MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 24 Mei 2018 14:30
Ibu, Kembalilah pada Fitrahmu
Farida, ST

PROKAL.CO, Beredarnya video penganiayaan seorang ibu kepada anak kandungnya di media sosial, membuat geram semua pihak yang menyaksikannya, khususnya masyarakat Berau.

Bagaimana tidak, video yang berdurasi kurang dari 1 menit itu memperlihatkan secara nyata sosok ibu yang memukuli anaknya bertubi-tubi, hingga mengalami pendarahan pada mulut dan hidungnya. Hal ini dilakukan sang ibu sebagai wujud pelampiasan kekesalannya kepada sang suaminya.

Walhasil hal ini mendapat komentar dan kecaman di dunia maya. Seorang anak tak berdosa menjadi korban kekerasan ibunya. Terlebih hal yang semakin membuat miris bahwa hal ini dilakukan di bulan puasa yang mulia.

Terlepas dari apa motifnya serta permasalahan yang terjadi antara sang ibu terhadap suaminya, apapun itu sejatinya hal ini tak boleh terjadi.

Kasus ini bukan hal baru, sering kita temukan pemberitaan serupa di media televisi, yang menunjukkan semakin banyak kaum ibu yang mengalami depresi dan kehilangan fitrahnya sebagai seorang ibu.

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang sering terjadi. Bahkan tak jarang depresi menjadi penyebab banyak orang membunuh dirinya sendiri.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eka Viora, mengatakan, di Indonesia prevalensi penderita depresi adalah 3,7 persen dari populasi. Jadi sekitar 9 juta orang Indonesia mengalami depresi, dari jumlah penduduk 250 juta jiwa.

Untuk masalah depresi berat, perbandingan antara laki-laki dan perempuan jumlahnya 1:3, artinya perempuan lebih banyak mengalami depresi dibandingkan laki-laki.

Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi banyaknya perempuan mengalami depresi berat, sehingga dengan tega menghabisi nyawanya sendiri, bahkan anggota keluarganya. Permasalahan ini sesungguhnya adalah lingkaran setan yang tak pernah putus dan selalu terhubung dengan mata rantai lainnya. Mulai dari faktor ekonomi kemudian mengusik keharmonisan rumah tangga. Hal ini menyebabkan seorang ibu kehilangan fitrahnya dalam mendidik anak dan mengurusi urusan rumah tangga.

Ibu yang seharusnya mengerahkan segala pikiran, jiwa, dan tenaganya untuk anak dan rumah tangga, terbelah menjadi banyak arah.

Sungguh dapat kita saksikan hari ini, kaum ibu tersandera oleh sistem kapitalisme. Fitrahnya tercerabut hampir tak bersisa. Padahal Allah telah ciptakan perempuan dengan fitrahnya sebagai seorang ibu. Dengannya ia dibebankan amanah langit, yakni menjadi pengatur atas rumah tangganya dan madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya.

Himpitan ekonomi yang semakin menjepit menjadikan kaum ibu terpaksa atau bahkan dipaksa untuk bergelut dengan dunia kerja. Alasannya, tidak cukup kalau hanya suami yang bekerja. Wajar, sebab kapitalisme telah secara sistemik memiskinkan keluarga.

Privatisasi yang dilegislasi menjadikan SDA dikuasai swasta dan asing. Padahal dalam UUD 1945 pasal 33 telah dinyatakan bahwa “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Sangat jelas, bahwa aset-aset yang mengusai hajat hidup orang banyak wajib dikuasai oleh negara.

Menjual aset-aset publik kepada swasta dan asing sama saja merampas hak rakyat. Sebab sejatinya SDA wajib dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Namun realitanya, di sistem kapitalisme saat ini, segala sesuatu dijadikan komoditas bisnis, termasuk hak publik. Akhirnya harga-harga tidak stabil, bahkan dapat terus melonjak naik. Negara hanya sebagai regulator.

Kapitalisme juga menciptakan jerat utang negara yang tak berkesudahan. Jumlah utang luar negeri (ULN) pemerintah pusat terus bertambah. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), jumlah utang pemerintah di akhir 2014 tercatat Rp 2.604,93 triliun. Dan hingga akhir Mei tahun lalu, jumlah total utang luar negeri Indonesia mencapai Rp 3.672,33 triliun. Akhirnya rakyat kena imbasnya. Per kepala rakyat Indonesia menanggung beban utang sebesar .US$ 997 atau sekitar Rp 13 juta.

Sebagai salah satu solusi, negara memungut pajak dari semua lini kehidupan rakyat. Akhirnya masyarakat kena imbasnya. Pengeluaran membengkak sementara pemasukan stagnan. Dan dampak terbesar juga tentu dirasakan kaum ibu. Mengapa? Karena merekalah yang sehari-hari berkutat dengan belanja dan aneka pembiayaan, ditambah membayar pajak ini-itu.

Kaum ibu tercekik, kaum ibu tersandera kapitalisme. Akhirnya meski berat kaki melangkah, ia harus lakukan juga, bergulat di dunia kerja dengan sederet kesepakatan yang merampas kewajiban utamanya di rumahnya. Akhirnya peran ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya tak terjalankan dengan optimal. Semuanya diserahkan kepada guru. Kedekatan psikologis dengan anak pun kurang.

Akhirnya muncullah generasi bermasalah akibat kurang asuh dan asih. Pergaulan bebas, narkoba, tawuran, merupakan dampak dari terciptanya jurang pemisah antara ibu dan anak. Selain sebab lainnya, seperti lemahnya pendidikan agama dan ketiadaan penjagaan dari masyarakat dan negara.

Menurut catatan KPAI, pada tahun 2016 ada 1.000 kasus kekerasan pada anak yang terlaporkan. Dan kita tahu, ini adalah puncak gunung es, artinya jumlah yang riil bisa jadi lebih berlipat. Dari jumlah itu, 55 persen pelakunya adalah ibu, dan ini menunjukkan peningkatan yang memprihatinkan. Ini menunjukkan kalau negeri ini mengalami krisis ibu idaman anak. 55 persen pelaku kekerasan pada anak dalam keluarga adalah ibu kandung mereka.

Dari data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau, sejak 2016 hingga 2017 lalu, jumlah kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 321 kasus. Jumlah tersebut sesuai data jumlah kasus dari kepolisian dan pasien kekerasan yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai.

Ada dua sebab mengapa kekerasan pada anak yang dilakukan kaum ibu meningkat.

Pertama, tekanan hidup. Kekerasan oleh ibu pada anak meningkat terutama pada masyarakat ekonomi bawah. Tekanan hidup yang terus bertambah; naiknya tarif listrik, makin mahalnya harga sembako, biaya sekolah, ongkos angkutan, ditambah ditelantarkan suami, membuat mental seorang ibu ambruk, hingga ia tak sanggup mengendalikan emosinya dalam mengasuh anak.

Percikan sekecil apapun akan menyulut emosi sang ibu yang mengalami depresi berat. Untuk para ibu dan keluarga di level ini, memiliki anak menjadi beban, bukan lagi menyenangkan. Selain biaya hidup harian yang semakin berat, mereka juga dicemaskan dengan masa depan yang seperti tak ada harapan. Faktanya, banyak anak-anak dari keluarga ekonomi bawah ini tumbuh menjadi anak jalanan dan salah pergaulan.

Kedua, tidak kompetensi sebagai ibu. Tidak sedikit perempuan muda yang ketika menikah tidak mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Begitupula saat mereka hamil dan melahirkan, tidak juga membuat para ibu ini mau meningkatkan kemampuan dan wawasan sebagai ibu yang ideal.

Faktor kedua ini terjadi di semua lapisan masyarakat, baik bawah maupun menengah dan atas. Kita bisa melihat para ibu ini sibuk dengan dunianya sendiri; bersosial media, sosialisasi, belanja, dan lain-lain, terpisah dari kehidupan anak-anak mereka.

Banyak dari perempuan seperti ini memakai prinsip laissez faire, alias membebaskan perkembangan anak-anak mereka. Sebagian besar dari anak-anak ini akhirnya tumbuh menjadi anak yang tidak dewasa pada waktunya.

Krisis ibu ini tak bisa dibiarkan berlanjut. Islam sebagai rahmatanlilalamin terbukti telah mampu membebaskan kaum ibu dari keterpurukan. Islam mengatur agar kaum ibu benar-benar dapat menjalankan tugas utama di rumahnya, sebagai wujud ketaatan kepada Rabbnya. Kalaupun harus bekerja maka tak boleh melalaikan tugas utamanya tersebut.

Islam juga memerintahkan kaum ibu untuk menimba sebanyak-banyaknya tsaqofah Islam sebagai bekal dalam mendidik anak-anaknya serta bekal menjalani hidup yang Allah ridai. Tak hanya itu, kaum ibu juga didorong untuk berkiprah dalam penyebaran dakwah Islam sebagaimana halnya laki-laki. Karena sejatinya dakwah adalah kewajiban bagi setiap manusia.

Hal lain yang bisa dilakukan oleh para muslimah untuk menyelamatkan keluarga, khususnya pengasuhan pada anak, yaitu;

1. Membangun kesadaran bahwa menjadi ibu adalah amanah dari Allah SWT. Ada tanggung jawab besar di hadapan Allah pada pundak kaum ibu dalam pengasuhan anak sejak pernikahan hingga mereka dewasa. Pengasuhan anak bukanlah kontrak sosial dengan anak, tapi amanah dari Allah SWT.

2. Mempelajari tsaqofah Islamiyyah tentang hukum-hukum keibuan seperti peran istri, kehamilan, melahirkan, penyusuan, pengasuhan anak, dsb. Dengan demikian saat menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, kaum muslimah memiliki panduan yang benar dan mudah untuk dijalankan, juga sesuai dengan tuntutan Allah SWT.

3. Meningkatkan keterampilan teknis sebagai seorang ibu, seperti cara berkomunikasi, bermain, memberikan hadiah dan teguran, serta memberikan hiburan yang berguna bagi mereka, termasuk mengendalikan diri saat menghadapi tingkah polah anak.

 

Semoga para muslimah segera berbenah diri untuk menjadi seorang ibu yang dapat menjalankan amanah dari Allah SWT. Khususnya dalam pengasuhan anak, sehingga kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya tidak terulang kembali. (*/udi)

*) Pemerhati Perempuan, SDA dan Lingkungan Hidup


BACA JUGA

Rabu, 08 Agustus 2018 11:17

Surat Cinta Muktamar IMM XVIII Malang

DINAMIKA perdinamika dalam tubuh ikatan terjadi. Idealisme kader bermunculan demi kukuhnya suatu fondasi…

Jumat, 03 Agustus 2018 13:40

Sakit Itu Berat, BPJS Tak Akan Kuat

BADAN Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tengah mengalami defisit keuangan. Sehingga membuat lembaga…

Kamis, 02 Agustus 2018 13:29

Peduli Lingkungan, Simpel Aja!

Mendengar istilah simpel, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…

Rabu, 01 Agustus 2018 14:17

Peduli Lingkungan Berau? SIMPEL Saja!

MENDENGAR istilah SIMPEL, identik dengan mudah, sederhana atau praktis. Begitu juga yang ingin dihadirkan…

Kamis, 26 Juli 2018 13:32

Sekolah Lapuk

TAMPAK sebagian atap tak lagi menutupi gedung tua itu. Penyangganya hampir lepas. Cahaya masuk dengan…

Selasa, 17 Juli 2018 01:07

Menuju Kota Digital

DIGITALISASI merupakan bagian dari revolusi industri 4.0 (four point zero). Jika revolusi industri 1.0…

Rabu, 11 Juli 2018 13:56

Mengukur Tensi Politik Menjelang Pileg 2019

TAK terasa roda perputaran sang waktu silih berganti, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan…

Minggu, 01 Juli 2018 00:54

Kemenangan Pilkada untuk Semua

PERHELATAN akbar sekaligus pertarungan euforiasuksesi pemilihan kepala daerah, baik itu pemilihan gubernur…

Rabu, 27 Juni 2018 12:51

Maaf, Saya Golput karena Keadaan

Hari ini, tepatnya 27 Juni 2018, digelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah. Terdiri…

Kamis, 21 Juni 2018 09:56

Mutiara Syawal

TIDAK terasa sebulan penuh kita berpuasa di bulan Ramadan menahan lapar dan dahaga. Kaum Muslimin meninggalkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .