar air lindi dari TPA.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Banyaknya keluhan masyarakat terkait keberadaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga, membuat Bupati Berau Muharram turun langsung meninjau kondisi TPA yang berada di Jalan Sultan Agung, Tanjung Redeb, Senin (21/5) lalu.

Orang nomor satu di pemerintah Berau ini, ingin merasakan langsung keluhan masyarakat mengenai aroma tak sedap yang muncul dari TPA. Termasuk melihat kondisi kolam air lindi yang disebut masyarakat ikut mengalir ke wilayah permukiman.

Menurutnya, permasalahan bau merupakan hal lumrah dan tidak aneh. “Namanya tempat sampah, saya rasa pasti bau. Tapi kami sedang berusaha supaya bau tak sedap yang tercium bisa diredam,” katanya kepada Berau Post saat berbincang santai di kediamannya, Selasa (22/5).

Banyaknya keluhan masyarakat terkait kondisi TPA, disebut mantan anggota DPRD Kaltim ini sangat berbanding terbalik dengan status TPA Bujangga yang menjadi terbaik kedua di Kaltim. Pengelolaan TPA Bujangga hanya kalah dari Balikpapan.

Dikatakan, permintaan masyarakat agar TPA direlokasi, menurutnya persoalan yang berbeda lagi. Karena dengan kondisi TPA yang masih bisa difungsikan hingga 10 tahun ke depan, permintaan merelokasi cukup sulit dilakukan. Apalagi merelokasi TPA tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sehingga solusi untuk menjawab keluhan masyarakat, pihaknya harus bisa meredam aroma tak sedap yang benar-benar bersumber dari TPA. “Karena kalau untuk memindah tidak bisa begitu saja, perlu kajian dan hal-hal lainnya lagi. Itu tidaklah mudah,” ucapnya.

Untuk mendesai sebuah TPA baru, lanjut dia, juga membutuhkan dana yang mencapai miliaran. “Makanya kami coba benahi yang ada terlebih dahulu. Karena semua hal itu ada masalahnya. Tapi bagaimana caranya kita bisa mencari solusinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, keberaan TPA Bujangga terus menuai polemik. Tidak hanya “teror” aroma tak sedap, cairan limbah dari tumpukan sampah di TPA juga mengalir hingga ke permukiman warga di sekitarnya.

Seperti diutarakan Moko, warga yang tinggal di sekitar TPA. Dikatakannya, setiap hujan mengguyur lingkungan TPA, air limbah sampah selalu mengalir dan menggenangi lingkungan di sekitar rumahnya.

“Kalau sudah surut, airnya berwarna hitam pekat. Baunya jangan ditanya lagi, luar biasa menyengat,” katanya kepada Berau Post, Sabtu (18/5).

Ia mengungkapkan, sebelum dibangunnya TPA beberapa tahun silam, aliran air tidak pernah membanjiri pemukiman di lingkungannya. Bahkan sungai kecil yang mengalirkan air limbah dari TPA, disebutnya bukanlah sungai yang sengaja dibuat. “Itu bukan sungai. Dulu kering, tidak pernah meluber (limbah cair dari TPA, red) hingga permukiman,” ungkapnya.

Warga setempat juga pernah memutus aliran air limbah dengan menimbun tanah di tengah alirannya. Tapi justru airnya mengalir ke permukiman lainnya hingga menimbulkan protes warga sekitar TPA lainnya. “Akhirnya aliran limbahnya dibuka lagi,” tuturnya.

Hal senada dikatakan Swardi, warga lainnya. Ia mengatakan, aroma aliran limbah sangat mengganggu waktu istirahatnya di rumah. “Makan saja tidak selera. Aroma makanan ditutup bau limbah,” ucapnya.

Yang ditakutkannya, jika kondisi ini terus dibiarkan, lingkungan tempat tinggalnya akan menjadi lautan limbah sampah. “Daerah kami ini tidak bisa dikatakan permukiman lagi, tapi sebagai lokasi pembuangan limbah saja,” sebutnya.

Santi, warga lainnya juga mengatakan hal yang sama. Air limbah berwarna hitam dan berbau menyengat itu menjadi wabah penyakit. “Kalau anak-anak memegang atau menginjaknya langsung gatal-gatal. Makanya, saya selalu melarang anak saya keluar rumah saat hujan atau setelahnya. Baunya pun menyengat luar biasa, membuat kami tidak nyaman,” tuturnya.

Dirinya berharap ada tindakan yang dilakukan Pemkab Berau melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau. Mengingat, kondisi ini sudah terjadi sejak lama, namun tidak ada tindakan yang dilakukan pemerintah.

“Kami berharap, persoalan ini segera tuntas,” pungkasnya. (arp/udi)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 12:23

Terus Berproses, Jaksa Teliti Berkas

TANJUNG REDEB – Penyidik kembali melimpahkan berkas perkara kasus perusakan…

Rabu, 23 Januari 2019 12:21

Air Laut Naik hingga 2 Meter

TANJUNG REDEB – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau,…

Rabu, 23 Januari 2019 12:20

Sudah Waktunya Ditangani

TANJUNG REDEB – Fenomena Supermoon membuat air laut naik cukup…

Rabu, 23 Januari 2019 12:17

Sesak, Satu Ruangan Fungsi Ganda

Pelayanan untuk kesehatan tentu harus senyaman mungkin, tentu harus didukung…

Selasa, 22 Januari 2019 14:23

Lakukan Studi Kelayakan Dulu

TANJUNG REDEB - Dinas Pertanahan Berau, siap melakukan studi kelayakan…

Selasa, 22 Januari 2019 14:18

Kamaruddin Akui Caleg PBB

TANJUNG REDEB – Walau sempat tak mengetahui kebenarannya, kemarin (21/1)…

Selasa, 22 Januari 2019 14:16

Diduga Tak Bisa Berenang, Nelayan Tewas Tenggelam

TALISAYAN – Setelah melakukan pencarian selama satu malam, pada Minggu…

Selasa, 22 Januari 2019 14:15

Penderita DBD Capai 38 Orang

TANJUNG REDEB – Pada pekan ketiga Januari 2019, jumlah pasien…

Selasa, 22 Januari 2019 14:11

Antisipasi Kemacetan, Jalan Milono Jadi Percontohan

Pemerintah terus bergerak menata Kabupaten Berau, termasuk halnya menata lalu…

Senin, 21 Januari 2019 14:16

Kerugian Negara Capai Rp 149 Juta

TANJUNG REDEB – Walau sudah mendapatkan angka kerugian negara berdasarkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*